Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Merayu bidadari


__ADS_3

"Om, tinggal di sini aja ya ama Ken," bujuk Ken. Mereka berdua sedang bermain di ruang tamu. Joddy cukup surprise, lama tak bertemu anak yang sebentar lagi masuk paud itu sudah lancar bicara.


"Gak bisa Sayang, Om kan harus kerja. Gimana kalau kamu sama Bunda ikut Om pulang ke Jakarta. Mau?"


Mata bening Ken mengerjap-ngerjap menatap Joddy. "Emoh!"


Joddy tidak terlalu bodoh untuk mengartikan arti kata dalam bahasa Jawa yang diucapkan Ken barusan, walaupun dia bukan orang Jawa dia tahu bahwa kata itu artinya tidak mau.


"Kenapa?"


"Di sana gak ada ail teljun, gak ada kolam mutel-mutel," sahut Ken cadel. Joddy tersenyum lalu mengambil tangan Ken.


"Nanti Om buatin air terjun sama kolam, mau?"


Ken mengangguk antusias.


"Tapi Ken harus pulang sama Om sama Bunda. Mau?" bujuk Joddy lagi , berharap pria kecil ini bisa diajak kerja sama untuk membujuk Ibunya pulang.


"Jangan paksa dia!" Kana yang sejak tadi menguping akhirnya keluar dari persembunyiannya. Melihat keberadaan Kana Joddy menyuruh Ken masuk ke dalam rumah.


"Ken main dulu sama Mbah Dar ya, Om sama Bunda mau bicara,"ujar Joddy pada bocah itu. Ken menurut dia lalu masuk ke dalam rumah.


"Dek, pulang ya sama aku?"


"Berhenti untuk membujukku Kak, itu tidak akan berhasil." Kana tersenyum sinis.


"Gak juga. Paling tidak di dalam buku KIA mu aku adalah Ayah dari Joddy junior."


Kana pikir Joddy akan menyerah rupanya dia malah semakin menjadi-jadi."Itu hanya formalitas," balas Kana ketus, berharap Joddy tidak merasa diberi harapan. Kana menatap Joddy tajam lalu melipat kedua tangannya di depan dada mencoba membangun benteng pertahanannya lagi.


"Aku bawa cadbury kesukaan kamu, mau?"


"Mau!"sahut Kana tanpa sadar membuat Joddy tersenyum dan Kana mengutuk dirinya sendiri karena terlalu lemah hanya dengan cokelat.


Joddy tertawa kecil lalu keluar rumah menuju mobilnya. Tak berapa lama Joddy kembali dengan sebuket cokelat di tangannya.


Mau tak mau mata Kana berbinar juga melihat apa yang dibawa Joddy itu. Cokelat adalah salah satu kelemahannya dan Joddy tahu itu.


"Terus, kamu pikir aku akan mempan dengan sebuket cokelat?" ujar Kana ketus. Oh, astaga wanita berwajah bayi ini benar-benar menguji pengendalian diri Joddy ingin sekali dia memeluk Kana dan mencium keningnya. Sayangnya, dia masih harus menahan diri karena takut Kana akan semakin marah padanya.

__ADS_1


" Namanya juga usaha merayu. Merayu bidadari." Joddy tersenyum menggoda. "Tapi gak mempan ya?Ya sudah, aku kasih yang punya rental saja kalau begitu." Joddy bersiap mengembalikan buket coklat itu ke dalam mobil.


"Jangan!" seru Kana refleks. Mana rela dia buket cokelat itu untuk pemilik rental mobil atau siapalah. Membayangkan makan cokelat itu saja air liur Kana seakan menetes. Duh, gak akan Kana biarkan cokelat-cokelat itu leleh di lidah orang lain.


"Ken suka cokelat!" Kana menyambar buket cokelat itu lalu meletakkannya di meja kemudian memasang wajah bengis ke arah Joddy, sayangnya wajah bengis Kana terlihat menggemaskan di mata Joddy. Joddy ingin sekali meledeknya tapi dia memilih menahan tawanya.


"Besok aku pulang ke Jakarta, Kana."


Kana sedikit terkejut tapi dia cepat menyamarkan keterkejutannya . "Pulang, ya pulang saja. Kenapa harus ngasih tahu aku!" balas Kana ketus padahal dalam hati berkata lain. Kana ingin Joddy lebih lama di sini bersamanya. Entah kenapa sejak melihat mata Joddy yang berkaca-kaca sewaktu melihat hasil USG itu hati Kana terasa hangat dan sedikit demi sedikit luluh walaupun dia selalu mencoba untuk menyangkalnya.


"Aku masih berharap kamu bisa pulang bersamaku dan aku akan berjuang lagi untuk mendapat restu orangtua kamu."


"Tidak akan. Pulanglah tanpa aku dan Ken. Kalau perlu jangan kembali ke sini."Kana tidak bersungguh-sungguh saat mengucapkannya dia hanya mengertak dan berharap Joddy akan tetap tinggal lebih lama. Tapi ternyata Joddy malah tersenyum dan menganggukkan kepala membuat rasa kesal Kana menjadi-jadi.


"Oh, ya sudah. Tunggu apalagi?" seru Kana kesal.


"Kan besok pagi, jadi sebelum aku pulang. Bolehkan aku ajak Ken jalan-jalan sekarang?" pinta Joddy.


"Kemana?"


"Cuma beli mainan, kemarin aku sudah janji. Kamu sama Mbok Dar ikut aja."


"Oke," sahut Kana lalu masuk ke dalam rumah.


Membeli mainan sepertinya hanya alasan Joddy saja untuk mengajak Kana keluar rumah. Buktinya sekarang saja mereka tidak hanya membeli mainan tapi Joddy mengajak Kana dan Ken mengunjungi sebuah tempat yang indah di Jogja.


Tempat unik itu berjarak 20 km dari tempatnya menginap. Cukup jauh memang. Tapi semua terbayar dengan keindahan yang disajikan tempat ini. Namanya Bukit Bintang, dinamakan begitu karena jika malam tiba, para pengunjung seperti berada di angkasa. Di mana mereka bisa melihat gemerlapnya bintang-bintang yang sebenarnya adalah lampu-lampu kota yang bila dilihat dari atas akan terlihat seperti bintang-bintang yang bertebaran di angkasa.


Walaupun ada hotel yang menyajikan pemandangan tak kalah indahnya namun, Joddy sengaja memilih spot di sebuah restoran yang cukup mewah yang ada di tempat wisata itu untuk kenyamanan Kana dan juga Ken.


"Wah, bagus banget!" Kana hampir berlari saat melihat pemandangan lampu kota Jogjakarta dari tempat tinggi, terlihat seperti taburan bintang di angkasa. Cantik, Kana takjub. Sayangnya, Ken tertidur di gendongan Mbok Dar. Kana dan Joddy tak tega membangunkan Ken. Jadi, Joddy meminta Mbok Dar membaringkan Ken di lantai yang sudah dialasi dengan selimut tebal yang diam-diam Joddy bawa untuk jaga-jaga bila hal seperti ini terjadi. Kebetulan restoran yang Joddy pilih berkonsep lesehan.



"Kamu belum pernah ke sini?" tanya Joddy berdiri di samping Kana yang masih berdecak kagum menikmati pemandangan di depannya.


"Belum, aku gak tahu di Jogja ada tempat seindah ini." Kana hanya tahu beberapa tempat wisata di Jogja. Malioboro salah satunya. Dia memang melewati tempat ini jika akan pergi ke pantai yang ada di Gunungkidul. Tapi Kana tidak tahu tempat ini bisa secantik ini di malam hari. Kana tersenyum dia terlihat antusias dengan tempat ini, tidak terlihat kemarahan di wajahnya.


Hati Joddy menghangat saat memperhatikan wanita berwajah bayi di sampingnya. Kana terlihat sangat cantik. Rambut panjangnya terlihat sedikit berantakan karena tiupan angin. Wajahnya seperti bersinar karena pantulan sinar lampu. Terlihat Pipinya sedikit tirus mungkin karena dia sedang tidak nafsu makan di awal kehamilannya. Joddy ingin sekali memeluk Kana, tubuh rapuh yang butuh perlindungan itu. Hari-harinya pasti sangat berat. Dia sudah banyak mengalami kesedihan. Kehilangan calon anak, kehilangan suami dan sekarang hamil anak Joddy. Sungguh, Joddy merasa bersalah dan dia akan menebus kesalahannya. Dalam hati Joddy berjanji akan mengganti semua kesedihan Kana dengan kebahagian. Joddy akan membuat Kana dan Ken bahagia sampai mereka lupa caranya bersedih.

__ADS_1


"Kamu suka tempat ini?" tanya Joddy.


Kana mengangguk. "Suka."


"Suka pemandangannya?"


"Suka."


"Suka makanannya?"


"Suka." Walaupun mereka belum pesan makanan.


"Suka sama yang ngajak ke sini gak?"


"Suka!" Kana menoleh cepat saat sadar dia baru saja mendapat pertanyaan jebakan dari Joddy yang tengah tersenyum geli ke arahnya. Kana mendecih lalu kembali memperhatikan pemandangan di depannya. Untuk malam ini saja, dia akan berbaik hati pada Joddy.


"Banyak banget lho Na, tempat yang bagus di Jogja."Joddy memberi informasi.


"Oya?" Kana mengerjap takjub, membuat Joddy terpaku di tempatnya saat melihat wajah Kana yang terlihat.... Astaga! Joddy pasti sudah gila. Dia membayangkan sesuatu yang tidak semestinya dia bayangkan saat ini. Tapi sungguh, Joddy akan kehilangan akal sehatnya jika berada di dekat Kana. Kana itu seperti alkohol. Memabukkan.


"Iya, kamu mau aku ajak ke pantai Ngobaran?"


"Mau!"


"Gua pindul?"


"Mau!" Kana mengangguk antusias.


"Ke tebing Breksi?"


"Mau!"


"Nikah sama aku?"


"Ma- Hah, apa?" Kana lagi-lagi menoleh cepat ke arah Joddy memastikan pendengarannya tidak salah.


"Marry me, please!" seru Joddy kali ini dia beranikan diri mengambil tangan Kana mengenggamnya erat.


"Nikah sama aku ya, Dek?" pintanya sekali lagi. Kana hanya diam membeku di tempatnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2