Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Maaf, tidak patuh


__ADS_3

"Eh, anak Ibu pulang. Tumben nih, anak kesayangan Ibu mau pulang," sapa Jihan sumringah saat melihat Joddy datang. Ferddy yang sedang asik main game itu mencibir. Kemarin waktu nyuruh ngepel bilangnya gue yang kesayangan kenapa Abang datang jadi dia. Sungguh adil!


"Iya, Bu. Abang baru sempat. " Joddy mencium punggung tangan ayah dan ibunya dengan santun.


"Ayo sini, kamu mau dimasakin apa sama Ibu?" Jihan membimbing anaknya duduk di kursi kayu ukiran yang ada di ruang tamu.


"Abang lagi pengen sate Maranggi," jawab Joddy lalu menatap ke arah Ferddy yang masih konsen dengan ponselnya. "Fer, beliin aku sate sana!"


"Sate Maranggi? Jauh Bang, jam pulang kerja gini pasti juga rame banget. " Ferddy malas saja kalau harus mengantri demi sebungkus sate dan yang makan bukan dia. Dia menatap kakaknya sekilas lalu asik nge-game kembali.


"Kamu pakai mobilku, kamu bisa makan di sana kembaliannya ambil saja gajian kamu masih lama, kan?" Joddy mengulurkan tiga lembar kertas berwarna merah.


"Otw, Bang!" Tiba-tiba Ferddy beranjak dari duduknya mengambil kunci mobil dan uang Joddy kemudian berlalu begitu saja tanpa berpamitan. Sungguh anak yang sopan sekali.


"Jadi, ada apa kamu pulang?" Jika biasanya seorang ibu lebih peka, namun itu tidak berlaku di keluarga Joddy. Di sini, kepala rumah tangganya yang lebih peka. Heru selalu tahu jika anak-anaknya sedang dalam masalah atau sedang menginginkan sesuatu.


Joddy menatap Jihan yang duduk di sampingnya. "Maaf Bu, apa Ibu sudah bertemu dengan Kana?" tanya Joddy hati-hati, dia tidak mau Ibunya marah.


Jihan tersentak kaget mendengar pertanyaan Joddy. Darimana Joddy tahu? Apa Kana yang memberi tahu? Perempuan itu, benar-benar tidak bisa dipercaya.


"Bukan Kana yang ngasih tahu, Bu. Tapi Dipta yang tidak sengaja bertemu kalian hari itu. " Joddy seakan-akan tahu apa yang ada dipikiran ibunya.


"Kana? Pacar yang kamu ceritakan tempo hari?" Heru mengernyit, dia ingat Joddy pernah bercerita kalau dia sudah menemukan wanita pilihannya. Walaupun Joddy tidak menceritakan secara detail siapa dan bagaimana wanita itu.


"Iya Yah, tapi sudah putus, " sahut Joddy melirik Jihan yang bernapas lega. Syukurlah, wanita itu menuruti keinginannya.


"Oya? Kenapa?" Heru semakin tertarik, dia sangat mengenal Joddy, jika sudah mencintai orang maka Joddy akan menjaganya baik-baik. Sayangnya, sejak bekerja Joddy jarang mengenalkan pacarnya malah seingat Heru tidak pernah.

__ADS_1


"Coba Ayah tanya Ibu," sahut Joddy menatap Ibunya.


"Lho, hubungannya apa sama Ibu kamu?" Heru semakin tidak mengerti.


"Bu, apa benar Ibu bertemu dengan Kana? Dan siapa wanita yang bersama Ibu hari itu?" Joddy bertanya dengan suara serendah mungkin, dia tidak mau ibunya merasa ditekan.


Jihan berdehem lalu menatap Joddy dan suaminya bergantian. " Iya, Ibu memang bertemu dengan Kana dan wanita yangIbu bawa hari itu adalah Laras."


Joddy mengepalkan tangannya kuat-kuat. " Jadi, untuk apa Ibu bertemu Kana? Apa Ibu yang menyuruh Kana menjauhi Joddy?"


Jihan menatap Joddy. " Ibu tidak menyuruhnya meninggalkan kamu. Ibu cuma menunjukkan kalau ada yang lebih pantas bersanding dengan kamu, yaitu Laras." Realitanya Jihan meminta Kana meninggalkan Joddy bahkan sedikit memberinya hinaan.


"Bu, kenapa Ibu lakukan itu?" Joddy berharap Jihan tidak mengatakan sesuatu yang membuat hati Kana sakit.


"Ibu cuma mau yang terbaik buat kamu, Bang! Dan itu bukan Kana. Laras jauh lebih baik . Dilihat dari bibit, bebet, bobotnyac saja Laras menang jauh," balas Jihan dengan wajah judes dan Joddy baru melihat wajah lembut itu berubah menjadi.wajah yang tidak Joddy suka.


"Bu, Kana adalah wanita yang Joddy mau Bu. Dia wanita yang baik."


"Tapi Bu, Kana janda bukan karena mau dia, tapi karena takdir, suaminya meninggal karena kecelakaan." Joddy tak habis pikir dengan ibunya ini.


"Nah, apalagi suaminya dulu teman baik kamu. Apa kata orang-orang Bang? Kamu menikahi janda sahabat kamu sendiri. Orang-orang akan mengira kalian sudah ada hubungan sebelum suaminya meninggal. Lagipula jangan-jangan Kana itu bikin sial, suaminya aja meninggal gimana kalau itu terjadi sama kam-"


"Cukup Bu!" bentak Joddy tanpa sadar membuat Jihan tersentak kaget dia menatap Joddy tak percaya karena selama ini Joddy tidak pernah membentaknya. Jangan kan membentak bicara saja Joddy selalu dengan nada rendah.


"Lihat Yah, lihat anak kamu! Dia sudah berani membentak Ibunya, wanita yang sudah melahirkan dan merawat dia sampai seperti ini. Ini pasti karena pengaruh perempuan penggoda itu!"Jihan menunjuk Joddy dengan telunjuknya amarahnya meledak-ledak seperti kembang api di siang hari.


Joddy mengusap kepalanya gusar dia menjadi serba salah juga menyesal sudah berkata dengan nada tinggi pada ibunya. "Joddy minta maaf ya Bu sudah berkata dengan nada tinggi sama Ibu." Joddy mengambil tangan Jihan lalu menciumnya sebentar.

__ADS_1


"Tapi tolong, jangan hina Kana seperti itu. Dia wanita baik Bu. Dia tidak pernah menggoda Abang, tapi sebaliknya Joddy yang selalu menggoda Kana dan kejadian tempo hari itu, Joddy yang menggoda Kana."


"Alah, kamu tidak perlu membela dia Bang. Ibu tahu kamu. Kamu tidak pernah mau merusak anak gadis orang. Kalau terjadi berarti memang Si Perempuan yang menggoda. Sudah, Ibu sudah putuskan kamu nikah sama Laras."


"Bu-"


"Cukup!" Heru yang sejak tadi hanya menjadi pendengar akhirnya berusaha memotong kata-kata Joddy.


"Bu, Ayah tahu niat Ibu baik, menginginkan pasangan yang sempurna untuk Joddy. Tapi apa Ibu yakin itu akan membuat Joddy bahagia? Yang menjalani itu anak-anak Bu, kita sebagai orangtua cuma bisa mendukung dan mendoakan." Heru lalu menatap Joddy.


"Dan kamu Jod, jangan terlalu keras pada Ibumu. Daripada kamu sibuk bertanya ini itu lebih baik kamu yakinkan dulu perasaan kamu ke Kana itu apakah hanya rasa simpati atau cinta." Heru mencoba menengahi keduanya.


"Yah, belasan tahun Joddy menjaga hati hanya untuk Kana apa itu kurang meyakinkan? Joddy sayang pada Ibu tapi Kana juga wanita yang penting buat Joddy. Joddy butuh Kana, Bu. Tolong paling tidak Ibu kenali Kana dulu," bujuk Joddy pada Ibunya.


"Daripada kamu menyuruh Ibu mengenal lebih jauh tentang Kana, kenapa tidak kamu saja yang mencoba mengenali Laras?" balas Jihan kesal.


"Abang tidak punya perasaan apa-apa pada Laras Bu. Dari dulu Abang cuma anggap dia adik."


"Karena kamu sudah dibutakan oleh Kana, Bang!" Jihan mengebrak meja di depannya.


"Bu, selama ini Joddy selalu menuruti semua keinginan Ibu karena Joddy sayang sama Ibu. Tapi Joddy minta maaf, untuk kali ini Joddy tidak patuh sama Ibu." Joddy berlutut di kaki Ibunya dengan mata berkaca-kaca.


"Hanya karena perempuan itu, kamu sampai mengemis seperti ini?" Jihan sudah tak mengenali anak kesayangannya ini. Dulu Joddy tidak pernah sekalipun membangkang, bahkan ketika ibunya meminta untuk masuk ke dalam jurusan perkuliahan yang Jihan inginkan pun Joddy menurutinya.


"Maafkan Joddy, Bu. Tolong biarkan Joddy berjuang, nanti Ibu akan lihat betapa Kana itu wanita yang spesial," ucap Joddy penuh harap, Jihan hanya memalingkan wajahnya dia tidak akan mempedulikan kata-kata Joddy.


"Seberapa keras kamu berjuang, Ibu tetap pada pendirian Ibu, Bang." Jihan tetap tak mengubah keputusannya dia bersikeras tidak akan menyetujui hubungan Joddy dan Kana.

__ADS_1


Joddy menghela napas tapi dia tidak akan menyerah dia akan membuktikan kalau Kanalah yang pantas untuknya.


****


__ADS_2