
Joddy menyesal kenapa ketika teman-temannya bercerita jika ibu hamil itu selalu mengalami mood swing yang menyebalkan dia malah tertawa dan menganggap para suami yang sedang berkeluh kesah soal istrinya itu adalah tipe suami yang lemah dan cemen karena tidak mampu menaklukkan istrinya. Ternyata Joddy keliru. Semua yang dikatakan teman-temannya tentang ibu hamil itu benar dan dia seperti kena karma karena meremehkan hal tersebut.
Sejak Kana hamil, semua yang dilakukan Joddy banyak salahnya di mata Kana. Hal-hal sepele sekalipun, seperti lupa memakai telon (karena Kana terkadang masih saja tidak suka aroma Joddy yang tanpa telon) atau ketika Joddy lupa menaruh handuk basah di tempatnya Kana bisa murka dan mendiamkan Joddy seharian. Tapi Kana juga bisa jadi tiba-tiba manja dan tidak mau melepas pelukannya pada Joddy sekalipun dia tidak memakai minyak telon.
Kana bisa merengek seharian jika dia menginginkan sesuatu dan tidak mendapatkannya. Seperti malam ini, Joddy yang setengah mengantuk itu terpaksa dan harus menemani Kana mencari makanan yang sedang dia inginkan. Pecel lele.
Awalnya, Joddy melarang karena di jam malam seperti ini minyak yang digunakan untuk menggoreng pasti sudah berubah warna karena sudah dipakai berulang kali dan itu tidak baik untuk kandungan Kana. Joddy memberi alternatif untuk mencarikan ikan lele dan dimasak sendiri. Tapi Kana tetap menginginkan lele goreng yang dijual di pinggir jalan dan bukan Kana namanya kalau tidak bisa membuat Joddy menurutinya. Kana mengancam akan menelepon Gufron dan meminta tolong untuk mengantarnya. Jelas saja Joddy menentang keras. Bisa-bisa Gufron menyuruh Kana pulang ke rumah Gufron kalau sampai dia tahu Joddy membuat anak kesayangannya itu 'ngambek'.
"Kamu marah?" Suara lembut Kana membuyarkan lamunan Joddy yang sedang asik menyetir, Joddy gelagapan lalu menoleh ke arah samping. Istrinya terlihat menggemaskan dengan hoddie kebesaran miliknya. Pipinya yang mulai chubby makin membuatnya terlihat lebih cantik 10 kali lipat.
"Enggak."
"Tapi kok dari tadi diem aja?"
"Enggak, Sayang. Aku gak marah." Joddy tersenyum.
"Tuhkan, pasti kamu marah!" Kana menunduk sedih. Joddy menggaruk rambutnya gusar. Padahal dia memang tidak marah, hanya kesal. Itupun sedikit, setelah melihat mata bening Kana, kekesalan Joddy hilang entah kemana.
"Ya, udah deh hiks..hiks..kal-kalau kamu mar-ah pulang aj-a hiks..hiks." Kana mengusap kedua sudut matanya rupanya dia menangis. Astaga, apa Joddy sudah menyakitinya?
"Dek, aku gak marah, udah ya jangan nangis. Bentar lagi sampai nih, tuh udah kelihatan asap bakarannya." Padahal hanya ada bayangan gelap di depan, Joddy asal menunjuk saja untuk membuat Kana tenang. Dia tidak mau tangis Kana menjadi-jadi dan membuat moodnya hancur.
"Ma-na? Gak ada hiks..hiks," tanya Kana di sela Isak tangisnya.
"Nah, itu lihat tenda kaki limanya!" Kali ini Joddy tidak asal tunjuk karena mereka memang sudah sampai di sebuah warung pinggir jalan yang menjual aneka seafood.
Kana tersenyum lebar saat melihat tenda berwarna oranye dengan gambar aneka macam hewan laut. Dia buru-buru mengusap sisa air matanya dan merapikan rambut serta penampilannya. Joddy tersenyum melihat tingkah ajaib istrinya itu. Baru saja beberapa detik yang lalu dia menangis sekarang terlihat bahagia hanya karena melihat tenda warung kaki lima.
"Buruan, Kak!" Kana bergegas membuka pintu bahkan sebelum mobil yang dikendarai mereka benar-benar berhenti.
"Kana!" seru Joddy panik saat Kana turun begitu saja dari mobil tanpa menunggu Joddy benar-benar menghentikan mobilnya.
"Dek, kamu sembrono banget sih! Bahaya lho tadi!" omel Joddy menyusul Kana yang baru selesai memesan makanan itu duduk di bangku kosong.
"Kakak marah?" Kana menatap Joddy dengan tatapan sendu membuat Joddy mau tak mau menyembunyikan amarahnya lagi. Kalau dia marah Kana pasti akan sedih lagi. Istrinya ini kan tingkat sensitifitasnya sedang tinggi.
Joddy menarik napas dalam-dalam lalu tersenyum. "Engga, Sayang. Tapi jangan diulangi lagi ya yang kayak tadi? Kalau mau keluar dari mobil harus nunggu sampai mobil benar-benar berhenti. Kana kan sedang hamil harus lebih hati-hati lagi sekarang."
Kana tersenyum lalu mengangguk. "Iya,iya maaf. Ya udah yuk, Kakak duduk sini aku udah pesenin gurame bakar!" Kana menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya.
Joddy tersenyum lalu duduk di samping Kana sambil memperhatikan sekeliling warung yang masih ramai padahal sudah jam 10 malam.
Sebenarnya Joddy tidak ada masalah mau makan di manapun karena dia tipe pria yang tidak pilih-pilih soal makanan. Selama makanan itu enak dimakan dan tidak beracun dia mau saja. Tapi kali ini dia memang sedikit keberatan jika Kana makan di pinggir jalan seperti ini. Bukan apa-apa, walaupun ini bukan kehamilan pertama, tapi Kana sedang hamil anak pertama Joddy dia ingin sekali semua yang terbaik untuk calon anaknya. Dia tidak mau kehilangan untuk kesekian kalinya.
Joddy menghela napas lalu mengarahkan pandangannya di sebrang meja di depan mereka. Ada segerombolan pemuda yang sepertinya baru pulang dari berolahraga terlihat dari kaos basket yang mereka kenakan. Sebenarnya tidak ada masalah dengan mereka sebelum Joddy memergoki salah satu pemuda sejak tadi memperhatikan Kana. Jelas Joddy sangat tahu pemuda itu menatap Kana dengan tatapan aneh karena hanya Kana satu-satunya wanita di depannya.
"Jangan cemberut aja, Kak. Makan yuk!" Kana menyenggol Joddy yang sedang melamun dengan sikunya.
Joddy sedikit kaget ketika melihat bermacam-macam makanan terhidang di depannya. Sejak kapan makanan ini ada di sini?
Kebanyakan melamun Joddy jadi tidak sadar jika makanan yang dipesan istrinya sudah datang.
"Kak, makan!" Kana meletakan piring yang sudah dia isi dengan nasi di depan Joddy yang masih terkesima dengan makanan di depannya.
__ADS_1
"Eh, jangan pakai sambal!" Joddy menyambar semangkuk sambal dari tangan Kana yang nyaris dia tumpahkan ke nasinya.
"Yah, kenapa Kak?"
"Kamu lagi hamil, Sayang. Jangan makan yang pedas-pedas dulu ya? Gak baik buat kamu dan anak kita." Joddy berkata dengan hati-hati, takut-takut Kana akan menangis lagi. Bisa gawat, apalagi ini di tempat umum.
"Ya, udah deh!" Kana mengangkat kedua bahunya acuh lalu mulai asik makan. Joddy menghela napas lega dia sudah was-was saja kalau Kana akan mengamuk atau nangis tapi syukurlah dia menurut.
Joddy mulai mengambil lauk walaupun sebenarnya dia masih kenyang karena tadi dia sudah makan sepulang dari kerja.
"Astaga, enak banget sumpah lelenya!" puji Kana setelah menelan makanan yang dia kunyah dengan mimik lucu yang menggemaskan membuat Joddy tersenyum geli melihat tingkah lucu istrinya itu.
"Tapi gak boleh sering-sering ya! Gak baik buat kesehatan!"Joddy mengusap sudut bibir Kana yang sebenarnya tidak ada nasi atau kotoran apapun yang menempel di sana. Joddy hanya ingin menunjukkan pada pria yang duduk di sebrang mereka kalau wanita yang sejak tadi pria itu perhatikan adalah miliknya.
"Kamu yakin Dek ini semua habis?"
Kana menggeleng." Nanti kita bungkuslah!" sahutnya santai asik mengunyah makanannya Joddy memilih diam dia tidak mau memancing emosi sang ratu kalau dia bicara yang aneh-aneh.
Joddy melirik ke arah depan meja dan syukurlah segerombolan pemuda itu bersiap meninggalkan meja mereka. Joddy bersyukur dia tidak perlu mencolok mata pria yang sejak tadi memperhatikan istrinya itu.
"Della ya?"
Sial! Bukannya pergi tapi pemuda itu malah menghampiri meja mereka.
Kana menghentikan suapannya lalu mengernyit saat melihat pria muda nan tampan berdiri di depannya.
"Kak Jerry ya?!" seru Kana seperti sudah ingat dengan identitas si pria muda yang tampan itu.
"Iya, Del. Apa kabar kamu? Aku sempat pangling. Aku kira kamu bukan Della tadi." Si pria muda nan tampan tidak menghiraukan seorang pria matang yang duduk di samping Kana tengah menatapnya dengan tatapan berapi-api.
"Aku baik. Kak Jerry gimana?"
Sebentar...sebentar siapa nama pemuda ini? Jerry? Oh, jadi pria ini yang pernah kencan dengan Kana.
Joddy lalu memperhatikan Jerry dari atas sampai bawah. Lalu tersenyum sinis. Biasa saja, cakepan gue kemana-mana lah! Persamaan gue sama dia cuma huruf depan nama yang sama.
"Baik-baik saja. Kamu sama siapa?" Akhirnya Jerry sadar jika ada pria matang tampan di samping Kana.
"Oh iya, kenalin suami aku." Kana memperkenalkan Joddy pada Jerry. Pemuda itu seperti terkejut saat tahu siapa pria yang sejak tadi terlihat posesif di samping mantan gebetannya itu. Jerry pikir masih sebatas teman ternyata malah udah jadi suami.
"Oh, kenalkan saya Jerry kakak tingkat Kana dulu."Jerry menggulurkan tangannya pada Joddy yang dengan malas menyambut uluran tangan Jerry.
"Joddy. SUAMI Kana Fradella Gufron!" sahut Joddy penuh dengan penekanan apalagi di kata 'suami'. Jerry terlihat salah tingkah lalu melepas tangannya.
"Oh, iya. Aku turut berduka cita ya Na, atas meninggalnya suami kamu yang pertama aku juga turut berbahagia atas pernikahan kamu," ujar Jerry tulus tapi cukup membuat perubahan di raut wajah Kana.
"Terimakasih, ya Kak!"
"Kamu masih tinggal di perumahan dekat Mama kamu?" Jerry mengubah arah pembicaraan.
"Iya, Kak aku kembali ke sana."
"Dekat tuh sama rumah aku!"
__ADS_1
"Wah, yang benar?!"
Joddy menendang kaki Kana di bawah meja isyarat agar Kana menghentikan obrolannya, tapi Kana rupanya tidak peka dengan isyarat sang suami yang sejak tadi sudah menahan diri untuk tidak mengusir pria di depannya ini.
"Kapan-kapan mampir boleh? Kamu masih simpan nomor aku, kan?"
"Of course, mampir saja. Kayaknya aku juga masih simpan nomor Kakak!"
Cukup! Cukup!
"Sayang, buruan makannya. Makan yang banyak biar ANAK kita di perut kamu sehat!" Joddy sudah tidak tahan untuk tidak menghentikan obrolan mereka. Dan benar saja Jerry dan Kana sama-sama terdiam. Jerry bahkan terlihat serba salah apalagi saat Joddy menekankan kaya 'anak kita' itu semacam kode jika Jerry tidak boleh melanjutkan obrolan mereka.
"Oh, oke. Della, aku cabut dulu ya sudah ditunggu sama anak-anak!" Jerry menunjuk segerombolan pemuda yang menunggunya di parkiran.
"Oke, Kak. Terimakasih sudah menyapa!" balas Kana.
Jerry mengangguk lalu berpamitan pada Joddy sebelum keluar dari warung tenda itu.
"Ciee, yang habis ketemu mantan gebetan!" sindir Joddy saat Jerry benar-benar hilang dari pandangan mereka. Kana menahan senyum lalu menatap suaminya.
"Ciee, yang cemburu!" kikiknya geli melihat perubahan wajah suaminya.
"Aku gak cemburu! Cemburu cuma buat orang yang gak percaya diri." Dan aku sedang tidak percaya diri.
"Ih, kayak kenal dialognya!" seru Kana nyaris tertawa melihat wajah kesal suaminya.
"Jangan ngambek, Kak! Aku sama Kak Jerry dari dulu cuma temen!" kata Kana menenangkan suaminya.
"Temen manggilnya aja 'Della'. Temen apa demen?"
sindir Joddy kesal.
"Hahaha, temen lah. Kakak tahu kenapa dia manggil aku Della?"
Joddy mengedik acuh. Bodo amat!
"Karena dia bilang nama Kana itu kayak nama merk salep kaki makanya dia risih aja manggil aku pakai nama itu." Kana terkekeh geli setiap mengingat alasan itu. Joddy mau tak mau ikut tersenyum.
"Nah, gitu dong! Gak usah cemburu, Kak. Aku udah milik kamu, paten!" Kana tersenyum manis lalu mengedip manja ke arah suaminya yang mau tak mau itu luluh juga hanya dengan kedipan manja sang istri.
"Awas ya, sampai rumah habis kamu!" ancam Joddy dengan maksud tertentu membuat Kana nyaris menyemburkan tawanya saat tahu apa yang suaminya itu maksud.
"Siapa takut!" tantang Kana membuat sesuatu di diri Joddy bangkit.
"Udah yuk semua dibungkus kita pulang!" seru Joddy penuh semangat.
"Tapi lelenya belum abis, Kak!"
"Nanti aku kasih lele yang lain!"
"...."
*******
__ADS_1
**Hayyyy ...guys! maafin ya kalau lama update. makasih banget yang udah nunggu Kana dan selalu ngasih dukungan Kana. Seperti yang pernah aku bilang, Kana tinggal beberapa part lagi ya. Terimakasih banget! Aku sayang kalian semua🥰🥰🥰🥰***