
Hal yang paling Kana inginkan saat ini adalah hidup tenang dan nyaman bersama Ken dan itu dia dapatkan di kota ini. Kota di mana suaminya berasal, Yogyakarta.
Atas rekomendasi Rahayu mantan mertuanya, Kana memilih tinggal di sini sebuah desa wisata yang jauh dari hingar bingar kota. Suasana masih kental dengan pedesaan. Walaupun begitu, bukan berarti jauh dari 'peradaban'. Desa ini malah dijadikan desa wisata, banyak wisatawan baik lokal maupun asing berlibur di sini. Selain menyuguhkan pemandangan alam pedesaan yang hijau dihiasi gemericik air pengunungan, tempat ini juga menyediakan tempat outbond juga ada wisata seni budaya dan alam. Ken saja suka sekali bermain di sini. Lihat saja anak gempal itu sedang asik bermain air dengan Mbok Dar.
Kana dan Ken serta Mbok Dar menyewa sebuah home stay milik saudara almarhum suaminya. Mereka akan tinggal di sini sampai Gufron menemukan rumah yang cocok untuk mereka tinggal. Sebenarnya Kanda menyarankan agar Kana tinggal bersama Nea di Bandung tapi Kana menolak dengan alasan dia ingin ke tempat yang kemungkinannya kecil untuk dia bertemu Joddy.
Saudara Adrian tidak keberatan Kana menyewa home staynya dalam waktu lama. Mereka menerima Kana dengan senang hati. Kana bahkan diberi kesempatan untuk ikut menjaga kafe yang dekat dengan home stay yang dia sewa untuk mengisi waktu luang.
Siang itu Kana duduk beristirahat sambil menikmati segelas jus jeruknya, sesekali dia mencium aroma roti yang baru matang menguar dari arah dapur, pesanan pengunjung kafe. Selama tinggal di Jogja rasa mual Kana berkurang, walaupun nafsu makannya masih belum kembali.
Kana sangat suka dengan tempat ini. Kafe dengan konsep alam itu menyajikan minuman dan makanan tradisional khas Jogjakarta selain itu juga ada beberapa jenis makananan western yang sengaja disediakan untuk wisatawan yang lidahnya tidak cocok dengan makanan lokal. Sayang sekali, tempat ini ada saat Kana dan Adrian sudah 2 tahun menikah jadi tidak sempat menjadikan tempat ini sebagai tempat berbulan madu mereka.
"Mbak Kana, siap-siap nggeh, mau ada tamu. Rombongan dari Jakarta. Mahasiswa mau outbond." Suara Ratih salah satu pegawai di kafe ini membuyarkan lamunan Kana. Walaupun seminggu lebih di kota ini Kana masih belum terbiasa menggunakan bahasa jawa maka fia selalu meminta orang-orang di sini untuk menggunakan bahasa campuran.
" Tugas aku ngapain?" Kana sangat antusias saat mendengar akan ada tamu dari kota tempatnya berasal. Melihat mahasiswa-mahasiswa itu pasti akan mengobati rasa rindunya pada kota Jakarta. Kota di mana dia dilahirkan.
"Mbak Kana tugasnya nyambut tamu aja Mbak. Sama nyatet kalau-kalau ada yang mau nambah pesenan makanan. Mereka udah reservasi kemarin." Ratih menunjukan daftar menu dan note. Kana mengangguk lalu menerimanya.
"Ingat ya, Mbak jangan capek-capek. Nanti saya kena marah Mbak Nadi lagi." Nadi adalah pemilik kafe yang merupakan saudara sepupu Adrian. Kana mengangguk membuat Ratih tersenyum lalu kembali merapikan meja dan kursi yang ada di kafe.
Selang tak berapa lama, rombongan mahasiswa dengan almamater berwarna hijau itu datang. Ada sekitar 40 orang mahasiswa yang Kana tebak mereka satu kelas.
Kana menyambut dengan ramah para mahasiswa itu, mempersilahkan mereka mencari tempat duduk sendiri yang sengaja dikosongkan karena mereka sudah reservasi dari kemarin.
"Mbak, Mbak Kana kan ya?"
Gerakan tangan Kana yang siap menulis pesanan para mahasiswa yang meminta menu tambahan itu terhenti. Kana menatap seorang gadis bermata bulat dengan hidung mancung, rambut diikat ke atas dengan poni lucu membuat wajahnya terlihat menggemaskan.
"Maaf, siapa ya?" Kana mengernyit mencoba mengingat wajah yang terlihat familiar di matanya. Tapi Kana lupa siapa.
"Rara, pac- temannya Dipta." Gadis itu tersenyum lebar.
"Oh, pacarnya Pak Dipta." Kana baru ingat, dia gadis yang Kana temui beberapa kali bersama Dipta.
"Hehe, Mbak Kana... jadi malu." Gadis bernama Rara itu menggaruk kepalanya dengan wajah merah. Menggemaskan sekali.
"Mbak kok di sini? Ini kafe punya Mbak?"
__ADS_1
Kana menggeleng pelan." Bukan, aku-" Duh, gimana kalau gadis ini tahu tentang kisahnya dengan Joddy. Bisa-bisa dia ngasih tahu lagi pada Dipta tentang keberadaannya di sini.
"Ini punya saudara, kebetulan aku liburan jadi bantu-bantu di sini. Nanti malam pulang ke Jakarta kok," sahut Kana. Tentu saja dia terpaksa berbohong.
Rara manggut-manggut. "Sendirian Mbak? Gak sama saudaranya Dipta? Siapa itu namanya ehmm-Om Joddy ya?" Kening Rara mengerut lucu saat berpikir.
Kana tersenyum saat Rara menyebut Joddy dengan sebutan 'om'. Kana yakin Joddy akan bete kalau tahu dia dipanggil 'om' oleh gadis ini.
Kana mengeleng, dia yakin Rara tidak tahu tentang dia dan Joddy. " Iya, cuma sama keluarga aja." Lebih baik cari aman biar gadis ini tidak curiga.
"Hehe, lebih asik sama keluarga ya, Mbak?"
Kana mengangguk. Berarti Rara memang belum tahu kisahnya dan Joddy, kalau begitu dia juga tidak tahu kalau Joddy mau menikah atau malah sudah menikah? Kana jadi penasaran kira-kira Joddy sudah menikah belum ya dengan Laras?
"Oiya, Pak Dipta apa kabar?" Sengaja Kana mengarahkan topik tentang Dipta. Siapa tahu Rara akan menyinggung soal Joddy.
Rara baru saja akan menimpali tapi urung saat seorang teman laki-laki Rara menghampirinya.
"Ra, buruan!"
Gadis berponi itu mendecih saat teman prianya itu merangkul bahunya. "Apaan sih! Aku baru ngobrol sama Mbak Kana," protes gadis cantik itu, lalu memperkenalkan temannya pada Kana.
"Iya, iya!" sungut Rara menatap kesal ke arah temannya. Lalu berubah ramah saat menatap Kana. "Mbak, nanti kita ngobrol lagi ya. Aku mau makan dulu." Rara menjabat tangan Kana lalu bersama temannya kembali ke meja mereka. Kana menghela napas lega. Sepertinya akan aman. Gadis itu tidak tahu apa-apa tentang hubungannya dengan Joddy. Dipta sepertinya tidak pernah menceritakan tentang kisahnya pada kekasihnya itu. Jadi, kecil kemungkinan Rara untuk memberitahu Dipta mengenai dirinya. Semoga saja.
Di lain tempat Joddy tengah sibuk dengan laptop dan berkas-berkasnya. Dia mengerjakan semua pekerjaannya yang menumpuk akibat dari dirinya yang terlalu sibuk dengan masalahnya belakangan ini. Dipta yang sejak tadi menemani Joddy di apartemennya itu mengeluh karena Rara yang tidak bisa dihubungi sejak tadi, lama kelamaan membuat konsentrasi Joddy sedikit terpecah juga.
"Lo yang baru ditinggal secara jelas aja udah blingsatan gimana gue yang dtinggalin tanpa kejelasan! Kambing!" maki Joddy dengan tangan sibuk di atas keyboard. Telinganya panas karena sejak tadi mendengar keluhan Dipta yang tidak berhenti-henti itu.
"Rara perginya sama sahabatnya, Bang. Cowok. Gue tuh selalu ngerasa hubungan mereka itu lebih dari sekedar sahabat. Ya, walaupun gue tahu Rara milih gue tapi tetep aja gue tuh agak gak suka sama kedekatan mereka."
"Lo cemburu kali!" Joddy menutup berkas terakhirnya lalu melempar begitu saja di atas meja menyusul berkas-berkas lainnya.
"Ya wajarlah Bang. Buat ngerebut hati Rara gue tuh harus bersaing mati-matian sama mantannya. Kampretnya, sampai sekarang mantannya itu masih suka caper, ngebetein banget!" gerutu Dipta melempar ponselnya di meja.
" Masalah lo gak serumit masalah gue!" Joddy mengambil kaleng minumannya lalu meneguknya sekali habis.
Dipta tercenung lalu membenarkan dalam hati. Masalah percintaannya memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan masalah yang dihadapi Joddy. "Oya, terus gimana Tante Jihan, Bang?" Pasalnya ini sudah seminggu lebih dari kejadian itu , Joddy belum sempat menceritakan keadaan orangtuanya pada Dipta.
__ADS_1
"Ayah pergi dari rumah mungkin dia tinggal sama Laras." Joddy melempar kaleng minumannya yang sudah kosong ke keranjang sampah.
"Sumpah, gue gak nyangka kalau Om Heru bisa ngelakuin itu ke kalian." Dipta mengucapkan amit-amit dalam hati. Dia tidak pernah ingin dan mau menjadi seperti Heru.
"Lo aja gak ngira apalagi gue," balas Joddy. " Gue juga binggung apa yang bikin Ayah berubah sampai-sampai dia lebih memilih wanita itu," ujar Joddy memijit pangkal hidungnya.
"Lalu gimana keadaan Tante?"
"Ibu tiap malam nangis, mungkin ke inget Ayah. Gue gak tahu ke depannya mereka mau gimana. Sementara waktu gue suruh Ferddy tinggal di rumah Ibu buat nemenin biar Ibu gak ke inget Ayah terus."
"Terus gimana Kana?"
Joddy terdiam sejenak matanya menerawang menatap ke arah jendela apartemen yang memperlihatkan langit mulai berwarna jingga pertanda senja akan tiba. Pikiran Joddy menerawang memikirkan Kana.
Selama ini diam-diam Joddy pergi ke rumah Kana, mengawasi rumah itu dari jauh tapi tidak ada tanda-tanda Kana berada di rumahnya. Rumah itu sepi, hanya satpam dan entah siapa Joddy tidak kenal, menjaga rumah itu.
Begitupula ketika Joddy mencari tahu keberadaan Kana di rumah orangtuanya. Ketika Joddy mencoba bertamu, orangtua Kana tidak mau membukakan pintu untuknya. Jangan kan membukakan pintu, keluar dari rumah hanya untuk sekedar bertanya apa keperluan Joddy datang ke rumah saja tidak. Mereka benar-benar sengaja menyembunyikan Kana menjauhkannya dari Joddy. Kanda pun yang biasanya bersikap netral kini ikut bungkam tentang Kana. Astaga, harus kemana Joddy mencari keberadaan Kana? Semoga saja dia secepatnya bisa menemukan Kana.
"Gue belum nemu titik terang keberadaan Kana. Gue nanya Kanda, tapi dia gak mau jawab. Binggung gue!" Joddy mengacak rambutnya gusar.
"Jangan menyerahlah, Bang. Lo datengin aja ke rumahnya lagi, siapa tahu Kana cuma sembunyi di rumah," usul Dipta wajahnya semringah saat ponselnya menyala menandakan ada pesan masuk.
Matanya terbelalak lebar saat membuka pesan yang baru saja sampai itu. "Bang, Bang! Rara bales pesen gue!"
"Terus gue harus bilang 'iri Bos'? Bodo amatlah!"Joddy menghela napas lelah. Kepalanya benar-benar pusing memikirkan masalah yang terus menerus menghampirinya.
"Lo gak bakalan bilang bodo amat, setelah lihat foto yang dia kirim ke gue!"Dipta menyerahkan ponselnya ke arah Joddy yang menatap ponsel Dipta dengan malas itu.
"Apa? Foto Rara ciuman sama sahabatnya?" sindir Joddy lalu mengambil ponsel Dipta dan melihat foto yang dimaksud sepupunya.
Mata Joddy pun terbelalak saat melihat foto yang ada di ponsel Dipta. "Cewek lo ada di mana?"
"Jogj- Bang mau kemana?!!" seru Dipta saat Joddy berlari ke kamarnya.
"Suruh Rara shareloc tempatnya!!" teriak Joddy dari dalam kamar.
"Dasar bucin katanya bodo amat, giliran liat fotonya kelabakan!" gerutu Dipta tersenyum miris sambil memperhatikan foto yang ada di ponselnya.
__ADS_1
*******