Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Menduga-duga


__ADS_3

"Na, kamu baik-baik aja?" tanya Key saat tadi melihat Kana memijat pelipisnya berulangkali di sela-sela tugasnya melayani nasabah.


"Gak tahu kepalaku pusing banget. Kayaknya masuk angin nih, semalam nyebur ke kolam renang," sahut Kana. Dia jadi ingat gara-gara memberi kejutan ulangtahun untuk Kanda dengan niat menceburkan dia ke kolam renang, malah dirinya ikut-ikutan tercebur.


"Ya lagian malam-malam berenang." Key menyodorkan tisu untuk mengusap keringat Kana. Beruntung mereka sudah masuk jam istirahat.


"Iya, ngasih kejutan buat kakakku eh, aku juga malah didorong sama istrinya." Kana mengeluh lalu menelungkupkan kepalanya di meja kerjanya


"Pulang aja deh, ntar biar dihandle Mita," saran Key. Kana menegakkan tubuhnya lalu mengeleng pelan.


"Nanggung beberapa jam lagi pulang," Kana mengambil air mineralnya lalu meminumnya.


"Eh, Kana tahu gak ada gosip baru di kantor," bisik Key lalu menarik kursinya mendekat ke meja Kana, jika sudah begini bisa dipastikan Key akan mulai mengajaknya ghibah.


"Gosip apa?"


Key tak langsung menjawab dia memperhatikan sekeliling , hanya ada beberapa nasabah yang masih menunggu l jam istirahat habis dan counter teller dibuka lagi. Para staf sedang makan siang di pantry aman kalau begitu.


"Si Enur," bisik Key.


Kana mengernyit. "Nurul?Ada apa sama dia?"


Key melirik kanan kiri lalu berbisik,"Dia ada main sama Pak Gio."


Kana menoleh cepat saat mendengar apa yang dibisikan Key. "Serius?"


"Iya, beritanya udah kemana-mana. Ada anak sebelah yang lihat Nurul sama Pak Gio masuk ke motel."


"Gosip aja kali. Masa iya, cewek semuda dan secantik Nurul mau sama Pak Gio yang usianya jauh banget." Kana lalu diam membandingkan dirinya dengan Nurul. Dia juga menyukai om-om seperti Joddy. Usia mereka berjarak 10 tahun. Eh, tapi umur Nurul baru 20 tahun Pak Gio sekitar 45an lumayan juga ya rentangnya.


"Zaman sekarang yang penting ada duit Abang sayang gak ada duit Abang tendang. Kamu kan tahu Pak Gio jabatannya udah lumayan banget di sini. Apalagi Si Nurul itu gaya hidupnya hedon banget." Key geleng-geleng kepala. "Eh, pantesan aja barang-barang dia branded semua tahu sendirilah gaji teller berapa? Mainnya kelas mujair euyy!" imbuhnya bergidik ngeri.


"Aku jadi mikir deh, Na. Jangan-jangan dulu dia bikin gosip kedekatan kamu sama Pak Gio itu cuma buat kamuflase perasaan dia aja? Atau bisa jadi mereka udah ada hubungan sejak dulu?" Key mulai menduga-duga membuat Kana menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan keingin tahuan Key yang besar.


"Ah, aku sudah duga bocah itu memang gak beres waktu pertama kali ke sini." Key mendecih.


"Kalau emang bener biarin ajalah Key, urusan dia. Kita yang penting kerja sesuai SOP." Tapi Kana dalam hati bersyukur, untung saja dia tidak jadi dekat dengan Pak Gio. Mainnya saja ke motel. Kenapa gak sekalian hotel saja ya?


"Masih ada waktu, makan dulu yuk nasi padang atau bakso?" usul Key mengalihkan perhatian Kana.


"Lagi gak pengen makan, mual rasanya." Kana menggeleng pelan. Entah kenapa selain pusing dia juga tidak nafsu makan.


"Kayak lagi ngidam aja kamu, Na." Key beranjak dari duduknya untuk mencuci tangan.

__ADS_1


Kana terdiam saat mendengar kata-kata Key.


Ngidam? Kana ngidam?


Kana jadi ingat bulan ini sepertinya dia belum mendapatkan menstruasinya dan ini sudah sebulan sejak kejadian itu.


Jangan... jangan..


Tidak.... tidak! Tidak mungkin, Kana hanya masuk angin biasa, tidak mungkin dia hamil. Toh, dua kehamilan dia kemarin Kana tidak merasakan gejala-gejala seperti mual ataupun ngidam. Kana yakin dia hanya masuk angin biasa.


"Eh, Na! Bengong aja, aku cuma becanda kali. Jangan dipikirin, apalagi sampai nanti beli testpack." Key menepuk pundak Kana lalu tertawa geli, membuat Kana tersentak kaget.


Testpack?


Benar, sepulang dari kantor dia akan mampir untuk membelinya hanya untuk memastikan saja, bukan berati dia hamil karena Kana memang tidak hamil dia hanya sedang tidak enak badan saja.


*


Kana turun dari mobilnya lalu berlari kecil menuju apotik. dia memutuskan untuk mampir dan membeli beberapa testpack dengan merek yang berbeda. Kana sengaja mencari apotik yang jauh dari kantor dan rumahnya untuk menghindari orang-orang yang mungkin mengenalnya.


"Mbak, toiletnya di mana?" tanya Kana begitu dia sudah mendapatkan pesanannya.


Apoteker berhijab itu tersenyum. "Mau langsung dicoba ya Mbak? Pasti sudah gak sabar?"


Kana hanya tersenyum tipis, bukan karena tak sabar, Kana hanya takut kalau dicoba di rumah, Mama.atau Mbok Dar akan curiga jadi lebih baik Kana mencobanya di sini, dan besok pagi baru di rumah.


"Makasih Mbak." Kana buru-buru menyambar tabung kecil itu lalu menuju tempat yang ditunjuk apoteker berwajah manis itu.


Kana segera memcobanya, jantungnya berdebar kencang saat menunggu hasil dari 3 buah tespack dengan merek yang berbeda itu. Sengaja dia membeli merek yang berbeda untuk membandingkan keakuratnnya.


Setelah tiga menit berlalu sesuai dengan petunjuk yang ada di kemasan tespack itu, dengan tangan gemetar Kana mengambil satu tespack dari merek yang paling murah yang sudah dia coba. Kana memejamkan matanya sambil merapalkan doa sebelum melihat hasil dari benda pipih itu. "Tenang, Na pasti hasilnya satu." Kana lalu membuka matanya dan dengan perlahan membalikkan benda itu matanya membelalak lebar jantungnya berdegup sangat kencang.


"Gak mungkin!" Kana menutup mulutnya saat hasil dari tespack itu tidak sesuai harapannya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, begitu dia melihat dua garis di benda pipih itu. Garis itu bukan hanya samar tapi terlihat sangat jelas.


"Tidak, ini pasti salah!" Kana mengambil dua tespack lain dengan merek yang berbeda dan hasilnya sama, keduanya menunjukan hasil positif. Kana terduduk lemas, dia menutup mulutnya berharap isak tangis tidak didengar oleh orang.


Bagaimana ini? Kenapa Tuhan begitu tega padanya? Kana telah membuat malu keluarganya. Kana seakan-akan menjadi contoh nyata betapa janda itu rentan dengan hal-hal seperti ini.


Kana memukul kepalanya, menghukum dirinya sendiri karena begitu bodoh dan ceroboh, apa yang akan orang bilang nanti karena Kana seakan-akan membuktikan stigma buruk status janda yang ada di luaran sana.


Kana menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, dia binggung harus bagaimana. Apa yang akan dia katakan pada orangtuanya kalau dia hamil, dan ayah dari janin di perutnya adalah tunangan orang? Kana mengeleng-ngelengkan kepalanya membayangkan reaksi kedua orangtuanya kalau tahu apa yang terjadi padanya. Mereka pasti marah dan kecewa. Dia sudah menjadi aib kedua orangtuanya. Dia sudah melukai kepercayaan Gufron yang sangat besar padanya. Dia sudah membuat malu semua orang yang dekat dengannya.


Ponsel Kana tiba-tiba bergetar dia buru-buru mengambil ponselnya. Tangisnya menjadi saat tahu yang menelepon adalah Gufron. Pria setengah baya itu pasti akan menanyakan kenapa dia belum pulang juga.

__ADS_1


"Maafin Kana, Pa! Maaf!" gumam Kana lalu memasukkan kembali ponsel tanpa mengangkat telepon dari papanya itu. Dia tidak kuasa dan takut kelepasan bicara. Kana akan menyembunyikannya sampai dirinya memang terbukti hamil secara medis. Yah, Kana masih yakin kalau tespack itu salah.


Kana mengusap air matanya lalu beranjak untuk melempar semua tespack di tempat sampah dan memasukan sisanya yang masih baru kedalam tas. Kana bergegas keluar dari toilet untuk pulang ke rumahnya.


Langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sedang duduk mengantri di kursi tunggu yang ada di apotik. Takdir memang sebecanda ini padanya. Kenapa di saat seperti ini dia bertemu dengan orang yang membuat kekacauan ini? Kenapa dari sekian banyaknya apotik dia bertemu dengannya di sini?


" Gimana Mbak hasilnya?" teriakan dari Mbak apoteker dari balik counternya mengagetkan Kana. Takdir benar-benar sedang mengujinya. Kana yakin pria yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan kaget itu tidak terlalu bodoh untuk tahu maksud dari pertanyaan wanita berhijab itu.


Kana hanya tersenyum pada apoteker itu lalu bergegas pergi mengabaikan pria berkacamata yang masih menatapnya tanpa kedip.


"Selamat ya, Mbak!" Bahkan Kana tak menoleh saat wanita apoteker itu berteriak padanya. Kana buru-buru merogoh tote bagnya untuk mengambil kunci mobil. Tapi seperti berkonspsirasi dengan alam, kunci mobilnya seperti sengaja bersembunyi untuk membuatnya panik dan kacau.


"Cari ini?" Sebuah tangan mengulurkan anak kunci dengan gantungan yang sangat Kana hafal.


"Terimaka-sih." Kana terkesiap saat melihat siapa yang mengulurkan kunci mobilnya padanya. Pria berkacamata yang tadi duduk di bangku untuk menunggu pesanan obat itu, sekarang ada di depannya. Menatapnya tajam tanpa senyum.


"Tertinggal di meja kasir." Joddy memberi informasi pada Kana.


"Terimakasih." Kana mengambil kunci mobilnya untuk segera pergi dari hadapan Joddy.


"Kamu hamil, Dek?"


Tangan Kana yang sudah meraih handle pintu mobilnya, otomatis terhenti saat mendengar pertanyaan lugas pria di sampingnya.


"Maksud kamu apa?"


"Kamu hamil, kan?"


Kana tak menjawab membuat Joddy semakin curiga.


"Pertanyaan dari apoteker itu maksudnya hasil tespack kamu, kan?"


Kana menatap tajam Joddy. "Jangan ngawur!"


"Aku tidak ngawur."


"Kalau begitu jangan menduga-duga."


"Bagaimana kalau dugaan aku benar? Kamu hamil dan itu anakku?"


Kana mengepalkan tangannya kuat-kuat. Harusnya Kana tahu kalau Joddy terlahir dengan tingkat kecerdasan yang tinggi. Joddy tidak bodoh dia selalu menebak semua dengan logikanya.


"Kalau begitu silahkan kecewa karena dugaanmu salah. Permisi." Kana membuka pintu mobilnya lalu buru-buru masuk dan menutup pintu mobilnya lalu segera pergi dari hadapan Joddy.

__ADS_1


"Aku akan buktikan kalau dugaanku benar, Na. Kamu hamil dan itu anakku. Wanita itu memang kamu." Joddy tersenyum menatap mobil Kana yang menjauh.


*******


__ADS_2