Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Marah


__ADS_3

Kana mengusap air matanya lalu beranjak dari tempat tidur saat pintu kamarnya diketuk. "Apa?" seru Kana sewot, dia masih kesal melihat foto yang dia temukan di akun instagram Joddy semalam. Membuat acara makan - malam - di luar, keluarga Gufron gagal karena si bungsu tiba-tiba mengeluh sakit kepala dan meminta tolong Kanda untuk mengantarnya pulang.


Kana memang tidak mengatakan apa-apa pada keluarganya karena tidak mau mereka kecewa dengan apa yang Joddy lakukan. Tega sekali Joddy melakukan ini semua padanya.


Dia ternyata tidak beda jauh sama Heru, Ayahnya. Semua yang dikatakan Joddy hanya omong kosong! Pantas saja nomornya sulit dihubungi. Rupanya dia sedang 'reuni' dengan mantannya.


"Joddy nelepon terus nih!" Kanda menunjukkan layar ponselnya, ada deretan nomor asing yang sedang menunggu untuk bicara karena Kanda sudah mengangkatnya sedari tadi. Oh, jadi pria itu ganti nomor?


"Bilang sama dia, aku lagi batalin WO nikahan aku!" Kana sengaja berkata dengan lantang dan berharap pria di ujung telepon mendengarnya.


"Eh, ngomong apa sih lo? Lo kenapa sih?" buru Kanda bingung. Kana tak menggubris dia membanting pintu kamarnya keras-keras tepat di depan muka Kanda. Lalu berlari kembali ke tempat tidur. Menutup kepalanya dengan bantal meredam suara Kanda yang memanggil namanya.


*


Kana tidak tahu dia sudah tidur berapa jam, yang dia ingat setelah mengurus keperluan Ken dia memilih tidur lebih awal.


Hari sudah gelap dan suasana kamarnya senyap namun dia mendengar suara berisik seperti orang sedang mengobrol di ruang tamu. Mata Kana yang masih mengantuk melirik ke arah jam dinding, jam 1 pagi. Siapa yang berisik dini hari begini? Mungkin saja Kanda, dia kan Kana suruh untuk menginap di sini.


Kana memutuskan untuk melihat keadaan di ruang tamu, langkahnya berhenti di anak tangga terakhir begitu melihat seorang pria yang sedang dibenci sedang bicara dengan kakaknya. Kenapa pria itu sudah ada di sini? Bukannya seharusnya dia pulang besok lusa ?


Kana mengepalkan tangannya begitu ingat foto itu. Bergegas dia membalikkan badan sebelum dia melihatnya, tapi terlambat Joddy sudah melihatnya lalu entah bagaimana caranya Joddy sudah berhasil memegang tangannya.


"Dek, kamu kenapa sih? Kenapa marah?"


Kana membisu yang dia lakukan adalah menepis tangan Joddy lalu naik dengan cepat kembali ke kamarnya. Tapi Joddy berhasil melewatinya dan berdiri menghadang Kana.


"Kamu kenapa tiba-tiba aneh begini?"


Kana menatap Joddy tajam lalu tersenyum sinis, pura-pura tidak tahu? Basi! Kana tak menggubris pertanyaan Joddy lalu berjalan melewatinya begitu saja.


"Sini!" Joddy menarik tangan Kana lalu menyeretnya random masuk ke dalam kamar kosong yang ada di sebelah kamar Kana. Kamar yang biasa Kanda gunakan untuk tidur apabila menginap di rumah Kana.


"Ngapain kamu?!" seru Kana saat melihat Joddy mengunci pintu lalu menyimpan anak kunci ke saku celananya.


"Na, kamu kenapa jadi kayak gini? Salah aku apa sih?"


Kana tertawa hambar. "Pura-pura tidak tahu untuk menutupi kesalahan? Basi!"


"Kesalahan apa? Aku benar - benar gak tahu maksud kamu!" Joddy mengerang frustrasi, badannya benar-benar lelah. Seharusnya dia pulang lusa, tapi ketika tadi di telepon dia mendengar Kana akan membatalkan WO, dia lalu mencari penerbangan terakhir untuk pulang ke Jakarta. Beruntung masalah di Papua cepat selesai sehingga dia bisa pulang lebih awal. Bayangan Kana akan memeluknya begitu sampai di Jakarta pupus. Wanita itu sedang marah dan Joddy tidak tahu apa penyebabnya.


"Pantas saja dihubungi gak bisa, rupanya sedang asik 'reuni' sama mantan pacar!" sindir Kana ketus.


Joddy mengernyit bingung. "Reuni? Mantan pacar?"

__ADS_1


"Aku kira kamu beda sama Ayah kamu, tapi ternyata-" Kana mengigit bibirnya kuat-kuat menahan tangis.


"Hah? Kamu bicara apa sih, Kana?!" Joddy mengacak rambutnya gusar lalu menghirup napas dalam-dalam agar bisa berpikir jernih dan mencerna semua yang dikatakan Joddy.


"Ponsel aku hilang, itu kenapa aku gak bisa dihubungi beberapa hari ini." Yah, dan Joddy kesal luar biasa, kenapa bisa - bisanya dia teledor dan menjatuhkan ponselnya entah di mana. Beruntung dia memakai provider produk perusahaan di mana dia bekerja sehingga bisa cepat mengurusnya.


" Aku belum sempat cari ponsel baru, kemarin aku nelepon pakai punya Kevin. Aku telepon ke nomor kamu tapi tidak diangkat malah gak aktif."


" Oh ya?" Kana mengangkat sebelah alisnya meragukan semua yang dikatakan Joddy.


"Na, aku benar-benar gak nyangka hanya karena aku gak bisa dihubungi kamu bisa sampai ngancem batalin acara pernikahan kita."


Tapi bukan itu yang membuat Kana murka. "Lalu apa penjelasan kamu tentang foto itu?"


"Foto? Foto apa?"


"Foto kamu sedang berbaring kelelahan di ranjang Siska?"


Joddy menatap Kana kebingungan. "Siska? Maksud kamu apa sih?" Joddy makin tak mengerti.


"Buka saja instagram kamu!" seru Kana kesal. Joddy menatap Kana semakin tak mengerti lalu pandangannya tertuju pada ponsel Kanda yang kebetulan masih menyala dan berada di atas nakas. Joddy menyambar benda pipih itu mendecih saat tahu aplikasi apa yang baru saja dibuka Kanda. Bocah itu tidak pernah berubah.


Joddy segera membuka aplikasi instagram dan masuk ke akunnya, matanya terbelalak lebar saat melihat sebuah foto yang jelas itu bukan dirinya. Tapi caption dalam foto itu mengarah padanya lihat saja semua komentar menyangka itu dirinya. Sialan Siska untuk apa dia men-tag dirinya dengan foto seperti ini.


"Sudah lihat? Puas kamu sampai ketiduran seperti itu?" tanya Kana marah, memberi Joddy tatapan tajam. Kalau saja tatapan Kana itu semacam pisau sudah dipastikan Joddy akan tercincang dengan sendirinya.


"Sayang, ini bukan aku." Joddy menghampiri Kana dan menunjukkan foto itu.


"Oh, masih berkelit?"


"Tapi ini benar-benar bukan aku, Kana. ini pacar Siska. Namanya Hans. Dia datang ke Papua menjemput Siska dia juga dari Jakarta."


"Oh ya?" Kana tersenyum sinis."Terus untuk apa dia men-tag kamu?"


"Mana aku tahu, bisa saja dia hanya meledekku karena kemarin kita memang LDR." Ah, sialan, badut satu itu. Awas saja kalau pernikahanku gagal gara-gara kampret itu!


"Sebentar!" Joddy menscroll ponsel Kanda masih di aplikasi sama dia mencari kontak Siska yang tercantum di bio akunnya. Siska memang cukup famous di instagram walaupun bukan selebgram tapi dia menerima endors.


Joddy menelepon Siska dia sengaja me-loudspeeker agar Kana juga mendengarnya. Tiga panggilan diabaikan maklumlah jam dua dini hari adalah jam paling ternyaman untuk tidur.


"Halo! Siapa sih nih malam-malam ganggu! "


Setelah panggilan yang kelima barulah Siska mengangkat teleponnya, dengan suara malas.

__ADS_1


"Hei, Badut! Lo ngapain ngetag gue foto cowok lo!" maki Joddy tak peduli dengan Kana yang menatapnya tajam.


"...."


"Malah diam lo!"


"Astaga, Joddy! Ini lo? Pakai nomor siapa lo?"


"Jangan banyak nanya! Ngapain lo nge-tag gue?"


Terdengar tawa di ujung sana. "Lha emang napa? Lo mupeng? Sory.. Sory. Habis gue terlalu bahagia disamperin Hans."


Joddy menatap Kana seolah berkata 'dengar, bukan aku kan itu?'


"Gara-gara lo tunangan gue salah paham dan hampir aja batalin nikah dan gara-gara lo gue buru-buru pulang ke Jakarta tanpa mandi! Sialan lo!" Kalau ada di depannya ingin sekali Joddy menjambak rambut wanita itu.


"Besok lo ketemu Kana! Jelasin ke dia. Lo udah di Jakarta kan? Sekarang lo nyicil minta maaf dulu. Kana ada di depan gue."


Lagi-lagi Siska tertawa tanpa dosa. "Maaf-maaf. Gue suka aja ngisengin perjaka kayak lo. Maaf ya, Kana. Itu bukan Joddy kok, tapi pacar gue. Joddy mah, masih perawan. Dia belum pernah nidurin anak or-" Kata-kata Siska terputus karena Joddy mematikan teleponnya secara sepihak. Sudah cukup bukti untuk menunjukkan jika foto pria itu bukan dirinya.


" Masih meragukan aku?"


Wajah Kana yang semula cemberut berubah lega. Dia menunduk malu. Benar-benar malu.


"Maaf," ujar Kana lirih. Joddy menghela napas lalu memegang kedua bahu Kana mengangkat dagu wanita itu agar pandangan mereka sejajar.


"Kalau minta maaf lihat dong ke orangnya."


Malu-malu Kana menatap Joddy yang tersenyum geli. "Masa kamu gak bisa bedain itu aku atau bukan? Jelas-jelas di pundak dia tidak ada tato sedangkan di pundakku ada. Kamu kan sudah lihat beberapa kali."


Kana menahan senyum. Ah, kenapa dia bisa lupa. Joddy memang diam-diam punya tato huruf K di pundaknya. Hanya kecil dan hampir tak terlihat sekilas. Tato bentuk kemarahan dan frustrasinya karena Kana menikah dengan Adrian. Tidak ada yang tahu kecuali Kana dan Ferddy.


"Maaf, habisnya aku kesal sebentar lagi kita mau nikah masa kamu tidur sama mantan dan diposting di IG. Untung Papa gak punya instagram dan aku juga gak cerita sama Bang Kanda."


Joddy menangkup kedua sisi wajah Kana. "Bagaimana bisa aku tidur dengan wanita lain, kalau di otak dan pikiran aku isinya cuma kamu," bisik Joddy membuat rasa panas menjalar di wajah Kana.


"Maaf."


"Dimaafkan," balas Joddy lalu menyatukan kening keduanya.


Kana tersenyum saat napas hangat Joddy menerpa wajahnya. Hidung mereka sudah menempel. Kana suka sekali pada aroma after shave yang sudah bercampur keringat menguar dari tubuh Jody. Apa tadi Joddy bilang, dia belum mandi? Ah, Kana tetap suka.


Kana sudah lupa jika beberapa jam bahkan menit yang lalu dia masih marah. Kana sudah lupa itu semua, bahkan ketika Joddy mengecup ringan bibirnya. Membuat jantung wanita itu berdebar sangat kencang. Dia ingin menyalurkan kerinduannya pada pria ini.

__ADS_1


"Tapi kamu harus dihukum." Suara Joddy berubah serak. Kana mengerjap menatap Joddy tak mengerti. Tapi kemudian Kana paham apa yang Joddy maksud dengan 'dihukum', karena kemudian Kana menyambut dengan terbuka hukuman versi Joddy. Mengabaikan jika jarum jam masih setia di angka 2 lalu mengabaikan Kanda yang mengedor pintu kamar dengan memaki - maki Joddy. Mereka berdua terlalu larut dalam masa hukuman yang memabukkan.


****


__ADS_2