
"Papa marah gak?"
Kanda menggeleng sambil mengambil sepotong martabak telor titipan Kana yang Kanda beli saat akan berkunjung ke rumah Kana.
"Papa diem aja, Mama nangis."
"Wajarlah rumah tangga anaknya diambang kehancuran!" Kana membayangkan Maya yang menangis saat tahu rumah tangga anaknya hancur berantakan gegara anak menantunya yang berubah seperti rubah.
"Tapi gue malah was-was, Na. Papa cuma diam aja waktu gue cerita semua tentang Nea dari A sampai Z. Papa cuma termenung tanpa komentar apa-apa. Aneh, kan? Biasanya Papa akan ngamuk-ngamuk kalau kita bikin ulah, lebih tepatnya gue yang bikin ulah." Lo mah walaupun ngebakar rumah juga dimaafin. Kanda melirik Kana sekilas. Sayangnya, yang dilirik tidak merasa sama sekali.
"Papa mungkin maklumin keadaan Lo, Bang. Apalagi kisah lo sama Nea tergolong sadis, tragis, miris bikin menangis," balas Kana.
Kanda melotot ke arah adiknya." Lo sebenarnya mau menghibur apa malah menabur amarah ke gue sih?" Kanda sewot.
Kana hanya tertawa geli dengan mulut penuh makanan. "Terus kapan rencana Lo ngomong ke orangtua Nea?"
"Besok, sama Mama-Papa."
Kana menghela napas." Kenapa sih, rumah tangga orang terdekat gue hancur bersamaan. Pertama, mertua gue yang masih selingkuh terus kedua, Lo sama Nea. Semoga aja gue sama Kak Joddy baik-baik saja."
"Joddy mah, buncinnya sama lo. Gue yakin dia jauh berbeda sama Ayahnya."
Kana hanya mengangguk asik menyuapkan martabak ke mulutnya. Sambil berdoa dalam hati, semoga saja Joddy memang jauh berbeda dari ayahnya yang pembohong itu.
"Ini gak ada teh apa kopi gitu, Na? Buat temen makan martabak?" Kanda baru sadar hampir satu jam mengobrol dengan adiknya tidak ada minuman sama sekali.
"Bikin sendiri ya, gue capek banget,"keluh Kana tapi tangannya mengambil martabak lagi.
"Gue udah beliin lo martabak lho, Na." Kanda mengingatkan.
"Iya, ntar aku ganti!" itungan banget. Kana melirik kakaknya sebal.
"Bikinin kopi deh, Na!Haus!"perintah Kanda lagi.
"Tunggu Mbok Dar selesai nemenin Ken makan ya?" tawar Kana menunjuk Ken yang sedang makan bersama Mbok Dar. Wanita tua itu dengan sabar dan telaten menyuapi Ken. Biasanya itu kewajiban Kana, tapi entah kenapa hari ini Kana sedang malas untuk sekedar menyuapi anaknya.
Kanda mendengus sebal tapi tak membantah.
"Suami lo, tumben belum pulang?" Kanda melirik ke arah jam tangannya.
"Baru jam 7, biasanya jam 8 baru pulang," balas Kana.
"Gila, kerja Mulu laki lo!"
"Habisnya aku gak dibolehin kerja sama Kak Joddy. Kalau gue kerja kan bisa bantu-bantu," Kana mengeluh mengingat tidak pernah diizinkan bekerja setelah menikah baik oleh Adrian maupun Joddy.
"Isih, ngapain lo pingin kerja. Gaji laki lo aja udah gede. Mending lo fokus sama Ken sama adiknya Ken."
"Adiknya Ken?Masih lama!"
"Ngapain ditunda-tunda?"
Kana terdiam sejenak lalu menatap Kanda. "Gue kan belum lama keguguran , Bang?" Kana jadi teringat riwayat kehamilan ketiganya yang terpaksa digugurkan, mengingat itu hati Kana sedikit mencelos
"Emang Dokter nyuruh lo nunda?"
Kana menggeleng." Tapi gue butuh waktu buat hamil lagi, Bang."
__ADS_1
"Jangan lama-lama, Kasihan laki lo usianya udah gak muda." Kanda menahan tawanya, kalau Joddy dengar apa yang dia katakan, bisa ngamuk-ngamuk dia.
"Pada ngomongin apaan sih?Seru amat sampai pintu gak dikunci?" Tiba-tiba Joddy muncul dengan wajah lelahnya. Lengan kemeja dilipat sampai siku, rambut berantakan dan ransel yang sudah dia letakkan di sofa.
"Hai! Udah pulang?" Kana tersenyum manis. Kalau tidak ada Kanda biasanya Kana akan melompat memeluk suaminya.
Joddy tersenyum lelah menghampiri Kana dan mengecup pipinya lembut. Tiba-tiba Kana mendorong tubuh Joddy menjauh. "Mandi sana! Bau!"
Bukannya marah Joddy malah terkekeh lalu mengacak rambut Kana gemas sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Sok romantis!"sinis Kanda.
"Calon duda jangan iri!" teriak Joddy dari anak tangga menuju kamarnya.
"Bac**!" maki Kanda kesal.
*
"Kanda udah pulang?" tanya Joddy saat keluar dari kamar mandi.
"Udah."
"Cerita apa saja dia?" Joddy sibuk mengusap rambutnya yang basah karena baru selesai mandi.
"Biasalah, rumah tangganya." Kana menjawab sambil merapikan baju yang sudah selesai disetrika olehnya.
"Kamu juga cerita ketemu Nea?" tanya Joddy lagi.
"Enggak." Kana tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga kakaknya, karena yang terluka di sini adalah kakaknya.
"Kenapa?"
"Bang Kanda yang disakiti, dia berhak mengambil keputusannya sendiri. Aku gak mau ikut campur!"
Joddy hanya manggut-manggut. Ternyata mengalami banyak luka dalam hidupnya mampu merubah seorang Kana menjadi lebih dewasa.
"Beda cerita kalau kasus Ayah," sindir Kana melirik Joddy yang hanya tersenyum itu.
"Hmm, iya. Aku masih ngumpulin bukti." Gak usah sindir-sindir juga kalii!
"Buktinya sudah ada, tinggal kitanya aja yang harus bilang ke Ibu tentang yang sebenarnya." Kana menutup lemari lalu duduk di depan meja riasnya untuk membersihkan wajah.
"Harus gitu kita bahas ini?" Joddy sudah cukup lelah pulang kerja jika harus bicara tentang sesuatu yang 'berat' rasanya dia sudah tidak sanggup lagi. Sampai rumah dia hanya ingin menikmati waktu bersama istri dan anaknya.
"Kamu yang lebih dulu bahas Bang Kanda!" balas Kana .
Joddy menghela napas lalu menghampiri Kana dan memeluknya dari belakang. "Ya udah maaf, sekarang kita ngomongin kita aja kalau gitu deh," modus Joddy lalu mengecup pundak Kana.
Tiba-tiba saja Kana merasa mencium bau yang tidak enak dari tubuh Joddy membuatnya seketika mendorong tubuh Joddy menjauh darinya.
"Ih, udah mandi belum sih kamu, Kak?! Bau gini sih!" Kana beranjak dari duduknya lalu menjauh dari Joddy sambil satu tangannya menutup hidung. Mendadak perutnya melilit karena mencium sesuatu.
Joddy refleks mencium lengannya. "Gak bau, wangi kok.Kan barusan mandi."
"Ih, sabun apa yang kamu pake?"tanya Kana masih menutup hidungnya.
"Sabun yang biasa dipakai, yang beli juga kamu."
__ADS_1
"Kok bau gini sih!" Kana menahan mual karena tiba-tiba saja perutnya melilit terasa diaduk.
"Daddy!" Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ken berlari ke arah Joddy melompat ke gendongan pria tampan itu.
"Hey, boy!" Joddy tersenyum manis menciumi pipi gempil itu berulang kali membuat bocah itu kegelian.
"Daddy, ayo bobok!" rengek Ken memeluk leher ayah sambungnya itu.
"Bentar deh Ken. Coba Ken cium Daddy! Bau gak?"
Ken mencium pipi Joddy lalu mengendus-endus dengan mimik wajah lucu. Membuat Joddy menahan tawa.
"Bau gak?"
Ken menggeleng. "Daddy, halum!"
"Tuh, Na. Gak bau," kata Joddy lalu mendekat ke arah Kana.
"Ih, bau! Mandi lagi sana?!" Kana menjauh dari Joddy dengan tetap menutup hidung.
Joddy melotot. Hah, mandi lagi? Di jam 10 malam? Sebenarnya gak masalah sih, toh biasanya juga tengah malam habis olahraga malam mandi, walaupun juga nanti lagi-lagi berkeringat.
Tuh, kan! Otak Joddy jadi traveling ke mana-mana! Harus dapat nih malam ini, kalau gak bisa nyut-nyutan kepalanya.
" Kamu tidurin dulu, Ken sana!Habis itu mandi! Jangan tidur sama aku kalau belum mandi!"perintah Kana lalu keluar dari kamarnya dengan terburu-buru.
"Bunda kenapa ya Ken?" tanya Joddy keheranan. Kana terlihat aneh, emosian sekali hari ini? Terlihat lebih galak dari biasanya.
"Ken ndak tau." Ken menggelengkan kepalanya dengan wajah lucu.
"Ya, udah. Kita bobok yuk!"
Ken mengangguk antusias.
Tak berapa lama setelah Joddy menidurkan Ken dia kembali ke kamar tapi tentu saja sesuai yg baginda ratu inginkan, Joddy terpaksa mandi lagi kali ini dengan hampir setengah botol sabun mandi yang dia habiskan.
Joddy tersenyum saat melihat Kana yang tidur membelakanginya. Biasanya kalau tidur pun Joddy pancing-pancing juga bangun lagi.
"Dek." Joddy dengan pelan naik ke atas ranjang lalu memeluk Kana dari belakang. Mengecup pundak terbuka Kana.
"Sayang,"panggil Joddy lagi karena tak kunjung mendapat respon dari Kana.
"Hmm." Kana menggeliat lalu membuka matanya yang belum lama terpejam. Mendadak matanya terbuka saat lagi-lagi dia mencium tubuh Joddy yang berbeda dari biasanya.
"Ih, mandi dulu!" Kana melepaskan diri dari pelukan suaminya lalu menjauh dengan muka galak.
"Na, aku udah mandi lho! Malah hampir setengah botol sabun habis aku pakai!" protes Joddy sedikit kesal karena lagi-lagi istrinya menjauh.
"Tapi kenapa baunya masih sama?"
"Aku juga gak tau. Sabun yang beli dan milih juga kamu!"sahut Joddy.
"Mandi lagi!"seru Kana lagi membuat Joddy melotot tak terima, yang benar saja dia harus mandi. Jangan-jangan indera penciuman Kana yang sedang bermasalah.
***
**Hay guys! Maafkan jika ceritanya sedikit boring hihihi
__ADS_1
sesuai dengan kata aku. Story ini gak akan nyampe 100 episode. Jadi kemungkinan ini bab-bab terakhir ya.. terimakasih beb buat yang selalu setia baca Kana. I love you**