
"Nikah sama aku ya, Dek?" pintanya sekali lagi. Kana hanya diam membeku di tempatnya.
Pandangan keduanya saling bertemu. Genggaman tangan Joddy begitu hangat. Kana terpaku bukan karena ucapan Joddy mengajaknya menikah, tapi karena tatapan Joddy dan senyumnya yang begitu tulus. Iya, Kana melihat keseriusan dan ketulusan di mata itu.
"Kana nikah sama aku ya?" ulang Joddy untuk ketiga kalinya. Kana mengigit bibir bawahnya. Dia binggung harus menjawab apa. Restu kedua orangtua mereka masih terasa sangat abu-abu. Ibu Joddy yang masih membencinya ditambah orangtua Kana sendiri yang berubah membenci Joddy karena penghinaan Jihan pada Kana.
Untuk menolak, Kana tidak bisa. Menerima pun dia masih gamang. Sungguh, Kana memang membutuhkan Joddy di sampingnya, malaikat tanpa sayapnya yang selalu berkorban untuknya tapi sepertinya tidak akan mudah mengingat hubungan mereka dengan masing-masing kedua orangtuanya yang bisa dikatakan 'tidak baik'.
"Kenapa aku harus menerimamu?" Tarik ulur dulu. Kana ingin tahu seberapa serius Joddy menginginkannya.
"Karena aku Ayah dari anak kamu dan akan menjadi Ayah dari Ken. Aku akan menjadi suami Kana Fradella Gufron wanita yang aku tunggu belasan tahun. Aku akan menjadi sayap penyeimbang hidupmu yang akan membuatmu dan anak-anak kita bahagia sampai mereka lupa caranya bersedih."
Kana terpaku mendengar semua yang dikatakan Joddy. Perasaan hangat mendadak melingkupi hatinya. Kana bahagia, terharu dan entah perasaan macam apalagi yang membuncah di hatinya membuat getaran samar itu hadir lebih jelas lagi saat mendengar apa yang Joddy katakan padanya.
"Ada satu syarat, Kak."
Joddy tersenyum. "Apapun!"
"Restu."
***
Kevin mengernyit binggung saat melihat Joddy yang senyum-senyum sendiri di meja kerjanya. Kevin jadi ragu Joddy mendengarkan penjelasan Kevin sedari tadi. Bos-nya ini kenapa ya sejak pulang dari liburan ke luar kota jadi senyum-senyum sendiri. Apa dia sudah gila karena terlalu patah hati?
"Bos, sehat?" tanya Kevin memberanikan diri bertanya.
"Sehat walafiat!" jawab Joddy penuh semangat dengan wajah berbinar-binar. Kevin makin yakin ada yang tidak beres dengan Joddy. Kemarin-kemarin Joddy masih dalam mode senggol bacok tapi kenapa sekarang dia jadi senyum-senyum sendiri seperti itu. Apa karena penolakan Kana sampai Joddy frustasi seperti ini?
Padahal Kevin tidak tahu saja kalau Joddy hatinya sedang berbunga-bunga karena rayuannya pada bidadari berwajah bayi hampir berhasil, itu tandanya Joddy masih ada waktu untuk berjuang lagi.
Kenapa Joddy bilang hampir berhasil? Karena Kana sudah tidak memasang wajah muram tiap bertemu dengannya. Kemarin saja saat Joddy berpamitan pulang dan mencium kening Kana, dia tidak menolak. Pesan singkat yang Joddy kirim ke nomor baru Kana pun ditanggapi wanita itu dengan baik.
Walaupun Kana tak ikut bersamanya pulang tapi paling tidak dia memberi tanda jika dia akan menerima Joddy, asal mereka mendapat restu dari kedua orangtua masing-masing. Berat memang, mengingat hubungan Joddy dan orangtua Kana sedikit memburuk.
__ADS_1
"Coba gue tadi ngomong apaan, Bang?" Buat Kevin, Joddy itu sudah seperti kakaknya sendiri maka di kantor pun dia memanggilnya dengan panggilan karib. Apa itu formalitas? Kevin tidak mengenal itu.
"Progres proyek di Semarang sudah 87% . Kita tinggal menambah jaringan di beberapa titik saja. Ada rekrutmen karyawan baru untuk cabang di Semarang dewan direksi menunjuk Gilang mengawasi perekrutan itu."
Kevin menganga lebar, tidak bisa dipungkiri kecerdasan Joddy memang di atas rata-rata. Padahal tadi Kevin yakin Joddy tidak mendengarkan apa yang Kevin katakan, tapi rupanya Joddy bisa menangkap semua yang dikatakan Kevin meskipun sambil melamun.
"Bang, kayaknya laporan yang dibuat Nita salah deh, Bang. " Baiklah, Kevin akan coba memancing Joddy dengan kesalahan yang sebenarnya tidak ada.
" Gak papa. Tinggal suruh revisi aja." Joddy menjawab dengan senyum tak lepas dari kedua sudut bibirnya.
"Lo tahu gak, kemarin juga Fahmi salah laporan budget ke bagian keuangan. Dia gak nyantumin uang rokok untuk para tukang yang lagi renov gedung sebelah gak ada nota pula." Kevin masih tak menyerah untuk mencoba memancing kemarahan Joddy.
"Tinggal potong dari gaji dia bulan ini." Lagi-lagi jawaban santai dari Joddy. Tidak ada kemarahan sama sekali apalagi raut kesal.
"Bang, gue ngeri kenapa tiba-tiba lo jadi kelihatan semringah begini?" Kevin tak sabar untuk tidak bertanya pada Joddy.
"Masa?" Joddy tersenyum-senyum sendiri sambil memutar-mutar kursi kebesarannya.
"Dih, lo kenapa sih Bang? Kerasukan jin mana dari tadi senyum-senyum gak jelas dan berubah jadi baik begini?"
Kevin menatap Joddy dengan tatapan menyelidik. "Apa lo jadi stres karena Kana nolak lo, Bang?"
"Kambing! Gaklah!"Joddy melempar Kevin dengan penjepit kertas.
"Ya, lagian, kemarin kayaknya lo bawaannya ngamuk kenapa sekarang lo jadi tiba-tiba bahagia seperti ini?" tanya Kevin.
"Aneh lo, gue sedih salah, gue bahagia makin salah. Serba salah amat gue."
"Bukan apa-apa gue sih seneng Bang liat lo bahagia, tapi kalau liat lo sedih gue makin seneng." Kevin terbahak di akhir kalimatnya membuat Joddy mendelik ke arahnya sebal.
"Terus, terus gimana Bang progres hubungan lo sama Kana?" tanya Kevin mengabaikan delikan Joddy.
"Sejauh ini sih udah lumayan. Kana udah gak judes sama gue. Dia udah mau ngasih nomor barunya, ngebales pesen gue dan yang lebih penting dia mau terima lamaran gue walaupun pakai syarat."
__ADS_1
"Syaratnya apaan, Bang?" tanya Kevin
"Restu. Terutama dari nyokap-bokap dia. Terakhir ketemu mereka kan marah banget sama gue. Gue juga agak was-was gimana reaksi mereka kalau tahu masalah rumah tangga ortu yang berantakan gara-gara Laras."
"Wah, lo harus berjuang keras Bang. Mereka pasti mikir lo sama Bokap lo gak jauh beda. Wajarlah ketakutan orangtua. Apalagi kita tahu Kana adalah wanita spesial. Cantik, putih, baik. Idaman banget pokoknya, kalau gue masih jomlo gue datengin dia ke rumah buat gue lamar!"
"Berapa tahun sih hukuman ngebunuh bawahan?" Joddy menyipitkan matanya bermaksud mengintimidasi.
Kevin meringis. " Becanda kali, Bang. Gini-gini gue setia sama Bini di rumah."
Joddy mendengus sebal lalu tatapannya menerawang saat bayangan wajah Kana melintas. "Kev, gimana perasaan lo ketika tahu istri lo hamil anak pertama?" tanya Joddy ketika dia teringat hasil USG anaknya kemarin.
"Seneng bangetlah Bang. Kayak gak percaya kalau beneran gue tuh bisa ngehamilin anak orang. Kayak ajaib banget gitu. Bisa ada junior gue di perut istri." Kevin tersenyum sendiri dia jadi ingat waktu istrinya memberi kejutan berita kehamilan anak pertama. Rasanya bahagia banget.
"Sama. Waktu di Jogja gue nganter Kana periksa kandungannya. Gue rasanya terharu banget pas liat anak gue di perut Kana. sama kayak lo. Rasanya gak percaya aja kalau gue bisa ngehamilin Kana."
"Bedalah Bang. Gue ngelakuin itu sama Bini udah sah dan dalam keadaan sadar. Kalau lo kan pas teler. Mana kerasa enaknya," ledek Kevin membuat Joddy melotot ke arahnya. Tapi mengakui jika apa yang dikatakan bawahannya itu.
Dia memang salah sudah melakukan itu pada Kana. Tapi janin itu tak berdosa. Janin itu berhak hidup dan Joddy akan menebus kesalahan itu dengan memperbaiki semuanya. Joddy akan membuat semuanya lebih baik lagi.
"Terus rencana lo apa Bang?" tanya Kevin penasaran.
"Gue akan meyakinkan orangtua Kana kalau gue bisa memperbaiki semuanya. Gue bisa buat bahagia anak dan cucunya," sahut Joddy.
"Terus-" Kevin urung melanjutkan bicaranya saat ponsel Joddy berdering nyaring.
Si pemilik ponsel bergegas mengangkat telepon begitu melihat nama yang tertera di layar ponsel birunya.
"Hallo."
"....."
"Hah, sekarang di mana? Polisi?" Wajah Joddy terlihat pucat saat menerima telepon membuat Kevin bertanya-tanya.
__ADS_1
"Oke, oke aku segera ke sana!" Joddy beranjak dari duduknya lalu bergegas pergi mengabaikan Kevin yang memanggil namanya.
*******