
Joddy mengusap pundak Kana yang sejak tadi menangis di pelukannya. Tak peduli baju Joddy yang basah, Kana tetap memeluk suaminya erat. Tubuhnya gemetar. Dia merasa takut, benar-benar takut. Ken sedang diperiksa oleh dokter, meskipun Ken sudah sadar tapi tubuhnya masih lemas dan dia butuh tindakan medis untuk memastikan keadaannya.
"Kak, kalau sampai terjadi apa-apa pada Ken, aku gak akan maafin diri aku sendiri," racau Kana terlihat sangat menyesal. Dia ketakutan jika akan kehilangan - lagi- untuk kesekian kalinya. Ken adalah peninggalan Adrian satu-satunya yang membuat dia selalu ingat pria itu. Jika Ken tidak ada Kana akan sangat merasa bersalah.
"Tenang Na. Ken anak yang kuat dia akan baik-baik saja," bisik Joddy menepuk-nepuk pundak Kana pelan meyakinkan jika tidak akan terjadi apa-apa pada Ken.
"Na, gimana keadaan Ken?" Suara panik Kanda membuat Joddy dan Kana mengalihkan perhatiannya. Kanda yang baru datang menyusul mereka terlihat panik, di belakangnya Nea berdiri dengan wajah datar dan tatapan kaku, tidak ada rasa penyesalan sedikitpun.
"Sedang diperiksa Bang, di dalam." Kana tak melepaskan tatapannya pada Nea. Kalau saja tidak menghormati Kanda, sudah Kana amuk sahabatnya itu.
Sahabat? Benarkah dia sahabat Kana?
"Gue minta maaf, Na. Gue udah teledor ninggalin dia." Kanda berkata dengan suara bergetar. Dia sungguh menyesal sudah meninggalkan keponakan kesayangannya itu. Kalau saja dia menunda permintaan Nea yang memintanya membeli es krim pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
" Berdoa saja semoga anak gue baik-baik saja, kalau tidak gue bakal laporin ini ke polisi dengan tuduhan kelalaian." Joddy mengeram tatapannya tajam ke arah Nea yang berusaha terlihat tenang padahal dia sedikit kaget terlihat dari bola matanya yang bergerak tak beraturan.
Kanda memberi isyarat untuk meminta maaf, tapi istrinya itu tak bergeming. Melihat aura yang tidak enak dan Joddy yang kelihatan basah kuyup, Kanda berinisiatif untuk membelikan minuman hangat dan mencarikan baju untuk Joddy. Mungkin di toko depan ada.
"Gue beli kopi sebentar. Ne, kamu di sini saja." Kanda lalu bergegas pergi meninggalkan Nea dengan harapan wanita itu bisa bicara baik dengan Kana dan Joddy.
" Kenapa kamu membiarkan Ken berenang sendiri padahal kamu tahu dia tidak bisa berenang jika tidak dengan orang dewasa?" Kana berdiri lalu mendekati kakak iparnya menatapnya nyalang.
" Kalian menyalahkan aku? " Nea akhirnya bersuara.
Nea terdiam sejenak dia sedikit risih dengan tatapan Kana yang tajam. "Ken rewel tidak sabaran," sahut Nea.
"Tapi bukan berarti kamu biarin dia berenang sendiri!" bentak Kana.
"Kalau kamu gak ingin terjadi apa-apa sama anak kamu jangan titipin ke orang!" Nea tak kalah marah, dia tidak mau disalahkan.
"Asal kamu tahu, Ne. Aku sengaja menitipkan Ken pada kalian untuk membuktikan apa yang aku dengar selama ini tidak benar. Tapi nyatanya aku keliru, kamu sudah berubah Nea. Bukan sahabat yang aku kenal sejak di bangku sekolah. Kamu berubah!"
Nea melempar tatapan pada Kana lalu mendecih. "Kamu berharap apa? Sahabat yang selalu jadi bayang-bayang kamu?!"
Kana menatap Nea tajam. "Maksud kamu apa?"
Nea tertawa hambar lalu memainkan kuku-kukunya yang panjang dan terawat rapi. "Dari zaman sekolah aku sama Moli cuma jadi bayangan kamu. Mereka selalu hanya melihatmu. Aku dan Moli hanya sekedar dayang-dayang kamu. Mereka selalu bilang Kana yang cantik, Kana yang modis, Kana yang imut dan.. bla.. bla...Itu membuat aku muak, sangat-sangat muak."
Kana terdiam, dia tidak menyangka Nea bisa berkata seperti itu. Nea memang sudah berubah, dia sudah merasa kehilangan sahabatnya ini sejak Nea meneruskan S2 nya. Kana merasa Nea bukan Nea yang dulu. Tidak ada ketulusan yang Kana temukan di mata Nea lagi.
Semua palsu.
"Aku tidak pernah merasa menjadi 'lebih'. Bukan salahku kalau aku memang terlahir nyaris sempurna." Oke, sekalian saja Kana mengakuinya.
__ADS_1
Joddy menatap istrinya, kenapa di situasi seperti ini Kana terlihat....
"Percaya diri sekali kamu!" Nea mencibir.
"Toh nyatanya kamu senang berteman denganku?"
"Itu menurutmu, bagaimana kalau nyatanya tidak." Nea membuang napas keras-keras." Aku muak sama persahabatan kita. Seluruh dunia hanya terpusat ke kamu. Termasuk orangtua kamu dan Kakak kamu sampai sekarang kamu yang selalu jadi prioritas. Bahkan semua pria yang ada di sekeliling kamu. Nyaris, semua pria yang aku dan Moli suka malah melirikmu. Salah satunya, Amar."
Nea melirik ke arah Joddy lalu tersenyum sinis." Kamu tidak tahukan aku sangat menyukai Amar dari awal ospek sekolah? Tapi yang terjadi apa? Kamu tega pacaran sama dia tanpa tahu perasaanku."
Kana menatap Nea datar. Dia tidak tahu jika Nea menyukai Amar. Saat Amar dan Kana pacaran pun Nea kelihatan mendukung dan setuju-setuju saja.
" Lalu Moli, kamu juga tidak tahu kan, kalau dia sangat menyukai Joddy, suamimu?"
Hah? Apa? Moli menyukai Joddy? Mana mungkin?
Kana dulu tidak pernah melihat tanda-tanda Moli menyukai Joddy.
"Kamu pikir kenapa Moli tidak datang kenikahan kalian? Karena mertuanya sakit?" Nea lalu tertawa sumbang.
"Dia tidak datang karena belum bisa move on dari suami kamu." Nea berjalan mendekati Kana lalu menatapnya lekat-lekat. "Suami kamu udah ngasih tahu kamu belum kalau dia sempat pacaran sama Moli? Tanya sana kalau belum, sekalian tanya apa saja yang sudah dia lakukan sama Moli."
Kali ini Kana benar-benar terkejut dia menatap Joddy yang sejak tadi hanya tersenyum mendengar semua yang dikatakan Nea. Tidak ada rasa takut, panik atau kaget yang ditunjukkan pria itu.
" Duh, kayaknya belum tahu ya kamu Na?" Nea geleng-geleng kepala dengan senyum mengejek.
Kana mengepalkan tangannya kuat-kuat. Bayangan kenangan manis bersama sahabatnya ini entah kenapa menghilang begitu bersamaan dengan semua sikap Nea yang berubah.
"Apa bedanya sama kamu?"
Nea menatap cepat ke arah Kana.
Kana tersenyum tipis lalu maju mendekati Nea. "Kamu pikir kita tidak sama?"
Nea terdiam menunggu kata-kata Kana selanjutnya.
"Kamu pikir aku tidak tahu, kamu sudah tidak suci lagi waktu menikah dengan Kakakku?"
Nea tersentak kaget, wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Begitupula dengan Joddy. Apa Jangan-jangan dia mendengar percakapannya dengan Kanda?
Kana mengamati Nea. Wajah wanita itu terlihat tenang tapi ada ketakutan di dalam matanya
"Menunda punya anak demi karier? Omong kosong! Aku malah curiga Jangan-jangan kamu pernah hamil. Kamu takut riwayat keguguran kamu diketahui Kakakku. Begitu?"
__ADS_1
Nea tercengang tangannya mengepal kuat saat mendengar semua yang baru saja Kana katakan.
Dari mana wanita ini bisa berpikir seperti itu?
"Aku diam bukan karena aku bodoh. Tapi aku menghargai Kakakku yang sangat mencintai kamu."
Nea tersenyum lalu terkikik geli. "Baguslah, kalau kamu sudah tahu, jadi aku tidak perlu repot-repot memberitahumu. Lagipula itu tidak akan berarti apa-apa. Kakak kamu itu terlalu cinta sama aku, dia tidak akan mempermasalahkan semua itu seandainya dia tahu." Nea tertawa angkuh.
"Waktu tahu keadaanku saat malam pertama saja dia hanya tersenyum dan menerimanya. Kakak kamu itu mudah diperdaya." Nea berbisik di akhir kalimatnya.
Kana menggelengkan kepala tanpa ekspresi. "Apa benar persahabatan kita selama ini palsu? Tidak adakah ketulusan selama ini?"
Nea mengalihkan tatapannya ke arah lain, dia tidak mau Kana menatapnya terlalu lama. Nea tidak mau Kana menemukan jawaban dari pertanyaannya yang baru saja dia lontarkan. Karena memang, walaupun dia tidak menyukai Kana tapi dia harus mengakui jika bersahabat dengan Kana itu.... Menyenangkan. Nea benci mengakuinya tapi Kana memang seorang sahabat yang baik, menyenangkan dan selalu tahu bagaimana cara menghibur.
"Kamu terlalu naif. Di dunia ini tidak ada persahabatan yang murni dan tulus. Semua itu omong kosong!"Nea menghela napas." Dan soal anak kamu yang tenggelam, anggap saja itu sebagai pembalasan karena kamu sudah mengambil Amar dariku. "
Kana menatap tak percaya ke arah Nea dengan amarah yang meletup-letup dia mendorong Nea sampai tersungkur jatuh." Teganya kamu, setelah apa yang keluargaku lakukan buat kamu! Membiayai kuliah dan kehidupan kamu selama ini. Tega kamu bicara seperti itu!" Kana berkata penuh amarah lalu bersiap menerjang Nea tapi Joddy mencegahnya dengan memeluk tubuh Kana dan menariknya ke belakang tubuhnya.
Nea tertawa sinis lalu berdiri dan merapikan bajunya yang berantakan." Kenapa? Aku berhak mendapatkan itu, karena mau menikah dengan Kakak kamu."
"Tega kamu Nea!"
Nea melambaikan tangannya acuh. "Tidak perlu diperpanjang aku yakin Ken baik-baik saja."
Kalau saja Joddy tidak memeluk tubuhnya Kana pasti sudah menerjang sahabatnya itu. Iya, dulu sahabat sebelum berakhir menjadi pengkhianat.
"Aku akan katakan semua ini pada Bang Kanda."
"Silahkan, Kakak kamu yang bucin itu tidak akan pernah marah padaku." Nea berkata dengan angkuh dan penuh percaya diri.
"Siapa bilang?"
Itu bukan suara Kana apa lagi Joddy, melainkan Kanda yang rupanya sudah ada di belakang Nea dan mendengarkan pembicaraan keduanya.
"Kak?" Nea terlihat kaget, wajahnya menjadi pucat saat melihat suaminya berdiri dengan wajah datar di belakangnya.
"Aku selama ini sudah berusaha menerima dan memaafkan semua kelakuan kamu, Ne. Aku juga memberi kesempatan kamu untuk berubah." Kanda mendekati Nea yang terlihat gemetar.
"Siapa sangka rupanya dugaan aku benar. Kamu tidak pernah mencintaiku. Aku cuma kamu jadikan alat untuk melampaui Kana. Sesuatu yang tidak akan pernah kamu bisa lakukan." Kanda menyodorkan kantung plastik ke arah Joddy lalu memberi isyarat pada Joddy dan Kana saat melihat dokter keluar dari ruang periksa.
Joddy dan Kana bergegas menghampiri dokter itu mengabaikan Kanda dan Nea.
" Kak ak-"
__ADS_1
" Kita selesaikan nanti di rumah." Selesai bicara Kanda bergegas menyusul Kana dan Joddy yang sedang bicara dengan dokter.
*******