
"Mbak Kana, di luar ada Mas Joddy tuh!" Kana yang sedang menidurkan Ken itu tercenung. Ini sudah hari ke-6 setelah mereka putus. Sejak itu pun tidak ada sama sekali komunikasi di antara mereka, walapun hampir tiap hari Joddy mendatangi Kana ke rumah, tapi Kana sama sekali tidak mau menemuinya. Begitupula saat di kantor, ketika Joddy mencoba menemuinya dengan berbagai cara Kana tetap tidak mau dengan beribu alasan. Kana benar-benar menghindar dari Joddy semua kontak dan akun sosial media Joddy sengaja Kana blokir. Kana sama sekali tidak memberi celah pada Joddy untuk masuk ke dalam kehidupannya lagi.
"Bilang sudah tidur saja, Mbok." Kana tersenyum sekilas lalu pura-pura memejamkan mata agar wanita paruh baya itu tidak banyak bicara.
"Ya sudah deh."
Kana baru membuka mata saat langkah Mbok Dar menjauh dari kamar Ken. Kana meloncat dari ranjang lalu membuka gorden jendela, dilihatnya Joddy yang sedang berjalan ke arah mobilnya dia tidak langsung masuk ke dalam mobil dan pergi melainkan berdiri dengan bersandar pada badan mobil, matanya menatap ke tempat di mana Kana mengintipnya. Refleks Kana menutup gorden lalu berjalan menjauhi jendela dia takut Joddy melihatnya.
Keadaan seperti ini lah yang Kana dan Joddy terus jalani. menjauh dan mendekat. Joddy yang terus berjuang dan Kana yang terus menghindar, hingga suatu siang Kana dikejutkan oleh telepon kakaknya yang mengatakan Joddy datang ke kantornya dan membuat keributan dengan memukuli Thomas sampai babak belur. Kana yang kebetulan masih dalam jam istirahat pun akhirnya memilih mendatangi kantor Kanda dan menemukan pemandangan yang membuatnya ingin tertawa tapi juga kasihan.
"Na, gimana ceritanya Si Joddy itu bisa nuduh Thomas pacar baru lo?" tanya Kanda sesaat setelah dia sampai di kantor Kakaknya dan menemukan Kanda sibuk mengusap perlahan luka di sudut bibir Thomas dengan obat merah.
"Ceritanya panjang, Bang!"sahut Kana lalu mengedarkan pandangan ke studio Kanda yang sepi karena jam istirahat.
" Lo ada masalah sama Joddy? Gue belum pernah lihat Joddy sampai kehilangan kendali kayak tadi?"
Kana tak langsung menjawab, dia melirik ke arah Thomas yang kemudian pura-pura menatap ke arah langit-langit karena sadar sepertinya kakak-beradik ini akan membicarakan hal yang serius.
"Aku putus sama dia," jawab Kana lesu.
Mendengar itu Kanda menatap Kana tak percaya. " Serius?"
Kana mengangguk. Thomas yang sempat mendengar hanya melirik Kana sekilas lalu pura-pura cuek padahal dia sedari tadi sudah pasang telinga lebar-lebar.
"Kenapa?"
Kana menggeleng pelan, tidak mungkin dia menceritakan masalahnya pada Kanda yang dua minggu lagi mau nikah.
"Intinya aku minta maaf ya Bang Thom, udah pakai nama kamu. Habis aku binggung tiba-tiba yang terlintas di pikiranku nama kamu."
Thomas tersenyum. " Santai saja Sayang auhhh!" Thomas menjerit kesakitan di akhir kalimatnya.
"Sakit an- tangin!"Thomas urung mengumpat saat melihat delikan mata Kanda.Hampir saja dia keceplosan mengumpat bosnya itu, kalau sampai kejadian jangan harap gaji bulan ini utuh.
"Ngapain lo manggil Adik gue pake sayang-sayang!" seru Kanda.
"Mendalami peran lah, Bang. Kan ceritanya gue jadi pacar barunya Kana. Ya, kan Kana?" Thomas mengedipkan mata ke arah Kana yang hanya tersenyum tipis.
"Ingat bini di kampung, Kampret!" seru Kanda lalu menatap adiknya serius, mengabaikan Thomas yang cengengesan.
"Gue gak tahu seberapa rumit masalah lo sama Joddy. Tapi menghindar juga bukan solusi yang tepat buat selesain masalah. Gue gak ada mihak siapa-siapa di sini tapi saran gue, jangan hindari dia Na. Lo omongin dulu baik-baik sama dia."
" Gak semudah itu."
"Udah lo coba?" tanya Kanda.
Kana mengeleng.
__ADS_1
Kanda mendecih. "Lo tahu sendiri kan Joddy sebucin apa sama lo? Dia udah suka sama lo sejak lo masih ingusan. Dia udah banyak berkorban buat lo Na. Lo pikir kenapa dia belum nikah sampai usia 36 tahun padahal ibarat kata, banyak cewek yang rela buka baju buat dia? Itu karena dia gak bisa move on dari lo."
Kana menunduk. " Semua percuma kalau Ibunya gak suka sama aku."
Kanda menegakkan tubuhnya . " Ibunya? Tante Jihan?"
Kana mengangguk. Emang Kak Joddy punya ibu lain?
"Lo udah ketemu?"
"Beberapa hari yang lalu dia minta ketemu, dan ngenalin aku sama wanita yang udah dijodohin sama Kak Joddy." Kepalang tanggung, ya sudahlah cerita saja sekalian.
Kanda mengernyit. "What? Terus lo disuruh mutusin Joddy?"
"Kira-kira seperti itu."
Kanda tertawa hambar. " Dan lo setuju gitu aja tanpa nyoba berjuang dulu? Astaga, Kana lo tuh-"
"Gak ada yang perlu diperjuangin, Bang!" sela Kana cepat, mulut Kanda terkatup rapat saat melihat wajah adiknya yang terlihat marah.
"Tapi Kana, Jod-"
"Gak perlu berjuang kalau udah menyangkut restu, apalagi restu seorang ibu," potong Kana cepat. " Semuanya tidak semudah yang dibayangkan. Aku nyerah kalau udah menyangkut restu karena bagaimanapun restu seorang ibu itu penting, Bang."
"Gue tau, tapi paling tidak lo coba bikin pendekatan sama orangtua Joddy. Yakinkan kalau lo itu pantas buat Joddy. Bukan malah nyerah gitu aja."
"Gimana mau berjuang kalau Ibunya udah insecure sama status aku, Bang!" sentak Kana. Kanda terdiam, astaga dia lupa kalau status adiknya ini adalah seorang janda.
"Sebenarnya lo yang insecure sama status lo, Na. Lo harusnya ikut berjuang sama Joddy untuk meyakinkan orangtuanya kalau lo pantas untuk Joddy. Toh, status lo ada bukan karena kesalahan tapi karena takdir." Kanda masih berusaha menenangkan Kana meyakinkan kalau dia tidak seburuk yang orang lihat.
"Yang penting Joddy cintanya sama lo. Urusan restu masih bisa kalian perjuangin, Kana," imbuh Kanda.
Kana mendecih pelan, ngomong sih gampang ngelakuinnya yang susah. "Kalau suatu hari nanti anak kamu dapat pasangan dengan status janda atau duda bagaimana?" tanya Kana pada Sang Kakak yang langsung terdiam seperti sedang berpikir keras.
" Gak masalah asal mereka bahagia, toh yang menjalani kehidupan mereka bukan gue. Sebagai orangtua sih, cuma bisa mendukung." Di luar dugaan, Kana cukup surprise juga mendengar pemikiran Sang Kakak yang terbiasa becanda dan suka usil itu menjadi sedikit lebih dewasa.
"Aku gak yakin sama omongan kamu, Bang. Mana ada orangtua yang mau anaknya nikah sama janda beranak satu," desah Kana lesu.
"Orangtua gue mau Na! Gue juga mau Na, nikah sama kam- auhh sakit Boss!!!"celetukan Thomas berakhir dengan tangan Kanda yang mendarat di kepalanya.
"Sorry ya, Adek gue bukan mesin pembuat anak!" seru Kanda kesal, bukan apa-apa walaupun Thomas sama istrinya LDR-an tapi mereka punya tiga anak dengan rentang usia anaknya yang dekat. Kanda tidak bisa membayangkan kalau adik iparnya Thomas mau berapa ponakannya dalam setahun?
"Udah, aku balik ke kantor dulu ya."Kana melerai dua orang yang saling dorong itu. "Maaf ya Bang Thom dan makasih ya gak marah aku pakai namanya," imbuh Kana lalu berdiri dan bersiap pergi.
"Any time, Na. Aku selalu siap buat jadi pacar kam- woooi sakit!" Thomas menatap ke arah Kanda yang beberapa detik lalu menekan lukanya dengan kain kasa. Kedua pria dewasa itu kemudian saling dorong membuat Kana menggeleng pelan lalu bergegas pergi.
Di lain tempat, Joddy yang baru saja sampai di cafe di mana dia janjian dengan Dipta itu mengumpat dengan kata-kata kasar. Dipta yang tadinya sibuk dengan ponselnya jadi tertarik melihat saudaranya itu terlihat kesal.
__ADS_1
"Kenapa?"
Joddy menghela napas, berusaha menetralisir kemarahannya. Membuat babak belur Thomas rupanya.belum.membuatnylega, karena Kana masih tidak mau menemuinya.
"Bang, lo ngajak ketemuan cuma buat nunjukin kalau lo lagi kesel?"
"Gue putus sama Kana!"
"Lalu hubungannya sama gue?"
"Gue cuma mau minta tolong ke lo buat atur pertemuan gue sama Kana. Lo atasannya dia pasti percaya sama lo."
Alis Dipta terangkat satu. " Bang, lo serius? Ini udah gak profesional lho Bang. Bawa masalah pribadi ke kerjaan gue."
Joddy terdiam dia membetulkan perkataan Dipta. " Habis gue udah kehabisan akal. Kana benar-benar menutup akses buat gue ketemu dia sama Ken."
"Lagian, lo kenapa jadi blingsatan gini sih, Bang? Biasanya kalau lo putus gak segalau ini?"
"Kana berbeda Dip. Dia wanita yang udah gue suka dari belasan tahun lalu."
Dipta manggut-manggut. " Lalu kenapa putus?"
"Gue gak tahu, tiba-tiba dia putusin gue dengan alasan punya pacar baru. Nih, gue habis pukulin cowok yang dia akuin sebagai pacar."
Dipta menganga mendengar informasi kecil yang diberikan Joddy. Dia tidak sangka, Joddy yang dia kenal sebagai orang yang bisa mengendalikan emosi jadi 'ngawur' hanya karena seorang wanita. Ah, bucin gila!
"Ya karena gue ngerasa aneh, awalnya semua baik-baik saja bahkan dia mau nginep di tempat gue. Tiba-tiba dia minta putus dengan alasan cinta sama cowok lain, itu bukan dia banget Dip! Gue udah hafal dia, dia bukan wanita yang mudah jatuh cinta. Gue aja harus nunggu 2 tahun buat ngeyakinin dia." Joddy mengusap wajahnya yang lelah karena sudah kehabisan cara agar dia bisa bertemu Kana dan menyelesaikan semuanya.
"Bentar Bang lo putus kapan?" Dipta jadi teringat sesuatu.
"Sekitar dua minggu lalu. Kenapa?" Joddy menatap Dipta menyelidik.
"Gue sempet ketemu Kana di restoran deket kantor dia pas jam makan siang."
"Hubungannya apa?"
"Di restoran itu gue juga ketemu Tante Jihan sama wanita yang gue gak kenal," sahut Dipta membuat Joddy terdiam seketika. Seakan terdapat benang merah Joddy sepertinya menangkap sesuatu yang bisa jadi ada hubungannya dengan Kana yang minta putus.
"Ibu gue ketemu Kana?"
Dipta mengangkat bahu. "Gue gak terlalu yakin, karena gue ketemu Kana dia udah mau pulang dan Tante Jihan masih asik makan sama wanita itu gue juga gak nanya apa mereka baru saja bertemu tapi Kana kayak nangis waktu keluar dari restoran itu."
Joddy menggebrak meja membuat Dipta kaget dan menoleh kanan-kiri takut-takut ada yang melihat dan menyangka mereka berdua adalah pasangan Gay yang sedang bertengkar.
Joddy seperti menangkap sesuatu dari cerita Dipta, dia yakin kalau Ibunya dan Kana sudah bertemu, karena Ibu Joddy pernah meminta kontak Kana dengan alasan ingin kenal lebih jauh. Joddy yakin alasan Kana ingin dia berhenti berjuang adalah Ibunya.
"Lho, Bang mau kemana?" Dipta nyaris berteriak saat melihat Joddy beranjak dari duduknya.bersiap pergi.
__ADS_1
"Berjuang. Thanks, Dip! Entar gue kabarin gimana jadinya," ujar Joddy lalu pergi begitu saja setelah selesai bicara meninggalkan Dipta yang menatapnya tak percaya.
"Bucin gila!"