Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Baiklah kalau itu mau kamu


__ADS_3

Kana pikir setelah dia mengusir Joddy di pernikahan Kanda, Joddy akan pergi dan dia tidak akan pernah berani menemuinya lagi. Nyatanya, pria itu sekarang malah ada di depan rumahnya, bajunya masih sama dengan yang tadi dia pakai di pesta itu tandanya, Joddy belum pulang ke apartemennya.


Sebelum menghampiri Joddy, Kana memberi isyarat pada Mbok Dar yang tengah menggendong Ken yang tertidur untuk masuk ke dalam rumah lebih dulu. Mama dan Papanya masih di hotel dan menginap di sana sedangkan Kana memutuskan untuk pulang karena rumah kosong.


"Ada apa kamu ke sini? Mau memastikan keadaan Thomas? Dia baik-baik saja." Kana bersedekap memberi tatapan dingin pada pria yang sampai sekarang masih dicintainya itu.


"Dek, jangan pergi ke Kanada dengan pria itu."


Kana sedikit kaget saat mendengar kata-kata Joddy, jadi dia malam-malam ke sini hanya untuk mengatakan itu? Melarangnya pergi dengan pria lain.


"Kamu tidak punya hak melarangku. Kita sudah punya kehidupan masing-masing."


"Aku tidak suka kamu pergi dengan pria manapun."


"Itu bukan urusan kamu."


Kana berniat pergi tapi tangan Joddy menarik pergelangan tangan Kana. "Jangan menyakitiku seperti ini, Na. Kita sama-sama tahu siapa yang ada di hati kita masing-masing."


Joddy masih berharap Kana akan merubah pandangannya mengenai hubungan mereka. Joddy masih berharap Kana mau berjuang bersama atau paling tidak membiarkan Joddy berjuang walaupun sendiri.


Diam-diam Kana membenarkan dalam hati. Kana memang sedang menyakiti Joddy dan mungkin dirinya sendiri. Dia masih menyimpan perasaan itu untuk Joddy, malaikat tanpa sayapnya. Namun, sekarang dia harus mematahkan sayap-sayap malaikatnya agar berhenti mencarinya.


"Justru karena aku tahu siapa yang ada di hatiku makanya aku melakukan ini. Sudahlah, Kak. Tolong berhenti, berhenti mengangguku dan Ken. Kamu bisa bahagia tanpa aku, begitupun sebaliknya tanpa kamu aku dan Ken bisa bahagia. Aku sudah lelah Kak. Sikap kamu yang sekarang ini membuat aku tersiksa. Jadi tolong pergilah dari hidupku. Biarkan aku menjalani hidupku yang baru bersama Thomas." Bagus Kana, bagus! Kamu melakukannya dengan baik, sangat baik. Lihat luka yang terlihat di mata teduh itu. Kamu sudah berhasil menyakitinya.


Joddy terpaku di tempatnya berdiri. Mencoba mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari bibir Kana. Jadi, semua tindakkan yang dia lakukan ini membuat Kana tersiksa?Perjuangan yang dia lakukan juga membuat Kana tersiksa?Bukankan mencintai itu seharusnya membuat satu sama lain bahagia. Kalau salah satu di antaranya saja merasa tersiksa, itu bukan cinta.


Joddy ingin sekali menyangkalnya dan menganggap semua yang dikatakan Kana hanya omong kosong. Tapi bagaimana jika ternyata benar? Apa dia harus melepaskan Kana dan membiarkannya bersama pria lain yang keluarganya bisa menerima Kana apa adanya?


"Baiklah kalau itu mau kamu." Ini bukan dari hati saat Joddy mengatakannya tapi melihat wajah Kana yang terlihat tenang saat mendengarnya maka Joddy menduga ini memang yang diinginkan Kana.


"Aku akan berhenti berjuang sesuai dengan kemauanmu."


Kana mengigit bibir dalamnya kuat-kuat, jangan menangis, jangan menangis.


"Ingat Na, ini kemauanmu bukan keinginanku."


Kana tahu. Ini semua memang yang Kana inginkan, dia lepas dari Joddy, tidak ada nama Joddy dalam kehidupannya dan mengubur dalam-dalam semua tentang Joddy. Maka dia tidak boleh menangis, karena itu sama dengan dia menyesali keputusannya sendiri.

__ADS_1


"Aku tahu." Kana berkata dengan tenang agar Joddy tahu jika dia akan baik-baik saja dan yakin bahwa memang ini yang benar-benar diinginkan Kana. Walaupun hatinya berkata lain.


" Sesuai dengan keinginanmu pula, aku akan menikahi Laras bertanggungjawab atas apa yang sudah aku lakukan."


Kana mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan rasa sakit yang bercokol di hatinya.


"Baguslah. Jadilah pria yang bertanggungjawab." Kana tersenyum tipis, lalu berkedip beberapa kali menahan air mata yang nyaris tumpah.


"Sudah? Kamu boleh pergi dari sini." Kana hanya takut air mata akan menetes di kedua pipinya, dia tidak mau Joddy melihatnya.


"Baiklah. Jaga dirimu dan Ken baik-baik." Hanya itu pesan yang Joddy katakan pada Kana sebelum dia melangkah pergi meninggalkan Kana yang masih berdiri di tempatnya.


Begitu mobil Joddy meninggalkan plataran rumahnya, pertahanan Kana runtuh juga. Dia terduduk dengan air mata yang sudah berderai. Digigitnya lidahny kuat-kuat agar isak tangisnya tidak terdengar oleh tetangga.


"Aku cinta sama kamu, Kak," ujar Kana lirih nyaris hanya dirinya sendiri yang mendengar.


Jika ada wanita yang bodoh. Kana lah orangnya. Dia melepaskan pria nyaris sempurna seperti Joddy yang dengan rela menerimanya, mencintainya dengan tulus. Kana tahu itu. Tapi Kana sadar dia tak boleh egois, Jihan lebih berhak atas Joddy. Joddy berhak untuk bahagia tapi tidak bersama dirinya. Dia juga wajib membahagiakan ibunya dengan wanita pilihan sang ibu.


**


Pagi harinya terpaksa Kana pergi ke kantor mengenakan kacamata. Menutupi bengkak di matanya akibat dari menangisi Joddy semalaman. Sekarangpun kepala Kana sedikit pusing karena kurang tidur. Sebenarnya Kana ingin izin tidak masuk kantor tapi dia tidak enak karena sudah keseringan bolos.


Kana mengangguk. " Oke. Oke banget malah." Kana hanya malas kalau harus menjelaskan apa yang terjadi dengan dirinya. Menceritakan pada Key malah akan memperparah keadaan hatinya.


Cukuplah semalam dia merasa dunianya hancur. Sekarang saatnya dia bangkit dan mencoba kehidupan baru tanpa Joddy di dalamnya. Astaga, baru sehari -percobaan untuk melupakan Joddy- saja rasanya dia sudah sakit. Sakit menahan rindu untuk bertemu.


"Terus kenapa itu mata sampai bengkak kayak digigit tawon begitu?"


" Habis marathon nonton drakor." Bahkan seingat Kana terakhir dia nonton drama Korea setelah sidang skripsi, itupun karena waktu itu Adrian meninggalkannya lembur di kantor dan dia kesepian di rumah.


"Kirain karena patah hati."


Tepat. Bukan hanya patah tapi nyaris hancur berkeping-keping. Sekarang tinggal bagaiamana Kana menata kepingan-kepingan yang sudah hancur itu menyatu kembali dan itu akan butuh waktu.


"Ngomong-ngomong apa kabar Si Om ganteng?" Key menaikturunkan alisnya saat bertanya. Kana tahu yang dimaksud Key adalah Joddy.


"Baik-baik saja." Kana tidak sepenuhnya berbohong. Kana tahu sekali Joddy akan baik-baik saja setelah kejadian semalam.

__ADS_1


"Tapi kayaknya kamu yang gak baik-baik saja. " Key menatap lekat-lekat Kana yang segera membuang muka.


"Gak masalah kalau kamu belum mau cerita." Key tersenyum dia tahu marathon drakor hanyalah alasan Kana saja. Dia tahu Kana sedang ada masalah yang belum mau dia share dan Key bukan tiba orang yang terlalu ingin masuk ke dalam kehidupan pribadi orang lain.


"Thanks, Key." Kana sungguh bersyukur punya teman yang mengerti dirinya. Key tidak pernah memaksa Kana untuk bercerita sama seperti Moli dan Nea, Key selalu menunggu Kana untuk bercerita sendiri.


"Ya, sudah pulang yuk!" Key menepuk pundak Kana lalu membimbingnya keluar dari kantor.


"Kenapa gak pakai mobil saja, Na?"


"Males banget, suka macet." Kana menyahut. Langkahnya mendadak berhenti saat dia melihat sebuah mobil yang sangat dia hafal pemiliknya. Seorang wanita kemudian keluar dan menghampiri Kana dengan langkah angkuhnya. Pemilik mobil yang duduk di kursi kemudi tidak memperlihatkan tanda-tanda akan beranjak dari duduknya. Dia masih di dalam mobil duduk dengan tatapan lurus ke depan.


"Itukan mobilnya Pak Joddy dia siapa?" bisik Key di sampingnya. Kana tak sempat menjawab karena wanita itu sudah berdiri di depannya.


"Hai, Kana! Akhirnya kamu keluar juga." Itu bukan jenis sapaan untuk beramah tamah Laras bahkan mengatakannya dengan wajah malas.


"Ada keperluan apa?" tanya Kana pandangannya lurus ke arah Joddy melewati Laras yang sedang berdiri di depannya.


"Ah, iya. Wait!" Laras membuka tas mahalnya lalu mengeluarkan sesuatu.


"Ini!" Laras menyodorkan sepucuk undangan pada Kana. "Undangan pertunangan aku sama Joddy. Joddy minta dipercepat," imbuhnya.


Kana sedikit kaget lalu menerimanya dengan perasaan tak karuan.


"Tadinya Joddy nyuruh biar kurir aja yang nganter, tapi kan itu gak sopan karena bagaimanapun kalian pernah dekat. Jadi, aku paksa saja Joddy buat nemenin nganter. Eh, mau dia." Laras menengok ke belakang ke arah Joddy yang masih tetap di dalam mobil.


"Datang ya seminggu lagi. Pokoknya kamu harus datang, kami tunggu. " Laras tersenyum ke arah Kana yang menatap nanar sepucuk undangan di tangannya. Undangan dengan nama Joddy dan Laras yang ditulis dengan tinta emas.


"Ya, sudah aku pamit dulu. Mau makan malam sama Joddy dia pengen banget katanya makan malam berdua. " Selesai bicara Laras lalu pergi masuk ke dalam mobil Joddy.


Kana menatap Joddy ketika pandangan mereka tak sengaja bertemu tatapan lembut dan teduh tidak Kana temukan berganti dengan tatapan yang dingin.


"Jadi ini yang bikin mata kamu bengkak?" tanya Key setelah mobil Joddy berlalu pergi.


Kana mengigit bibir dalamnya kuat-kuat, airmata yang sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah juga. Hancur sudah pertahanannya.


"A-aku cinta sama dia Key," bisik Kana di sela isak tangisnya. Key memeluk Kana erat, mengelus punggungnya lembut mencoba menenangkan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sabar ya, Na."Key memperkuat pelukannya berharap itu bisa menguatkan Kana.


*********


__ADS_2