Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Salah paham


__ADS_3

Joddy menunduk dalam, tak berani menatap wanita cantik yang kini tengah menatapnya tajam dengan tatapan menghunus marah. Kana seketika murka saat mendengar pengakuan Joddy jika dia lupa mengingatkan Kana untuk suntik rutinnya.


Setelah dicek, ternyata benar Kana hamil. Membuat Kana binggung antara harus sedih atau bahagia. Tapi setelah melihat wajah polos Queen yang sekarang tengah menyusu padanya, seketika hati Kana mencelos. Queen masih butuh Asi tapi dia harus esudah punya adik. Kana bingung harus bagaimana sekarang.


"Jangan-jangan alarmnya kamu matiin!" tuduh Kana, karena dia selalu memasang alarm di agenda hp Joddy dengan tujuan pengingat, karena Kana terlalu sibuk untuk memikirkan hal kecil yang bisa berdampak besar seperti itu.


"Aku gak matiin, Sayang. Tapi mungkin-" Joddy terdiam sejenak. Mungkin juga dia tidak sengaja mematikannya.


"Mungkin apa? Mungkin emang kamu lupa?!" Kana benar-benar tidak tahan lagi untuk tidak meluapkan amarahnya pada Joddy yang kelihatan pasrah itu.


"Padahal kamu tahu kan, Kak. Aku sengaja ngasih alarm pengingat di hp kamu, biar aku gak lupa! Kamu kan tahu sendiri aku pelupa!"


"Maaf, Sayang. Aku minta maaf."


"Terus sekarang gimana? Queen belum genap setahun dia masih butuh Asi aku." Kana mulai menangis sesegukan.


"Kita cek ke dokter aja, siapa tahu emang alat tes ini salah." Walaupun Joddy berharap alat itu 100% benar.


Dia tidak masalah kalau Kana hamil dan dia punya banyak anak dari wanita yang harus menunggu 1000 purnama baru bisa dia dapatkan, dia malah merasa bangga dan bersyukur sekali punya keturunan cantik dan ganteng.


"Kamu seneng kan, aku hamil lagi?!"


"A-aku.."


"Senyum-senyum!"


Ah, sial! Kenapa kamu harus senyum sih, bibir! Joddy menepuk pelan bibirnya sendiri.


"Kamu sih enak, naruh doang!" bentak Kana.


Joddy berjengit kaget saat Kana bicara dengan nada yang sedikit tinggi. Apa ini efek dari hormon ibu hamilnya?


"Maaf, Dek."


Kana hanya menatap Joddy kesal lalu beranjak dari duduknya sambil menggendong Queen yang sudah tertidur pulas setelah puas menyu**.


Joddy hanya bisa menatap istrinya lalu menghela napas lelah sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, meratapi nasib.


*


Kana mengusap air mata yang terus-menerus menetes dari kedua matanya. Sepulangnya dari dokter kandungan memastikan apakah dia benar hamil atau tidak dan rupanya Kana memang hamil dengan usia kandungan 8 Minggu yang berarti sudah dua bulan.


"Udah, Na. Ini namanya rejeki." Maya mencoba menghibur Kana sambil menimang Queen yang mulai mengantuk itu.


"Tapi Ma, Kana harus menyapih Queen lebih cepat dari yang seharusnya!"


"Dokter nyuruh begitu?" sahut Gufron yang asik menyuapi Ken es krim itu. Gufron selalu memanjakan Ken bila anak itu berkunjung ke rumah dia akan sengaja membelikan Ken banyak es krim.


Kana mengangguk. "Sebenarnya tidak apa-apa, ibu yang hamil menyusui. Tapi memang nutrisinya akan berbeda dan karena Kana punya riwayat keguguran beberapa kali. Dokter tidak menyarankan untuk menyusui karena itu riskan." Kana tak tega melihat Queen yang mulai terlelap di gendongan neneknya.


"Ini semua salah Kak Joddy, Ma. Dia lupa ingetin aku!" Amarah Kana mulai memuncak lagi setiap kali ingat kesalahan Joddy itu. Gara-gara dia jadi kebobolan begini!


"Terus mau kamu apa? Mau gugurin aja?" Gufron berkata dengan santai tapi cukup menusuk jantungnya.


Mendengar pertanyaan dari ayahnya itu membuat Kana mau tak mau terdiam. "Gak gitu juga," sahut Kana lirih. Mana mungkin dia tega membunuh janin yang tidak bersalah ini.


"Ya sudah, pertahankan. Itu adalah rejeki kamu dan Joddy. Di luar sana masih banyak wanita yang sulit hamil. Kamu dikasih kemudahan sama Allah malah tidak bersyukur seperti itu. Kalau kamu merasa bersalah karena Queen harus disapih lebih awal itu wajar, tapi ingat Queen tidak mendapat full Asi bukan berarti dia tidak akan tumbuh jadi anak yang pintar. Percayalah, Queen akan tumbuh dengan baik." Gufron mencoba memberi pengertian pada Kana dengan bahasa dan tutur kata sehalus mungkin.


"Lagipula ini bukan salah Joddy sepenuhnya. Dia sudah sibuk bekerja tapi malah kamu kasih beban dengan memberinya tugas untuk mengingat jadwal kamu suntik KB. Kalau jadi Joddy, Papa akan marah sama kamu karena kamu melimpahkan kesalahan dari sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab berdua bukan sendiri."


Lihatlah bahkan Gufron pun lebih berpihak pada Joddy. Sebenarnya Kana tidak suka Gufron membela Joddy apalagi dulu Gufron sempat menentang hubungannya dengan pria itu, tapi semua yang dikatakan ayahnya itu benar dan Kana harus mengakui itu. Tidak sepantasnya Kana bersikap kufur seperti ini. Allah sudah berbaik hati memberinya rezeki harusnya Kana bersyukur, tapi lihat yang dia lakukan? Dia malah marah dan menyalahkan suaminya.


Istri macam apa dia ini!


Tanpa sadar Kana mengusap perutnya yang terlihat masih rata. Maafin Bunda, Nak. Bunda akan jaga kamu!


"Renungkan dulu, Na. Papa tahu kamu sedang labil karena hormon kehamilan. Tapi jangan terus menyalahkan suamimu, kamu juga tidak perlu merasa bersalah pada Queen. Harusnya kamu bangga karna Allah sudah mempercayakan lagi anak ke kamu. Itu berarti kamu memang ibu yang hebat." Gufron tersenyum lalu mengusap kepala anaknya pelan. Kana hanya termenung memikirkan semua ucapan Gufron.


"Heran, anak itu kenapa setiap tahun bisa bikin kamu hamil," gumam Gufron dengan pandangan menerawang.


"Kek, ayo kita nonton TV!" celetuk Ken pada Gufron yang gelagapan itu. Pria paruh baya itu tersenyum lalu mengendong Ken dan membawanya ke ruang TV.


"Benar semua yang dikatakan Papa kamu, Na." Maya yang sejak tadi memilih diam agar anak dan suaminya bicara dari hati ke hati itu akhirnya bersuara.


"Kamu minta maaf sama Joddy kalau perlu masakin masakan kesukaannya," usul Maya.


Kana terdiam sejenak, benar juga beberapa hari ini dia memang terlalu keras pada Joddy, bahkan Kana selalu memasang wajah muram. Tapi Joddy sama sekali tidak protes, dia masih saja sabar menghadapinya.


"Tapi Kana belum belanja, Ma. Soalnya Mbok Dar masih di kampung biasanya kan dia yang belanja," keluh Kana dia memang benar-benar sedang malas untuk sekedar membeli sayur dan membiarkan anak dan suaminya makan dengan sisa bahan di kulkas yang dia olah sebisa mungkin.


"Ya sudah. Joddy pulangnya sore kan? Nanti biar Kakak kamu yang temani, Mama soalnya hari ini ada acara sama Papa kamu."


Kana mengangguk lalu tersenyum, mamanya benar dia harus minta maaf pada Joddy karena sikapnya yang sudah sangat keterlaluan.


Yah, dia akan membuat makanan kesukaan Joddy dan membelikannya kue. Walaupun bukan ulang tahun tapi bolehlah sesekali mereka makan tart. Semoga saja Joddy memaafkan sifat labilnya kali ini.


*


Di lain tempat, di sebuah mall seorang pria tengah kebingungan memperhatikan rak-rak berisi sepatuz. Siapa lagi kalau bukan Joddy suami bucin yang selalu kalah tiap berhadapan dengan Kana.


"Beliin, barang yang wanita suka."


Dan kata-kata Kevin inilah yang akhirnya membawa Joddy bolos jam makan siang dan menahan malu karena banyak mata yang menatapnya saat bingung memilih sepatu wanita.


Ya, atas saran Kevin yang mengatakan agar membelikan segala sesuatu yang diinginkan Kana akhirnya dia pergi ke sebuah mall yang dekat dengan kantornya dan membeli beberapa barang yang kemungkinan disukai dan dibutuhkan Kana dengan tujuan merayu agar dia tidak marah dan sedih karena kehamilannya membuat dia harus menyapih Queen lebih cepat dari seharusnya.


"Permisi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang pramuniaga akhirnya mendekati Joddy karena terlihat kebingungan.


"Saya sedang mencari sepatu untuk istri saya, tapi saya binggung mau model yang seperti apa?" Karena Kana lebih banyak di rumah kalaupun keluar dia lebih sering memakai sandal kecuali saat kondangan, itupun dia kebanyakan memakai sneaker.


"Mohon maaf, istri Bapak usianya berapa?" tanya pramuniaga yang di name tag-nya tertulis 'Dian' itu.


"27an, Mbak."


"Tingginya?"


"Sekitar 160-an."


"Ukuran sepatu?"


"37. Istri saya sedang hamil, saya ingin cari sepatu untuk wanita hamil yang aman tapi tetap terlihat modis."


Mbak cantik dengan rambut pendek itu terdiam sejenak seperti sedang berpikir, lalu tak berapa lama dia tersenyum." Mohon tunggu sebentar ya, Pak." Pramuniaga bernama Dian itu lalu pergi entah ke mana dan tak berapa lama kembali dengan box di kedua tangannya.


"Ini Pak, model low wedges heels. Sepatu ini aman, nyaman untuk ibu hamil selain itu ibu hamil bisa tetap bergaya dengan sepatu ini." Pramuniaga itu mengeluarkan dua pasang sepatu yang ada di kotak box itu, lalu membandingkan di kedua tangannya.


Joddy mengerutkan keningnya berpikir keras. Sejujurnya saja Joddy sama sekali tidak tahu model sepatu wanita, kedua pasang sepatu itu terlihat sama saja dengan sepatu wanita lainnya.


"Eumm?" Joddy mengaruk tengkuknya kebingungan.


"Yang model ini tinggal dua warna, Pak. lavender dan salem." Mbak Pramuniaga tersenyum manis.


Joddy semakin bingung. Setahunya lavender itu nama bunga dan salem nama ikan sejak kapan berubah jadi nama warna?


"Kelihatannya yang salem lebih bagus." Itu bukan Joddy yang menjawab melainkan seorang wanita yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya.


"Lho, Lian?" Joddy terkejut melihat wanita cantik yang tengah tersenyum manis padanya itu.


"Warna salem lebih cocok untuk Kana yang kalem, Bang?" Wanita berambut ombre yang terlihat menawan itu masih saja tersenyum di depan Joddy.


"Benar, Pak. Warna salem memang lebih manis dan terlihat kalem," imbuh pramuniaga itu.

__ADS_1


Joddy tersenyum lalu mengangguk. "Oke, saya ambil yang Salem ukuran 37 ya, Mbak." Joddy menjatuhkan pilihannya.


Pramuniaga itu tersenyum lalu bergegas pergi. untuk membungkus pesanan Joddy.


"Jadi, kopi?" Lian melirik ke arah coffe shop yang ada di seberang toko sepatu di mana mereka berada. Bermaksud mengajak Joddy untuk sekedar nongki sambil mengobrol karena sudah lama mereka tidak bertemu.


Joddy termenung sejenak memikirkan baik/buruknya berada di situasi bersama wanita yang pernah mempunyai perasaan untuknya itu. Tapi sepertinya tidak masalah hanya sekedar minum kopi.


*


"Aku baru tahu lho, Bang akhirnya kamu berjodoh dengan Kana."


Coffe shop yang mereka datangi tidak terlalu ramai hanya ada beberapa pengunjung. Joddy akhirnya menerima tawaran Berlian untuk minum kopi bersama selain sebagai ucapan terimakasih, juga dia menerima tawaran itu hanya untuk sekedar bertukar kabar sebagai teman tidk lebih.


"Dan aku turut berdukacita atas meninggalnya Pak Adrian."


"Thanks. Jadi, lo ke Jakarta dalam rangka apa?" Joddy ingin mengganti topik yang tidak membicarakan Kana ataupun almarhum suaminya. Menurutnya itu terlalu pribadi. Joddy tidak suka membicarakan hal-hal pribadi pada orang lain.


Berlian tertegun sejenak, bahkan Joddy menggunakan kata 'lo' saat memanggil dirinya.


"Dalam rangka liburan Bang. Cuti akhir tahun. Papa sama Mama pengen banget liburan sama aku."


"Oh, mereka sehat?"


"Sehat, Alhamdulillah. Jadi, gimana Bang? Udah punya anak belum?" tanya Lian.


"Udah. On the way tiga malah." Joddy menjawab dengan mata berbinar.


"Wah, berarti ini semua buat hadiah Kana?" Lian menunjuk paper bag yang ada di atas meja.


"Hmm, ya. Gue rasa semua ini saja gak sebanding dengan apa yang dia kasih ke gue." Joddy tersenyum membayangkan wajah cantik Kana dan itu tak luput dari perhatian Lian. Joddy benar-benar terlihat bahagia saat menyebut nama Kana. Tak bisa dipungkiri, dari dulu Kana sudah menjadi ratu di hati Joddy.


"Lo sendiri gimana? Anak lo udah berapa?" tanya Joddy mengalihkan pembicaraan.


"Boro-boro anak, suami aja belum ada." Lian tersenyum kecut.


"Belum nikah lo?"


"Belum ada yang klik, Bang."


"Lo yang terlalu milih kali! Bandung kan cowoknya cakep-cakep."


Lian terkekeh."Cakep-cakep emang tapi banyak yang buaya."


"Yah, dari buaya-buaya itu siapa tahu ada yang buaya bucin."


"Mungkin, tapi ya gimana ya belum ada yang nyantol!"


"Masa?""


"Habis gimana lagi, Bang? Hati gak bisa dipaksa. Sekedar jalan sih ada, cuma aku masih ragu." Lian mengalihkan pandangannya ke luar cafe. Takut baper saat melihat mata Joddy, takut punya perasaan lagi. Soalnya, Joddy itu ibarat bintang. Jauh dan sulit digapai.


"Umur lo udah 30 an kan ya?"


"Iya, Bang." Lagi-lagi Lian terkekeh. "Masih kelihatan kayak ABG ya?"


Joddy ganti terkekeh lalu mengangguk. " Iyain aja deh biar seneng." Lalu keduanya sama-sama tertawa, dalam hati Lian bahagia saat melihat tawa renyah Joddy. Tawa yang sama yang pernah pria tampan itu tunjukkan padanya beberapa tahun lalu. Tawa yang tidak akan pernah jadi miliknya lagi.


"Kak Joddy?!"


"Daddy!"


Tawa keduanya menguap ke udara begitu melihat dua orang berdiri menatap mereka dengan binggung.


"Kana?" desis Joddy tak percaya melihat Kana ada di hadapannya menatapnya dengan pandangan tak percaya dengan Queen di gendongannya dan Ken yang menatapnya polos di gendongan Kanda Sang Kakak Ipar yang tersenyum sinis melihatnya.


"Dek." Joddy beranjak dari duduknya tapi Kana memundurkan tubuhnya bermaksud menjauh. Tatapannya terluka apalagi saat melihat paper bag di atas meja di depan Lian yang terlihat serba salah.


"Kana! Tunggu, kamu salah paham, Sayang!" Joddy menghadang Kana yang bersiap pergi itu.


"Iya, salah paham. Maaf ganggu, silahkan kalian teruskan acara reuni kalian." Kana menatap Joddy tajam lalu berjalan menjauh dari suaminya.


"Dek, sebentar-"


"Aku gak nyangka sama kamu. Aku sedang hamil dan sibuk belanja buat ngasih kejutan kamu, tapi kamu malah enak-enakan ngopi di jam kerja sama cewek lain!" Kana dan hormon kehamilannya.


"Sayang, kamu salah paham. Semua yang kamu lihat ini tidak sesuai dengan apa yang kamu pikirin. kamu dengar penjelasan aku dulu." Joddy masih mencoba menjelaskan pada Kana.


"Gak usah njelasin apa-apa! Aku mau pulang ke rumah Mama kamu gak perlu nyusul!" seru Kana lalu berlalu begitu saja.


"Haduh, cari masalah ae lo!" seru Kanda lalu menyusul Kana. meninggalkan Joddy yang berdiri binggung.


*


"Kana apa yang dikatakan Bang Joddy benar, kami tidak sengaja bertemu aku sedang liburan ke Jakarta lalu jalan-jalan ke sini terus gak sengaja ketemu Bang Joddy lagi binggung milih-milih sepatu buat kamu."


Berlian mencoba membantu menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Joddy dan Berlian memilih menyusul Kana ke rumah orangtuanya. Beruntung sekali kedua orangtua Kana sedang tidak ada di rumah jadi tidak perlu tahu drama ini.


Kana tak menyahut dia hanya menatap Joddy dan Lian bergantian, sedangkan Kanda sibuk memakan es krim punya Ken yang tidak habis dan ditinggal tidur oleh si pemilik.


"Aku yang mengajak Bang Joddy minum kopi, sebenarnya Bang Joddy sudah akan menolak tapi aku memaksanya. Tidak ada maksud apa-apa, hanya sekedar bertukar kabar." Lian berharap sekali Kana percaya dengan apa yang dia jelaskan ini, kalau tidak sungguh dia akan merasa bersalah pada Joddy


"Mana aku tahu apa yang kamu katakan itu benar?" sinis Kana menatap Lian. Membuat Lian menelan ludahnya, jangan-jangan Kana masih dendam karena dulu dia pernah mempermalukan wanita itu.


"Udahlah, Na. Kayaknya mereka gak boong!" sahut Kanda membelot ke adik iparnya.


"Kenapa kamu jadi belain mereka, Bang? Kamu udah gak sayang aku lagi?!!" seru Kana membuat Kanda berjengit kaget, lhaa kenapa dia jadi ikut imbasnya? Dan apa tadi? Dia gak sayang lagi? Sejak kapan adiknya ini begitu ingin disayang olehnya? Biasanya juga keberadaannya sebagai kakak tidak diakui. Hormon hamil memang mengerikan.


"Tapi kami gak bohong, Na." Joddy menimpali, dia tidak enak pada Lian yang ikut terkena imbas dari kemarahan Kana.


Kanda menatap wanita berambut ombre yang duduk dihadapannya, kalau diperhatikan Lian ini cantik juga. Mukanya gak ngebosenin umurnya kayaknya juga gak jauh beda dengannya. Masih jomblo gak ya?


"Suami kamu juga bakalan marah kalau duduk sama cowok lain!" seru Kana sewot.


"Tapi maaf aku belum nikah," lirih Lian dan itu terdengar jelas di telinga Kanda yang tanpa sadar tersenyum penuh arti.


Wah, target nih! Kanda tersenyum penuh arti.


"Apalagi belum nikah! Pacar kamu gimana?"Kana masih saja tak menyerah.


"Aku juga gak punya pacar, jomblo," balas Lian malu-malu karena diusianya yang sudah kepala 3 dia masih saja sendiri.


Sip, gue prospek nih, cewek! Kanda bersorak dalam hati dia tidak kuasa harus menduda lagi saatnya dia bangkit dan mencari tambatan hati yang baru wanita di depannya ini bisa dia jadikan target.


"Tuh! Apalagi dia masih single!" tunjuk Kana terang-terangan.


"Tapi benar, Na. Aku tidak ada perasaan apa-apa sama Bang Joddy." Lian masih pada pendiriannya.


"Sudahlah, Na. Aku percaya sama mereka berdua. Mereka memang tidak ada hubungan apa-apa." Kanda mencoba menggoyahkan Sang Adik agar tidak marah lagi.


"Jangan sok imut deh, Bang! Sejak kapan lo ngomong 'aku-kamu!"


Kanda mencibir sinis ke arah Kana tapi berubah ramah saat Lian menatapnya.


"Sayang, aku gak ada niat buat aneh-aneh. Aku ke mall beneran nyari hadiah buat kamu. Nih, semua buat kamu." Joddy mengulurkan paper bag ke arah Kana, ada sekitar 5 paper bag berisi barang kebutuhan wanita yang sengaja Joddy beli untuk merayu Kana.


Mata Kana mau tak mau melirik ke dalam paper bag itu. Penasaran dengan isinya.


"Ngga usah diperpanjang lagi lah, Na. Masa lo gak percaya sama suami yang jelas-jelas ngebucinin lo dari zaman lo masih pakai sport bra itu!" sahut Kanda yang langsung mendapat pelototan cantik dari Kana yang merasa tersinggung dengan kalimat terakhir duda itu.


"Huss!"

__ADS_1


"Lha benar, kan? Kalau lo masih marah begini berarti lo ngeraguin suami lo itu tandanya lo udah gak percaya lagi, padahal pondasi dari suatu hubungan adalah KEPERCAYAAN. kalau itu gak ada, ya udah bisa hancur semuanya! Lagipula anak lo udah dua, dan sekarang lo lagi hamil gak mungkinlah Joddy macam-macam!" seru Kanda berapi-api lalu mengedipkan matanya pada Joddy, isyarat kalau semua yang dia katakan tidak gratis. Semua yang dikatakan Kanda membuat Kana dan Joddy menatap pria itu tak percaya. Kenapa tiba-tiba Kanda jadi bijaksana seperti itu?


"Dikatakan oleh orang yang diselingkuhi kemudian cerai!" sindir Kana sarkas membuat Kanda menendang kakinya pelan


Joddy dan Lian menahan senyum melihat kelakuan kakak beradik itu.


Tapi kalau dipikir-pikir benar juga apa yang dibilang Kanda. Joddy tidak mungkin punya niat menyakitinya, kalaupun iya, mungkin bisa dilakukan dari dulu.


"Iya. Aku percaya," kata Kana kemudian, lalu mengambil salah satu paper bag yang ada di atas meja.


"Tapi lain kali kasih kabar! Jadi, kalau ketemu tiba-tiba kayak tadi aku gak salah paham!" seru Kana lagi tangannya mengambil sisa paper bag melihat isinya lalu tersenyum.


"Iya maaf, rencananya kan mau ngasih kejutan," sahut Joddy lalu pindah duduk di samping Kana karena dari tadi istrinya itu menolak duduk dekat dengannya.


"Mulaiiiii..." sindir Kanda yang sudah bisa menebak akan ada adegan apa selanjutnya.


"Kamu suka hadiahnya?" tanya Joddy menatap takjub ke arah istrinya yang sibuk membuka-buka paper bag itu.


"Suka." Kana menjawab tanpa melihat ke arah suaminya.


"Kalau gitu jangan marah-marah lagi ya?"


"Iya." Kana mengangguk lagi-lagi tanpa melihat ke arah Joddy.


"Aku minta maaf ya, Na. Udah bikin kalian ribut." Lian berkata dengan tulus.


"Aku yang minta maaf, bukannya menyambut kedatangan Mbak Lian dengan baik tapi malah bersikap kekanak-kanakan." Kana tersenyum membuat seisi ruangan merasa lega.


"Kamu gak perlu minta maaf kok, Na. Kalau aku di posisi kamu pun, mungkin akan bersikap sama." Lian tidak berbohong, kalau dia jadi Kana dan melihat suaminya dengan pria lain pasti akan marah.


"Jangan dibahas lagi. Sebagai permintaan maaf gimana kalau Mbak Kana makan malam di sini aku masakin dulu?" usul Kana.


"Setuju!!!" seru Kanda bersemangat membuat semua orang di dalam ruangan itu menatapnya heran.


"Kenapa kelihatannya lo semangat sekali?" Joddy seperti tahu maksud Kanda yang terlihat bahagia itu.


"Apalagi kalau bukan karena Mbak Lian masih single?" sahut Kana tersenyum mengejek ke arah Kanda yang salah tingkah itu.


"Namanya juga usaha."


"Yakin Mbak Lian mau sama duda?!"ejek Kana lalu menarik tangan Lian dan bergegas mengajaknya ke dapur memintanya membantu masak.


"Woii, Kuyaa!" seru Kanda kesal berbeda dengan Joddy yang menatap heran pada Kana. Beberapa menit yang lalu dia marah pada Lian tapi kenapa sekarang jadi akur begitu? Huh, wanita hamil memang sulit dimengerti.


**


Joddy tersenyum saat membuka pintu balkon dan mendapati Kana sedang melamun di sofa yang ada di teras balkon kamar mereka.


"Anak-anak udah tidur?" tanya Kana memberi ruang Joddy untuk duduk di sisinya.


"Hmm, udah. Queen juga udah gak rewel lagi malam ini." Yah, ini adalah hari ke-7 Queen berhenti minum asi awalnya dia rewel sekali tapi dari hari ke hari bayi cantik itu sudah terbiasa dan berhenti menangis.


"Kamu udah minum vitaminnya?" tanya Joddy membelai perut Kana yang masih rata.


"Udah." Kana menyandarkan kepalanya di bahu Joddy memejamkan mata menikmati parfum maskulin yang menguar dari badan suaminya itu.


"Kayaknya kamu kena kutukan Bang Kanda deh!"


Joddy mengernyit lalu melirik istrinya bingung. "Kutukan?"


"Iya, Bang Kanda dulu pernah bilang kamu bakalan bikin aku hamil tiap tahun, kayaknya iya deh."


Joddy terkekeh."Enggalah, itu karena Tuhan sayang sama kita berdua, Dia percaya kita adalah orangtua yang baik makanya dikasih kepercayaan lagi."


"Iya." Kana tersenyum.


"Terimakasih, ya Sayang."


"Untuk?"


"Untuk banyak hal. Untuk hadir di hidup aku dan bersedia menerima cinta aku. Untuk sudah memberikan anak-anak yang pintar dan lucu. Juga untuk-" Joddy membelai perut Kana lagi." Untuk calon jagoan aku yang masih on the way ini."


"Aku yang harus berterimakasih. Kamu udah nerima aku apa adanya. Kamu menjadi ayah Ken dan Queen yang luar biasa. Terimakasih juga udah sabar ngadepin mood swing aku yang pasti bikin kamu kesel."


"Engga ada kata kesel dalam hidup aku kalau menyangkut kamu, Na."


Kana terkekeh geli. "Bener kata Bang Kanda kamu emang udah bucin sama aku dari dulu."


"Iya, dari kamu masih pake sport bra ya?" canda Joddy yang langsung dihadiahi cubitan di lengannya.


"Itu aja ih yang diingat-ingat!"


"Habis isinya enak sih!"


"Kak!"


Joddy tertawa lalu menggenggam tangan Kana, sebelah tangannya yang bebas membelai pipi Kana.


"Kamu tahu gak, Dek, apa pencapaian terbesar di hidupku?"


"Apa?"


Joddy tersenyum lalu merekatkan kening mereka gombalan tapi Kana suka.


"Terimakasih ya, aku akan selalu ada untuk kamu dan anak-anak kita."


Kana mengangguk menatap penuh cinta ke arah suaminya. Lalu tiba-tiba menarik tengkuk leher Joddy dan mengecup bibirnya sekilas hanya sekilas tapi mendapat reaksi yang berlebihan dari Joddy. Dia tidak terima saat Kana melepas begitu saja ciuman Kana maka dengan sekali tarik Joddy berhasil merekatkan bibirnya kembali.


"Eh, tunggu!" Kana menahan dada Joddy saat tahu pria itu akan melakukan apa?


"Kenapa?"


"Kita mau melakukannya di sini?" tanya Kana dengan napas terengah-engah karena ciuman Joddy yang tidak memberinya waktu mencari oksigen.


"Iya, balkon ini kan aman." Joddy tersenyum lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Kana tapi wanita itu menahannya lagi.


"Kenapa lagi, Sayang?" Joddy yang sudah tak sabar itu seperti tak terima aktivasinya dihentikan.


"ditutupin selimut ya?"


" Iya, Sayangku." Joddy tersenyum lalu bersiap mendekatkan bibirnya kembali tapi lagi-lagi Kana menahannya.


"Apalagi, sih Dek?" Joddy mulai kesal karena Kana seperti mengulur waktu.


"Pelan-pelan, ya?"


Joddy mengangguk. "Iya, Sayang!" balas Joddy lalu menahan kedua tangannya antisipasi agar Kana tidak menahannya lagi, bisa pecah kepala Joddy dibuatnya karena pusing menahan gairah.


"Kak!" desis Kana tertahan, sayangnya Joddy sudah tidak peduli dengan apapun selain Kana saat ini. Dia akan membuat dan memberi Kana kebahagiaan.


Selama dia mampu.


Rumahnya adalah Kana, tempat di mana dia akan selalu pulang. Dunianya adalah Kana tempatnya menjalani hidup. Ya, hanya Kana. Joddy akan membuktikan pada dunia jika dia bisa membuat bahagia Kana dan anak-anaknya.


Selamanya.


_END_


******


***Hay guYs, capek ya bacanya karena nembus 3000 kata hehehehe sengaja, biar kalian capek. hoho. dan dengan terpaksa bab ini adalah BAB TERAKHIR, But makasih ya sayang-sayangku yang selalu baca, nungguin, vote dan komen karya abal-abal ini.

__ADS_1


i love you so much! Maafkan di akhir-akhir bab, kalian ngerasa gak greget. sengaja biar gak ngonflik dan makin panjang cerita ini. But insya Allah aku akan revisi perbab biar lebih nyaman dibaca dan siapa tau dilirik penerbit hihihi mimpi jangan nangung-nangung guys! Terimakasih semuanya. Sampai jumpa di cerita anak-anak Kana dan Joddy yang akan segera tayang hihihi Sayonara! Sukse dan bahagia selalu ya tetap jaga kesehatan***


__ADS_2