
Jihan menunduk saat Ferddy dan Joddy menatapnya penuh selidik. Wanita paruh baya yang sudah memakai baju tahanan berwarna hijau itu terlihat sedang menutupi sesuatu dengan rambutnya yang dibiarkan terurai.
"Bu, Ibu baik-baik saja?" tanya Joddy menelisik lebih dalam.
"Baik-baik saja."
"Ibu bohong!" Ferddy menyibakkan rambut Ibunya ke samping, dan terlihatlah luka memar di pelipis Jihan.
Joddy tersentak kaget melihat luka memar di wajah Ibunya.
"Itu kenapa Bu?" Joddy menatap Ibunya dengan tatapan tak percaya.
"Ibu jatuh di kamar mandi."
"Bukan karena perbuatan tahanan yang lain kan Bu?" sahut Ferddy cepat.
Jihan menggeleng pelan. "Bukan Ferddy, mereka mana tega menyakiti nenek - nenek seperti Ibu ini." Jihan tertawa mencoba mengalihkan perhatian kedua anaknya walaupun dia tahu dua anaknya ini tak mudah untuk dikelabui.
Semoga saja dugaan Ferddy dah Joddy tidak benar. Semoga saja luka Jihan itu memang benar karena jatuh dari kamar mandi.
"Ferddy, bisa kamu belikan Ibu salep memar?" Sebenarnya itu hanya alasan Jihan karena dia ingin bicara empat mata dengan Joddy. Tanpa curiga Ferddy mengangguk lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
"Apa tidur Ibu nyenyak?" tanya Joddy sepeninggal Ferddy. Pertanyaan bodoh, tentu saja Jihan semalam tidak bisa tidur. Terbiasa tidur di tempat yang nyaman, Jihan semalam gelisah. Rasanya dingin dan banyak nyamuk. Dia juga terpaksa tidur berdesakkan dengan tahanan wanita lainnya. Tapi dia tidak mau membuat anak-anaknya khawatir. Maka, Jihan hanya mengangguk.
"Ini Joddy bawakan selimut, baju dan perlengkapan lainnya serta makanan Bu."
Jihan menatap kosong ke arah koper besar di samping kursi yang Joddy duduki.
"Ibu tenang saja Joddy akan coba cari jalan agar Ibu bisa keluar dari sini."
Entah kenapa kata-kata Joddy itu terdengar seperti kalimat penghibur saja di telinga Jihan. Keluar dari sini? Rasanya tidak akan mudah. Semua bukti mengarah padanya. Laras dan Heru tidak akan pernah mencabut tuntutannya, dan Jihan sadar itu.
" Bu." Joddy mengambil kedua tangan Jihan. Dingin. Apa benar Ibunya baik-baik saja? Rasa-Rasanya tidak.
Jihan menatap Joddy dengan tatapan sendu. "Mas, sudah ketemu Kana?" tanya Jihan.
"Sudah, Bu."Joddy sedikit heran kenapa tiba-tiba Ibu menanyakan perihal tentang Kana.
" Apa dia masih marah? " tanya Jihan.
Joddy termenung sejenak. Apa Kana masih marah atau tidak, Joddy tidak tahu. Tapi beberapa hari ini dia tidak menghubunginya karena terlalu sibuk dengan masalah kantor dan Ibunya. " Tidak, Bu. Kana sudah tidak marah walaupun belum memaafkan Joddy sepenuhnya. "
__ADS_1
Jihan menghela napas berat." Kana tentu tidak mudah jika harus memaafkan Ibu. Begitupun dengan kedua orangtuanya. Ibu sudah sangat menyakiti mereka. Maafkan Ibu, Mas. Maaf sudah membuat segalanya rumit. Ibu sudah sangat egois. Maaf kan Ibu. " Air mata lolos saat Jihan selesai bicara.
"Sudah, Bu. Jangan terlalu dipikirkan. Kana dan orangtuanya itu urusan Joddy. Ibu sekarang cukup jaga kesehatan Ibu baik-baik di sini. Percayalah secepat mungkin Joddy akan keluarkan Ibu dari sini, dan kita akan berkumpul dengan Kana dan calon cucu Ibu." Joddy memaksakan seulas senyum di bibir, walaupun sebenarnya hatinya sakit melihat keadaan Ibunya sekarang. Wanita yang biasanya ceria dan selalu tampil segar kini terlihat pucat dengan kantong mata yang menunjukkan berapa lama dia tidur.
Dan luka memar di pelipis Jihan semoga memang benar karena terjatuh di kamar mandi.
"Ibu ingin sekali bertemu Kana, Joddy. Ibu ingin minta maaf sama dia." Jihan mengusap matanya, agar pandangannya tidak terhalang air mata.
"Iya, Bu. Nanti-"
"Maaf, jam besuk tinggal 10 menit." Seorang petugas lapas menghampiri Joddy dan Jihan menyela kata-kata Jihan. Ibu dan anak itu saling berpandangan. Keduanya lalu sama-sama memaksakan senyum.
"Jaga Adik kamu, Mas. Dia masih butuh kamu," pesan Jihan pada anak sulungnya.
"Ibu tidak usah khawatir. Jaga saja kesehatan Ibu. Jangan lupa minum vitaminnya. Yakinlah, Ibu pasti akan segera keluar dari sini."
Jihan tersenyum tipis. Keluar dari sini? Itu mimpi. Jihan hanya punya dua pilihan, tinggal lama di sini atau.... Mati!
.
***
Kamar di mana Laras dirawat terlihat sepi hanya ada Laras yang sedang duduk dengan bersandar pada tumpukan bantal. Joddy y menatap sekeliling ruangan VVIP yang tak ubahnya seperti kamar sebuah hotel bintang lima dibanding kamar orang sakit. Dindingnya dicat warna hijau daun, terdapat fasilitas seperti lemari es dan mini pantry. Sungguh, membuat Joddy bertanya-tanya apa benar ini kamar rumah sakit.
Joddy mengamati Laras, terlihat sebelah pipinya ditutup dengan kain kassa. Sepertinya apa yang dikatakan Ayahnya tentang Laras kehilangan separuh wajahnya terlalu berlebihan. Joddy hanya melihat luka itu beberapa centi walaupun mungkin tidak sepenuhnya bisa pulih. Mungkin dia hanya terkena percikan karena seperti kata polisi kemarin, Ayah Joddy melindungi wanita ini. Joddy yakin Laras dan uangnya bisa memulihkan itu.
“Gue turut berduka cita atas apa yang menimpa- calon anak lo!” Sebenarnya Joddy ragu mengucap bela sungkawa pada Laras karena dia yakin Laras tidak akan menanggapi.
“Oh, jadi kamu repot-repot ke sini untuk mengucapkan bela sungkawa? Sungguh, sebagai calon anak tiri kamu sangat perhatian sekali.” Laras tersenyum sarkastik.
“Gue minta maaf atas apa yang sudah dilakukan Ibu ke lo.”
“Wah, dan kamu meminta maaf untuk Ibu kamu? Kenapa tidak dia saja yang ke sini sendiri?” Laras lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan secara dramatis. “Oh, astaga aku lupa Ibu kamu kan nginep di hotel prodeo!” Laras lalu tertawa cekikikan, jenis tawa mengejek.
"Tolong, sampaikan pada Ibu kamu. Selamat, selamat menghabiskan masa tua di penjara." Laras kembali tertawa bahkan kali ini tangannya menepuk kedua pahanya gemas, seakan-akan apa yang dia katakan adalah sesuatu yang lucu.
Kali ini Joddy ragu dengan kewarasan Laras. “Fisik lo kelihatan sehat. Tapi gue ragu dengan kesehatan jiwa lo. Untuk seseorang yang baru saja kehilangan lo kelihatan biasa saja.” Joddy berkata dengan tenang .
“Kamu gak tahu apa-apa soal aku.” Laras memberi tatapan tajam ke arah Joddy dan pria tampan berkacamata itu tidak gentar sama sekali.
“Memang, gue gak tahu apa-apa soal lo! Saat lo selingkuh sama Bokap, gue juga gak tahu apa-apa. Tapi jangan pikir gue bodoh! Buktinya, gue tahu kalau kalian mau ngejebak gue dengan tipu yang sungguh murahan sekali untuk ukuran lo yang sangat berpendidikan.”
__ADS_1
Wajah Laras berubah tegang saat mendengar apa yang dikatakan Joddy, tapi beberapa detik kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Terserah apa yang kamu katakan Joddy, yang penting aku bisa mendapatkan Ayah kamu dan juga hartanya yang berlimpah. Selain itu, aku bisa mengirim Ibu kamu ke penjara dan itu adalah jackpotnya." Laras bertepuk tangan lalu bersorak seperti seorang pemain bola yang berhasil memasukkan bola ke gawang lawan.
Joddy mengeram dalam hati, dia tidak boleh terpancing emosi kedatangannya untuk bernegosiasi dengan Laras.
"Mari kita bernegosiasi." Joddy tak ingin berlama-lama di sini.
Laras menatap Joddy. "Sudah aku duga. Ucapan maaf dan bela sungkawa adalah sekedar basa-basi. Jadi, silakan ke intinya dan mari kita lihat apa penawaran dari kamu menarik."
Joddy mengepalkan tangannya kuat-kuat kalau saja bukan karena Ibunya, tidak sudi dia datang kemari dan merendahkan harga dirinya meminta maaf pada wanita yang sudah menghancurkan keluarganya.
"Gue akan tanggung biaya perawatan rekonstruksi wajah lo, lo bisa pilih rumah sakit manapun yang menurut lo bagus. Asal -"
"Asal aku cabut tuntutan Ibu kamu?" sergah Laras. Joddy hanya diam membenarkan ucapan Laras.
Laras menghembuskan napas kasar lalu tertawa mengejek. "Wajahku bisa kamu beri kompensasi. Tapi bagaimana dengan anakku yang mati? Bisa kamu hidupkan lagi?! Bisa? Tidak bukan?Jadi, TIDAK SEMUDAH ITU!!!" Laras berteriak frustrasi lalu melempar gelas ke lantai.
"Gue tahu Ibu salah, tapi kalian juga salah karena mempunyai hubungan di belakang Ibu. Itu menyakitkan Laras. Lo harusnya tahu karena lo sama Ibu sama-sama perempuan." Joddy menatap ke arah pecahan kaca gelas.
"Hati Ibu sama kayak gelas yang barusan lo banting. Sama persis. Hancur berkeping-keping dan tak akan pernah bisa utuh lagi."
"Itu bukan urusanku. Urusan hati Ibu kamu bukan urusanku. Salahkan saja Ayah kamu, dia yang tergila - gila padaku", balas Laras tajam berharap dengan tatapannya Joddy bisa berubah menjadi abu.
"Tapi aku punya penawaran yang lebih bagus buat kamu. Kamu tidak perlu menanggung biaya operasi wajahku karena aku sendiri bisa menanggungnya."Laras berhenti sejenak melihat reaksi Joddy, tapi pria tampan itu hanya diam menatap lurus pada Laras menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Laras berikutnya.
" Tinggalkan Kana dan menikah denganku. Maka akan aku bebaskan Ibu kamu," kata Laras tersenyum penuh kemenangan ke arah Joddy.
"Bagaimana? Mudah bukan? Soal Ayah kamu, biar dia kembali pada Ibumu. Itu kan yang kamu mau?"
Joddy ingin sekali menampar Laras kalau saja dia bukan perempuan. "Sepertinya percuma gue bernegosiasi sama lo!"
"Apa kamu menolak tawaranku?" tanya Laras tak percaya.
Joddy tersenyum tipis lalu membalikkan badan bersiap pergi tapi langkahnya terhenti saat Laras memanggil namanya lantang.
"Kalau kamu bertemu Ibu, tolong tanyakan bagaimana rasanya hadiah yang aku kirimkan sebagai ucapan selamat datang di penjara?".
Joddy mengernyit memikirkan apa maksud dari apa yang dikatakan Laras. Lalu detik berikutnya dia sadar sesuatu.
"Lo-"
__ADS_1
"Itu baru hadiah kecil Joddy. Baru hadiah kecil dan rasanya tak seberapa." Seringaian Laras menjawab semua pertanyaan di benak Joddy.
******