Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
CINTA (tidak) BUTA


__ADS_3

"Ken, udah tidur?" tanya Joddy begitu Kana masuk ke dalam kamar. Hari ini mereka terpaksa menginap di rumah orangtua Kana semua karena Joddy yang menjanjikan akan mendapatkan rumah dalam waktu sehari. Gufron menyuruh mereka menginap, berjaga-jaga jika Joddy kabur.


"Kak, kamu yakin bisa mendapatkan rumah dalam waktu sehari?" Kana mengabaikan pertanyaan Joddy, sejak tadi dia benar-benar tidak sabar untuk memastikan apakah Joddy bisa memenuhi tantangan Papanya itu.


Joddy yang sejak tadi sibuk memperhatikan keadaan kamar Kana itu tersenyum." Masih aja khawatir, "balasnya mengambil sebuah buku dari rak lalu membuka-bukanya.


" Jelaslah, Kak! Selama ini kamu selalu bilang belum menemukan rumah yang cocok tapi kenapa sekarang tiba-tiba malah bilang udah ada. Kakak sehat, kan?"


Joddy terkekeh," Kamu meragukan kewarasan suami kamu?" Kemudian mata Joddy terpaku pada sebuah tulisan di sampul belakang buku yang dia ambil dari rak secara random.


"Ya, sedikit."


Joddy melotot ke arah Kana yang cengegesan itu tapi kemudian kembali terpaku pada buku Kana.


"Cari rumah sehari itu bukan perkara mudah, lho Kak!" Kana masih saja khawatir, apa Joddy pikir cari rumah itu kayak cari rempeyek?


"Udah gak usah dipikirin, tahu beres aja!" sahut Joddy santai. Kana hampir saja mencubit suaminya kalau saja tidak ingat mereka baru saja menikah.


"Ih, kamu tuh! Nyebelin!" Kana menatap suaminya dengan wajah cemberut.


Joddy tersenyum meledek," Tapi cinta, kan?"


Kana mencibir. "Kepedean!"


"Bukan Kepedean, lihat nih bukti kalau kamu cinta sama aku!" Joddy menunjukkan sampul belakang buku yang sejak tadi dia baca. Mata Kana terbelalak lebar saat melihat sampul buku yang penuh coretan itu.


"Eh, kok nemu itu sih, Kak!" Kana kaget lalu mencoba meraih buku miliknya. Tapi tidak berhasil karena Joddy langsung menjauhkannya dengan cara mengangkatnya tinggi-tinggi sampai Kana harus berjinjit dan loncat untuk mendapatkan buku itu.


"Emang kenapa?" ledek Joddy terkekeh geli saat melihat wajah Kana yang panik.


"Balikin!"


"Enggak, mau aku tunjukin ke dunia kalau ternyata Kana Fadella Gufron anaknya bapak Gufron yang terhormat pernah menjadi bucin dan dilanda cinta buta!"


"Kak! Itu... Tuh kelakuan anak remaja aja."


"Kak Joddy i love you. Kak Joddy aku cinta kamu. Kak Joddy pacaran yuk!" Joddy sengaja membaca tulisan di sampul buku Kana dengan suara sedikit keras membuat Kana makin panik dan berusaha meraih bukunya kembali. Sesuatu yang dia simpan rapat - rapat bahkan Adrian dan Kanda tidak tahu soal ini, ternyata malah orang yang ada ditulisannya sendiri yang menemukannya.


Joddy kemudian menaruh buku itu di atas lemari baju Kana yang tinggi lalu memeluk pinggang istrinya yang sejak tadi meloncat untuk berusaha mendapatkan bukunya sendiri.


"Kak!!" Kana terperanjat saat Joddy memeluk pinggangnya lalu dengan sebelah tangannya yang bebas dia melepaskan kaitan bra Kana.


Sungguh, suaminya ini sudah pro Jika berkaitan dengan hal seperti ini.


"Aku baru tahu kamu secinta itu sama aku." Joddy mengelus punggung Kana dari luar bajunya, Kana tahu ini adalah kode yang selalu Joddy tunjukkan jika dia akan meminta haknya.


Kana tersenyum, ya sudahlah kepalang tanggung. Sekalian saja.


"Iya, aku dulu dibutakan cinta monyet sampai nulis nama kamu di buku sekolah."


Joddy terkekeh lalu dengan sekali angkat dia mendudukkan Kana di meja rias, lalu mengurung Kana dengan kedua tangannya.


"Jadi benar kamu naksir aku sejak SMA?" Tatapan mereka bertemu.


Kana mengalungkan kedua tangannya di leher Joddy. "Iya, tapi gak berani bilang dan namanya juga anak ingusan jadi ya cuma aku coret-coret aja deh di buku."


"Kalau tahu kamu secinta ini sama aku. Aku bakalan nekat jadiin kamu pacar walaupun kesannya kayak pedofil." Joddy menyatukan kening mereka menatap Kana dengan lembut dan penuh cinta. Kana tersenyum malu malu dengan pipi merahnya membuat Joddy menginginkan Kana saat ini juga.


" Dek, aku benar-benar gak bisa berhenti," bisik Joddy di telinga Kana.


Kana tersenyum memejamkan mata saat bibir lembut Joddy mengecup pipinya lalu menjelajahi sepanjang rahangnya. Tangannya tidak tinggal diam, menelusup ke dalam piyama Kana mengelus kulit punggung Kana yang halus.


" Kamu tahu Kak, cinta tidak pernah buta dia tahu pada hati siapa akan berlabuh. Walaupun kamu bukan yang pertama buat aku, tapi semoga kamu yang terakhir Kak," bisik Kana menahan mati-matian sesuatu yang mendesak.


Joddy tersenyum lalu memagu* bibir Kana dengan rakus, seperti tidak akan ada hari esok. Kana mendesah tertahan saat Joddy sedikit kasar mendorongnya hingga membentur kaca rias membuat tangan Kana tanpa sengaja menjatuhkan barang-barang yang ada di meja menimbulkan suara gaduh.


"Kak, di-di-sebelah kam-mar Bang Kan-da." Kana menahan dada Joddy yang akan Menciumnya lagi. Pandangan Joddy mulai berkabut saat melihat pipi Kana yang kemerahan karena menahan sesuatu yang harus segera dituntaskan.

__ADS_1


"Bukannya Kanda sedang menjaga Nea?" Joddy melepas satu persatu kancing piyama Kana meloloskan baju Kana lalu membuangnya begitu saja ke lantai. Begitu pula dengan bra berenda yang pengaitnya sudah Joddy lepas lebih dulu dengan sekali hentakkan. Kana hanya bisa pasrah, dari dulu dia selalu terlihat lebih 'murahan' jika bersama Joddy.


"Tapi ada Mama dan Ken," bisik Kana mencengkra* rambut Joddy saat pria itu menunduk dan berlama-lama di bawah lehernya.


"Kalau begitu kamu jangan terlalu berisik ." Joddy terkekeh menengadah menatap wajah cantik Kana yang sedang menunduk menatapnya.


"Ta-tapi kamu yang paling berisik," balas Kana.


"Kita buktikan siapa yang paling berisik, Sayang."Joddy menarik turun celana piyama Kana.


Mata Kana terbelalak saat Joddy berlutut di bawahnya dengan senyum penuh arti. Ah, besok pagi pasti pinggangnya akan sakit lagi.


****


Kana mengernyit begitu mobil Joddy memasuki area perumahan yang dulu pernah Kana tinggali bersama Adrian, saat awal menikah. Hari ini padahal Joddy akan mengajak Kana dan keluarganya melihat rumah baru mereka, tapi kenapa malah ke perumahan yang dulu pernah Kana tempati?


"Kak, bukannya ini komplek rumah lama aku?" tanya Kana penasaran memperhatikan pemandangan yang tidak banyak berubah.


"Iya," jawab Joddy singkat, matanya melirik ke arah spion mobil melihat mobil Kanda yang berisi mertuanya sedang mengikuti mobil mereka. Mobil Joddy kemudian berhenti di sebuah rumah minimalis yang mewah. Kana mengerjapkan matanya beberapa kali, dia tidak asing dengan rumah ini.


"Welcome to our home," bisik Joddy lalu mengecup pipi Kana dan Ken yang duduk di pangkuan Kana.


"Daddy, itu lumah balu Ken?" Tangan mungil Ken menunjuk ke arah luar jendela mobil. Joddy mengangguk.


"Mau lihat?" Tangan Joddy terulur yang langsung disambut Ken. Kedua pria itu lalu turun lebih dulu.


Kana menutup mulutnya dengan telapak tangan saat melihat sebuah rumah berdiri dengan kokoh di depannya. Rumah minimalis di ini adalah rumah lama yang dulu pernah ditinggali Kana dan Adrian. Yang dijual pada Joddy. Dulu rumah ini hanya terdiri dari 2 lantai tapi sekarang Joddy merenovasinya menjadi tiga lantai. Joddy merombak total rumah ini hingga Kana nyaris tak mengenalinya.



"Kak, ini rumah-" Kana menyusul suami dan anaknya itu dia tak mampu berkata-kata dia masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Iya, ini rumah kamu dan Adrian dulu. Kamu tidak lupa kan aku membeli rumah ini?" tanya Joddy. Kana mengangguk.


"Daddy, ada ail teljunnya?" tanya Ken.


"Mauuuu!!" seru Ken girang. Joddy tersenyum lalu membuka kunci pagarnya.


"Aku sudah menyuruh orang membersihkannya," gumam Joddy lalu menggeser pintu pagar.


" Wuidih, keren juga rumah lo!" Kanda dan kedua orangtua yang baru datang itu menyusul masuk.


Maya tersenyum takjub. "Rumah ini kamu rombak total ya Jod?"


"Iya, Ma. Butuh 3 tahun pengerjaan." Joddy mempersilakan semuanya untuk masuk ke dalam rumah baru mereka. Gufron yang sejak tadi tak menunjukkan reaksi apapun itu hanya mengamati bagian dalam rumah Joddy. Gufron benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa menantunya ini bisa selalu mengalahkannya.


"Nih, Pa. Tantangan kamu sudah Joddy berhasil tepati. Jadi mulai sekarang, berhenti bersikap keras padanya." Maya menepuk pundak suaminya.


"Ckkk... Dulu Ini kan rumah Adrian yang beli Adrian. Bukan murni hasilnya dia!" Gufron tetap saja keras kepala. Joddy mendengus dalam hati, masih saja salah.


"Tapi Kak Joddy yang beli rumah ini kembali dan sekaligus merombaknya ulang, Pa. Dengan kata lain rumah ini hasil kerja keras Kak Joddy juga." Kana membela suaminya, membuat Gufron sedikit kesal Karena putri Kesayangannya lebih membela suaminya ketimbang Papanya sendiri.


"Ail teljun!!!" pekik Ken meringsek turun dari gendongan Joddy dan berlari ke taman belakang rumah baru mereka. Joddy memang sengaja membuat taman di dalam sana. Sebenarnya membuat taman itu ide dadakan karena janji Joddy pada Ken akan membuatkannya air terjun.


" Silahkan istirahat dulu Ma, Pa. Joddy akan temenin Ken dulu."


"Joddy, Mama boleh liat-liat?" tnya Maya terkesan dengan desain rumah Joddy.


"Boleh banget Ma!"


Gufron mendengus melihat reaksi istrinya yang kelihatan bangga dengan rumah Joddy yang menurut Gufron biasa saja. Walaupun memang lebih bagus sih dibandingkan rumah Kana yang sekarang.


"Aku mau lihat ke atas." Kana memilih naik ke lantai dua dan Kanda memilih merebahkan tubuhnya di kursi dia butuh tidur, karena semalam nemenin Nea di rumah sakit.


Kana berdecak kagum saat melihat pemandangan dari lantai dua tepatnya di balkon kamar utama. Mungkin ini kamar yang dirancang khusus untuknya karena warna tembok dan motif wallpapernya sama persis dengan yang ada di kamar Kana di rumah orangtua Kana.


Kana menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas sambil menikmati angin yang berhembus menyapu wajahnya.

__ADS_1


"Suka?"


Kana tersentak kaget saat sepasang tangan melingkari perutnya. Tapi begitu tahu siapa pemilik tangan itu dia rileks kembali.


"Kamu tahu aja sih ini kamar kita?" bisik Joddy menempelkan dagunya di pundak Kana.


"Tahulah! Bau pengantin baru tercium sampai ruang tamu. Kamu juga, tahu aja aku ada di sini?"


"Tahulah, di mana ada kamu di situ radarku menyala." Joddy mengecup pipi Kana.


"Kok kamu gak pernah cerita, Kak kalau merenovasi rumah ini?"


"Kejutan!! Sebenarnya sejak membeli rumah ini aku sudah punya niat untuk merombak habis-habisan, karena rumah ini pernah membuatku hampir kehilangan kamu Kana."


Kana terdiam, ingatannya melayang kebeberapa tahun silam ketika dia kehilangan Azura karena Susan.


" Maaf, bukan maksud aku menghapus kenangan kamu bersama Adrian di rumah ini tapi aku ingin ketika aku tinggal di sini bersama kamu kenangan buruk yang pernah kamu alami di rumah ini akan terhapus."


"Aku tidak mempermasalahkan itu, Kak. Dan akupun yakin Kak Ian tidak akan keberatan dengan apa yang kamu lakukan. Dia pasti akan berterimakasih karena kamu menjaga aku dan Ken dengan baik."


Kana merasakan pelukan Joddy yang kian mengerat."Tapi kayaknya Papa masih belum luluh Na."


"Sabar, Kak. Semua butuh waktu. Kamu yang sabar aja ngadepin Papa. Sebenarnya dia orangnya baik banget cuma emang kalau menyangkut aku, dia agak sedikit insecure."


Joddy menghela napas, membenarkan semua yang dikatakan Kana. Mungkin Kana benar Gufron butuh waktu untuk menerima kehadirannya, mengingat apa yang sudah keluarga Joddy lakukan pada Kana dulu pasti tidak akan mudah memaafkannya.


"Kak, tahu gak?"


"Apa?"


Kana mendekap tangan Joddy yang melingkari perutnya. "Aku adalah wanita paling beruntung karena dicintai sedemikian rupa sama pria sebaik kamu, Kak. Aku sampai bertanya-tanya kebaikan apa yang aku lakukan di kehidupan yang lalu sampai - sampai Tuhan membalas lewat kamu."


"Aku yang lebih beruntung, Na. Kamu wanita yang luar biasa. Mau menerima pria tua yang banyak kekurangan sepertiku."


Entah kenapa Kana mendengar ada nada tak percaya diri saat Joddy mengatakan itu. Kana membalikkan badannya menatap lekat-lekat pria berkacamata di depannya ini.


"Dari dulu kamu itu malaikat tanpa sayapku. Aku tahu diam-diam kamu selalu menjagaku dengan caramu, bahkan ketika aku sudah dimiliki pria lain pun kamu selalu ada buat aku. Sungguh, aku wanita yang sangat beruntung! Atau memang kamu sudah dibutakan oleh cinta?"


Joddy menangkup kedua sisi wajah Kana, menerangkap tatapan wanita yang sangat dia cintai itu."Seperti yang kamu bilang, cinta tidak buta. Dia tahu pada hati siapa harus berlabuh. Kedengarannya jahat memang, tapi aku sangat berterimakasih pada Adrian karena dia memberikan aku kesempatan untuk melanjutkan perjuangannya menjagamu dan Ken."


Kana mengenggam kedua tangan Joddy yang menangkup wajahnya." Kenapa kamu bisa secinta ini sama aku, Kak? Di luar sana masih banyak wanita yang lebih baik dari aku."


Joddy tersenyum lembut lalu mengusap pipi Kana menelusuri tulang pipinya lalu berhenti di dagunya." Aku sendiri juga tidak tahu. Memang di luar sana banyak wanita yang MUNGKIN lebih dari kamu tapi bagaimana lagi, hati ini cuma mau kamu."


" Gombal! Pantes aja banyak cewek yang tergila-gila sama kamu, orang kamunya jago gombal!"


"Padahal aku tadi sedang gak ngegombal cuma berusaha jujur. Ckkk... Malah dikatain gombal. Sedih banget aku tuh!" Joddy pura-pura memasang wajah sendu, membuat Kana tak tahan untuk tidak tertawa.


"Gak pantes, Kak kamu pasang wajah terdzolimi kayak gini!"


"Karena wajah aku ganteng, ya?"


Kana mencibir. "Kepedean!Jadi kapan kita pindah ke sini?" tanya Kana.


"Ya, tiga sampai empat harian lah! Gak papa kan? Soalnya bagian dapur masih kosong."


Kana mengangguk. "Iya gak papa."


"Gimana kalau kita coba dulu kasurnya?"


Kana mengernyit tak mengerti. "Maksudnya?"


"Kita coba kasurnya kuat gak kalau dipakai olahraga malam." Joddy menaik turunkan alisnya penuh makna, dan Kana akhirnya tahu apa yang Joddy maksud.


"Idih, maunya! Enggak Ah aku capek!" seru Kana mencibir lalu Bergegas keluar dari kamar sebelum Joddy 'menyekapnya'.


******

__ADS_1


__ADS_2