Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Jangan berhenti


__ADS_3

"Pak, maaf. Bapak harus menunggu dulu."


Joddy mengabaikan sekretaris Laras yang mengejarnya karena dia menerobos masuk begitu saja. Sekretaris Laras itu langsung panik saat Joddy membuka pintu ruangan Laras dengan kasar.


Laras yang sedang sibuk memeriksa file dengan beberapa stafnya itu sampai kaget dan terkejut melihat kedatangan Joddy yang tiba-tiba.


"Bu Laras, maaf tadi saya sudah berusaha-"Sekretaris Laras tidak melanjutakan bicaranya saat melihat isyarat Laras untuk membiarkan Joddy dan menyuruh wanita berbadan tambun itu pergi. Begitupun dengan para staf yang sejak tadi asik berdiskusi dengannya. Laras menyuruh mereka keluar dari ruangannya dan akan melanjutkan pekerjaan nanti.


" Hai, kok ke sini gak bilang-bilang? Maaf, aku sibuk sekali. Ngebut biar bisa ambil cuti, kan beberapa hari lagi kita akan nikah."


Bagi Joddy semua yang dikatakan Laras hanyalah sebuah omong kosong belaka. Emosi Joddy sudah mencapai ubun-ubun, pengendalian dirinya sudah sampai di titik terbawah. Kesabarannya sedang terusik.


"Sayang," panggil Laras mencoba.menyentuh pundak Joddy yang hanya menatap Laras, bukan jenis tatapan penuh cinta melainkan tatapan penuh amarah.


"Apa maksud kamu melakukan itu pada Kana?" Suara Joddy terkesan dingin dan menahan kemarahan.


Laras tercenung, jadi Joddy datang ke kantornya hanya untuk menanyakan soal Kana?


"Maksud kamu apa sih?" Laras tersenyum manis lalu menyentuh dada Joddy yang dengan kasar menepis tangan Laras itu.


"Berhenti berpura-pura di depanku Laras. Aku sudah memberi kesempatan padamu untuk jujur tapi sepertinya kamu tidak menggunakan waktu yang aku berikan." Joddy menatap tajam pada Laras, tajam sampai rasanya menusuk dan mengoyak jantung Laras.


Sungguh, dulu Joddy tidak seperti ini. Buat Laras, Joddy adalah mataharinya. Hangat.


Tapi sekarang semuanya berubah. Matahari Laras sudah seperti sebongkah es, dingin.


"Joddy, kamu kenapa sih?"


"Masih pura-pura tidak paham?" Joddy mendekat."Kenala lo lakuin itu pada Kana?"


"Apa sih?"


"Kenapa lo mempermalukan Kana di depan umum?! Apa tujuan lo sebenarnya?!" bentak Joddy sampai Laras mundur ke belakang karena terkejut.


Laras tersenyum tipis. " Jadi perempuan itu ngadu sama kamu?"


"Kana bukan lo! Dia lebih memilih diam daripada berkoar-koar omong kosong kayak lo?"


Tangan Laras mengepal kuat. "Seperti apapun kamu belain perempuan itu. Aku yang tetap menikah denganmu."

__ADS_1


"Bermimpilah yang tinggi. Tapi itu tidak akan pernah menjadi kenyataan?"


Laras tertawa lalu mendekat ke arah Joddy. " Itu akan terjadi Joddy. Ibu kamu sangat menyukaiku dan aku yakin kamu tidak akan pernah menolak kemauan Ibu kamu." Laras tahu Joddy adalah seorang anak yang berbakti apalagi pada ibunya. Setahu Laras, Joddy akan selalu menuruti apapun kemauan ibunya. Jadi, tidak mungkin dia akan menolak rencana pernikahan yang sudah ibunya rencanakan ini.


"Itu karena Ibu gak tahu yang sebenarnya. Gue yakin Ibu akan mikir 1000 kali, kalau dia tahu wanita seperti apa lo! Wanita licik dan penuh tipu muslihat."


"Ayolah, tidak ada yang licik di sini, Joddy. Ini memang sudah jalanmu. Kamu harus nikahin aku karena aku hamil anak kamu."


"Lo salah! Gue masih punya jalan lain dan tenang saja gue bakal buktiin kalau semua yang lo omongin ke Ibu gue salah. Gue bukan Ayah dari anak lo ini!"


Laras terdiam sejenak. "Bukti? pernikahan kita tinggal menghitung hari, Joddy. Mana bukti yang kamu bilang?" tantang Laras.Tidak akan ada bukti yang bisa menunjukan bahwa Laras berbohong.


"Tenang saja itu sebentar lagi. Sebentar lagi semua akan terkuak. Lo siap-siap saja menanggung malu, sama kayak apa yang Kana rasakan sekarang atau bisa jadi malah lebih." Joddy masih ingat betul wajah Kana dalam video yang tadi Dipta tunjukkan padanya. Kana terlihat shock dengan apa yang dia alami. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar itu terlihat jelas. Apalagi semua orang menatapnya penuh amarah.


"Sayangnya, aku yakin tuh, kamu tidak akan menemukan bukti apapun. Kita lihat saja Joddy." Laras mengangkat bahu acuh."Dan asal kamu tahu ya, Kana pasti sekarang sedang menangis atau sembunyi di suatu tempat karena malu. Orang-orang terlanjur mengira dia seorang pelakor. Kasihan ya?"


Mendengar itu kemarahan Joddy memuncak dengan kasar dia mencengkram rahang Laras dengan kuat. "Dengerin gue Laras. Lo udah nyakitin Kana dan gue akan balas berkali-kali lipat . Gue akan buktiin kalau lo bukan wanita baik yang orang kira selama ini. Camkan itu!" Dengan kasar Joddy melepas cengkramaannya


lalu berbalik badan dan pergi begitu saja meninggalkan Laras yang terdiam di tempatnya dengan amarah yang tak kalah memuncak.


"Arghhhh!" Laras berteriak histeris, dia melempar semua barang yang ada di atas meja kerjanya. "Aku akan pastikan itu tidak akan terjadi. Aku harus menyingkirkan perempuan itu secepatnya. Iya, wanita itu harus disingkirkan." Laras mengambil ponsel lalu menekan sebuah nomor yang sudah dia hafal di luar kepala.


***


Kana menatap ke atas Langit, masih cerah walaupun matahari mulai menyingsing ke barat. Sudah berjam-jam Kana duduk di sini. Di tempat yang Kana yakin tidak akan ada orang menemukannya. Tempat yang tepat untuk Kana mengeluarkan keluh kesahnya.


Gio menyuruhnya pulang untuk menenangkan diri setelah kejadian mengejutkan di kantornya tadi. Kana tahu keadaan di kantor akan menjadi kacau, apalagi di grup WA kantornya ada yang membagikan video kejadian memalukan itu. Rupanya ada yang diam-diam merekam saat Laras melabrak Kana.


Kana mengusap air matanya dengan kasar. Dia meruntuki kebodohannya selama ini. Harusnya dia tidak membuka hati untuk Joddy, harusnya dia mengabaikan saja Joddy dan tidak memberikan kesempatan untuknya masuk ke dalam kehidupannya lagi. Tapi Kana tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia menginginkan Joddy.


"Kak, maafkan Kana. Kana gak bisa nahan perasaan ini, Kak. Maafin aku." Kana mengusap batu nisan Adrian pelan. Kana merasa bersalah karena tidak bisa mrnjaga dirinya setelah kepergian Adrian.


"Sekarang aku harus gimana , Kak? Apa yang harus aku lakukan? Orang-orang pasti mengira aku benar-benar merebut suami orang selain itu, Mama sama Papa pasti sangat kecewa karena aku hamil Kak dan parahnya lagi ayah anak ini tunangan wanita lain. Kana binggung, Kak. Kana merasa jahat sekaligus murahan." Kana menutup muka dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu hanya perlu duduk manis dan biarkan aku yang berjuang."


Kana terperanjat saat mendengar suara itu. Kana pikir suara itu berasal dari makam Adrian tapi jelas bukan karena seorang pria berkacamata sudah duduk berjongkok di depannya menaburkan bunga di makam Adrian.


"Kana tidak bersalah Ian. Aku yang salah. Tapi aku akan menebus kesalahan ini. Janjiku masih sama. Aku janji akan menjaga Kana dan Ken. "

__ADS_1


Kana tercenung mendengar kata-kata Joddy, semua yang Joddy katakan terdengar tulus di telinga Kana. Tapi seperti diingatkan sesuatu, Kana bergegas beranjak dari duduknya lalu secepatnya pergi dari makam Adrian. Dia tidak mau berhubungan lagi dengan Joddy.


Kana kira tidak akan ada yang tahu kalau Kana berada di makam Adrian untuk menenangkan diri. Tapi Kana lupa, Joddy adalah orang yang paling tahu dirinya. Jadi, bukan hal yang aneh jika Joddy bisa dengan mudah menemukannya di sini.


"Dek."


Langkah lebar Kana terhenti saat tubuh tinggi itu menghalangi langkahnya.


"Minggir, Kak. Aku harus pulang!" seru Kana tanpa menatap mata Joddy, dia tidak sanggup.


"Kalau bicara sama orang lihat matanya dong!" Joddy tersenyum lalu menarik dagu Kana agar tatapan mereka sejajar.


"Jadi aku Ayah dari anak ini kan?"


Kana terkesiap mendengar pertanyaan Joddy. Jangan-jangan tadi Joddy mendengar apa yang dia katakan di depan makam Adrian?


"Bukan!" sahut Kana lantang.


"Aku dengar sendiri kamu mengatakannya. Masih mau menyangkal?"


"Kamu salah dengar." Kana menatap Joddy sekilas lalu mendorongnya ke samping dan bergegas pergi.


"Aku tidak salah dengar. Jelas-jelas kamu mengatakan Ayah dari anak itu tunangan wanita lain." Joddy menjajari langkah Kana. Berjalan di samping Kana dengan santai, karena satu misteri tentang kehamilan Kana terbukti sudah. Dia lah Ayah dari anak itu.


"Dan pria yang sudah bertunangan bukan cuma kamu, Kak." Masih saja Kana mematahkan dugaan Joddy.


"Tapi cuma aku pria bertunangan yang kamu cintai. Ya, kan?"


"Kamu terlalu percaya diri," balas Kana, dia berharap cepat sampai di mobilnya dan segera pergi dari hadapan Joddy.


"Kana, tolong berhenti menyangkal." Joddy menarik tangan Kana.


"Kamu Kak yang seharusnya berhenti ganggu aku! Kamu gak tahu betapa beratnya aku menjalani hari-hari dengan status seperti ini! Aku capek, Kak. Tolong berhenti! Berhenti menganggu hidupku!!" seru Kana frustasi, dia benar-benar lelah menghadapi masalah yang muncul karena hubungannya dengan Joddy.


Joddy tertegun mendengar kata-kata Kana, lalu dengan sigap dia menarik wanita rapuh di depannya itu ke dalam pelukkannya. " Kalau capek istirahat Kana, nanti lanjut berjuang jangan berhenti." Joddy memeluk Kana erat tidak memberi celah untuk Kana melarikan diri.


Kana yang mencoba meronta melepaskan diri dari pelukan Joddy itu akhirnya menyerah, kedua tangannya jatuh di kedua sisi tubuhnya.


"Tolong jangan berhenti, Na," bisik Joddy lalu mengecup pucuk kepala Kana yang menangis sesegukan di pelukkannya.

__ADS_1


**


__ADS_2