Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Murahan


__ADS_3

Kana berjengit kaget saat membuka pintu dan mendapati Joddy berdiri di depannya dengan senyum manis dan sekotak coklat di tangan kirinya serta mainan robot seri terbaru di tangan kanannya.


Kana heran kenapa tiba-tiba Joddy datang ke rumahnya malam-malam begini? Kana pikir Joddy marah padanya karena kejadian tadi siang, karena setelah itu Joddy tidak keluar dari kamar jadi Kana memutuskan untuk pulang saja tanpa berpamitan pada Joddy.


"Gak boleh masuk nih?"


Kana buru-buru melebarkan pintu agar Joddy segera masuk.


"Ken kemana?" Joddy mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan memcari bocah gempal yang lucu itu. Belum sempat Kana menjawab Ken sudah berlari memeluk kaki Joddy dan tersenyum manis.


"Hallo, Ken. Kirain udah bobo' "Joddy mengangkat Ken dengan satu tangannya.


"Om Oddy bawa apa?" Bocah kecil itu menatap mainan di tangan Joddy tanpa perlu menanggapi basa-basinya.


"Robot."


"Mauuuu!" Ken melonjak turun lalu mengambil mainan dari tangan Joddy.


"Macih, Om Oddy."


"Sama-sama," balas Joddy mengacak rambut Ken.


"Ken buka sama Mbah Dar ya," perintah Kana. Ken mengangguk lalu berlari mencari Mbok Dar.


"Ini coklat buat Bundanya." Joddy menyodorkan sekotak coklat pada Kana yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Joddy saat pipi Kana sudah basah oleh air mata.


Kana menggeleng pelan. "Aku kira Kakak marah."


Joddy tersenyum lalu menarik tangan Kana berjalan menuju taman belakang. Tempat yang menurut Joddy lebih pribadi untuk bicara.


"Jadi, kenapa kamu bisa ngira aku marah?" tanya Joddy setelah mereka duduk di gazebu yang ada di taman belakang rumah Kana.


"Karena aku menyebut nama Kak Ian waktu kita ci-" Kana tak melanjutkan kata-katanya, wajahnya merah saat ingat apa yang tadi siang mereka lakukan.


"Ci? Cina? Cimahi?Cibaduyut? Cianjur?" Joddy tersenyum, dia senang sekali menggoda Kana.


"Kak..." rengek Kana.


Joddy tertawa lalu meraih Kana dan memeluknya sebentar. "Aku gak marah, Na. Aku malah bersyukur kamu nyebut Ian. Karena kalau enggak.... Aku bakal ngelakuin lebih dari itu karena aku benar-benar tidak bisa menahan diri kalau cuma berdua sama kamu." Joddy mengusap kepala Kana penuh cinta.


"Aku malah yang ngira kamu marah, karena pergi gitu aja,"imbuh Joddy mencubit hidung Kana.


" Aku pergi karena kamu gak keluar kamar. Kupikir Kakak marah besar padaku," sahut Kana.


Joddy menggaruk kepalanya. " Aku gak keluar kamar karena-"Joddy binggung harus menjawab apa." Masa harus aku jelasin sih, Na?"Joddy salah tingkah, masa iya dia harus bilang kalau lama di kamar karena sedang 'single show' . Tahulah maksudnya apa, Joddy bisa panas dingin seharian kalau tidak dituntaskan. Joddy tidak munafik, Kana sungguh-sungguh membuatnya tergila-gila. Menyentuh lebih dalam Kana adalah salah satu keinginannya yang terpendam. Joddy akui dia sempat sedikit- cemburu saat Kana menyebut nama Adrian padahal mereka sedang bermesraan. Tapi Joddy tidak bisa melarangnya, karena bagaimanapun tidak mudah bagi Kana melupakan Adrian.


"Kak.." panggil Kana menyadarkan Joddy dari lamunan.


"Kalau kamu berpikir yang terbayang waktu kita ciuman adalah Kak Ian...itu salah! Aku memang menyebut namanya tapi aku hanya meminta maaf padanya, karena-" Kana menghentikan kata-katanya melihat reaksi Joddy yang menatapnya menanti kalimat yang akan diucapkan Kana berikutnya.


"Karena aku sudah- jatuh cinta sama kamu Kak," imbuh Kana lirih, jari jemarinya saling bertautan. Mendengar itu senyum Joddy merekah. Dia sangat bahagia mendengarnya.


"Bisa kamu ulangi lagi?"pinta Joddy menarik dagu Kana menghadapnya agar pandangan mereka sejajar.


"Aku cinta kamu."Dengan polosnya Kana mengikuti permintaan Joddy. Joddy benar-benar bahagia dia ingin secepatnya memiliki Kana seutuhnya atau kalau perlu sekarang dia ke penghulu?


"Mama kamu kemana?" Joddy bertanya tapi pandangannya fokus ke bibir mungil Kana yang merah dan manis, Joddy sudah merasakannya kemarin. Dan sepertinya dia menginginkan lagi.


"Mama pulang, besok mau ke Band-" kata-kata Kana terhenti saat Joddy sudah menyatukan bibir mereka. Satu tangannya menahan tengkuk Kana agar tidak melepas ciumannya.


Sungguh Joddy suka rasa bibir Kana, manis, lembut dan memabukan. Joddy melepas ciumannya karena keduanya hampir kehabisan napas.


"Marry me?" Joddy menyatukan kening mereka. Kana tersentak kaget, dia hanya diam binggung harus menjawab apa? Dia mencintai Joddy tapi apa dia pantas untuk pria ini?


"Marry me, please," ulang Joddy lagi, karena Kana tak kunjung menjawab.


"Pacaran dulu dong,"jawab Kana menjauh dari Joddy.


"Kalau pacaran sama aku bahaya, Na."


"Bahaya kenapa?"


"Aku bisa apa-apain kamu."

__ADS_1


"Kamu bilang bisa nahan kan selama ini?"


"Ckkk...Kalau sama kamu lain. Kalau kebablasan gimana?"


Kana menahan senyum lalu mengecup pipi Joddy. "Aku lari." Selesai bicara Kana berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Joddy yang mengacak rambutnya gusar.


"Sampai kapan?"


******


Kana memasukan high heelsnya ke paper bag. Bersiap-siap untuk pulang lebih awal, karena beruntung hari ini dia tidak ada lembur.


"Langsung pulang, Na?" Gio yang berpapasan dengan Kana tidak tahan untuk bertanya. Oke, dia memang sempat sakit hati. Tapi Kana tipe wanita yang sayang untuk lama-lama dibenci.


"Iya Pak." Kana heran tumben sekali Pak Gio menyapanya basa basi. Padahal jangankan menyapa melirik saja Gio tidak pernah, sejak dia tahu Joddy bukan kakaknya.


"Mau bareng?" tawarnya lagi, siapa tahu saja berminat. Sekalian Gio ingin sekali minta maaf atas sikapnya selama ini, yang terkesan tak acuh dan mendiamkannya


Baru saja Kana akan membuka mulut ponsel di tas berdering buru-buru dia mengambilnya. " Maaf ya Pak, saya duluan." Kana mengangguk sopan pada Gio lalu bergegas keluar dari gedung kantor saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Gio hanya mendesah pasrah.


"Kenapa Kak?"


"Lagi di mana?" tanya Si Penelepon yang rupanya Joddy itu


"Di kantor, mau pulang."


"Ken udah berangkat ke Bandung kan?"


"Iya," Kana baru ingat kalau Ken ikut ke Bandung bersama orangtuanya mereka mau menemani Kanda dan Nea pre-wedding, Kana akan menyusul besok. Jadi, kalau dia pulang lebih awal pun percuma di rumah cuma ada Mbok Dar.


"Ke sini dong,Na. Aku sakit."


Sakit? Bukannya kemarin saja mereka habis jalan-jalan bertiga sama Ken? Kenapa sekarang jadi sakit? Apa karena kecapekan?


"Iya udah, aku ke apartemen sekarang." Kana menutup pembicaraan lalu bergegas pergi.


Begitu sampai di apartemen yang pertama Kana lihat adalah Joddy yang berbaring dengan plester kompres anak-anak di keningnya. Beruntung dia tahu password masuk jadi tidak perlu capek-capek menunggu Joddy membuka pintu.


"Kak, Kana ganti ya kompresnya? Punya handuk kecil?" Kana berlutut di samping Joddy yang membuka mata langsung memeluk Kana itu.


"Lama banget sih, Na ,"bisik Joddy membenamkan wajahnya di leher Kana mencium wangi peach yang menguar dari tubuh kekasihnya itu.


"Macet. Kak, gerah ih!" Kana melepas pelukan Joddy, dia takut keringatnya tidak enak diendus.


Walaupun sedikit kecewa Joddy akhirnya melepas pelukkannya.


"Kakak udah minum obat?"tanya Kana menyentuh kening Joddy yang panas.


"Jangankan minum obat, makan aja belum," keluhnya manja. Kana hampir tertawa mendengar keluhan pria tua yang ternyata punya sisi kanak-kanak itu


Kana berdiri lalu dia melepas blazer hitamnya menaruhnya di sofa dan menggulung rambutnya.


"Aku buatin makanan, sana ganti baju. Sekalian bawain handuk hangat." Kana bergegas ke dapur untuk membuat makanan. Sayangnya, di kulkas tidak ada bahan masakan. Cuma ada telur saja.


25 menit kemudian Joddy sudah mengganti baju kantornya dengan kaos putih dan celana selutut. Badannya terlihat lebih segar. Dia terpaksa mandi karena badannya terasa lengket dan berkeringat.


"Kamu pesen makanan, Dek?" tanya Joddy duduk di kursi matanya sibuk memindai makanan yang ada di atas meja.


Kana nyengir lalu meletakan segelas air putih di depan Joddy.


"Kamu cuma punya telur sama mie instan Kak. Beras aja gak punya. Lagi sakit makannya harus sehat."


"Iya, seminggu ini habis. Mau beli males, maklum gak ada yang masakin. Coba aku punya nyonya rumah pasti makanku terjamin." Joddy melirik Kana yang hanya tersenyum tipis itu, Kana tidak terlalu bodoh untuk tahu apa yang dimaksud Joddy. Bisa dikatakan semacam kode.


"Capcay kesukaan kamu." Kana menyendokkan capcay kuah ke piring Joddy.


"Enakkan buatan kamu, kalau dimakan rasanya pas sampai ke hati," sahut Joddy menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Jangan gombal Kak, gak mempan. Udah gih, makan!" perintahnya. Joddy hanya tersenyum kepalanya benar-benar pusing tapi dia tidak mau melewatkan berdua dengan Kana.


"Obat mana, Na?"


"Makan sesuap dulu baru minum obat," sergah Kana mendorong piring yang sudah dia isi dengan nasi dan lauknya.

__ADS_1


Joddy akhirnya mengalah dia memilih menuruti Kana, daripada Sang Ratu ngambek.


Setelah minum obat Joddy sedikit mengantuk dia memutuskan untuk berbaring di sofa, pusing di kepalanya berangsur hilang.


"Kak, aku pulang ya," pamit Kana .


"Di sini dulu Na." Joddy menarik Kana lalu memeluknya, mengendus rambut Kana yang wangi meskipun seharian bekerja.


"Kak.."


"Nginep aja. Di rumah gak ada siapa-siapa, kan?" Joddy mendusel-duselkan hidungnya ke leher Kana yang mengeliat kegelian.


"Ayolah, Na. Jangan pulang dulu, temenin aku." Mungkin kalau anak buah di kantornya melihat dia seperti ini, sudah dipastikan wibawanya akan hilang.


"Gak bisa, Kak!"


" Ayolah, aku gak akan ngapa-ngapain kamu kok, Na." Joddy masih membujuk Kana. Dia sedang tak enak badan rasanya ingin dipeluk Kana sepanjang malam ini. Hanya pelukan gak akan lebih.


"Terakhir kamu bilang begitu, tiga kancing kemejaku terlepas," sindir Kana , Joddy berdehem lalu nyengir jenis cengiran tanpa dosa.


"Ya, udah temenin aku sampai tidur aja. Kalau aku udah tidur kamu boleh pulang deh!" Joddy masih tak menyerah kali ini dia mengeluarkan wajah memelasnya. Kana terdiam memikirkan baik buruknya. Tapi kalau dia sudah tidur Kana bisa pulang.


"Tapi beneran janji ya nanti aku pulang kalau kamu udah tidur?"


Joddy mengangguk antusias lalu menarik Kana ke kamar.


"Eh, eh! Kok ke kamar?" Kana menahan tangan Joddy yang menariknya ke kamar.


"Lho, tidur ya di kamar."


"Di sofa aja." Kana menunjuk sofa di ruang tamu.


"Aku lagi sakit Na, masa tidur di sofa. Kamu nemenin duduk gak papa deh!"


Kana menghela napas lalu mengangguk lebih baik mengalah, daripada ribut dan dia akan lebih lama untuk pulang, yang Kana tidak tahu Joddy punya 1001 cara agar Kana bisa tinggal lebih lama dengannya.


*


Kana mengeliat tapi untuk bangun lagi rasanya malas dia memilih tidur lagi, entah kenapa rasanya nyaman sekali. Hangat walaupun gulingnya agak keras dan wanginya spertinya Kana tidak asing, seperti wangi parfum yang sering dipakai Joddy


. Eh, tunggu? Joddy?


Kana membuka matanya lalu mendongakkan kepala dan matanya terbuka lebar saat Joddy tengah menatapnya. Mereka sedang berpelukan di atas kasur. Tapi bukannya tadi Kana tidur di kursi?



"Astaga aku harus pulang!" Kana mencoba melepaskan rangkulannya. Tapi Joddy malah makin mempererat pelukkannya.


"Kak, aku harus pulang ini sudah jam..."Kana melirik ke arah jam dinding yang ada di kamar Joddy. "Hah jam 12! Ih, kenapa kamu gak bangunin aku sih Kak?" protes Kana.


"Kamu kelihatan capek aku gak tega. Aku juga udah telepon Mbok Dar bilang kamu nginep di rumah Key," sahut Joddy. Kana memukul pelan dada Joddy.


"Kamu jebak aku ya?!"


"Enggak Sayang. Udah deh, kita tidur lagi." Joddy menarik Kana ke dalam pelukkannya. Antara kesal dan marah tapi kalau pulang ngeri juga sudah jam 12 malam. Menginap di sini mungkin tidak apa-apa.


"Kak, aku pengap kalau kamu peluk kayak gini." Kana memukul pelan punggung Joddy.


Joddy terkekeh. "Kamu cantik kalau lagi tidur." Joddy melepas pelukannya lalu mengusap pipi Kana mereka saling berhadapan.


"Gombalan kamu gak bakal bikin aku leleh, Kak." Kana sudah terbiasa memdengar Joddy mengombal jadi dia anggap angin lalu.


"Kalau yang satu ini bikin leleh gak?"


"Ap-" Belum sempat Kana menyelesaikan ucapannya, Joddy sudah membungkam dengan ciuman yang panjang dan dalam.


Kana ingin sekali menolak tapi ciuman Joddy benar-benar membuat Kana lupa diri. Katakan dia murahan, tapi sungguh Kana tidak bisa menghentikan ini. Terlalu indah, terlalu manis untuk berhenti. Ada sesuatu yang menuntut di bawah sana.


"Na, boleh?" bisik Joddy melepas ciumannya menatap Kana dengan mata yang menggelap. Kana mengusap pipi Joddy.


"Lakukan Kak!" Yah, Kana memang murahan.


******


.

__ADS_1


__ADS_2