
"Apa? Bali?"Jihan menghentikan tangan yang sedang menyendok makanan ke piringnya, dia sedikit terkejut saat Heru mengatakan akan melakukan perjalanan bisnis ke Bali.
"Mendadak sekali?" tanya Jihan lagi, terlihat keberatan.
"Iya. Mendadak memang, Hasan baru mengirimkan email padaku semalam. Calon klien potensial yang seandainya mau menanam saham di kantor maka perusahaan akan makin berkembang pesat." Heru menjelaskan dengan senyum manisnya.
Kana yang sejak tadi sibuk menyuapi Ken mendecih dalam hati.
Bohong!
Apa pria tua bilang tadi? Perjalanan bisnis? Perjalanan buat maksiat, iya!
"Berapa hari?" Jihan tidak bisa membayangkan jika harus berpisah terlalu lama dengan Heru.
"Lima hari."
"Lama banget!"
Heru tersenyum lalu menggenggam tangan Jihan yang bebas. " Soalnya Klien dari Jepang itu liburan seminggu di Bali jadi, mau tidak mau kita sesuaikan dengan lamanya dia liburan di sana."
"Kenapa harus Ayah?" Joddy tiba-tiba angkat bicara, dia tahu perusahaan yang dibangun ayah beserta teman-temannya itu memang sedang maju pesat. Joddy juga tahu Heru memulai bisnisnya itu benar-benar dari nol. Tapi perusahaan yang sudah maju pesat itu setahunya juga punya karyawan yang lebih muda dan berkompeten, kenapa harus Heru yang ke sana? Ayahnya itu sudah tidak muda lagi.
"Yah, karena Ayah yang ditunjuk ke sana."
"Maksud Joddy, kenapa harus Ayah? Kan, di kantor masih banyak yang lebih muda."
"Tapi yang senior akan lebih meyakinkan, Jod. Terlebih Ayah yang tahu seluk beluk perusahaan itu karena Ayah salah satu pendirinya," jelas Heru berharap penjelasan membuat Joddy tak banyak bertanya lagi dan diam seperti Ferddy adiknya yang sejak pulang ke rumah terlihat diam dan tak banyak bicara sepertinya dia masih keberatan dengan keberadaan Heru di rumah ini.
"Lagian lima hari itu hanya sebentar. Aku akan sering-sering hubungi kalian," imbuh Heru.
Kana menggeleng pelan dia tak habis pikir, Heru benar-benar pintar membuat alibi hanya demi bisa berdua dengan selingkuhannya.
Anehnya, Joddy dan ibunya terlihat percaya-percaya saja pada Heru. Mereka tidak sadar kalau Heru belum berubah. Masih berhubungan dengan Laras yang ternyata sudah kembali ke Indonesia.
"Tapi menurutku lima hari itu lama," keluh Jihan lirih, seperti remaja yang sedang merajuk karena akan ditinggal pacarnya.
"Kenapa? Takut kangen?" goda Heru disertai kedipan mata membuat Jihan tersipu malu dan Kana terlihat risih saat tak sengaja melihat semua itu.
Pria tua itu benar-benar menyebalkan, ingin sekali rasanya Kana melempar piring yang ada di depannya ke arah Heru. Tapi sepertinya dia punya ide yang lebih bagus ketimbang melakukan perbuatan bar-bar seperti itu.
"Kenapa Ibu gak ikut aja ke Bali? Kan, sekalian liburan?" usul Kana membuat semua mata mengarah padanya.
"Ide yang bagus!" Bahkan Ferddy yang sejak tadi hanya diam mendadak bersuara. Tentu saja Heru yang mendengar usul Kana itu menatapnya kaget. Jangan sampai Jihan setuju dengan usul Kana itu. Bisa hancur semua rencananya.
"Iya, Bu. Kenapa kalian gak berdua saja perginya."
Heru nyaris mengumpat terang-terangan saat si sulung pun menyetujui usul Kana. Lihat saja, wajah Jihan yang semula muram berubah menjadi bahagia.
"Iya benar juga, Mas. Kita bisa sekalian liburan!" Jihan terdengar antusias. "Kita kan sudah lama gak liburan apalagi kita sempat renggang sejak-" Jihan enggan meneruskan kalimatnya karena takut itu akan memicu suasana yang tidak enak.
Seisi ruangan pun paham.
"Tapi Sayang, aku ke sana mau kerja bukan liburan." Enak saja! Bisa ngamuk si Selir nanti kalau tahu sang permaisuri merengek ikut dengannya.
"Gak papa, Mas. Nanti aku bisa nunggu di dalam hotel selama kamu menemui klien itu kalau sudah selesai baru kita jalan-jalan."
Kana hampir bersorak kegirangan melihat wajah panik Heru yang pasti sudah kalut karena liburan dengan sang pelakor akan hancur karena sang pemilik sah dirinya bersikeras mengikutinya ke Bali.
Makan tuh! Jadi suami gak bersyukur sih!
"Nanti kamu pasti bosan, Sayang." Jangan panggil pria paruh baya itu Heru, jika dipikir dia akan menyerah begitu saja.
"Biar gak bosen gimana kalau kita ikut saja ke Bali. Ken pasti juga happy banget ,Iya kan Kak?"Kana tersenyum ke arah suaminya yang menatapnya takjub karena Kana terlihat sangat antusias saat menginginkan liburan. Joddy sih pasti gak masalah karena dia masih bisa ambil cuti .
"Wah, benar juga. Kita malah bisa liburan sekeluarga nih!"Jihan terlihat bahagia dia sudah membayangkan liburan yang sangat menyenangkan.
"Setuju!" Ferddy bertepuk tangan riang. "Sayangnya, aku ada pekerjaan jadi lewat dulu!" imbuh Ferddy terlihat begitu kecewa.
"Yah, sayang banget! Padahal pasti seru kalau kita ramai-ramai," balas Kana diliriknya wajah Heru yang sudah pucat pasi.
__ADS_1
"Kalian ini aku ke sana buat kerja bukan liburan!"seru Heru dengan suara sedikit tinggi bahkan dia meletakkan sendoknya dengan sedikit membanting. Membuat semua orang yang ada di meja makan menatapnya kaget.
"Mas, kamu kenapa jadi marah begitu?" tanya Jihan .
Sadar dengan tingkahnya yang bisa membuat semua orang curiga Heru buru-buru memperbaiki sikapnya. "Bukan marah tapi aku hanya takut saja kamu bosan kalau ikut aku ke Bali, di sana aku kerja bukan liburan."
"Tapi kita bisa ajak Kana sama Ken," babil Jihan.
"Iya, aku tidak masalah, tapi bagaimana kalau nanti orang ngira kalian dibiayai dengan uang perusahaan? Nanti, mereka pikir karena semua biaya ditanggung perusahaan aku malah ajak keluarga yang bisa bikin bengkak anggaran. Mereka bisa jadi tidak akan percaya sekalipun aku bilang pakai dana sendiri." Heru tetap bersikeras untuk mencari alasan menolak keinginan Jihan yang akan ikut bahkan mengajak Kana liburan juga ke Bali.
"Oh, begitu." Terlihat sekali Jihan sedang berusaha keras menutupi kekecewaannya.
"Aku janji sesudah aku pulang dari Bali, kita akan liburan. Gimana kalau ke Semarang? Ke tempat saudara-saudara kamu?" Heru menggenggam kembali tangan Jihan yang sempat terlepas.
Senyum lega terpancar jelas dari wajah cantik yang tak lagi muda itu. "Ya, udah kita liburannya kalau kamu sudah selesai perjalanan ke Bali." Jihan memilih menyerah padahal Jihan berharap dengan liburan bersama mereka bisa memperbaiki hubungan yang sempat berantakan.
"Aku janji, sepulangnya dari Bali akan aku atur waktu untuk kita liburan," janji Heru yang semoga saja bukan hanya sekedar 'janji manis' yang kemudian akan dilupakan begitu saja.
Jihan membalas genggaman tangan Heru dengan senyum lembutnya. Itu semua tak luput dari perhatian Kana yang menahan amarah untuk tidak berteriak di depan keluarga Joddy dan memberi tahu kalau Heru masih berhubungan dengan Laras.
Astaga, Kana benar-benar tak percaya, Joddy dan Jihan tidak curiga pada Heru. Padahal Joddy biasanya selalu peka terhadap keanehan yang terjadi di sekitarnya tapi kenapa dia tidak peka terhadap ayahnya sendiri?
"Ayah, kenapa Ayah begitu bersikeras tidak memperbolehkan Ibu ikut ke Bali? Apa karena Ayah akan menemui seseorang di sana?" Kana bertanya dengan suara lembut namun terdengar tegas membuat seisi ruangan menatap ke arahnya dengan keheranan.
"Maksud kamu apa Kana? Kamu menuduh Ayah berselingkuh?"Heru bertanya dengan nada marah seperti orang yang ketahuan berselingkuh.
Kana mengangkat sebelah alisnya. Apa ada kalimatnya tadi yang mengarah ke tuduhan perselingkuhan?
Bukankah kata 'seseorang' bisa siapa saja dan jenis kelamin apapun.
"Maaf, tapi Kana tidak menuduh Ayah berselingkuh. Kenapa Ayah merasa sedang dituduh? Kana hanya penasaran kenapa Ayah bersikeras melarang Ibu ikut padahal Kana yakin itu tidak akan menganggu kerja Ayah." Kana mengabaikan isyarat Joddy yang menyuruhnya untuk tidak bicara lagi melihat sepertinya pria paruh baya itu keberatan mendengar pertanyaan Kana. Dan juga ad Ken yang menatap mereka binggung karena tidak mengerti dengan pembicaraan orangtuanya.
"Aku ke sana untuk kerja bukan liburan! Apa itu kurang jelas?"tegas Heru.
"Seperti yang Kana bilang tadi, kehadiran Ibu tidak akan membuat Ayah terganggu apalagi jika Kana sama Ken ikut. Masalah kecurigaan karena Ayah memakai uang kantor saya rasa itu tidak mungkin, karena bagaimanapun Ayah salah satu pendiri perusahaan itu. Kalaupun ada kecurigaan korupsi itu terasa lucu untuk apa pendiri perusahaan berkorupsi?" Kana sudah tidak peduli dengan pendapat keluarga Joddy terhadapnya dia hanya tidak tega pada Jihan jika harus disakiti lagi dengan orang dan masalah yang sama.
"Kamu benar-benar lancang! Joddy,
Heru nyaris berteriak saat mengatakannya bahkan terang-terangan jari telunjuknya menunjuk ke arah Kana.
"Kenapa mesti marah sih? Kalau memang tidak ada apa-apa ya gak perlu marah." Ferddy menyahut dengan nada yang santai. Berbeda dengan Joddy yang menatap heran ke arah istrinya dengan tatapan binggung. Kenapa Kana punya keberanian mengatakan itu semua?
"Memang tidak terjadi dan tidak akan terjadi apa-apa di Bali! Kalian saja yang masih curiga padaku! Aku memang akan bekerja di sana bukan liburan!" tugas Heru dengan wajah merah padam menahan kekesalan.
"Ayah, Kana hanya-"
"Kana cukup ya, Sayang." Jihan menyela perkataan Kana lalu menggelengkan kepalanya ke arah wanita muda itu agar berhenti bicara, lebih tepatnya menghentikan semua omongannya.
"Aku tahu kesalahanku dulu memang fatal, tapi apa salahnya jika aku mencoba berubah? Apa tidak bisa kalian mencoba percaya padaku?" Heru menghela napas lelah.
playing victim!
Kana mendengus dalam hati, pria paruh baya itu pintar memanipulasi keadaan dan lihat bagaimana suaminya menatapnya kini. Joddy terlihat tidak suka dengan semua yang Kana katakan.
"Mas, aku percaya sama kamu." Jihan memegang pundak Heru mencoba menenangkan pria yang tengah merasa bersalah itu.
"Tapi mereka tidak! " Heru menatap Kana tajam. "Sudahlah, percuma berubah jika kalian masih meragukanku." Heru beranjak dari duduknya lalu pergi begitu saja dengan tatapan terluka. Jihan bergegas menyusul suaminya untuk mencoba membujuknya.
Joddy menghembuskan napasnya keras-keras lalu menatap Kana tajam. Sepertinya dia harus bicara berdua dengan istrinya ini.
"Ken, kamu makan sendiri dulu ya ditemani Om Ferddy? Bunda sama Daddy mau keluar sebentar?"
Ken mengangguk pada Joddy yang langsung menarik tangan Kana menjauh dari Ken.
"Kana, kamu kenapa bicara seperti itu pada Ayah? Lihat, beliau marah!" tegur Joddy dia benar-benar takut jika keluarganya akan renggang kembali.
"Kak, aku tidak asal bicara kalau Kakak tahu! Ayah- dia , dia belum berubah!"
Joddy mengernyitkan keningnya." Maksud kamu apa?"
__ADS_1
"Ayah masih berhubungan dengan Laras ,Kak!"
Joddy menatap Kana tajam lalu tersenyum."Astaga, Sayang! Laras bahkan tidak ada di Indonesia!"
"Ada, Kak. Dia sudah kembali! Semalam waktu kamu memergokiku di ruang tamu, aku baru saja selesai mendengar Ayah kamu sedang menelepon seseorang, dan aku yakin itu Laras."
"Tidak mungkin,Sayang."
"Percaya, Kak aku tidak bohong. Kakak masih ingat hari di mana kita bertemu di mall? Di hari yang sama aku juga bertemu Ayah kamu dan Laras."
Joddy masih tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan." Aku tahu untuk percaya pada Ayah memang sulit Kana. Aku juga tahu kamu takut aku akan melakukan hal yang sama seperti Ayah. Tapi jangan lantas kamu berasumsi setiap hal yang dilakukan Ayah ketika dia akan jauh dari keluarganya suatu tindakan berselingkuh lagi. Aku kenal beliau, beliau tidak akan terjatuh di lubang yang sama."
Kana menatap tak percaya ke arah suaminya. " Apa kamu bilang? Asumsi? Kak! Aku bicara seperti tadi itu untuk melindungi Ibu,Kak!" seru Kana kesal.
"Melindungi dari apa?"
"Dari rasa sakit yang sama yang pernah Ayah berikan pada Ibu!" seru Kana .
"Kana, aku mohon percayalah pada Ayah. Cobalah untuk itu. Jangan makin memperkeruh suasana. Ayah dan Ibu sudah mulai menata hidupnya kembali, jangan hanya karena asumsimu mereka renggang kembali."
Kana mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia tidak percaya Joddy bisa mengatakan itu padanya.
"Kalau semua yang dikatakan Mbak Kana itu benar gimana, Bang?"
Joddy dan Kana menoleh ke arah Fersdy yang tiba-tiba saja masuk ke dalam obrolan mereka.
"Maksud kamu apa?" Joddy menatap Ferddy yang berdiri menyandar di kusen pintu itu. Lalu perlahan mendekati suami istri yang tengah sibuk berdebat.
"Semua yang dikatakan Mbak Kana benar." Ferddy menatap Kana lalu tersenyum seolah-olah memastikan kalau dia ada di pihak nya.
"Kamu juga meragukan Ayah, Fer?"
Ferddy tersenyum." Bukan ragu lagi. Malah sudah yakin."
"Maksud kamu apa, Fer?" tanya Joddy lagi.
"Seperti yang dibilang Mbak Kana . Pria yang biasa kita panggil Ayah itu belum berubah dia masih berhubungan dengan selingkuhannya." Ferddy berkata dengan tenang tapi terlihat sangat jelas dia menahan kemarahan.
"Kalian berdua ini kenapa sih?Jelas-jelas Laras-"
"Dia sudah di Indonesia!" sela Ferddy cepat membuat Joddy terdiam.
"Dia sudah lama di Indonesia . Dan Ayah kita kembali menjalin hubungan dengannya, lagi. Semalam aku mendengar sendiri dia menelepon Laras dan janjian liburan ke Bali."
Wajah Joddy menjadi tegang saat mendengar penjelasan Ferddy itu.
"Jadi kamu nguping?" tanya Kana kaget, Ferddy tersenyum tipis.
"Lebih tepatnya kita berdua yang menguping," balas Ferddy mengingatkan.
Kana mendecih lalu melirik suaminya yang hanya diam saja mungkin shock mendengar apa yang Ferddy katakan.
"Mbak Kana tidak bohong mereka menjalin hubungan lagi."
"Sayangnya, kalian tidak ada bukti." Logika Joddy masih berusaha menyangkal semua yang istri dan adiknya utarakan walaupun hatinya mulai goyah.
"Apa dua orang mengatakan hal yang sama itu tidak cukup bukti?" Ferddy menatap kakaknya kesal.
Joddy hanya diam otaknya berpikir keras. Logika dan hati mencoba untuk mencari kebenaran dari semua fakta yang Ferddy dan Kana ungkapkan.
Kana menghembuskan napas kasar lalu menatap suaminya. " Kalau ini semua belum cukup meyakinkan kamu, cari saja bukti itu sendiri. Dan ketika itu kamu baru sadar kalau ternyata kamu tidak terlalu mengenal Ayah kamu atau mungkin Ayah kamu itu memang sudah berubah tidak seperti dulu." Selesai bicara Kana bergegas pergi meninggalkan Joddy begitu saja.
Ferddy ikut menghela napas lalu menatap kakaknya." Akui saja kalau keluarga kita sudah tidak bisa diselamatkan, Bang!" bisik Ferddy sambil lalu meninggalkan Joddy yang masih termangu memikirkan semua yang mereka berdua katakan.
*****
** Hai, kangen gak sama Kana? maapin baru bisa up lagi. karena hp dan laptop eror maka kemarin belum sempat up. Tapi tenang saja, Hp sudah lancar jaya tapi laptop masih belum hehhe maafkan karena sudah menghilang begitu saja. terimakasih yang selalu menanti Kana. i lov you allπππ
jangan lupa baca storyku yang lain yaaaa
__ADS_1