
Kana meletakan mangkuk kedua berisi mie instan di depan Kanda. Kakaknya itu meminta dibuatkan mie instan lengkap dengan sayur dan telur. Entah karena memang lapar atau sedang mengalihkan perasaan sesaknya atas apa yang terjadi, Kanda meminta dibuatkan lagi mie instan mangkuk keduanya dan tidak tanggung-tanggung dua bungkus sekaligus.
"Lo lapar apa doyan?" sindir Joddy yang sudah sibuk dengan laptopnya.
"Gue butuh nutrisi buat menghadapi kenyataan,"sahut Kanda santai menyuapkan mie ke dalam mulutnya tak memperdulikan sindiran adik ipar yang hanya beda setahun itu.
"Lo patah hati gitu amat. Cemen ah!" ledek Joddy.
"Dikatakan oleh pria yang datang ke klub hampir setiap malam setelah diputus wanita!" sindir Kanda balik mengingatkan kelakuan Joddy saat ada masalah dengan Kana dulu.
Joddy mendengus lalu kembali asik dengan pekerjaannya.
"Bang, jadi pria yang selingkuh dengan Nea tidak mau bertanggung jawab? Dan dia malah menyuruh mengugurkan bayinya?" Kana yang sejak tadi penasaran dengan kisah cinta Kanda, terus saja bertanya.
"Iya, Nea mohon-mohon sama gue untuk tidak menceraikannya dan mau menerima anak yang ada dalam perutnya. Yakali, gue malaikat yang murah hatinya. Ogahlah gue!" sahut Kanda kesal saat ingat istrinya memohon-mohon padanya.
"Orangtua Nea gimana?"tanya Joddy dari balik laptopnya.
"Gue belum ngomong. Nanti gue bakal ngomong setelah ngasih tahu Mama sama Papa." Kanda sebenarnya was-was akan reaksi orangtuanya. Karena Kanda tahu Gufron benci dengan perceraian tapi mau gimana lagi Kanda sudah tidak bahagia lagi. Dipaksa pun malah akan menyakiti kedua belah pihak.
"Gue gak bisa ngebayangin gimana perasaan orangtua Nea kalau tahu anaknya seperti itu. Selama ini mereka tahunya Nea 'baik-baik' saja." Kana membentuk tanda kutip saat mengucapkan kata baik-baik saja.
"Itu urusan mereka! Sekali lagi gue bukan malaikat baik hati yang rela membunuh kebahagian demi kebahagiaan orang lain, gue bukan laki lo yang bucin setengah mampu* sampai nungguin jandanya cewek yang diidamkan." Kanda sengaja menyindir Joddy yang tentu saja tak terima, tapi hanya menahan diri karena si Janda yang dimaksud Kanda tengah menatapnya tajam
"Jadi Lo udah yakin bakalan cerai, Bang?" Kana memastikan sekali lagi siapa tahu dia berubah pikiran.
Kanda hanya mengangguk karena mulutnya penuh makanan.
"Ya lo ngomongnya sama Papa baik-baik, lo tahu sendiri Papa orangnya kek gimana." Kana memperingatkan kakaknya yang hanya mengangguk itu.
"Terus nasib anaknya gimana?Lo mau ngasih bulanan?" tanya Joddy membuat Kanda cepat-cepat menelan makanannya karena tak sabar ingin menjawab pertanyaan Joddy itu.
"Dih, ogah. Lagi-lagi gue bukan malaikat baik hati ya!" seru Kanda sewot membuat Joddy mendengus kesal.
Lo emang pantasnya jadi ibli*!
"Emang lo udah gak cinta sama Nea? Lo lupa sama pengorbanan lo buat dapetin dia?"
Kanda menghentikan suapannya saat mendengar kata-kata Kana . Mendadak tatapan Kanda berubah sendu.
"Sayang masih, cinta enggak! Semua pengorbanan dan kenangan gue sama dia udah hilang karena rasa sakit yang Nea kasih ke gue."
Kana dan Joddy hanya saling berpandangan sambil dalam hati-hati sama-sama berucap,"Poor you, Kanda!"
Kana baru akan membuka mulut tepat saat ponselnya berdering tanda notifikasi pesan masuk.
__ADS_1
Nea: Besok ktm di cafe biasa.
******
Sejak tadi Kana sudah menahan diri untuk tidak mencakar dan mencabik-cabik seorang wanita yang kini duduk di depannya bahkan saat mereka tiba di depan pintu kafe di mana mereka janjian pun Kana hampir saja menyerangnya secara membabi buta. Untunglah, Kana masih waras untuk tidak melakukannya.
"Kamu apa kabar, Na?"
Kana menatap Nea malas, basa basi banget!
"Baik, ada keperluan apa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Kana sedikit ketus.
Nea terpaku menatap Kana kaget, dia tak percaya akan mendapat sambutan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, sahabatnya ini benar-benar sudah berubah. Dingin dan kaku tidak hangat seperti dulu lagi. Apa dia masih dendam karena kejadian yang menimpa anaknya beberapa bulan lalu?
"Aku mau minta maaf sama kamu soal kejadian yang dulu menimpa Ken. Aku berterimakasih kalian tidak melaporkan aku ke polisi."
Kana tersenyum sinis, dia benar-benar muak dengan wajah Nea yang terlihat seperti seorang korban kejahatan. Semua itu terlihat palsu di matanya.
"Itu kejadian sudah beberapa bulan lalu, kenapa baru sekarang kamu minta maaf?" Dulu ke mana saja?
"Aku minta maaf karena baru bisa-" Nea menghentikan perkataannya saat melihat Kana mengibaskan tangannya agar Nea tidak meneruskan kata-katanya lagi.
"Tidak perlu basa-basi Ne. Katakan tujuanmu kenapa tiba-tiba kamu jauh-jauh dari Bandung ke Jakarta hanya untuk bertemu denganku?"
"Aku ke sini untuk-" Nea mengangkat wajahnya sejenak jelas sekali dia seperti menyimpan keraguan."Untuk membantuku bicara pada Mama dan Papa agar membujuk Bang Kanda untuk tidak menceraikanku."
Kana mengangkat sebelah alisnya lalu tertawa hambar." Kamu aneh banget. Kenapa kamu meminta bantuan padaku? Orang yang pernah kamu hina?"sindirnya dingin
"Karena Mama dan Papa pasti akan mendengarkanmu karena kamu anak kesayangan mereka."
Kana ingin sekali mengumpat. Apa maksudnya dengan 'anak kesayangan'? Jelas-jelas kedua orangtuanya tidak pernah memperlakukan Kana dan Kanda berbeda, semua diperlakukan sama. Atas dasar apa dia bilang Kana adalah anak kesayangan?
"Maaf, urusan rumah tangga kamu dan Bang Kanda aku tidak mau ikut campur. Urus saja sendiri. Lagipula semua keputusan ada di tangan Bang Kanda kami tidak punya hak untuk mencampurinya."
"Tapi aku tidak bisa bercerai dengannya, Na. Aku sedang hamil anak Kakak kamu!"seru Nea setengah teriak.
Kana melempar tatapan tajam ke arah Nea lalu tertawa lagi. Menertawakan wanita yang penuh dengan kepalsuan di depannya ini juga keadaan rumah tangga Kanda yang benar-benar seperti cerita sinetron yang sering Mbok Dar tonton.
"Yakin itu anak Bang Kanda?"
pertanyaan Kana membuat wajah Nea berubah tegang.
Jadi Kana sudah tahu? Apa Kanda sudah memberitahukan pada Kana perihal siapa ayah kandung bayi ini?
"Gak usah kaget begitu! Gak usah tanya juga aku tahu darimana." Kana seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Nea.
__ADS_1
"Aku ingin tahu Ne. Kenapa kamu tega menyakiti hati Bang Kanda, yang benar-benar cinta sama kamu? Kamu tahu sendiri, kan pengorbanan dia untuk mendapatkan hati kamu?"
Nea menunduk, dia tidak buta. Nea tahu sekali seperti apa pengorbanan yang Kanda lakukan untuk menarik perhatiannya. Nea sadar pria itu begitu memujanya, begitu takut kehilangan dirinya. Itu membuat Nea menjadi egois dan menggunakan itu semua untuk membalas sakit hatinya pada Kana. Sakit hati yang dia buat sendiri.
"Apa yang kamu lakukan sudah sangat keterlaluan. Pantas jika Bang Kanda sudah tidak bisa memaafkanmu lagi." Kana menatap lurus ke arah Nea. Dia benar-benar marah dan kesal saat tahu Nea lagi-lagi menyakiti Kanda.
"Aku tidak bermaksud-"
"Kamu selingkuh Nea! Kamu selingkuh dengan pria beristri!" sentak Kana kesal membuat beberapa pengunjung kafe menoleh ke arah meja mereka. Membuat Nea salah tingkah karena mereka kini menatapnya dengan pandangan tajam.
"Tega sekali kamu, Ne!" Kana mencengkeram ujung dress yang dia pakai, menahan diri untuk tidak menyerang Nea.
"Kenapa kamu gak lihat dari sisi aku Na? Aku juga korban. Kakak kamu mengacuhkanku sejak kejadian Ken waktu itu. Padahal di depan orangtuaku dia berjanji tidak akan meninggalkanku."
"Kamu lupa kamu yang lebih dulu menyakitinya Nea! Dan kamu pikir kamu korban di sini? Bagaimana dengan istri dari Ayah bayi yang ada di rahimmu sekarang?" Kata-kata telak Kana membuat Nea tak bisa membantahnya. Tenggorokannya terasa kering semua kata-kata yang sudah dia rangkai terasa tertelan kembali.
"Kamu juga seorang wanita Ne. Kamu harusnya tahu rasanya seperti apa dikhianati!" Kana sudah tidak peduli semua pengunjung sedang menatap ke arah meja mereka. Biar sekalian saja mereka tahu seperti apa wanita cantik di depannya ini.
"Kamu sendiri yang sudah menghancurkan kepercayaan Bang Kanda. Berkali-kali dia sudah memberimu kesempatan, tapi apa? Kamu menyakitinya terus menerus. Jadi, untuk kali ini aku akan sangat mendukung Bang Kanda menceraikanmu!" Kana mengabaikan wajah Nea yang terlihat pucat karena panik. Dia juga tidak peduli bahwa mereka berdua pernah melalui hari-hari bersama. Rasa sakit Kanda membuat hati Kana membeku untuk Nea, seorang sahabat yang dulu selalu ada untuknya.
Nea menggeleng kuat-kuat tidak terima jika kanda menceraikannya. Dia tidak terima.
"Tidak Na! Kanda tidak boleh ceraikan aku. Aku masih cinta sama dia!"
"Omong kosong! Kalau kamu cinta sama Kakakku kamu tidak akan selingkuh!"
Nea tercekat mendengar kata-kata Kana. "Tolong Na, bujuk Kakakmu untuk tidak menceraikanku aku! Aku masih cinta sama dia." Nea mengambil kedua tangan Kana menggenggamnya penuh harap.
"Kamu tidak cinta sama Kakakku kamu hanya merasa takut, takut akan sanksi yang sebentar lagi kamu dapat. Hamil tanpa suami, dihakimi karena hamil dengan suami orang . Ditambah orangtuamu yang akan hancur jika tahu kelakuan anaknya yang selama ini mereka hanya tahu kebaikannya saja."
Nea mendadak kelu, semua perkataan Kana tidak bisa dia sangkal.
"Selain itu, Kamu takut hidupmu tidak akan terjamin karena jika kamu bercerai dengan Kakakku maka tidak ada yang bisa menopang biaya hidupmu lagi. " Kana tersenyum sejenak lalu melepas genggaman tangan Nea.
"Terimakasih sudah pernah menjadi sahabat dan kakak ipar yang baik. Terimakasih sudah membuat kakakku makin dewasa dengan rasa sakit yang kamu kasih ke dia." Kana beranjak dari duduknya bersiap pergi tapi tangan Nea mencegahnya .
Lalu tanpa disangka-sangka Nea berlutut di depan Kana. "Tolong Kana, jangan lakukan ini padaku. Bantu aku agar Kanda tidak menceraikanku aku. Aku mohon!"
Kana mengigit bibir dalamnya kuat-kuat, bagaimanapun Kana wanita dia bisa merasakan apa yang Nea rasakan sekarang. Wanita itu bisa jadi putus asa sampai-sampai harus mengesampingkan harga dirinya berlutut dan memohon di depan Kana. Tapi siapa tahu itu semua hanya cara dia untuk menarik simpati Kana saja.
Kana membuang napas kasar lalu menunduk menatap Nea yang berlutut di bawahnya dengan air mata berlinangan. "Maaf Ne. Aku tidak bisa membantumu."
Dengan perlahan Kana melepas tangan Nea lalu bergegas pergi meninggalkan Nea begitu saja.
****
__ADS_1