
Joddy menatap sebal ke arah wanita cantik yang tengah tertawa terbahak-bahak di depannya ini, membuat beberapa pengunjung restoran menatap ke arah mereka dengan berbagai ekspresi. ada yang kesal, terganggu dan cuek. Tapi wanita berhidung mancung dan berkulit coklat eksotik itu hanya cuek, dia lebih tertarik dengan cerita cinta Joddy yang ngenes. Yah, Joddy menceritakan kisah cintanya minus tentang malam laknat dan kehamilan Kana.
"Menurut lo lucu?"
Wanita cantik itu mereda tawanya lalu mengangguk-angguk. " Luculah, pas pacaran sama gue lo megang tangan gue aja ogah. Eh, sekarang malah tahu-tahu udah tunangan sama cewek yang bukan pacar lo. Kena karma lo kali, Jod. Nganggurin cewek secakep gue." Wanita itu mengibaskan rambut panjangnya dengan sombong.
"Sis, lo ke sini cuma mau ngetawain gue?" Joddy menyipitkan matanya ke arah Siska.
"Enggaklah, gue mau ketemu pacar gue sekalian mau ke Bandung ke acara sunatan ponakan gue," sahut Siska. "Lo anterin gue ya?" imbuhnya lalu mengedip-kedipkan mata.
Joddy mengernyit. " Diantar ke mana? Ketemu cowok lo, makasih deh! Males!"
"Anter gue ke Bandung. Cowok gue gak bisa soalnya dia sibuk."
"Lo pikir gue gak sibuk?" balas Joddy sengit.
"Lo sibuk apa sih? Cuma meratapi nasib aja kan?" ejek Siska lalu tertawa tanpa dosa.
"Beib-"
"Jangan panggil gue begitu!" potong Joddy cepat, dulu Kana pernah mendiamkannya seharian gara-gara Siska memanggilnya dengan panggilan itu.
Siska tertawa melihat ekspresi Joddy. "Btw, kapan rencana nikah lo?"
"Bisa bahas lainnya?"
"Enggak." jawab Sisca cepat. " Gue penasaran aja alasan lo mau nikahin itu cewek kenapa?"
Joddy termangu mendengar pertanyaan Siska. Siska teman yang baik walaupun usil. Waktu mereka pacaran pun dia tidak pernah menuntut apapun dari Joddy. Anaknya juga asik diajak bicara, tapi untuk menceritakan alasan utama dia harus menikah dengan Laras sepertinya Siska tidak sedekat itu dengannya hingga harus tahu alasan utama Joddy.
"Salah satunya, nyokap kurang setuju sama status cewek gue."
" Janda ya?"
Joddy mengangguk. "Suami dia sahabat baik gue."
Siska manggut-manggut. "Salah satunya? Berarti banyak alasan dong kenapa lo harus nikahin tunangan lo yang sekarang?"
"Kenapa lo gak yakinin nyokap lo kalau lo emang maunya sama cewek lo?"
"Udah, tapi-" Joddy terdiam sesaat. Tidak, dia tidak akan menceritakan yang seharusnya Siska tidak perlu tahu.
"Tapi?" Siska menunggu kelanjutan dari Joddy.
__ADS_1
Joddy menatap Siska, tidak. Siska tidak harus tahu apa yang terjadi apalagi kehamilan Kana. Joddy membuka mulutnya seperti akan mengatakan sesuatu tapi dia hanya menghembuskan napasnya. "Hah."
Siska nyaris melempar piring kosongnya saat Joddy hanya menarik napas."Asem!"
"Rumit, lo gak bakalan ngerti!" seru Joddy.
Siska mencibir lalu menatap Joddy. "Ya, sebenarnya wajar aja sih kalau nyokap lo agak kurang setuju lo nikah sama cewek yang statusnya janda. Yah, bagaimanapun orangtua pasti maunya yang terbaik lah, Jod."
"Maksud lo status janda gak baik?"sambar Joddy tak terima.
"Bukan begitu Jod, ini gue bicara soal realita dari sudut pandang kebanyakan orangtua. Nyatanya, banyak kan orangtua di luar sana yang sedikit keberatan kalau anaknya yang masih single dan belum pernah menikah, memilih pasangan dengan status janda atau duda sudah beranak pula." Siska menjelaskan.
Joddy menyandarkan tubuhnya lalu menatap Siska serius."Menurut lo kenapa?"
Siska meneguk kopinya sebelum menjawab," Bisa jadi mereka takut anaknya tidak akan mampu untuk menanggung resiko atau beban ke depannya. Bagaimanapun, lo tau sendiri stigma negatif yang ada di masyarakat soal status janda atau duda . Mereka akan berpikiran bahwa pihak yang melajang biasanya dituntut untuk lebih banyak berkorban. Pikiran kek, finansial kek. Belum lagi kalau soal anak, trus nanti bakal ada anak baru."
"Tapi banyak di luar sana pernikahan janda atau duda dengan yang masih lajang berakhir bahagia."
"Iya gue tahu. Itu kayak kita lagi ngitung populasi orang main saham Jod. Ada yang orang jadi kaya ada orang yang rugi banyak." Siska menaik turunkan alisnya lalu mencondongkan tubuhnya ke depan Joddy. "Orangtua itu kayak peramal. Kenapa? Karena mereka punya basic instinct, mereka sudah merawat anak mereka dengan penuh kasih sayang jadi tahu mana yang terbaik buat anak-anak mereka."
"Tapi lo juga harus ingat orangtua juga manusia biasa. Bisa jadi mereka keliru dalam menilai. Mereka terlalu berekspektasi dan berego tinggi sampai mereka lupa kalau mereka cuma manusia biasa yang bisa kilaf. Gengsi yang kadang bikin mereka lupa." Joddy mengeluarkan argumennya membuat Siska mati kutu. Ah, benar-benar kalau berdebat sama mantan fakboy begini ini, selalu kalah!
" Ya, udah sekarang lo harus ubah mindset orangtua lo terutama nyokap lo. Bikin nyokap lo percaya kalau wanita yang lo pilih itu emang baik. Yah, walaupun gue gak jamin nyokap lo akan berubah pikiran waktu ngeliat gue," kata Siska dengan nada sombong di akhir kalimatnya membuat Joddy menoyor kepalanya pelan. Bukannya marah Siska malah tertawa kegirangan.
"Gak nyangka cowok lo betah sama lo," sindir Joddy bergidik ngeri.
"Betah lah, gue jago lho di ranjang. Mau coba?" goda Siska, Joddy melempar wanita di depannya dengan gumpalan tisu. Siska menyambut lemparan Joddy itu dengan tawa tanpa dosanya. Bukan apa-apa, Siska suka sekali menggoda Joddy. Dulu mereka sempat pacaran memang, tapi hanya beberapa minggu. Siska tidak kuat dengan sikap Joddy yang terlalu cuek padanya bahkan tidak mau menyentuh Siska. Pernah Siska mengoda Joddy dengan baju-baju seksi tapi nihil. Joddy tidak tertarik sama sekali. Siska curiga Joddy seorang gay. Tapi ternyata itu tidak terbukti karena Siska menemukan banyak foto satu wanita cantik di galeri ponsel Joddy yang disimpan khusus di folder yang sengaja disembunyikan oleh Joddy.
"Gue cuma perlu ngumpulin bukti buat gagalin pernikahan gue." Joddy memainkan gelasnya, pikirannya menerawang mencoba mencari cara agar mendapatkan bukti kalau Kana hamil olehnya.
"Dari tadi lo ngomongin bukta bukti mulu, emang bukti apaan?" Siska lama-lama gemas juga karena Joddy menutupi sesuatu.
"Lo gak perlu tahu." Joddy menatap ke arah ponselnya yang sejak tadi bergetar. Ada nama ibunya di layar biru itu pasti Sang Ibu sedang memastikan keberadaannya, atau bisa jadi Laras menelepon ibu dan mengadu kalau dia meninggalkannya begitu saja.
"Ya udah lah. Lo anterin gue aja yuk ke Bandung."
Joddy menatap Siska malas, ke Bandung di jam seperti ini? Males banget!
"Ayolah Jod. Lo cukup drop gue di rumah kakak gue terus lo boleh balik. Please, gue males pakai kendaraan umum. Tiket dari Papua ke sini aja perawatan gue sebulan," pinta Siska.
Joddy mendengus." lo pikir gue sopir grab?" Tapi Joddy beranjak juga dari duduknya.
"Buruan, gue gak punya banyak waktu." Joddy menatap Siska yang masih duduk menatapnya binggung, tapi tersenyum kemudian saat dia sadar Joddy bersedia mengantarnya.
__ADS_1
Menempuh 4 jam perjalanan Jakarta-Bandung ahkirnya Joddy dan Siska sampai juga di rumah Kakak Siska, sebelum magrib. Siska yang menggantikan Joddy menyetir sejak dari tol sampai rumah itu menghentikan mobilnya di sebuah rumah berlantai dua yang halamannya cukup luas. Halaman yang banyak ditumbuhi pohon perindang dan buah. Ada ayunan kayu dan prosotan juga. Tipe rumah yang homely banget.
"Masuk Jod, kayaknya syukurannya udah selesai nih." Siska membuka pintu mobil Joddy lalu tanpa basa basi masuk ke dalam rumah yang sepertinya baru saja mengadakan acara besar terbukti dari banyak orang yang sibuk membersihkan ruang tamu yang sedikit berantakan.
"Erzaa!!!! Tante datang nih! Main yukkk!" Suara melengking Siska membuat perhatian orang-orang yang sejak tadi sibuk beberes itu terusik. Joddy yang berdiri di belakang Siska hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd temannya.
Seorang wanita berhijab muncul dengan bayi di gendongannya. "Astaga Siska! Kebiasaan banget! Salam kek, malah tereak-tereak kayak di hutan!" Wanita seusia Joddy itu mengomel. Wajahnya mirip sekali dengan Siska, yah Siska versi kalem lah.
"Ihh, Mbak Moza juga kebiasaan deh masih aja suka ngomel!" balas Siska lalu kedua kakak beradik itu berpelukan.
"Hai, Mizi. Uluh..uluh... pipinya gembil pisan euy!" Siska hendak menyentuh bayi mungil yang sedang tidur itu tapi dengan gesit Moza menjauhkannya.
"Bersih-bersih badan dulu!" serunya sengit lalu menatap Joddy yang sejak tadi memperhatikan rumah.
"Ih, saha eta?" Moza menyikut lengan Siska menunjuk Joddy dengan arah matanya.
"Supir grab, Teh. "Siska cekikikan saat melihat plototan Joddy.
"Temen aku, Mbak. Dari Jakarta dia maksa banget mau ikut."
Lagi-lagi Joddy melotot ke arah Siska.
"Maksudnya aku yang maksa dia buat nganter ke sini," ralat Siska segera. "Walaupun kebanyakan aku yang nyetir sih," gerutunya pelan.
"Ah, kamu ini." Moza memukul pelan pundak Siska lalu menatap Joddy. " Temannya Siska ya? Aku Moza, kakaknya. Mari masuk. maaf ya berantakan, habis syukuran anak aku yang sulung." Moza mengangguk ramah pada Joddy yang tersenyum itu.
"Joddy, teman Siska dari Jakarta." Joddy memperkenalkan dirinya.
"Oh, Jakarta. Sama, suami aku juga kerja di Jakarta. Sebenarnya kami tinggal di Jakarta tapi berhubung kemarin hamil anak ketiga jadi deh pulang ke Bandung dulu, ke rumah mertua ini." Moza bercerita sambil memberi isyarat kedua orang itu untuk masuk ke dalam rumah. Joddy hanya manggut-manggut, pantesan tidak ada logat sundanya.
"Berati Kak Thom-thom juga pulang, Mbak?" Siska bertanya dengan tangan mencomot kue di toples.
"Iya baru mandiin Reza tuh. Udah selesai kali ya. Bang! Bang Thom!" Moza lalu berteriak ke dalam rumah.
"Bang Thom!! Siska datang! Bagi duit dong!" teriak Siska iseng membuat Moza dan Joddy hanya geleng-geleng kepala.
"Yuhuu, aku datang!" teriakan itu datang bersama seorang pria yang masih memakai baju koko berjalan tergesa-gesa.
"Eh, kamu Sis kapan dat-" Pria itu terdiam saat melihat Joddy berdiri di depannya. Tak kalah kagetnya dengan pria itu, Joddy juga sempat kaget, tapi dia lebih bisa menguasai diri.
"Bang Thomas, kenalin nih temen aku!" seru Siska mengenalkan Joddy pada kakak iparnya yang sejak tadi menelan ludah melihat seringai Joddy.
"Kena kau!"
__ADS_1
*****