Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
ICU


__ADS_3

"Masak apa?"


Kana hampir menjatuhkan spatulanya saat suara Joddy mengejutkannya.


"Omelet."


"Ken mana?" Joddy mengedarkan pandangan ke segala arah.


" Jalan-jalan keliling komplek sama Mbok Dar." Kana menuangkan adonan omelet Ketiganya.


Joddy menghampiri Kana lalu mengecup pipinya lembut membuat Kana menyikut perutnya pelan. "Kalau ada yang lihat!"


Joddy terkekeh lalu duduk di kursi meja makan. Mengamati punggung Kana yang sibuk membuat sarapan. Rambut panjangnya diikat dia memakai kaos putih dan celana jeans. Joddy sedikit was-was melihat Kana memakai celana Jeans. Apa anaknya di dalam sana tidak merasa sesak?


.



"Dek, jangan pakai celana jeans dong, kamu kan lagi hamil." Joddy menegur dengan hati-hati. Takut Kana tersinggung dan marah padanya lagi.


"Masih rata, Kak. Gak apa-apa. Lagian ini cuma di rumah." Kana meletakan hasil masakannya di piring lalu meletakkannya di depan Joddy.


"Berangkat jam berapa?" tanya Kana, matanya memindai Joddy yang sudah rapi dengan kemejanya. Kenapa ya tiap lihat Joddy jantung Kana berdegup lebih kencang? Pria ini terlihat sangat.... tampan.


"Habis sarapan. Mau ikut?"


"Enggak." Kana buru-buru mengalihkan pandangannya.


"Why?"


"Kamu lagi ada masalah?"Kana balik tanya mengabaikan pertanyaan Joddy.


Joddy menghentikan gerakan tangannya yang sibuk memotong omelet dengan sendok, dia menatap Kana sejenak. Dia ragu apakah harus menceritakannya pada Kana atau tidak.


"Hem, sedikit."


"Aku gak maksa kalau Kakak belum mau cerita." Kana mengedikan bahunya lalu meneguk teh manisnya.


"Ibu, pengen ketemu kamu, Na."


Kana menatap Joddy kaget. "Ibu? Tante Jihan?"


Joddy mengangguk."Mau?"


Kana menunduk tangannya sibuk memutar-mutar cangkir di tangannya.


"Ibu ingin minta maaf sama kamu, Kana. Dia sangat menyesal atas apa yang sudah dia lakukan ke kamu. Tapi untuk saat ini kamu- maksudnya kita yang harus datang menemuinya, karena-" Joddy terdiam, dia menatap Kana ragu.


"Karena?"


Joddy menghela."Ibu sekarang ada di dalam penjara, Kana."


Kana tersentak kaget dia menatap Joddy tak percaya. "Maksudnya?"


"Sakit hati Ibu, memicu beliau melakukan tindakan itu. Ibu menyiram Laras dan Ayah dengan air keras."


Kana menutup mulut karena terkejut.

__ADS_1


"Ayah menuntut Ibu, sekarang kasusnya masih diproses."


Kana terdiam memperhatikan wajah Joddy. Jadi, ini yang membuat wajah Joddy terlihat sedih? Keningnya berkerut seolah-olah sedang memikirkan hal yang paling berat.


"Aku binggung harus bagaimana Kana. Semua masalah seakan-akan datang secara bersamaan. Ibu yang masuk penjara, Ayah yang tetap bersikeras melanjutkan kasusnya diproses, Ferddy yang terpukul, kamu yang jauh dari aku ditambah pekerjaan di kantor yang semakin menuntut waktu dan tenagaku." ditambah dengan tawaran gila Laras yang akan membebaskan Ibunya asal dia menikahi wanita itu.Joddy tidak


Joddy mendesah pasrah, tangannya memijit pangkal hidungnya,


Melihat itu Kana menjadi tidak tega. Joddy pria yang baik bahkan Kana menjulukinya malaikat tak bersayap, kan? Itu karena pria ini benar-benar selalu ada buat orang-orang di sekitarnya. Joddy sering sekali mengabaikan dirinya sendiri untuk kebahagian orang lain termasuk dirinya.


Kana mengambil tangan Joddy yang bebas mengenggamnya erat. Membuat Joddy tersentak kaget menatap Kana tak percaya.


"Ayo, kita temui Ibu kamu."


"Kamu mau ikut aku ke Jakarta?"


Kana mengangguk."Mau."


"Kamu serius?"


"Atau mau kita anggap ini becanda?" tantang Kana balik. Joddy cepat-cepat menggeleng. Dia tersenyum sumringah. Pengorbanannya tidak sia-sia 8 jam menyetir Jakarta-Jogja akhirnya dia bisa membawa Kana-nya ke Jakarta juga.


"Tapi kenapa?"tanya Joddy penasaran.


Kana melirik Joddy sekilas." Karena kamu terlalu bucin sama aku, Kak. " Kana tersenyum meledek, membuat Joddy terkekeh geli. Membenarkan ucapan Kana.


Dia memang sudah cinta mati dengan wanita yang sekarang ada di hadapannya ini. Dari dulu, dari pertama kali Kanda mengenalkan Kana sebagai adiknya ketika gadis itu pulang sekolah dengan pipi merah karena kepanasan, Joddy sudah cinta padanya. Pada pandangan pertama. Terdengar klise, tapi itu nyata. Dari dulu sampai sekarang hati Joddy hanya untuk Kana.


"Setelah kita ketemu Ibu, aku akan menemui Ayah kamu."


"Kamu harus menyiapkan mental, itu gak akan mudah. Papaku keras kepala apa lagi kalau sudah menyangkut anak dan cucunya." Kana sekedar mengingatkan, karena dia yakin orangtuanya apalagi Papa, tidak akan mudah memaafkan Joddy terutama orangtuanya yang telah menghina Kana.


Tapi Joddy gak akan menyerah. Baginya Kana pantas untuk diperjuangkan. Dia akan terus berjuang agar Gufron menerimanya sebagai pria yang mencintai anak dan cucunya.


"Aku cari Ken dulu." Kana beranjak dari duduknya tepat saat ponsel di atas meja punya Joddy berdering nyaring. Melihat siapa si penelepon Joddy buru-buru mengangkatnya.


"Kenapa Fer?"


Kana urung pergi saat tiba-tiba Joddy memasang wajah tegang.


"Apa?! Oke, oke gue balik sekarang ke Jakarta!" Joddy mematikan ponselnya lalu menatap Kana. "Na, aku harus pulang segera. Ibu- Ibu masuk rumah sakit." Terlihat sekali Joddy begitu khawatir. Rumah sakit? Apa terjadi sesuatu pada Ibu Joddy? Semoga baik-baik saja.


*


Setengah berlari Joddy menyusuri lorong rumah sakit, tangannya sejak tadi mengenggam tangan Kana yang kesusahan mengikuti langkah lebar Joddy.


Kana menatap Joddy yang kelihatan kalut, Kana tahu Joddy sangat khawatir dengan Ibunya. Sepanjang perjalanan saja dia tak banyak bicara. Hanya sesekali mengenggam tangan Kana berusaha mencari kekuatan di sana.


Langkah Joddy baru memelan setelah melihat Ferddy duduk di ruang tunggu depan sebuah kamar bertuliskan ICU, dengan wajah tak kalah paniknya. Ada dua orang polisi yang berjaga-jaga tak jauh dari ruang itu.


"Bang!" Ferddy menghambur kepelukan Joddy begitu melihat Kakaknya itu mendekat kemudian tangisnya pecah.


"Sudah, aku sudah di sini.Kamu tenang kita akan lewati bareng-bareng." Joddy menepuk punggung Ferddy mencoba menenangkannya.


"Jadi gimana keadaan Ibu?" tanya Joddy melepas pelukkannya.


Ferddy mengusap matanya kasar lalu menatap Kana sejenak sekedar menyapanya . "Ibu masih belum sadar, Bang. Tapi kata Dokter keadaannya sudah stabil. Masa kritisnya sudah lewat."

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Gak tahu, Bang! Ibu ditemukan pingsan di kamar mandi dengan kepala berlumuran darah. Kemungkinan Ibu terjatuh kepalanya terbentur tembok." Ferddy bercerita dengan suara bergetar menahan tangis.


"Shit!"


Joddy yakin itu bukan kecelakaan tapi disengaja. Joddy juga yakin Laras di balik semua ini. Wanita itu benar-benar tidak bisa dibiarkan, tega-teganya dia melakukan itu pada wanita tua.


"Ya sudah. kita doakan Ibu. Abang mau lihat Ibu dulu."


"Hanya dua orang Bang yang boleh itupun gak boleh lama-lama." Ferddy mengingatkan.


Joddy mengangguk lalu menatap Kana. "Mau ikut?"


Tanpa ragu Kana mengangguk lalu mengekori langkah Joddy.


Hati Joddy merasa mencelos begitu masuk ke dalam ruangan di mana Ibunya berada. Tubuh renta wanita itu terlihat lebih kurus dari terakhir Joddy bertemu. Matanya terpejam kepalanya diperban dengan berbagai alat medis di tubuhnya.


"Ibu, Joddy datang sama Kana juga sesuai mau Ibu, Joddy sudah bawa Kana ke sini." Bisikan Joddy di telinga Jihan terdengar menyayat hati. Kana tahu Joddy berusaha tegar padahal dia terpukul melihat keadaan Ibunya seperti ini.


"Ibu, harus kuat. Ibu harus bisa melawan ini. Joddy akan keluarkan Ibu dari tempat itu. Joddy janji Bu.Tapi Ibu harus kuat."


Joddy membungkuk lalu mengusap dahi Ibunya perlahan sebelum mengecupnya.


Kana memutari tempat tidur Jihan lalu berdiri di samping kanan ranjang Jihan. "Tante, Kana sudah maafin Tante. Cepat sembuh biar kita..lebih saling mengenal lagi. Mungkin Kana butuh tips dari Tante biar Kak Joddy gak bandel dan gak tebar pesona." Kana mengenggam tangan Jihan.


Joddy mengernyit. Tebar pesona? Itukan dulu. Sekarang hati Joddy sudah terpaten punya dia.


"Tante mau kan ke nikahan aku sama Kak Joddy? Nanti Kana pilihkan kebaya yang paling bagus buat Tante."


Joddy terperangah mendengar penuturan Kana. Apa itu tandanya Kana menerima lamarannya?


" Tante cepat sembuh, nanti Kana kenalkan pada Ken." Kana menepuk lembut punggung tangan Jihan yang terpasang infus. Lalu menatap Joddy, ketika mata mereka saling bertemu ada gelenyar lembut yang memenuhi hatinya. Senyum dan tatapan teduh pria di depannya selalu bisa membuatnya luluh.


"Maaf, Bapak dan Ibu silahkan keluar, biarkan Ibu Jihan istirahat." Seorang perawat masuk memutus kontak mata keduanya.


"Suster, bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya Joddy.


"Ibu Jihan sudah stabil kita akan menunggu hasil CT-scannya, untuk lebih jelasnya Bapak bisa tanya pada Dokter Galih. Dokter yang menangani Ibu." Suster itu menjawab dengah ramah, lalu meminta Kana dan Joddy untuk segera keluar dari ruangan ICU.


Kana dan Joddy lalu berpamitan pada Jihan lalu keluar meninggal Jihan. Ada perasaan lega mendengar keadaan Ibunya sudah stabil. Joddy akan bertanya lebih dalam pada polisi nanti.


"Na, jadi kamu terima lamaran aku?" Itu adalah pertanyaan pertama yang Joddy ajukan begitu keluar dari ruang ICU.


Kana tak langsung menjawab dia lebih memilih diam dan berjalan cepat mengabaikan Ferddy yang menawarinya kopi.


"Hei?" Langkah Kana terhenti saat Joddy berdiri menjulang di depannya.


Kana menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.


"Dek, kamu terima lamaran aku?" Joddy memengang dagu Kana,.menariknya agar pandangan mereka bertemu. Dua orang polisi yang sejak tadi tadi duduk pun mau tak mau mengamati keduanya


"A-aku memang bilang kita mau menikah tapi... bukan sekarang. Lagi pula aku belum bilang 'iya'." Kana gugup saat bicara dan itu membuat Joddy sedikit lega, paling tidak Kana ada rencana menikah dengannya walaupun entah kapan.


"Ya, sudah bilang 'iya' sekarang saja."


"Enak saja. Nanti kalau Papa udah ngasih restu," sahut Kana lalu berjalan menghampiri Ferddy yang menatap mereka binggung.

__ADS_1


Joddy tersenyum. "Gadis kecilku."


***


__ADS_2