
"Masuk!" Joddy melebarkan pintu apartemennya agar Kana bisa leluasa masuk ke dalam. Kana tak bergeming dari tempatnya berdiri, dia masih terlalu shock karena Joddy benar-benar menjemputnya di Starbucks dengan wajah muram.
"Kak, aku harus balik ke kant-"
"Aku udah minta tolong Dipta buat izinin kamu pulang karena ada urusan mendadak dan urgen." Joddy menyela kata-kata Kana.
Kana menyipitkan mata saat mendengar kata-kata Joddy, urusan urgen apa? Karena dia tidak membalas pesan Joddy? Atau gara-gara tes alay itu? Ah, semua gara-gara Key dia yang meminta Kana untuk mencoba tes aneh itu.
"Masuk!" perintah Joddy sekali lagi. Kana masih tidak bergeming. Dia seorang wanita, janda pula. Apa kata orang kalau mereka tahu dia berada di tempat pria masih single pula?
Boleh gak sih?
" Cepat masuk! Atau mau aku gendong kayak karung beras?" Joddy mengangkat satu alis, menantang. Kana mendengus dan memilih masuk ke dalam apartemen Joddy.
"Aku tidak akan ngapa-ngapain kamu," kata Joddy begitu Kana sudah masuk ke dalam apartemen. "Kecuali kamu yang mau diapa-apain," imbuhnya saat menutup pintu membuat Kana menatapnya garang.
"Becanda, Sayang!" Joddy mencolek dagu Kana sambil lalu.
Kana memdecih lalu mengikuti Joddy dari belakang. Matanya mengamati isi apartemen Joddy yang bergaya Timur Tengah. Sepanjang lantai ruang tamu terbentang karpet bulu halus, furniture-nya kebanyakan dari kayu, dindingnya di cat putih gading memberikan kesan hangat.
"Aku mandi dulu ya, gerah!" Joddy melipat lengan bajunya sampai siku.
Kana melirik jam di pergelangan tangannya. "Lho Kak, enggak balik kantor?"
"Aku izin ada kepentingan urgen." Joddy mengedipkan sebelah matanya kemudian berlalu menuju sebuah ruangan yang Kana tebak adalah kamar pria berkacamata itu.
15 menit kemudian Joddy sudah keluar dari kamarnya, rambutnya sedikit basah. Kacamata sudah tidak membingkai wajah tampannya. Dia hanya memakai kaos putih dan celana pendek. Sederhana tapi tetap saja ganteng.
Kana menelan ludah. Kenapa Joddy kelihatan begitu ....
__ADS_1
seksi! Ih, Kana pikiran kamu!
"Enggak ambil minum? Diem-diem bae?" Joddy mengeleng pelan lalu berjalan menuju dapur.
"Maaf, aku cuma punya minuman kaleng."Joddy datang membawa dua kaleng minuman susu murni bergambar beruang putih.
"Kakak serius minum ini?" Kana mengambil sekaleng susu lalu meneliti detailnya.
"Iya, aku punya stok banyak, kenapa memang?"
Kana menahan senyum lalu menggeleng pelan. Kana kira Joddy yang terkenal bad boy itu minumannya akan lebih garang. Bir kaleng misalnya. Ini kenapa susu?
"Kamu mikir apa?!" Joddy menempelkan minuman dinginnya ke pipi Kana lalu duduk di sampingnya.
"Enggak ada." Kana menggeleng pelan lalu membuka kaleng dan menyesap isinya mengabaikan tatapan Joddy yang tajam.
Kana menatap Joddy tak percaya. " Astaga, jadi kamu nyulik aku hanya untuk nanya ini, Kak? Dan ya ampun... itu hanya permainan anak alay, Key yang menantangku untuk melihat seberapa cintanya kamu sama aku. Apakah hanya karena fisik atau emang semua kekurangan yang aku miliki." Kana benar-benar tak habis pikir Joddy akan menanggapinya serius.
"Dan apa hasil tesnya?" tanya Joddy dengan wajah galak.
Kana gelagapan saat Joddy mengubah posisi duduknya menghadap Kana. " Ya, apa ya..aku..belum begitu yakin?"
Joddy tersenyum. "Belum yakin ya? Apa menjaga keperjakaanku selama 36 tahun hanya untukmu belum meyakinkan?"
"Uhuk..uhuk..uhuk."
Kata-kata Joddy barusan membuat Kana tersedat minuman dan nyaris menyemburkannya ke arah Joddy
"Kenapa?" Joddy menahan tawa.
__ADS_1
"Emang beneran kamu masih-" Duh, terlalu vulgar gak sih?
Joddy mendecih. " Kamu pikir aku PK, Dek?" Joddy mengusap-usap kepala Kana penuh sayang.
"Bukannya pacar Kaka-"
"Banyak? Emang, tapi tidak ada yang berakhir di ranjang," potong Joddy mengangkat bahu acuh. Dia bicara apa adanya. Ibunya yang super kolot itu bisa ngamuk-ngamuk kalau tahu dia buka 'segel' anak orang.
Kana menatap Joddy takjub. Bagaimana mungkin, di zaman serba canggih masih ada pria perjaka di usia 36? Entah ini anugerah atau musibah buat Kana, karna dia sadar Joddy bukan yang pertama untuknya dan juga dia masih selalu teringat tentang Adrian? Apa dia pantas?
"Eh, jangan terlalu terpesona begitu dong, Na! Sampai liur kamu netes tuh!" Joddy membuyarkan lamunan Kana. Buru-buru Kana mengusap sudut bibirnya, sadar kalau Joddy menggodanya Kana langsung melayangkan tinjunya di bahu Joddy yang terkekeh geli itu.
"Dari dulu aku bisa nahan, tapi kalau sama kamu-" Joddy memberi jeda menatap Kana dalam-dalam. Pandangannya menelusuri wajah Kana. Mulai dari mata, hidung dan berhenti di bibir Kana yang mungil, merah dan kelihatannya manis. Joddy jadi penasaran bagaimana rasanya.
"Aku gak yakin bisa nahan diri," imbuh Joddy entah setan mana yang lewat, tiba-tiba tangan Joddy terulur menarik tengkuk leher Kana mendekat ke wajahnya lalu menempelkan bibirnya ke bibir mungil Kana mengecupnya beberapa detik lalu menarik diri menjauh untuk melihat reaksi Kana yang baru saja membuka matanya. Jadi tadi Kana menutup mata saat mereka berciuman?
Mata Kana mengerjap, tadi itu apa? Joddy menciumnya? Kenapa masih terasa walaupun hanya beberapa detik?
Belum hilang keterkejutan Kana, Joddy menciumnya lagi kali ini lebih dalam dan terkesan menuntut. Joddy mengigit bibir bawah Kana mencari akses untuk masuk lebih dalam lagi. Tanpa sadar tangan Kana terulur memeluk leher Joddy dan menekannya. Sungguh, ini ciuman pertama mereka. Dan Kana merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Joddy pencium yang handal bukan bermaksud membandingkan tapi Joddy berbeda dengan Adrian. Keduanya sama-sama memabukkan tapi Joddy lebih....
Kana tersentak kaget saat tangan Joddy dengan terampil melepas satu kancing teratas kemejanya. Dua... tiga...! Tiga kancing kemeja Kana sudah terlepas dari pengkaitnya. Joddy benar-benar multitasking.
"Na, tolong bilang stop!" Kata-kata Joddy lebih berupa gumaman karena dia ucapkan di sela-sela ciuman mereka. Kana hanya diam akal sehatnya terbang entah kemana . Darahnya berdesir, jantungnya pun berdegup kencang apalagi tangan bebas Joddy bergerilya ke sana kemari membuat Kana lupa diri. Kemeja Kana sudah melorot memperlihatkan bahu putih mulusnya. Ini salah. Kana tahu itu, tapi semua terasa benar.
Aku mencintai pria ini. Maafkan aku Kak Ian. Maafkan aku.
Tiba-tiba Joddy menarik diri menjauh dari Kana. Dia menatap Kana tajam. Bola matanya yang menggelap berangsur hilang. Joddy berdiri lalu bergegas masuk ke dalam kamar meninggalkan Kana dalam keadaan berantakan. Kana tercenung kenapa Joddy bertingkah aneh atau jangan-jangan tadi dia tidak bicara dalam hati tapi.... astaga! Pasti Kana memanggil nama Adrian saat mereka berciuman dan membuat Joddy salah paham.
******
__ADS_1