
Haiiiii guys! terimakasih untuk yang sudah menunggu cerita ini. Love you all. Happy, reading!
**********
Jika ada orang yang paling bahagia sedunia hari ini, maka dia adalah Kanda. Pria berusia 34 tahun itu tak henti-hentinya menebar senyum. Mulai dari bangun tidur sampai sekarang bersiap mengucapkan ijab-kabul senyum manis tak lepas dari bibirnya. Ketika kebanyakan calon pengantin pria gugup tidak begitu dengan Kanda, dia tampil percaya diri dan santai. Semua orang yang melihatnya sampai keheranan.
"Kenapa mesti gugup atau takut salah. Inikan hari yang ditunggu-tunggu. Cuma pria cemen yang gugup di hari pernikahannya. " Itu jawaban percaya diri yang Kanda berikan saat ada yang bertanya tentang dirinya yang terlihat begitu santai tanpa beban.
Bahkan saat para saksi mengucapkan kata 'sah' Kanda langsung membuat celebrate dengan mengangkat kedua tangannya dengan kepala menengadah seperti seorang pemain bola yang baru saja berhasil memasukan bola ke gawang lawan. Kanda sama sekali tidak malu, karena rasa malunya sudah ditanggung oleh pengantin wanita dan kedua keluarganya. Hanya Ken yang bertepuk tangan dengam bangganya pada Sang Paman yang terlihat keren di matanya.
Malamnya Kanda dan Nea mengadakan resepsi bertemakan pesta kebun di sebuah hotel. .Kana yang malam itu merupakan salah satu pendamping wanita cukup surprise saat tahu tema yang diusung kedua pengantin. Tamu yang diundang hanya kalangan sahabat dan rekan kerja saja. Moli yang kebetulan liburan ke Indonesia itupun menyempatkan diri datang kepernikahan sahabatnya, dan sekarang para wanita itu sedangp asik bergosip di kamar yang sudah di pesan Kanda kamar pengantin mereka berdua. Ranjangnya sudah dihiasi dengan kelopak bunga mawar. Ada juga lilin aroma therapy yang sudah dinyalakan, padahal resepsi mereka baru akan dimulai.
"Na, jadi kamu sama Kak Joddy-"
"Jangan dibahas lagi." Kana memotong kata-kata Moli. Dia memperhatikan Nea yang sedang dimake up oleh MUA.
Kana memang baru saja menceritakan kisah cintanya yang begitu rumit, semua Kana ceritakan kecuali masalah perbuatan Joddy malam itu. Kana tidak sepenuhnya menyalahkan Joddy. Dirinya pun ikut andil hingga dosa itu terjadi. Kalau saja dia langsung pulang pasti tidak ada kejadian itu.
Dan sialnya, entah kenapa Laras tiba-tiba datang paginya ke apartemen Joddy, dan menyuruh Kana untuk mengatakan jika Laraslah yang membantu Joddy ke apartemen, dia dan Kevin hanya membantu mengantar pulang. Entah apa yang direncanakan Laras, Kana tidak mau tahu. Dia masih ingat dengan jelas ketika Laras bilang jika pertunangan mereka sudah dekat jadi hubungan mereka sudah tidak ada harapan. Ibu Joddy mempunyai penyakit jantung jika mereka memaksakan hubungan maka bisa dipastikan itu akan memperburuk kesehatan Jihan.
"Kenapa kamu gak nyoba berjuang dulu sih, Na? Malah nyerah dan ngelepas Joddy buat wanita yang dijodohin sama dia." Moli sepertinya tidak terima jika Joddy pria yang menurutnya paling hot sedunia versi -Moli sebelum menikah- itu bersanding dengan wanita lain. Selain itu Moli juga tidak terima kalau Kana masih sendiri sedangkan kedua temannya sudah punya pendamping.
"Cantik sih Laras itu. Tadi aku ketemu dia datang sama Joddy. Tapi tetep aja kalau nikah sama Joddy, aku gak terima."
Kana termangu di tempatnya. Tangannya mengepal kuat. Jadi, Joddy datang berdua dengan Laras? Rupanya mereka sudah mulai go public. Tapi kenapa ya Kana tidak suka mendengar hal itu?
"Eh, tapi yang bikin aku heran, kenapa Laras-Laras itu maksa kamu buat bilang kalau dia yang membantu Joddy. Kira-kira apa rencana wanita itu?" sahut Nea, kali ini dia sudah selesai make up bajunya pun sudah berganti.
Kana terdiam sejenak. Mudah dibaca sebenarnya, bisa saja Laras akan mengaku dialah yang tidur dengan Joddy dan bukan Kana. Penyakit jantung Jihan bisa saja hanya alasan untuk menekan Kana agar meninggalkan Joddy. Tapi apa benar wanita secerdas Laras akan melakukan hal murahan seperti itu?
"Sudahlah, tidak usah kita bahas lagi. Aku dan Kak Joddy memang tidak berjodoh. Dia berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik." Kana ingin mengakhiri topik bahasan tentang dirinya, dia sudah terlalu lelah untuk sekedar membicarakan apa yang tengah terjadi.
"Tapi pokoknya Na, aku gak rela kalau Joddy Si My Hot Man itu sampai nikah sama orang lain apalagi sama wanita yang namanya Laras itu. Katanya S2 tapi kelakuan SMP ," omel Moli membuat Kana tersenyum dia rindu sekali dengan sahabatnya ini. Dari dulu jika ada yang menindas Kana dalam bentuk apapun Moli-lah orang pertama yang akan membelanya. Se- so sweet itu memang.
"Hey, Ladies. Mohon yang janda dan suaminya bule minggir dulu raja dan ratu mau ke singgasana."
Perhatian ketiga wanita itu teralih saat Kanda masuk dan berjalan menghampiri Nea yang tersipu malu itu.
"Let's go babe!" seru Kanda penuh semangat, tangannya terulur ke depan yang disambut suka cita oleh Nea. Moli dan Kana hanya tersenyum. Lalu mengikuti kedua pengantin itu untuk mengikuti resepsi.
Alunan musik lembut dari lagunya since i found you-nya Christian Bautista mengalun merdu menambah suasana acara resepsi Kanda dan Nea makin romantis. Kedua pengantin sejak tadi tak hentinya tersenyum menyalami para tamu. Kana yang tersenyum ikut merasakan kebahagiaan keduanya. Moli dan suaminya sedang asik hunting makanan bersama Rein anak perempuan mereka yang masih berusia 4 tahun dengan mata biru dan pipinya yang menggemaskan. Kana tertawa kecil saat Rein cemberut karena Ayahnya yang bule itu mengambil sepotong kuenya.
__ADS_1
"Dek."
Tawa Kana pudar seketika saat melihat sosok pria di depannya. Pria yang beberapa hari lalu membuatnya merasa menjadi 'murahan'. Pria yang sebisa mungkin harus dia hindari, maka tanpa membalas sapaanya Kana bergegas pergi, tapi seperti tahu gelagat Kana yang akan melarikan diri darinya secepat kilat Joddy memengang tangan Kana dan menariknya menjauh dari banyak orang.
Kana tidak tahu akan dibawa ke mana. Joddy menyeretnya menjauh dan menaiki lift tanpa mengucapkan apa-apa. Mata Kana terbelalak lebar saat sadar Joddy membawanya ke kamar pengantin Nea dan Joddy. Dari mana dia punya akses untuk masuk ke kamar yang sudah disewa Kanda ini?
"Kamu udah gila, Kak!" Kana nyaris teriak saat Joddy menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Kita harus bicara." Joddy tidak mempedulikan kata-kata Kana dia lalu berdiri tepat di depan Kana. Mengamati wanita yang sangat dia cintai itu dalam-dalam.
Kana mundur untuk memberi jarak agar Joddy tidak terlalu dekat dengannya. Tapi jangan panggil Joddy jika mengalah. Kana mundur selangkah maka Joddy akan maju dua langkah.
"Kak, cepat keluar! Kalau tidak mau pasangan kita masing-masing salah paham!" Kana mencoba memgingatkan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Laras tahu mereka berada di ruangan ini.
"Perset** dengan mereka!" Joddy tak acuh, dia memang tidak peduli dengan Laras. Ketika Jihan memaksa mengajak Laras untuk ikut ke pernikahan Kanda inipun sebenarnya dia tidak peduli. Joddy sepanjang perjalanan dan berada di sini dia tidak mempedulikannya, hanya Kana yang ada di pikirannya. Lalu dengan sedikit ancaman pada Kanda akhirnya dia mendapat akses kamar ini. Kanda yang takut rahasianya terbongkar karena punya koleksi banyak sekali 'fim biru' akhirnya menyerah dan memberi akses kamar pengantinnya dengan suka rela saat Joddy mengancamnya akan membocorkan rahasianya pada Nea.
"Kita harus bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Kak!" Kana menjauh dari Joddy mendapat perlakuan seperti itu tidak lantas membuat Joddy terpancing amarah dia harus tetap bersabar dan tidak gegabah merespon perlakuan Kana terhadapnya itu.
"Ada."
"Jangan mendekat!" Kana mencegah Joddy dengan tangannya tapi itu tak membuat Joddy gentar.
"Jawab pertanyaanku!"Joddy berhenti. " Apa kamu yang malam itu bersamaku?"
Kana terkesiap mendengar pertanyaan Joddy itu, berarti dugaan dia benar. Bisa jadi Laras memang yang mengaku bersama Joddy di malam dia mabuk.
" Bukan aku. "
"Tapi kamu yang membawaku pulang, dan aku tahu sekali kamu tidak akan meninggalkan aku begitu saja."
Kana tersenyum hambar lalu menatap Joddy tajam. "Aku bersama Kevin dan ada Thomas yang menunggu di bawah saat itu. Lagipula kenapa kamu yakin sekali kalau aku tidak akan meninggalkanmu padahal jelas-jelas ada Laras tunangan kamu itu." Kana mengalihkan pandangannya, tatapan Joddy lama-lama bisa membuatnya goyah.
Joddy tertawa kemudian berseru," Omong kosong, Kana!" Lalu berjalan mendekati Kana yang segera bergerak menjauh.
"Aku tahu itu kamu. Kamu yang malam itu bersamaku."
"Bukan aku! Sudah aku katakan sedari tadi kalau itu bukan aku!" Kana tak menyerah untuk berusaha mengelak.
Joddy tertawa sinis lalu berjalan lebih cepat ke arah Kana hingga Kana yang tak sempat menghindar itu tersudut punggungnya terasa membentur dinding yang keras dan dingin.
__ADS_1
"Kalau begitu akan kubuktikan." Joddy tersenyum miring dengan dua tangan berada di sisi kanan-kiri Kana mengurungnya agar tidak kabur.
Kana mendadak tremor, tiba-tiba saja kejadian malam itu melintas di pikirannya. Ada rasa cemas yang tiba-tiba dia rasakan. Bagaimana kalau kejadian di malam itu terulang lagi? Tidak ... tidak....
Saat itu Joddy sedang mabuk jadi dia tidak sadar saat melakukan itu. Kana yakin sekali Joddy hanya memancingnya agar dia memberi reaksi yang sama seperti malam itu. Tenang Kana, tenang. Joddy tidak akan melakukan saat kesadarannya penuh.
"Kamu pikir aku tidak akan melakukannya? Kamu salah, Kana. Kita sudah pernah melakukannya sekali dan aku yakin rasanya pasti akan sama atau malah akan lebih karena aku melakukannya dalam keadaan sadar?" Lihat, salah satu bukti jika Joddy selalu tahu apa yang ada di pikiran Kana. Dia seperti cenayang yang bisa tahu apa yang di pikirkan Kana. Tapi tidak, Kana tidak akan terpancing dengan kata-kata Joddy dia harus bisa meyakinkan Joddy kalau malam itu memang bukan dia.
"Lalu kamu pikir aku akan takut? Aku juga mengenalmu. Kamu tidak akan melakukan apa-apa. Terlebih di luar sana banyak keluargaku, tunanganmu dan tentu saja pacar baruku." Seperti mendapat mukjizat dari langit, kepercayaan diri Kana muncul. Dia berkata dengan dagu terangkat menunjukkan kalau Kana tidak takut padanya.
Joddy tersenyum dengan kepala dimiringkan. " Kamu salah Kana! Kamu berani menantangku. Dan perlu kamu ingat, kamu harus bertanggungjawab atas apa yang sudah kamu lakukan!"
"Bertanggungjawab untuk apa?" sambar Kana cepat, lalu mengutuk dirinya sendiri karena terlalu.cepat bertanya.
Joddy tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke arah Kana yang refleks memundurkan kepalanya ke belakang. Sayangnya, dinding sialan ini menghentikan pergerakkannya.
"Kamu harus bertanggungjawab karena sudah mengambil keperjakaanku," bisik Joddy membuat mata Kana terbelalak tak percaya.
"Aku tidak harus bertang-" Kata-kata Kana terpotong karena bibir lembut Joddy membungkam bibirnya dengan cepat. Kana terperanjat tangannya berusaha mendorong dada Joddy agar menjauh darinya tapi dengan cepat Joddy mengambil kedua tangan Kana dan menahan di kedua sisinya.
Sial!
Joddy tidak memberi Kana kesempatan untuk melawan, di saat Kana lengah dia mengigit bibirnya lalu dengan lidahnya menelusup ke dalam dengan mudah. Kana ingin melawan tapi sialnya reaksi Kana terhadap sentuhan Joddy sungguh berkhianat.
"See, rasanya sama, masih sama dengan malam itu." Joddy melepas ciumannya. Keduanya terdiam dengan napas terengah-engah.
"Jadi benar kamu kan malam itu?" Joddy menyatukan kening mereka.
"Ciuman tadi tidak membuktikan apa-apa," balas Kana dia tidak boleh terpancing dengan apa yang baru saja Joddy lakukan.
"Oh, begitu? Ciuman tadi rasanya sama. Bagaimana dengan ketika aku memasukimu?" tantang Joddy dengan vulgarnya. Kana tersentak kaget. Astaga! Apa yang akan dilakukan pria ini padanya.
"Apa?"
Joddy tersenyum miring lalu mendorong Kana ke arah ranjang dan menindihnya. "Kita lihat, apakah rasanya akan sama?"
Sial, kenapa kata-kata Joddy barusan terasa seduktif di telinga Kana? Membuat darah Kana berdesir seperti ada jutaan kupu- kupu yang saling bertabrakan di perutnya. Kana terkesiap saat tiba-tiba Joddy menciumnya dalam tanpa memberinya kesempatan melawan.
*****
Jangan lupa main di Ig aku ya😅@kanayaofie
__ADS_1