Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Pembohong!


__ADS_3

"Pria brengsek!"


Kana tertawa sinis, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Pria itu benar-benar mengecewakannya. Sudah diberi kesempatan ternyata di belakang dia masih saja bermain gila. Semua yang dikatakannya palsu. Bicara seolah-olah pria lurus, tapi nyatanya tetap saja brengsek!


Kana ingin sekali menghampiri keduanya bermaksud menangkap basah. Tapi dia masih waras untuk melakukannya itu sama saja dia mempermalukan dirinya sendiri dan suaminya.


Kana hanya mengikuti ke mana pria dan wanita itu pergi dengan menahan amarah di hatinya. Mereka berdua terlihat bahagia saling melempar senyum bahagia satu sama lain tanpa peduli ada hati yang tersakiti. Terbuat dari apa hati mereka.


Pembohong benar-benar pembohong. Katanya sudah tidak ada hubungan apa-apa tapi nyatanya masih saja berhubungan di belakang.


Jahat!


Kejam!


Kana tersentak kaget saat ponsel di tangannya bergetar karena ada panggilan masuk. Kana memperhatikan dua orang yang sedang berhenti di sebuah toko perhiasan sebelum akhirnya mengangkat telepon dari suaminya.


"Iya, Kak. Kenapa?" Mata Kana tetap fokus pada dua orang yang sedang sibuk memilih perhiasan. Mengawasi jangan sampai mereka hilang dari pandangannya.


"Masih di mall?"


"Hmm, iya." Kana tidak terlalu fokus pada Joddy yang sedang bicara di ujung telepon. Fokusnya pada dua orang yang mulai menjauh dari pandangannya.


"Katanya udah mau pulang?"


"Iya, bentar lagi." Kana berlari kecil saat melihat dua orang itu keluar dari toko perhiasan sepertinya mereka tidak jadi membeli barang di sana.


"Jangan lari, Kana!"


Kana mengernyit bingung, dari mana Joddy tahu dia sedang berlari. Ah, paling cuma nebak! Tidak penting. Yang penting saat ini adalah dua orang yang mulai menjauh dari pandangannya.


"Kak, nanti lagi ya, aku buru-buru!" Kana mematikan ponselnya lalu bergegas mengejar dua orang itu. Tapi langkahnya terhenti saat sebuah tangan menariknya.


"Kak Joddy?!" desisnya tertahan, "Kok bisa ada di sini?" Matanya membulat saat melihat Joddy tidak sendiri melainkan bersama Kevin dan Sania.


"Mbak Sania! Apa kabar?" Kana dan Sania lalu saling berpelukan sebentar. Kana mengenal Sania karena teman Adrian juga, mereka sering bertemu jika Adrian mengajaknya ke acara kantor.


"Kamu mau ke mana? Buru-buru banget?" tanya Joddy keheranan.


Gugup, Kana mengalihkan pandangannya ke arah dua orang yang kali ini benar - benar sudah menghilang dari pandangannya. Syukurlah, Joddy sepertinya tidak sempat melihat dua orang itu. Kalau sampai Joddy melihat Ayah dan Laras entah apa yang akan dia lakukan, apalagi di depan Sania dan Kevin.


"Oh, aku...aku.." Kana mengigit bibirnya panik matanya menatap ke segala arah.


"Kamu?" Joddy menunggu jawaban Kana.


"Aku-nyari toilet, Kak!" Akhirnya Kana menemukan sebuah jawaban yang sedikit masuk akal. Tidak mungkin dia menjawab akan mengejar Heru dan Laras. Setidaknya untuk sekarang.


Wanita itu rupanya sudah kembali dari Jerman dan dia menjalin hubungan lagi dengan ayah mertuanya. Sungguh keterlaluan.


"Kana!" Joddy mencubit pipi Kana gemas karena sang istri terlihat melamun.


"Eh. Kalian kok bisa ada di sini katanya makan siang?"Kana mengalihkan perhatian Joddy agar tidak curiga padanya.


"Boro-boro makan siang. Kita berdua cuma dijadiin kacung sama dia!" sunggut Kevin kesal, perutnya lapar dan dia sejak tadi hanya mengikuti Joddy dan Sania yang sibuk memutari mall untuk membeli hadiah dan skin care untuk Kana, yang katanya sedang ngambek. Tapi apaan, Kana terlihat biasa saja tidak marah ataupun kesal.

__ADS_1


" Kenapa begitu?" tanya Kana.


"Tuh, si Bucin minta ditemenin beli-"


"Beli ATK kantor!" sambar Joddy menyela Kevin yang nyaris keceplosan. Ini kejutan buat Kana jangan sampai tahu dulu lah.


"Mumpung ketemu di sini, makan saja yuk!" Sania seperti bisa membaca maksud dari Joddy dia lalu mengandeng tangan Kana membimbingnya berjalan lebih dulu tanpa menunggu persetujuan para pria di samping mereka.


*


Kana menatap makanan di depannya dia tidak terlalu berselera karena memang sudah makan. Tapi Sania memaksanya untuk memesan makanan. Jadilah, dia memesan salad buah.


Kana masih memikirkan apa yang baru saja dia lihat tadi. Kana tidak salah lihat, jelas-jelas itu tadi Heru dan Laras. Laras ternyata memang sudah kembali ke Indonesia dan bertemu diam-diam dengan mertuanya.


Mereka tadi tampak bahagia. Apa benar yang Laras katakan, jika dia kembali ke Indonesia maka Heru akan merangkak kembali padanya? Lalu bagaimana dengan Jihan? Bukannya Jihan kemarin bilang Heru sudah tidak ada hubungan apa-apa dan mereka akan rujuk?


Astaga, Kana tidak habis pikir. Benar-benar tidak habis pikir. Heru tidak berubah. Dia jahat, benar-benar jahat!


"Jahat!" Tanpa sadar Kana membanting sendok di tangannya sampai jatuh ke lantai. Membuat tiga pasang mata menatapnya bingung.


"Kamu kenapa, Na?" tanya Joddy keheranan lalu mengambil sendok Kana yang jatuh dan menggantinya dengan sendok baru yang disediakan di meja restoran itu.


"Lo dijahatin Pak Bos? Emang dasar dia-auhhh!" Kevin tak melanjutkan kata-katanya saat Joddy menendang kaki Kevin di bawah meja.


"Oh, enggak. Ini semalam aku nonton drama korea yang pemain prianya jahat banget sama istrinya kesalnya masih kebawa sampai sekarang ," sahut Kana lalu pura-pura sibuk mengaduk saladnya agar mereka tidak curiga.


"Kayaknya perannya jahat banget ya, sampai kamu kebawa emosi begini." Sania dengan ilmu psikologinya jelas tahu kalau Kana sedang berbohong tapi dia tidak mau mengatakan secara gamblang karena bukan urusannya.


"Heheh gitu deh!" Kana cengengesan membuat Joddy mendecih kesal dengan kebiasaan sang istri yang bisa begadang semalaman hanya untuk menonton drama Korea.


"Emang kenapa? Para aktor Korea itu semuanya best kisser lho!" sindir Kana menekan kata best kisser. Membuat pria berkacamata itu terbatuk-batuk.


Masih diungkit aja! Joddy kira Kana sudah tidak kesal rupanya masih saja ingat.


"Emang yang ini gak hebat ciumannya, Na?" kikik Kevin saat melihat Joddy melotot ke arahnya.


"Kalau kata MANTANNYA sih, dia best." Lagi dan lagi Kana menyindir Joddy.


Joddy berdehem sejenak lalu melirik Kevin tajam sebelum akhirnya menatap istrinya lembut. "Maaf deh, tapi aku gak pernah ngapa-ngapain kok sama Icha. Kamu kan tahu sendiri aku masih perjaka sebelum diambil sama kamu."


Kana melotot dengan muka merah padam karena menahan malu. Apalagi Kevin dan Sania menahan tawanya.


"Ish, apaan sih!" Kana mendengus kesal.


Joddy tertawa lalu mengambil paper bag yang tadi dibawa Sania.


"Nih, hadiah buat istri aku."


Kana menatap dua papar bag, yang diletakkan di depan Kana.


"Apa ini?" tanya Kana membuka bergantian kedua paper bag itu matanya membulat saat melihat isi di dalamnya.


"Seriusan ini buat aku?"

__ADS_1


"Tadinya mau aku kasih di rumah buat kejutan tapi kayaknya sekarang aja deh biar keselnya ilang."


Kana tersenyum dengan mata berbinar saat melihat dua paket skin care yang selalu dia pakai. Juga sekotak coklat kesukaannya.


Joddy tersenyum ke arah Sania berterimakasih pada temannya itu karena sesuai dugaan Sania, Kana pasti akan sangat senang dengan hadiah yang dipilihnya.


"Makasih, banget! Kok kamu tahu ini skin care yang aku pakai?"


"Pernah lihat ."


"Oh, pasti minta tolong mbak Sania ya?"


Joddy tersenyum lalu mengangguk.


"Tadinya hadiah yang mau dikasih ke kamu itu, izin buat kerja Na," seru Kevin membuat Joddy menoleh cepat dengan wajah marah tapi Kevin cuek.


"Eh, serius? Aku boleh kerja?"


Sumpah demi mata Kana yang berbinar saat menatapnya, ingin sekali Joddy menganggukkan kepala dan mengatakan 'iya'. Tapi Joddy tidak tega jika harus melihat wajah Kana yang kelelahan saat bekerja, jadi Joddy tetap pada pendiriannya biarkan Kana di rumah menunggunya pulang dan fokus pada anak-anaknya.


"Enggak!" seru Joddy membuat binar - binar di mata Kana menghilang seketika.


"Kenapa?" Kana meletakkan sendoknya kesal. Dia bosen kalau hanya di rumah terus. Dia butuh suasana baru.


"Kamu fokus sama Ken, sama aku juga adik Ken nanti."


Kana mengerutkan keningnya. "Adik Ken? Masih lama!" sungut Kana kesal.


"Kenapa gak nyoba ngelamar ke kantor kita aja, Na?Devisi perencanaan kayaknya lagi butuh staf. Iya, kan?" Sania menimpali. Kevin nyaris tertawa saat melihat wajah Joddy yang sudah panik.


"Wah, benar-"


"Gak!" seru Joddy memotong kata-kata Kana.


"Itu sudah ke isi sama saudaranya pak Agus. Lagipula ada peraturan baru, suami istri dilarang bekerja dalam satu perusahaan." Bohong demi kebaikan gak apa-apa kali ya? Kebaikan siapa? Kebaikan Joddy-lah!


"Aturan darimana tuh?" tanya Kevin.


" Dari gue lah!" Joddy benar-benar tidak akan rela Kana menjadi santapan para pria di kantornya walaupun cuma memandangnya Jody tidak akan pernah rela.


"Halah, bilang aja lo gak rela istri lo digodain anak kantor," Sania menimpali membuat wajah Joddy salah tingkah.


Kana terkikik geli. "Dasar bu-cin!" cibirnya.


"Aku tuh di rumah bosen, Mbak. Apalagi Ken udah masuk TK. Kebayang gak sih, di rumah cuma ngelakuin Rutinitas yang monoton?" curhat Kana pada Sania.


"Kalau jadi lo, gue mah seneng aja di rumah. Kerja kantoran capek banget, Na. Apalagi kita punya anak kecil. Kalau karena bukan mertua gue yang suka mbandingin gue sama ipar gue yang seorang dosen, ogah gila gue kerja!" balas Sania balik curhat.


"Tuh, dengerin, Na! Enak di rumah nunggu suami pulang. Syukur - syukur nunggunya pake lingerie," sambar Joddy yang langsung mendapat umpatan dari Kevin.


"Enak di kamu, Kak!" seru Kana lalu menyuapkan potongan buah apel ke mulutnya dan mengunyahnya dengan kasar.


Joddy hanya terkekeh. Dalam hati dia benar-benar bertekad akan membuat Kana hamil secepatnya agar dia tidak memikirkan untuk bekerja dan tetap fokus pada Ken dan dirinya.

__ADS_1


******


__ADS_2