Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
sayang


__ADS_3

Kana mengerjapkan matanya beberapa kali. Diliriknya jam yang ada di dinding kamar. Jam 11 malam. Seingat Kana, dia tidur jam 5 sore. Kepalanya pusing dan perutnya begah juga terasa mual jadi Kana memutuskan untuk tidur barang sebentar. Tapi ternyata dia ketiduran sampai melewatkan salat magrib.


Kana menatap sekeliling kamarnya. Sepi, hanya terdengar suara detik jam yang bergerak pelan. Ken tidak tidur bersamanya, itu berarti Ken tidur dengan Mbok Dar di ruang TV yang sejak Kana menginap, ruangan itu dijadikan tempat tidur darurat. Kana mengambil ponselnya menyentuh touchscreenny lalu mendesah kecewa saat tidak menemukan pesan dari Joddy.


Ini sudah lima hari dan Joddy sama sekali tidak ada kabar. Kana jadi meragukan kesungguhan pria itu melamarnya.


Astaga, Kana! Kamu kenapa? Kenapa kamu jadi berharap pada pria itu?!


Kana menggeleng keras-keras lalu beranjak dari tidurnya. Perutnya sudah tidak begah lagi dia juga tak merasa mual malah sekarang dia lapar sekali.


Langkah Kana berhenti di depan pintu saat dia melihat pemandangan yang baru sekali ini dia lihat sejak tinggal di sini. Ken yang tertidur di pelukan seorang pria. Apa itu Evan? Ah, rasanya tidak mungkin. Nadi akan melarangnya menginap di tempat ini. Apa itu Kanda atau Papanya? Itu lebih tidak mungkin.


Mereka sedang ada di Jakarta, rasanya tidak mungkin tiba-tiba ada di Sini. Atau dia....


Kana bergegas menghampiri dua orang yang tengah tidur berpelukan, matanya membelalak lebar saat melihat siapa yang tidur bersama Ken itu.


"Kak Joddy?!"


Pria yang merasa disebut namanya menggeliat lalu menatap ke arah Kana dengan mata mengantuk.


"Hai," sapa Joddy dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Maaf, aku bangunin ya?" Kana duduk jongkok di dekat Joddy dan Ken yang sedang tidur. Joddy menggeleng pelan melepas pelukan Ken lalu menyelimutinya.


"Kapan datang?" tanya Kana setengah berbisik takut membangunkan Ken.


"Jam 10. Tadi jam makan siang langsung berangkat. Naik mobil sendiri."


"Kakak, ke sini nyetir sendiri?" Kana menutup mulut dengan telapak tangan saat sadar suaranya bisa saja buat Ken bangun.


Joddy mengangguk."Hemat waktu. " Joddy lalu duduk di sofa sambil merengangkan badan ke kiri dan ke kanan.


Kana mengernyit, bukannya lebih hemat waktu itu, naik pesawat? Ah, sudahlah, yang penting Joddy ada di sini dalam keadaan sehat. Entah kenapa melihat Joddy hatinya lebih tenang. Ada perasaan senang bisa melihat pria tampan ini di depannya.


Stop Kana!


"Kenapa gak bangunin aku?"


Joddy memegang tengkuk lehernya yang terasa pegal. "Kata Mbok Dar kamu lagi gak enak badan. Aku gak enak mau bangunin. Tadi saja Ken sempat bangun lalu tidur lagi."


Joddy melirik Ken lalu menatap Kana yang duduk jongkok di dekat Ken tidur, saat mata mereka bertemu ada semacam rasa yang ingin mereka luapkan.


Joddy yang pertama memutus kontak mata mereka. " Jangan duduk di situ nanti kalau penuh susah lho buangnya," godaan Joddy membuat Kana mendecih lalu berdiri.


"Aku mau makan. Kamu sudah makan?" tanya Kana sambil lalu ke dapur. Joddy merapikan selimut Ken memastikan anak itu nyaman lalu menyusul Kana ke dapur.


"Mbok Dar masak apa?" Joddy duduk di kursi meja makan mengamati dapur minimalis itu.


"Gak masak. Seharian ini aku mual banget. Nyium bau masakan di rumah ini aja mau muntah jadi aku delivery order saja tadi." Kana mengambil panci mengisinya dengan air dan meletakkan di atas kompor. Tapi sekarang Kana sangat lapar. Apa karena ini bawaan bayi ya? Bayi ini senang karena bertemu Ayahnya?


"Mau masak apa?" Joddy menatap Kana yang membelakanginya dengan tatapan curiga.


"Mie instan."


"Gak boleh!" Joddy cepat mematikan kompor yang baru saja Kana nyalakan.

__ADS_1


"Kak! Apaan sih!"Kana menatap Joddy kesal. Dia lapar dan mie instan adalah solusi paling tepat saat ini, karena mie makanan yang paling cepat untuk dimasak.


" Jangan makan mie instan, kasihan anak aku."Joddy melembut. Dia lupa jika hormon saat hamil akan mempengaruhi emosi ibu hamil, Joddy ngeri saja membayangkan Kana mengamuk lalu mengusirnya. Tidak, tidak, Joddy lelah luar dalam dia butuh istirahat.


" Aku lapar, Kak! Seharian gak enak makan, baru ini enakan." Kana sedikit merajuk. Matanya berkaca-kaca, membuat Joddy terpaku. Wajah ini adalah wajah yang sama belasan tahun lalu. Wajah yang selalu Kana tunjukan setiap dia merajuk.


"Makan yang lain saja."


"Apa?Beling?"ketus Kana sebal.


Joddy tersenyum lembut ibu jarinya mengusap pipi Kana yang masih saja tirus. "Apa saja asal jangan mie instan." Joddy berjalan melewati Kana lalu membuka kulkas.


Kana terpaku di tempatnya, perlakuan sederhana Joddy yang mengusap pipinya tadi membuat hatinya berdesir. Sudah jelas sekarang, hati Kana luluh.


"Ini ada ayam udah dibumbuin. Tinggal digoreng." Joddy mengambil tupperware dan menujukkannya pada Kana.


"Iya, tapi lama." Kana cemberut lalu duduk di kursi, membuang tatapan ke arah samping sebagai tanda jika dia benar-benar kesal.


"Biar aku gorengin, kamu tunggu." Dengan cekatan Joddy memgambil penggorengan dan mulai memasak. Kana melirik Joddy yang mencoba peruntungan dengan memasak sendiri. Kana tahu, walaupun tinggal sendiri tapi pria itu jarang sekali memasak. Apartemennnya hanya digunakan untuk tidur saja.


"Shit!" Joddy mundur ke belakang sambil mengibaskan jarinya yang terpanggang wajan panas.


Kana memutar bola matanya lalu mendekati Joddy. Melihat seberapa parah luka di jari Joddy, setelah yakin pria itu baik-baik saja Kana akhirnya mengambil alih wajan di depan Joddy.


"Biar aku saja." Kana mencepol rambutnya dengan tali rambut memperlihatkan leher jenjangnya, lalu menggulung lengan piyama tidurnya sampai siku, menggeser tubuh Joddy dengan bahunya agar menyingkir.


"Makanya, jangan sok-sokan." Kana melirik Joddy sebal lalu melanjutkan pekerjaan Joddy yang bahkan belum ada separuh jalan.


"Apa kita bangunin Mbok Dar?"


"Jangan!Kasihan udah ngurus Ken dan aku seharian, Kak." Kana melotot kesal dengan usul Joddy itu.


Tapi saat Joddy teringat perdebatannya dengan Laras kemarin, senyumnya memudar, perasaan Joddy kembali gelisah. Perasaannya kembali kacau. Dia ingin Ibunya cepat keluar dari penjara tapi dia tidak sudi jika harus menikahi Laras. Parahnya lagi entah bagaimana caranya Laras bisa menyuruh orang menyakiti Ibunya. Astaga, kepala Joddy rasanya mau pecah.


"Kak!"


Joddy tersentak kaget saat Kana memanggil namanya.dengan setengah teriak.


"Ya?"


"Kamu gak denger aku ngomong apa?" tanya Kana.


Joddy mengutuk dirinya sendiri dalam hati, sial... kenapa dia malah melamun. Padahal tujuan Joddy ke sini untuk mencoba melupakan masalahnya sejenak dengan bertemu Kana dan Ken.


"Iya, maaf. Tadi ngomong apa?"


Kana melengos lalu mengangkat ayam yang sudah matang dan mendiamkannya agar minyaknya berkurang.


"Lupakan!"


Joddy mendekati Kana lalu dengan hati-hati memeluk Kana dari belakang, tubuh Kana menengang beberapa detik lalu rileks saat dia merasakan kenyamanan di pelukan Joddy


"Biarkan begini Na. Sebentar saja," bisik Joddy lalu mencium bahu wanita yang tengah hamil itu dengan hati-hati. Joddy was-was saja Kana akan menolak pelukkannya, paling parah menamparnya. Tapi saat Joddy merasa Kana tidak keberatan dengan sentuhannya Joddy memberanikan diri mengecup bahunya. Sungguh, Joddy merindukan Kana, rindu dengan harum lembut parfum yang Kana pakai, rindu dengan wangi sampo yang kana pakai juga rindu dengan manisnya bibir Kana. Yang terakhir ini sepertinya tidak mudah.


Joddy sangsi apakah Kana mau melakukannya lagi dengannya. Ah, maksud Joddy apakah Kana mau dia cium?

__ADS_1


Shhh... Joddy,Joddy masih saja ngeres!


"Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Kana yang sebenarnya tangannya sudah gat ingin sekali membalas pelukan Joddy, tapi dia masih mempertahankan harga dirinya di depan Joddy.


"Hmm, banyak." Joddy mendesah lelah lalu memejamkan matanya mencoba melepas penat yang sejak tadi menggelayut di benaknya.


Haruskah dia menceritakan apa yang sedang terjadi dengannya sekarang. Tentang Ibunya yang ada di penjara, syarat yang Laras ajukan agar Ibunya keluar dari penjara.


"Mau cerita?" Kana membalikkan badannya menghadap Joddy yang membuka matanya.


"Apa karena Kakak yang hampir seminggu lebih tidak ada kabar?"tanya Kana lagi, Joddy hanya diam. Dia memilih menatap wajah Kana, menikmati wajah cantik Ibu dari anaknya itu.


Tiba-tiba Joddy berjongkok kepalanya dibuat sejajar dengan perut Kana. "Hai, Dek. Maafin Papa ya, seminggu ini tidak memberi kabar ke Bunda kamu. Papa lagi sibuuukk sekalii," bisik Joddy dengan suara lucu, Kana tersenyum. Tak bisa dipungkiri tingkah Joddy itu membuatnya luluh. Benar-benar luluh.


"Papa sudah di sini. Jangan rewel ya?" Joddy mencium perut Kana, tangan Kana terulur mengusap rambut Joddy. Masa bodoh lah dengan harga dirinya.


"Dia udah nendang belum sih Dek?" Joddy menegakkan tubuhnya lalu menatap Kana.


"Belum terasa."


"Tapi bisa dengar suara aku kan?"


Kana mengangguk. "Bisa."


Hening sejenak. Mereka hanya saling berpandangan. Menyalurkan kerinduan melalui mata mereka.


Joddy mengusap pipi Kana."Kamu tahu gak sih, Na?Aku sakit selama ini?"


Kana terkesiap mendengar pengakuan Joddy. "Hah?Sakit apa?" Nada khawatir yang terdengar merdu di telinga Joddy.


"Aku sakit, sakit rindu ingin bertemu kamu." Joddy tersenyum saat melihat wajah Kana yang berubah merah karena tersipu itu. Sungguh cantik, cantik sekali.


"Gak mempan gombalan kamu, Kak!" Kana mendorong sedikit dada Joddy lalu berusaha keras menyembunyikan semburat merah pipinya.


Joddy terkekeh tangannya sudah berpindah di dagu Kana, menariknya perlahan mendekatinya, lalu bisa diduga apa yang terjadi selanjutnya.


Waktu seakan berhenti saat bibir mereka bertemu. Mendadak sunyi menyelimuti. Ah, tidak! Joddy masih bisa mendengar angin yang berhembus di luar sana. Suara jangkrik dan katak yang bersahutan, lalu suara decakan bibir mereka dan itu semua Joddy acuhkan.


Ciuman mereka yang semula hanya berupa kecupan, berubah menjadi *******-******* kecil yang kemudian terus meningkat menjadi ciuman yang mendalam.


Tanpa sadar tangan Kana merangkul sepanjang leher Joddy, menekannya meminta ciuman yang lebih dalam lagi. Membuat Joddy memutar tubuhnya lalu mengangkat tubuh Kana dan mendudukkannya di atas meja makan. Mereka lupa dengan status mereka, di mana mereka berada sekarang dan lupa dengan ayam goreng yang masih Kana tiriskan di atas penggorengan.


Tangan Joddy menelusup ke belakang punggung Kana merasakan lembutnya kulit Kana yang halus. Ciuman Joddy berpindah ke rahang Kana lalu turun ke leher berlama-lama di sana dan tak lupa memberi tanda jejak kepemilikan membuat Kana mengerang tertahan.


"Na, kata Dokter bolehkan?" bisik Joddy menyatukan kening mereka. Kana mengangguk dengan napas yang terengah-engah. Joddy menatap Kana yang terlihat sangat cantik dengan wajah yang memerah dan pandangan mata yang mulai sayu.


"Boleh?"tanya Joddy. Ah, katakan Joddy ini mesum atau apapun, tapi sungguh bagi Joddy Kana adalah candu dan dia rela bertekuk lutut di depannya.


Kana hanya menatap Joddy lalu tersenyum. Jenis senyuman yang mampu mendobrak pertahanan Joddy. Mereka saling berciuman lagi dengan kedua tangan Kana yang masih setia melingkar di leher Joddy.


Joddy baru saja melepas tiga kancing baju teratas Kana dan siap melanjutkan ke step berikutnya. Tapi suara dari perut Kana yang memberi tanda untuk segera diisi meruntuhkan segalanya.


Joddy terkekeh geli lalu mencium kening Kana penuh sayang.


"Makan dulu gih!" bisik Joddy dia memilih menyerah dan menunda. Kana hanya tersipu. Dia tidak sadar jika pria di depannya ini sedang susah payah mengalihkan pikirannya.

__ADS_1


Semesta tidak mendukung Jod!


***


__ADS_2