Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Harta, Tahta dan Laras


__ADS_3

Heru hanya bisa menunduk dengan wajah panik dan tegang saat dia dihadapkan pada kedua anak laki-lakinya yang kini menatapnya penuh amarah dan kebencian yang teramat dalam. Pria paruh baya itu tak mampu untuk sekedar menatap mata mereka.


"Jadi kalian sudah menikah siri selama 6 bulan?!" Joddy tak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia dengar langsung dari mulut Laras. Foto mereka di Jerman diambil saat mereka sedang berbulan madu di sana? Tega sekali.


"Maafkan Ayah, Joddy, Freddy." Heru menatap kedua anaknya bergantian. "Ayah tidak bisa mengelak, Ayah mencintai Laras." Heru mengenggam tangan Laras yang sejak tadi menggelendot manja di lengan Heru membuat Joddy ingin sekali menarik rambut Laras dan menyeretnya menjauh dari Heru tapi itu tidak mungkin Joddy lakukan, mengingat Laras adalah perempuan sama seperti ibu dan istrinya. Bedanya, Laras adalah perempuan yang tidak bisa menjaga perasaan kaumnya.


Lihat saja wajah terluka Laras saat melihat kemesraan pria yang masih suaminya dan juga wanita yang sama yang pernah menorehkan luka yang sama padanya.


"Cinta?Itu bukan cinta, tapi nafsu!!" Joddy mengambil Vas bunga di atas meja lalu melemparkannya ke arah tembok hingga pecahannya berhamburan. Membuat seisi ruangan terkejut melihat tindakannya.


"Kak!" Kana mengenggam tangan Joddy mencoba menenangkan suaminya. Joddy terlihat sangat murka. Rahangnya mengeras tangannya yang bebas mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Kana memperkuat genggaman tangannya berharap emosi sang suami mereda.


"Ceraikan Ibu!" Joddy menatap lurus ke arah Heru dengan pandangan marah. Heru sedikit tertohok dengan cara pandang anak-anaknya terhadap dirinya. Harga diri dan wibawa Heru sudah hilang di mata Joddy dan Ferddy, anak-anak yang dia besarkan penuh dengan kasih sayang.


Heru menggeleng pelan." Tidak bisa, itu tidak bisa!" gelengnya kuat-kuat.


"Kalau begitu tinggalkan wanita keparat ini!" Ferddy yang sejak Joddy menelepon dan memberi tahu tentang Heru menahan amarah, akhirnya bersuara bahkan dia terang-terangan mengarahkan jari telunjuknya ke arah wajah Laras yang masih tenang seakan tidak ada masalah apa-apa. Ferdy tahu ayahnya berselingkuh dengan orang yang sama tapi dia benar-benar tidak menyangka jika keduanya sampai menikah siri.


"Maaf, Ayah juga tidak bisa." Heru menunduk, dan Laras tersenyum penuh kemenangan. Seolah yakin jika Heru tidak akan pernah meninggalkannya. Laras tahu, pria tua di sampingnya ini terlalu tergila-gila dan buta padanya sehingga Laras yakin Heru tidak akan pernah melepasnya. Buktinya saja ketika Laras pergi dan muncul kembali Heru datang dan merangkak lagi padanya.


"Jangan egois!!" bentak Ferddy lalu menendang kursi kosong di sampingnya, Laras langsung merangkul Si Bungsu yang kelihatan sekali penuh dengan emosi dan kemarahan yang meledak-ledak.


Heru hanya menunduk dengan jari jemari yang saling bertautan. "Ayah masih mencintai Ibu kamu, tapi Ayah juga tidak bisa melepas Laras begitu saja. Karena..karena..." Heru terlihat ragu saat ingin mengatakannya terlihat dari caranya bicara dan gesture tubuhnya yang gugup.


"Apa?!!" bentak Ferddy yang memang cenderung lebih emosional dibanding Joddy yang terlihat berusaha menahan untuk tidak menyerang Heru.


"Laras hamil," lirih Heru nyaris berupa gumaman tapi masih bisa didengar oleh seisi ruangan sehingga membuat semua yang mendengarnya tercengang. Terlebih Jihan yang membeku di tempatnya.


Dadanya terasa sesak sampai rasanya dia tidak mampu untuk bernapas. Hatinya terasa sakit karena goresan luka. Luka yang sama yang pernah Heru torehkan padanya. Tapi kali ini luka itu lebih menganga lebar.


"Brengse*!!" maki Joddy siap menerjang Heru tapi dengan sigap Kana menahannya dengan cara memeluk suaminya dengan erat mencoba meredam emosi suaminya itu.


"Tenang, Kak." Kana menatap suaminya yang sudah diliputi dengan amarah.


"Joddy, duduk!" Jihan menarik lengan anak pertamanya untuk kembali duduk. Jihan tidak mau Joddy berdosa karena memukul pria yang telah berkontribusi membuatnya lahir ke dunia. Bagaimanapun sejahat apapun Heru, pria itu adalah ayah kandungnya, ada darah yang mengalir di tubuh kedua anaknya.


"Ini semua bukan salah siapa-siapa. Harusnya saat kamu menjebloskan aku ke penjara saat itu juga harusnya aku sadar kalau aku sudah kehilangan cinta kamu Heru." Jihan akhirnya mampu bersuara. Dia mencoba untuk tidak terdengar gemetar saat bicara di depan Heru dan Laras. Dia juga menahan agar air mata tidak akan lolos satu tetes pun dari sudut matanya.


Jihan tidak akan menangis di depan Heru dan Laras. Jika dia menangis itu hanya akan membuatnya terlihat lemah di depan keduanya dan Laras pasti akan merasa di atas angin karena usahanya untuk menghancurkan hati dan keluarganya berhasil.

__ADS_1


Tidak, tidak!


Jihan tidak akan pernah menangis lagi di depan Heru. Pria yang sudah tidak pantas untuk ditangisi lagi. Pria yang pernah menggores hatinya dan kini dia menggoreskan lagi luka yang sama bahkan lebih menyakitkan dibandingkan dengan luka yang terdahulu.


Luka yang sama dari oleh dan orang yang sama.


Sungguh, Jihan tidak pernah menyangka semua ini akan terjadi lagi. " Kamu datang dan memberi harapan padaku dan anak-anak untuk kembali menjadi keluarga yang utuh seperti dulu. Aku memberimu kesempatan dengan harapan kamu memang benar-benar sudah berubah. Tapi nyatanya-"


"Semua palsu, Heru dan itu adalah hal terjahat yang kamu lakukan padaku dan anak-anak. Alasan apapun yang kamu jadikan pembenaran tidak akan bisa mengubah rasa sakit ini menjadi sesuatu yang bisa dimaklumi."


Jihan menghela napas dia tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Jihan terdiam dia berusaha kuat tapi tetap saja hatinya rapuh.


"Ceraikan Ibu!" geram Joddy tak tahan dengan sikap Heru yang plin-plan dan tidak tegas.


"Tapi Ayah masih mencintai Ibu kalian," sahut Heru masih berusaha mempertahankan pendiriannya.


"Kalau kamu cinta pada Ibuku, kamu tidak akan menyakiti hatinya untuk kedua kali. Itu bukan cinta. Kamu hanya menjadikan Ibu kami sebagai cadangan bila kemungkinan istri kamu yang sekarang menghilang lagi," balas Ferddy. Dia tidak sudi jika ibunya tetap bersama pria jahat di depannya ini. Cukup sudah segala penderitaan yang ibunya alami.


Heru terdiam dengan kepala menunduk sedangkan Laras, dia hanya tersenyum tipis dengan wajah tenang seolah yang dia hadapi adalah hal sepele.


"Kamu tidak mau menceraikan Ibu juga wanita Sundal ini! Itu namanya egois!" Ferddy sudah benar-benar mengabaikan apa itu yang namanya mengormati dan menghargai wanita. Dia sudah dipengaruhi amarah sehingga sudah tidak memperdulikan semua itu.


"Asal kamu tahu aku menyesal menjadikanmu super Hero di masa kecilku." Kali ini suara Ferddy sedikit bergetar saat bicara. Ada rasa kecewa yang selama ini dia pendam. Rasa kecewa yang membuatnya kehilangan kepercayaan sekaligus respectnya pada pria yang ikut andil menghadirkannya ke dunia ini.


"Maafkan Ayah. Ayah memang pengecut. Tapi Ayah tidak bisa meninggalkan atau memilih mereka berdua," ujar Heru membuat seisi ruangan menjadi geram.


Jihan hanya diam tidak ingin mengatakan sepatah katapun. Lidahnya terasa kelu. Seberapapun kuatnya dia mencoba untuk kuat pada akhirnya ada bagian dari hatinya yang terasa remuk.


"Tidak bisa begitu! Ayah harus ceraikan salah satunya!"Joddy mulai tidak dapat menahan amarahnya lebih lama lagi. Ingin sekali dia berteriak di depan wajah Heru untuk segera melepaskan Jihan.


Tapi Joddy masih mencoba memberi kesempatan pada Heru agar dia sadar dengan posisinya. "Pilih, Ibu yang menemani Ayah dari nol atau wanita itu yang bisa saja hanya memanfaatkan perasaan Ayah!" Joddy memberikan pilihan pada Heru.


"Kembalikan Ibu pada kami!"seru Ferddy dengan mata nyalang. Heru tercengang mendengar kata-kata Ferddy tak menyangka anak bungsunya bisa seemosional itu.


"Sudah hentikan!" Jihan mulai lelah dengan semua perdebatan yang anak dan suaminya lakukan.


"Kalian tidak perlu memaksa Ayah kalian untuk memilih."Jihan berkata pada kedua anaknya. Mencoba bersikap tenang.


"Kamu tidak perlu menceraikan Laras, Heru." Laras mencoba tersenyum sontak kedua anaknya menoleh tak terima ke arah Jihan.

__ADS_1


"Bu!" Joddy ingin sekali memprotes tapi Jihan memberi isyarat untuk tenang.


Heru menatap tak percaya ke arah Jihan, apa yang dia bilang tadi? Heru tidak salah dengar, kan?


"Kamu juga tidak perlu menceraikan aku."


"Ibu!" seru Joddy dan Ferddy bersamaan. Apa Jihan sudah hilang akal sampai tidak mau dicerai oleh pria yang sudah benar-benar tidak mencintainya?


Jihan memberi isyarat pada dua anaknya untuk tetap diam di tempatnya karena Jihan melihat dua anaknya bersiap menyerang Heru.


Di lain pihak, wajah Heru terlihat lega karena tidak perlu kehilangan kedua wanita yang sangat dia butuhkan. Walaupun Laras seperti tidak suka karena dia berharap dialah satu-satunya wanita di hidup Heru, karena untuk di posisi sekarang ini Laras butuh perjuangan keras bahkan untuk mendapatkan restu dari kedua orangtuanya dia rela hampir dicoret dari daftar kartu keluarga.


"Kamu tidak perlu menceraikanku Heru karena aku yang akan menuntut cerai darimu." Jihan tersenyum puas di akhir kalimatnya. Sedangkan orang yang berada di ruangan itu tercengang mendengar ucapan Jihan. Jika Joddy dan Ferddy tercengang karena bahagia. Berbeda dengan Heru yang wajahnya terlihat sangat kaget dan tak percaya.


"Kamu bercanda kan, Jihan?" Heru berharap untuk kali ini dia salah dengar.


"Tidak Heru. Aku serius. Sepulang dari sini aku akan mengurus semuanya. Dan tentu saja kembalikan 60% modal saham yang keluargaku pinjamkan padamu." Jihan tersenyum puas begitupun dengan Joddy dan Ferddy yang menatap Jihan antara kaget dan tak percaya. Pasalnya Jihan tidak pernah bercerita pada mereka kalau ternyata keluarga sang ibu meminjamkan modal pada perusahaan yang dibangun Heru bersama temannya.


Heru tercengang begitupun dengan Laras yang menoleh ke arah Heru dengan tatapan penuh tanya dan itu tak luput dari perhatian Jihan.


"Kamu pikir semua kekayaan 'suami siri' kamu murni miliknya? Sayang sekali aku harus memberi tahumu ini. " Jihan menatap ke arah Laras yang terpaku dengan wajah tegang.


"Dulu, suamimu itu pernah meminjam modal yang sangat besar pada keluargaku untuk membuka perusahaan ekspedisi yang sekarang tengah berkembang dengan syarat semua modal harus dia kembalikan bila salah satu dari kami menuntut cerai. Sebab itulah kenapa suami kamu ini bersikeras untuk tidak menceraikanku, tapi dia lupa kalau aku bisa menuntut balik padanya."


Mendengar semua penjelasan Jihan itu semua orang tercengang terlebih Laras.


"Semua tertulis dalam sebuah perjanjian hitam di atas kertas dan legal. Jadi, bersiap saja jika kamu mangkir maka silahkan rasakan dinginnya hotel prodeo." Selesai bicara Jihan beranjak dari duduknya.


"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku Jihan." Heru memegang tangan Jihan erat.


"Tentu saja bisa!" Senyum Jihan terlihat dingin lalu sekali sentak dia menghempaskan tangan Heru. Mendapat perlakuan seperti itu membuat hati Heru mencelos.


"Bersiap saja menjadi orang yang harus berpikir dua kali untuk membeli barang mewah," sindir Jihan membuat wajah Laras menegang.


"Pembicaraan berakhir. Terimakasih untuk semuanya Heru. Kini kamu bebas dan tidak perlu bersembunyi lagi." Kenangan indah bersama Heru yang dulu pernah ada terasa menguap begitu saja berganti dengan rasa sakit yang teramat dalam. Jihan tersenyum ke arah Heru untuk terakhir kalinya lalu bergegas pergi begitu saja.


"Makan tuh harta,tahta dan Laras!" Ferddy menatap Heru lalu tersenyum mengejek dan berlalu begitu saja menyusul ibunya sedangkan Joddy dia tak berkata apa-apa dan memilih menyusul ibu dan adiknya. Heru hanya bisa termangu melihat seluruh keluarganya pergi meninggalkannya bersama wanita yang kini menatapnya curiga.


****

__ADS_1


***Hai, teman-teman maaf jika terlalu lama update. Terimakasih buat yang selalu menunggu cerita ini i love you all.


untuk teman-teman semuanya khususnya di NTT dan Malang semoga kalian sehat selalu ya..***


__ADS_2