Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Pergi!


__ADS_3

"Kana!"


Hampir saja Kana menjatuhkan gelas-gelas yang baru dia angkat di atas nampan saat seorang pria menyapanya dengan suara keras.


"Sorry, sorry kaget ya, Sayang?"


Kana mendecih lalu mengucap kata amit-amit dalam hati. Kalau tidak ingat anak yang ada dalam perutnya sudah dia caci maki pria di depannya ini.


"Mas Evan! Saya aduin lho ke Mbak Nadi. Godain Mbak Kana terus!" seru Ratih mengambil alih nampan yang ada di tangan Kana.


"Aduin aja, weeeekkk!!" balas Evan anak yang selisih usianya belasan tahun dengan Kana itu mencibir cuek ke arah Ratih yang melotot padanya sebelum dia pergi membawa nampan ke dapur.


Kana geleng-geleng kepala melihat tingkah sepupu almarhum suaminya itu.


"Kanaaa," sapa Evan dengan suara manja.


"Pakai 'mbak' Evan, aku lebih tua dari kamu," tegur Kana lalu duduk di kursi kosong yang belum diangkat ke meja.


"Iya, nih gak sopan lhoo," imbuh Ratih yang datang lagi membawa kain lap dan mulai mengelap meja-meja yang belum sempat dibersihkan.


"Gak mau manggil Mbak, maunya manggil Sayang, dong!"Evan mengedipkan sebelah matanya lalu duduk di depan Kana menatap wanita itu dengan mata berbinar-binar.


Kana hanya tertawa menganggap apa yang dikatakan Evan hanya candaan anak baru gede yang masih labil. Evan tahu apa yang terjadi dengannya, termasuk dia hamil di luar nikah. Tapi siapa dan kenapa itu terjadi dia tidak tahu.


"Kana, main yuk! Ke kebun binatang, besok sama Ken?" ajak Evan matanya berkedip-kedip penuh harap.


"Kok cuma Mbak Kana yang diajak, kita-kita enggak?" tanya Ratih.


"Enggaklah!" sahut Evan tegas.


Kana tersenyum tipis. "Apa ini ajakan berkencan?" goda Kana, kayaknya lucu juga godain anak ini.


-


Evan tersipu malu. " Mau ya?Janji deh, kalau Ken rewel aku yang gendong."


"Kalau teman sekolah kamu liat apa kamu gak malu?"


"Ya, gak lah ngapain harus malu? Lagian, mereka gak akan ke sana. Karena cuma anak SMA aja yang gabut pergi ke kebun binatang!" seru Evan lalu tersenyum kikuk setelah sadar ucapannya sendiri. Dia lupa kalau dia sendiri masih sekolah.


Kana tercenung. Bukan karena perkataan Evan, tapi dia teringat sesuatu. Kebun binatang? Gembiraloka? Apa itu tempat yang sama? Tempat di mana dia menerima pernyataan cinta Joddy? Ah, tentu saja! Di Jogja hanya itu satu-satunya kebun binatang.

__ADS_1


Astaga, Kana! Kenapa kamu masih saja memikirkan suami orang? Lupakan dia! Ingat semua penghinaan orangtuanya yang sudah menyakiti hati kedua orangtuamu.


"Gimana? Mau ya?" Perhatian Kana kembali pada Evan yang masih menunggu jawabannya. Kana tersenyum tapi senyumnya pudar saat melihat sosok di belakang Evan.


"Kana... Sayang." Panggilan nyeleneh Evan pun tak mampu mengalihkan pandangan Kana dari sosok yang berdiri di depan pintu masuk kafe.


Pandangan mereka bertemu. Sejajar, lurus. Ada perasaan rindu yang dengan kurang ajarnya merayap begitu saja di hati Kana.


Kana berharap dia bermimpi atau berhalusinasi. Tapi rasanya tidak, sosok itu berjalan ke arahnya.


"Kana, mau kan besok kita jalan-jalan sama Ken juga?" ajakkan Evan yang entah keberapa kalinya tidak mampu membuatnya mengalihkan pandangan dari pria berkacamata yang sekarang sudah berdiri tepat di belakang Evan menatap Kana dengan tatapan teduhnya.


"Maaf, kafe kami sudah tutup. Silahkan kembali besok!" Ratih berkata dengan sopan saat melihat pria itu.


"Saya ke sini mau menjemput istri dan anak saya," jawab pria itu tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Kana. Kana mengernyit mendengar perkataan pria itu.


"Maaf, maksudnya anak dan istri yang mana ya? Dengan Mas siapa ya sebelumnya?" Bukan maksud Ratih kepo hanya waspada, karena ini sudah larut malam jarang ada tamu kafe di jam tutup seperti ini dan alasannya apa tadi? Jemput istri dan anak?


"Joddy, Joddy Pradana."


**


Kana membuka jendela kamarnya. Matanya menyipit saat melihat pemandangan yang tak biasa. Ini masih jam enam pagi tapi dia sudah mendengar suara tawa Ken yang riang di halaman rumah homestay-nya. Kana kaget saat melihat Joddy asik bermain bola bersama Ken di halaman rumah. Mbok Darmi yang masih terkantuk-kantuk itu sesekali bertepuk tangan saat kaki mungil Ken berhasil menendang bola yang dilempar ke arahnya.


"Bunda!!" Tangan mungilnya melambai menyuruh Kana mendekat.


"Ken, kok jam segini udah main. Belum mandi belum makan," tegur Kana mengangkat tubuh Ken yang masih memakai piyama bergambar kartun mobil favorit Ken.


"Ken main sama Om!" sahut Ken menunjuk Joddy.


Joddy yang melihat Kana mengangkat tubuh Ken itu sedikit panik, karna Kana sedang hamil muda dan tubuh Ken terlalu berat untuk digendong.


"Na, jangan digendong sini biar aku saja yang gendong." Joddy berusaha mengambil Ken dari gendongan Kana tapi Kana memundurkan tubuhnya agar tangan Joddy tidak bisa mengapai Ken.


Joddy menghela napas. Lagi-lagi dia mendapat penolakan. Semalam pun Kana tidak mau bicara dengannya. Kana memilih pulang diantar oleh anak ingusan itu demi untuk menghindarinya.


Padahal Joddy susah payah membujuk atasannya agar mengizinkannya mengambil cuti lebih awal.dan langsung terbang dari Jakarta ke Jogja hanya untuk menemui dan syukur-syukur dia mau pulang dengannya. Tapi sayangnya, tidak mudah. Kana menolaknya. Kana benar-benar sedang membangun tembok agar Joddy tak bisa mengapainya.


"Ken, masuk dulu ya. Mandi terus kita nanti bikin sarapan."


"Gak mau. Ken mau maem sama Om nanti!" tolak Ken. Kana menghela napas lalu memanggil Mbok Dar dan memintanya membawa Ken ke dalam rumah. Mengabaikan rengekan kecil Ken yang meminta untuk diturunkan.

__ADS_1


" Untuk apa kamu ke sini?" ketus Kana begitu Ken dan Mbok Dar masuk ke dalam rumah.


"Dek, aku ke sini mau jemput kamu sama Ken pulang."


Kana tertawa sinis mendengar jawaban Joddy itu. "Menjemput aku sama Ken? Nggak salah? Apa kata istri kamu yang sedang hamil kalau dengar ini?" sindir Kana ketus.


Bukannya marah atau kesal, Joddy tersenyum mendengar pertanyaan Kana itu. "Ya sudah, coba kamu yang jawab, istri aku kan kamu!" sahut Joddy dengan alis dinaikturunkan


"Jangan sembarangan! Lebih baik sekarang kamu pergi, sebelum Ibu dan istri kamu menuduh aku perebut suami orang!" usir Kana.


Joddy terdiam sejenak, dia tahu Kana masih sakit hati dengan apa yang ibunya katakan. Joddy tahu sekali perasaan Kana sekarang seperti apa. Dipermalukan di depan umum oleh Laras dan dicaci maki di depan mama papanya, jadi wajar jika Kana marah padanya.


"Dek, aku minta maaf atas apa yang sudah aku dan Ibuku lakukan ke kamu. Aku tahu kamu sakit hati tapi tolong beri aku kesempatan untu menebus kesalahan yang sudah aku lakukan ke kamu dan keluarga kamu."


"Tidak perlu meminta maaf! Urus saja istri dan calon anak kamu! " sinis Kana, masih melekat kuat di ingatannya bagaimana Laras mempermalukannya di muka umum dan hinaan Jihan padanya. Lalu dengan mudahnya Joddy memintanya untuk memaafkannya? Tidak! Tidak akan semudah itu.


"Cara kamu menebus kesalahan kamu adalah berhenti ganggu hidupku dan Ken. Biarkan aku dan Ken bahagia dengan hidup baru kami! Pergi kamu! Pergi!!" Kana mendorong Joddy menjauh darinya.


"Na, jangan seperti ini. Dengarkan dulu penjelasanku, Kana. Ini semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan, aku dan Laras tidak-"


"Pergi! Pergi sekarang Kak!" usir Kana dengan mata berkaca-kaca.


"Kana, dengarkan aku dulu kamu jangan seperti ini."


"Aku tidak mau dengar apapun dari kamu. Pergi sekarang! Pergi!"


"Aku tidak akan pergi! Aku akan membawa kamu dan anak-anak kita pulang ke Jakarta,"sahut Joddy tegas.


Kana terdiam sejenak lalu menatap Joddy dan tertawa sumbang. "Anak-anak kamu? Maksud kamu apa? Ken dan anak yang ada di perut ini?" Kana meletakan tangannya di perut.


"Ken bukan anak kamu, dia anak Adrian Hanafi Rusman sahabat kamu! Dan bayi ini, dia tidak akan pernah mengenal ayahnya. Jadi, urus saja anak kamu bersama wanita itu!" Melihat Joddy yang tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri Kana akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Joddy yang hanya diam menatap lurus ke arahnya.


"Aku belum menikah, Kana!"


teriakan Joddy memghentikan langkah Kana yang baru setengah jalan. Mau tak mau Kana cukup terusik dengan kata-kata Joddy barusan.


"Laras memang hamil. Tapi bukan hamil anakku, dia sedang hamil adikku."


Kana membalikkan badannya menatap Joddy binggung.


"Apa?"

__ADS_1


********


__ADS_2