
Joddy menghela napas . Berulangkali dia melirik ke arah jam tangannya. Dia sudah tidak sabar untuk membeberkan bukti tentang kehamilan Laras. Maka dia memutuskan untuk mengundang orangtuanya dan orangtua Laras serta Laras sendiri untuk berkumpul di rumah Ferdy adiknya.
" Bang, ngapain sih kok malah ke rumah gue?" Ferddy terasa keberatan walaupun rumahnya ini dibeli dengan hasil patungan dia dan Joddy tapi tetap saja yang tinggal di sini adalah dirinya. Ferddy tidak suka banyak orang di rumahnya
" Uang bulanan lo udah gue transfer."
Ferddy tersenyum, tapi tak apalah yang penting dia masih dapat bulanan dari kakaknya.
"Gue cabut ya." Ferddy beranjak dari duduknya.
"Lo di sini!"
"Halah, malas lah obrolan orang dewa-"
"Gue bilang lo di sini!" sela Joddy setengah membentak membuat Ferddy mengkeret. Dia memilih kembali duduk di samping Dipta yang sejak tadi memasang wajah suram.
Ferddy memperhatikan Joddy yang duduk dengan wajah tegang. Rahangnya mengeras, keningnya berkerut seperti sedang memikirkan masalah berat. Wajah yang sama yang pernah Ferddy lihat saat teman Joddy yang bernama Adrian meninggal karena kecelakaan dan Kana yang tak sadarkan diri saat itu. Sebenarnya ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba Joddy meminta semua berkumpul di rumahnya? Kenapa tidak di rumah orangtuanya saja? Atau apartemen Joddy?
"Bang, ada apaan sih? serius amat?" bisik Ferddy sikunya menyikut lengan Dipta.
Dipta tak menyahut dia hanya menatap ke arah Joddy dengan perasaan tak menentu. Selang beberapa menit, terdengar deru mobil memasuki halaman rumah Ferddy. Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah Ferddy. Para penumpangnya turun lalu masuk ke dalam rumah.
"Hai, Sayang! Maaf, kelamaan nunggu ya?" Laras yang berjalan paling depan menghambur kepelukan Joddy yang hanya diam itu. Joddy masih menjaga harga diri Laras dengan tidak mendorongnya atau menepis tangannya kasar di depan kedua orangtuanya.
"Tumben nih nyuruh kita ngumpul di sini ada apa?" Laras menarik tangan Joddy mesra. Jujur saja, Joddy muak dengan wajah Laras yang sok manis di depannya tapi tunggu saja ini semua akan berakhir segera.
" Silahkan duduk Tante dan Om." Joddy mencoba tersenyum pada kedua orangtua Laras.
"Jadi ada apa ini? Harusnya kalian dipingit lho, pernikahan kalian tinggal menghitung hari." Ayah Joddy mengingatkan . Joddy tak menanggapinya sama sekali. Joddy tak.menanggapi dia mengalihkan pandangan ke arah kedua orangtua Laras.
"Maaf sebelumnya. Mungkin perkataan saya ini akan membuat Om dan Tante kecewa, tapi mohon maaf sekali saya tidak bisa meneruskan pernikahan ini."
Semua orang yang berada di ruangan itu merasa terkejut dan sontak menatap ke arah Joddy.
__ADS_1
"Mas!"seru Jihan kaget.
"Sayang, kamu kenapa? Kok, tiba-tiba begini?" Laras mencoba memeluk lengan Joddy tapi ditepis Joddy dengan kasar.
"Nak Joddy, tapi Laras sedang mengandung anak kamu!" Malik, ayah Laras menyahut.
Joddy tersenyum tipis lalu menoleh ke arah Laras. Wanita bermuka dua di depan Joddy menatapnya dengan tatapan tersakiti dan Joddy benar-benar muak akan hal itu.
"Saya tahu keluarga kita sudah dekat dari saya dan Laras masih kecil. Om sama Tante sangat baik pada keluarga kami dan saya mengucapkan terimakasih untuk itu. Tapi Maaf, jika karena ini nanti hubungan keluarga kita akan sedikit memburuk." Joddy menatap mereka satu-persatu tatapannya terkesan dingin dan itu menyeramkan.
"Joddy kamu bicara.apa? Jangan bikin malu!" Heru sedikit berbisik mengingatkan putra sulungnya itu.
"Laras wanita yang baik, pintar dan mandiri. Dia punya segala yang wanita lain di luar sana tidak punya. Sayangnya, kita semua lupa. Kalau dia hanya manusia biasa yang tidak sempurna." Joddy melirik Laras sekilas.
"Jangan berbelit-belit, katakan saja apa yang sebenarnya terjadi!" Malik menatap tajam ke arah Joddy.
"Baiklah, dan maaf jika perkataan saya akan membuat kalian kecewa dengan putri kalian." Joddy menatap Laras tajam dan itu membuat Laras sedikit merasa terintimidasi tapi wanita itu mencoba tidak menunjukan wajah tegangnya.
"Joddy!" bentak Heru pada Joddy. "Bagaimana mungkin kamu masih menyangkalnya, jelas-jelas bukti itu sudah ada. Kamu ayah dari anak itu!"
"Sayang kenapa kamu tega lakuin ini. Ini anak kamu!" Laras tak terima hari pernikahannya tinggal beberapa hari lagi.dia tidak mau sampai gagal.
"Itu bukan anakku!" sentak Joddy membuat Laras terdiam. membentak wanita bukan keinginan Joddy, tapi wanita di depannya ini sudah benar-benar keterlaluan dia menyakiti banyak wanita di sini.
"Oh, ya? Kamu punya bukti?" Laras menatap Joddy menantangnnya. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan pria ini
Joddy tersenyum sinis lalu mengeluarkan amplop dan sebuah flashdisk menyuruh Ferddy menyalakan laptopnya.
Dipta yang sejak tadi diam mendekati Joddy. "Bang lo yakin? Hubungan keluarga kalian akan hancur kalau lo lakuin ini,"bisik Dipta ini sudah kesekian kalinya Dipta menyuruh Joddy untuk memikirkan ulang apa yang dia lakukan dan mencari cara lain.
"Diem lo!" bentak Joddy. Dipta menghela napas lalu memilih menjauh, dia pergi ke ruang makan. Rasanya dia tidak akan sanggup melihat drama keluarga yang sebentar lagi akan terjadi.
"Saya punya bukti kuat yang akan menunjukan kalau Laras bukan hamil anak saya." Joddy menancapkan flashdisk-nya lalu membuka rekaman CCTV saat kejadiaan itu.
__ADS_1
"Di kejadian hari itu Laras memang berada di apartemen saya. Tapi sebelumnya ada wanita lain yang bersama saya. " Joddy menghadapkan layar laptopnya ke depan orangtua Laras.
"Laras datang sekitar pukul 6 dan yang perlu kalian tahu hanya dua orang yang tahu password apartemen saya. Ferddy dan Kana. Walaupun memang masuk akal dia masuk sesudah Kevin dan Kana mengantar saya." Joddy menjelaskan membuat kedua orangtua Laras mengernyit binggung saat melihat layar laptop di depan mereka.
"Kana keluar setengah jam kemudian. Lalu tak berapa lama datang seorang pria masuk ke dalam apartemen saya baru setelah itu orangtua saya datang. Jadi bagaimana mungkin saya melakukan perbuatan itu dalam waktu kurang dari satu jam dan ada pria di dalam sana?"
Wajah Laras sedikit pias, tangannya gemetaran tapi dia tidak boleh menyerah. Toh, siapa pria itu tidak begitu jelas.
"Hanya itu? Itu tak menunjukkan apa-apa Joddy!" Laras tertawa hambar.
"Oh ya?Bagaimana dengan ini!" Joddy membanting amplop cokelat di atas meja.
"Apa ini?" Jihan yang pertama kali mengambil amplop di atas meja lalu mulai membukanya.
"Usia kehamilan kamu tiga bulan sedangkan kejadian itu belum selama itu. Apa aku salah?" tanya Joddy membuat wajah Laras pucat bak orang mati.
"Kamu menyebut Kana sebagai pelakor di hadapan banyak orang. Tapi nyatanya kamu sendiri wanita seperti itu!" bentak Joddy penuh emosimembuat Malik dan Hana istri Malik tak terima anaknya dibentak seperti itu.
"Apa maksud kamu?" tanya Malik.
"Silahkan lihat foto-foto itu. Foto itu diambil di hari yang berbeda tapi dengan pria yang sama. Apa kalian mengenali postur tubuh pria dalam foto itu?" tanya Joddy, keempat orangtua itu sontak memperhatikan foto-foto tersebut.
"Mereka terlihat mesra bukan? Dijemput di kantor, makan siang bersama dan beristirahat di apartemen bahkan pergi ke klinik kandungan bersama. "
Wajah keempat orangtua itu berubah tegang. Apalagi Jihan.
"Ibu kenal sama pria di foto itu?" tanya Joddy pada Jihan yang terlihat shock ketika memegang selembar foto yang memperlihatkan seorang pria sedang mengelus perut Laras.
"Ibu tidak lupa dengan wajah suami Ibu, kan?" tanya Joddy lagi membuat Jihan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Benar, itu dia Bu. Suami Ibu."
******
__ADS_1