
Kana tak habis pikir dengan Gio. Sepertinya Gio tipe pria yang tidak menyerah atau mungkin hanya penasaran saja terhadap dirinya. Berbagai penolakan sudah Kana lakukan. Dari penolakan yang halus sampai terang-terangan. Tapi lihatlah, hampir setiap hari dia mengirim makanan ke pantry dengan kedok 'dimakan bersama' padahal Kana tidak bodoh, Gio sedang berusaha mengambil hatinya. Di lain hari pernah juga beberapakali Gio mengajak Kana makan siang di luar atau pulang bersama dan kedua hal itu Kana tolak. Kana mengabaikan kata-kata Nurul yang mengatakan Kana terlalu jual mahal. Tidak semua pria bisa menerima status dia yang janda dan bla..bla.. Kana tak mau ambil pusing.
"Kana pulang bareng?" Lagi dan lagi, Gio menawarkan diri mengantar Kana pulang.
Kana menggeleng pelan sambil menunjukan kunci motornya.
"Makan bareng kalau gitu?" Gio masih tak mau menyerah, Kana memperhatikan Gio melalui ekor matanya. Untuk ukuran pria seusianya Gio masih terlihat muda dia juga good looking atau kata Moli tidak malu-maluin diajak kondangan. Tapi entah kenapa Kana tak tertarik sama sekali. Hanya Adrian pria tertampan di dunia bagi Kana.
"Maaf Pak. Tap-"
"Ayolah Kana, cuma makan. Kalau kamu takut aku berbuat jahat atau takut timbul gosip kita pakai kendaraan sendiri. Kamu bawa mobil dan aku bawa motor kamu." Masa Gio tega membiarkan Kana naik motor sedangkan dia ada di dalam mobil ber-AC.
"Tapi Pak, say-"
"Sekali ini saja Na," potong Gio dengan wajah penuh harap tapi lebih terlihat memelas. Kana menjadi serba salah, antara dia akan menolak untuk kesekian kalinya atau dia menerima dengan berbagai konsekuensi.
Ah, lagipula cuma makan, tidak memgartikan bahwa dia ada rasa pada Gio.
" Ya sudah, tapi saya tetap pakai motor saya sendiri Pak." Sekali ini sajalah dan semoga Gio tidak besar kepala dan merasa Kana memberinya lampu hijau.
Wajah Gio terlihat sumringah. "Kalau begitu kita ketemu di TKP ya. Restoran seafood di jalan Panglima."
Kana hanya mengangguk lalu berjalan menuju parkiran.
Restoran tampak sepi saat Kana dan Gio tiba. Padahal jam pulang kantor tapi entah kenapa restoran ini terasa sepi. Atau memang dari dulu sepi dan Gio sengaja memilih tempat ini karena sepi?
"Kamu suka udang kan? Maksudnya tidak alergi udang kan?" Gio bertanya tepat saat Kana selesai mengirimkan pesan ke nomor mama mengabarkan kalau dia akan pulang sedikit terlambat.
"Saya tidak ada alergi makanan kok, Pak," sahut Kana.
"Jangan panggil Pak. Kita sudah tidak di kantor." Gio berniat 'mengikis' jarak di antara mereka agar Kana makin akrab dengannya. Dan tidak canggung sehingga dia bisa melancarkan aksinya untuk mendapatkan hati Kana atau paling tidak untuk saat ini perhatian Kana sudah cukup.
"Maaf Pak, tidak bisa." Kana tersenyum. Memang mau dipanggil apa? Mas? Kak? Kana tidak mau nanti Gio mengira Kana memberinya kesempatan.
Gio tak membabil, dia lebih memilih diam dan tidak memaksa Kana. Gio takut Kana malah akan menjauhinya. Lebih baik sekarang dia bermain cantik saja. Pelan-pelan.
"Anak kamu umurnya berapa?" Gio mencari topik lain agar Kana tidak merasa canggung.
"Tiga tahun, Pak."
"Wah, sedang lucu-lucunya." Gio menghentikan obrolannya karena makanan yang mereka pesan datang. "Anak saya dua. SD dan SMP, mereka ikut mamanya tapi tiap weekend selalu saya jemput untuk menginap di rumah. Ya, walaupun orangtuanya bercerai tapi saya selalu memastikan mereka tidak akan kehilangan kasih sayang kedua orangtuanya." Gio melanjutkan omongannya. Kana sebenarnya tidak terlalu mendengarkan apa yang Gio katakan sedari tadi, dia lebih tertarik pada olahan udang dan cumi di depannya.
"Kalau suami kamu meninggal kenapa Na? Maaf kalau saya lancang," tanya Gio hati-hati. Kana menurunkan sendok yang sudah hampir masuk ke mulutnya.
"Kecelakaan mobil." Kana menjawab lirih, tangannya yang bebas mengepal di bawah meja. Nafsu makannya hilang saat tiba-tiba ingatan tentang kecelakaan itu melintas begitu saja.
"Oh, maaf. Maaf ya Kana kalau saya mengingatkan kamu tentang kecelakaan itu."
__ADS_1
Kana hanya tersenyum tipis lalu mulai makan makanannya. Hening sesaat.Kana dan Gio sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga seorang pria mendekati meja mereka.
"Dek, kamu makan di sini juga?"
Kana mendongakkan kepala dan dia tersentak kaget saat melihat Joddy berdiri di depannya dengan wajah bertanya.
"Oh, Kakaknya Kana. Maaf ya, ngajak Kana makan tanpa izin," sahut Gio tersenyum sebagai sopan santun dan berharap mendapat nilai tambah di mata Joddy.
Joddy menatap Gio sinis. Syukur kalau nyadar.
"Udah selesai, Dek?" tanya Joddy mengabaikan sapaan Gio yang menatapnya salah tingkah karena merasa diabaikan.
Kana yang menyadari itu merasa tidak enak pada Gio, walaupun Kana tidak nyaman padanya, tapi mengabaikan rasanya tidak sopan.
"Baru mulai, Kak. Kak Joddy makan juga?" Kana balik tanya.
Joddy mengangguk. "Kevin ulangtahun." Lalu menatap Gio." Keberatan kalau aku duduk sambil menunggu teman-temanku?"
Jelaslah! " Tidak. silahkan duduk." Gio mengangguk sopan.
Joddy menarik kursi kosong di samping Kana lalu duduk dengan santai. Kalau boleh jujur Kana nyaman saat Joddy duduk di sampingnya, walaupun dia agak khawatir sikap Joddy pada Gio akan semakin buruk, seperti sinis misalnya. Karena dari dulu Joddy hampir mirip seperti Kanda. Kakak yang protektif saat seorang pria mendekati Kana.
"Mau makan lagi Kak?" Kana menawarkan makanan yang ada di piringnya.
Joddy menggeleng. "Sudah kenyang, cepat habiskan aku nebeng pulang lagi."
"Terus teman-teman Kakak?" tanya Kana tepat saat seorang pemuda berteriak ke arah mereka.
"Bang, dicariin juga. Jadi ikut gak?" teriak teman Joddy itu.
Joddy mengeleng. "Lewat!" Terdengar desahan kecewa teman-teman Joddy yanv kemudian beriringan pergi setelah berpamitan dari jauh.
"Kenapa gak ikut Kak?" tanya Kana.
"Mereka hanya mau karokean. " Joddy mengangkat bahunya tak peduli.
"Kamu tinggal serumah dengan Kana?" Gio mencoba berinteraksi dengan Joddy. Bagaimanapun Joddy kakak Kana dia harus baik-baik terhadapnya.
"Belum."
Jawaban Joddy itu membuat Kana menoleh cepat ke arahnya. Maksudnya apa?
"Oh, memang kalau rumah udah deket tempat kerja, mau pindah jauhan agak berat," balas Gio.
Joddy mendecih. Sok tau!
"Bukan karena itu, kalau kami menikah nanti akan pindah ke apartemen. " Joddy menjawab dengan lugas tatapannya lurus ke arah Kana yang menatapnya tak percaya begitu juga dengan Gio yang refleks menjatuhkan sendok dan garpunya sampai terdengar dentingan cukup keras.
__ADS_1
"A-apa? Menikah? Tapi kalian-"
"Panggilan 'Kak' umum digunakan. Penjual baju saja manggil customer 'Kak'," sela Joddy membuat Gio makin ternganga dan Kana terlalu shock hanya untuk sekedar menyanggahnya.
"Tapi Kana tidak pernah bilang kalau punya calon suami." Gio menatap Kana terkesan menyalahkan.
"Karena dia malu atau masih sungkan karena tanggal dan bulan belum kami tentukan. Ya kan, Sayang?" Joddy menyahut, tangannya mengusap kepala Kana lembut, senyumnya manis dan pandangan penuh cinta itu tidak dibuat-buat terasa alami. Natural.
Melihat itu semua membuat Gio cemburu dan merasa dibohongi. Jadi, kenapa Kana tidak jujur padanya saja kalau dia punya calon suami? Membuat perjuangannya terasa sia-sia.
"Oh, maaf kalau begitu ,saya kira Kana masih single." Gio tersenyum tipis tapi tatapannya terluka dan marah.
"Maaf Kana, saya lupa kalau ada janji dengan anak-anak. Kalian teruskan saja makannya nanti saya yang bayar." Gio beranjak dari duduknya lalu tanpa basa basi pergi begitu saja. Joddy mendecih dalam hati saat melihat sikap Gio itu.
"Kak, kamu bicara apa sih? Pak Gio jadi salah paham," tegur Kana sesaat setelah Gio sudah tidak terlihat lagi. Joddy menyandarkan tubuhnya menatap Kana lurus.
"Kenapa kamu harus menjaga perasaan dia? Kamu suka sama dia?" tuduh Joddy.
Kana menghela napas. " Dia atasan Kana, Kak. Aku tidak punya perasaan apa-apa. Kakak tidak perlu bicara seperti itu. Pak Gio akan berpikiran aku pembohong."
"Tidak perlu memikirkan perasaan dia."
"Dia atasanku Kak."
"Aku tahu. Tapi dia punya niat mendekati kamu."
"Terus salahnya di mana? Kami sama-sama single."
"Karena aku cemburu, Na!"
Kana mengernyit. "Cemburu?"
Joddy terdiam, dia meruntuki dirinya sendiri karena terlalu gegabah. "Maksudnya, aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan pria yang baru saja kamu kenal." Joddy mengalihkan pandangannya
" Aku tahu, Kakak mengkhawatirkan aku. Kalian semua menyuruhku untuk menyembuhkan luka dengan membuka hati dan aku mencoba untuk melakukannya. Tapi apa Kakak tahu dengan status aku yang janda dan punya satu anak tidak mudah untuk mendapatkan pasangan yang mau menerima aku dengan tulus? Tidak semua laki-laki single dan belum pernah menikah mau dengan aku Kak. Kakak tahukan pria yang mendekati aku seperti apa. Duda dengan dua anak, karena apa? Karena aku Janda Kak." Kana berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu gak tahu Kak. Betapa beratnya aku menjalani hidup dengan status ini? Tiap hari selalu mendapat sindiran dan ejekan karena status aku. Padahal siapa yang mau diposisi seperti aku sekarang? Gak ada Kak!" Kana tidak mampu membendung air matanya
Joddy yang sejak tadi memilih diam dan mendengarkan Kana mengungkapkan isi hatinya kini berani menatap Kana. Joddy memberanikan diri mengusap pipi Kana yang basah oleh air mata. Gadis kecil yang dulu polos kini berubah menjadi wanita yang pandai menutupi perasaannya. Terlihat kuat tapi di dalamnya rapuh.
"Aku minta maaf, Dek. Udah bikin kamu nangis." Joddy menarik dagu Kana agar tatapan mereka sejajar.
"Tapi kamu salah kalau bilang tidak ada pria single yang belum pernah menikah mau menikah denganmu. Kamu salah." Joddy memberi jeda menunggu reaksi Kana yang hanya menatapnya dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. Berkedip saja bisa dipastikan air mata itu mengalir deras membasahi pipinya.
"Ada pria yang dengan tulus mencintai kamu, Na. Dan orang itu-" Joddy mengenggam tangan Kana."Aku."
Kana tersentak kaget.
__ADS_1
*******