Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Ngambek mode on


__ADS_3

"Masakan kamu enak ternyata, Na. Pinter masak ya kamu," puji Jihan menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lahap.


"Itu dibantu Mbok Dar, Bu." Kana tersenyum manis ke arah mertuanya, tapi begitu tatapannya bertemu dengan mata Joddy, wanita itu cepat-cepat membuang mukanya.


Joddy mengumpat dalam hati ternyata ngambeknya masih saja kebawa sampai pagi. Sial, sial! Semalam saja dia sudah dianggurin masa iya malam ini juga harus dianggurin.Semua gara-gara si Icha yang komen seenaknya di instagram Joddy. Sepertinya Icha sengaja membuat Kana cemburu, padahal dulu Joddy sudah memperingatkannya untuk bersikap dewasa. Hubungannya dengan Joddy hanya sebatas hubungan mutualisme untuk membuat pacar masing-masing cemburu bukan murni karena cinta, walaupun Joddy memang sempat naksir dia. Selama pacaran Joddy juga tidak pernah aneh-aneh. Sampai ciuman juga enggak. Cuma pangkuan doang itupun karena Icha ingin membuat Edward pacarnya cemburu.


"Ibu, mau kemana habis ini?" tanya Joddy.


"Ibu mau ke rumah Ferddy. Anak itu jarang pulang ke rumah Ibu soalnya, sejak tahu Ayahmu kembali."


"Ibu jangan terlalu memaksa Ferddy. Bagaimanapun kejadian kemarin cukup membuat dirinya terluka. Biarkan dia berpikir dulu."


"Iya, Bang. Ibu juga tidak akan membahas tentang ini kalau ketemu nanti." Jihan menghela napas.


"Ibu mau saya antar ke rumah Ferddy?" tawar Kana, membuat Joddy menatapnya keheranan. Tumben, dia gak minta izin dulu padanya. Wah, benar-benar ngambek dia.


"Tapi kamu harus antar Ken juga kan?"


"Ken nanti mau diantar Papa, Bu. Papa udah kangen katanya. Sekalian habis antar Ibu, Kana mau sekalian belanja bulanan sekalian cuci mata." Kana melirik Joddy sekilas saat mengatakannya. Semacam isyarat kalau dia benar-benar marah padanya.


"Enggak diantar Joddy aja, Na belanjanya?"


"Enggak Bu. Kak Joddy sedang sibuk. Mungkin pulang kerja dia mau MAMPIR ke rumah temennya." Kana sengaja menekankan kata 'mampir' membuat Joddy menelan ludah.


"Mampir kemana? Nanti aku antar aja belanjanya biar Ibu diantar Pak Ilham."


"Gak usah, biar Ibu aku yang antar!" sambar Kana kesal, kalau sudah begitu Joddy memilih diam dan membiarkan Kana berbuat sesuai keinginannya. Nanti kalau sudah mereda baru akan dia rayu Kana.


Jihan yang melihat gelagat aneh dari anak dan menantunya itu memilih diam dan tak mau ikut campur. Mungkin mereka sedang berselisih paham. Maklumlah pengantin baru masih proses mendalami satu sama lain.


"Ya, sudah biar Kana yang nganter Ibu. Sekali - kali disopirin menantu." Jihan memilih beradaa di pihak Kana, karena dia yakin anak lelakinya itu tidak akan keberatan.


Joddy mengangguk lalu tersenyum pada Kana."Hati - hati ya nyetirnya kalau ada apa-apa telepon aku."


Kana tak menanggapi kata-kata Joddy dia memilih diam karena masih kesal dengan komentar Icha di instagram suaminya.


**


"Udah kasih aja bunga sama cokelat, Bang! cewek suka yang menye-menye."


"Ajak makan malam romantis Bang! Lo kan jagonya ngerayu cewek!"


"Kasih aja ATM lo. Suruh belanja sepuasnya."


"Udah, puasin aja di ranjang, Bang! Perempuan kalau udah dibikin melayang bakalan luluh."

__ADS_1


Itulah jawaban teman - teman kantor Joddy, saat pria berkacamata itu bertanya bagaimana cara merayu istri yang sedang ngambek.Dulu Joddy memang pinter merayu cewek-cewek di luar sana. Tapi kan mereka bukan Kana. Kana itu bukan tipe yang mudah dirayu secara menye-menye.


Makanya Joddy bingung bagaimana cara merayunya, atau dia lakukan saja semua usul teman-temannya. Ngajakin Kana makan malam terus ngasih bunga sama cokleat habis itu ajak dia belanja terus pulangnya dipuasin di ranjang. Wah, boleh juga tuh.


"Emang kenapa, Bang? Kana ngambek?" Kevin bertanya sambil tangannya menyerahkan tumpukan map di meja Joddy.


"Iya, gara-gara komentarnya Icha di instagram semalam. Salah paham dia, dikiranya gue beneran masih ada hubungan sama cewek itu." Joddy memutar - mutar kursi kebesarannya.


Kevin mengernyit mengingat apa yang dimaksud atasan ya itu. "Oh yang cewek bilang lo best kisser itu?"


Joddy mengangguk. "Iya, yang itu. Itu cewek mantan 3 bulan gue dulu. Tapi gue gak pernah ngapa-ngapain sama tu bocah."


"Gue kira tuh cewek cuma iseng ngerjain lo aja. Ternyata emang mantan lo!" Kevin duduk di depan Joddy mulai tertarik dengan obrolan bos yang sedang galau Karena bininya ngambek.


"Tuh cewek emang tipe yang implusif. Tapi gue gak nyangka dia bisa kayak gitu padahal juga udah sama-sama nikah."


"Penasaran kali, Bang. Pengen dienakin sama lo," goda Kevin terkikik geli membuat mata Joddy membulat seketika.


"Naudzubilah!" Joddy menggeleng keras. Baginya Kana adalah wanita hebat yang sampai kapanpun tidak akan pernah terganti dengan wanita secantik apapun.


"Ya, lo tinggal bilang ke Kana kalau lo emang udah gak ada hubungan apa-apa sama itu cewek."


"Udah tapi Kana belum percaya. Mungkin Kana mikir aku masih ada perasaan sama dia, soalnya dulu aku pernah nganter itu anak pulang ke rumahnya. Gue cuma kasihan aja kalau inget bocah itu yatim piatu."


Joddy terdiam, ada benarnya juga apa yang dibilang Kevin. Dia memang salah waktu itu. Bagaimanapun dia dan Icha pernah punya kisah walaupun hanya tiga bulan tidak selayaknya dia mencampuri kehidupan Icha apalagi dia sudah menikah. Astaga, pantas saja dulu Kana marah padanya. Sekarang pun juga wajar dia marah karena komentar Icha itu seolah-olah menunjukkan mereka masih berhubungan.


"Terus menurut lo apa yang harus gue lakuin biar gak ngambek lagi?"


"Ya, lo lebih tahu bagaimana menghadapi Kana lah, Bang! Katanya puluhan tahun udah cinta sama dia."


"Dia pengen kerja. Apa gue izinin aja ya?" gumam Joddy pada dirinya sendiri. Namun masih sempat terdengar di telinga Kevin.


"Oh, kebetulan gue lagi butuh asisten. Suruh masukin lamaran aja ke sini, Bang. Dia lulusan manajemen bisnis kan?"


Joddy mendelik. "Enak aja!" Mending Joddy kerja banting tulang sendirian siang malam daripada harus melihat Kana di bawah perintah Kevin.


"Gak papa, Bang! Buat refreshing liat yang bening-bening, arghhh!" seru Kevin yang dihadiahi lemparan spidol di Keningnya. Enak saja! Memang istrinya kaca?


"Gue beliin skin care aja apa ya?"


Seingat Joddy istrinya itu tidak terlalu suka barang-barang mewah. Kana selalu membeli barang yang menurutnya penting ketimbang barang-barang mewah yang tidak sering dia pakai.


"Dih, pinter banget, biar tambah bening gitu ya? Tapi emang lo tahu skin care cewek?"


Joddy tertegun, eh, iya juga ya. Mana tahu dia hal begituan. Tapi tunggu... Dia kan pernah lihat merk skin care yang Kana pakai. Dia bisalah minta tolong sama teman kantornya yang cewek untuk minta tolong cariin.

__ADS_1


Tapi siapa ya? Ah, Sania!


"Eh, udah jam istirahat, Sania ada di ruangannya gak ya, gue ajak dia. Dia kan doyan dandan pasti tahu skin care cewek." Joddy beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar.


"Bang, gue ikut!" Kevin berlari menyusul Joddy.


*


Kana menyuapkan makanan ke mulutnya dengan santai sambil mengamati pengunjung mall yang mulai memadati restoran cepat saji di mana dia makan. Setelah selesai belanja bulanan dia memutuskan untuk jalan-jalan ke mall sekedar makan dan membeli cemilan kesukaan Ken.


Sebenarnya Kana sudah tidak kesal pada Joddy. Kalau dipikir-pikir dia memang terlalu Kekanakan. Harusnya dia percaya dengan suaminya, Icha hanya ingin membuatnya cemburu saja. Tidak mungkin Joddy akan berbuat aneh-aneh apalagi mereka baru dua bulan menikah.


Kana jadi merasa bersalah, kayaknya dia harus minta maaf pada Joddy karena sudah mendiamkannya. Semalaman.


Kana bergegas mengambil ponselnya lalu menekan nomor suaminya mumpung jam makan siang, dia pasti mau makan siang. Ah, sekalian Kana ajak saja makan siang.


"Hai, Na. Gimana, Sayang?"


Kana tersenyum saat mendengar suara Joddy yang terdengar biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.


"Kak, udah makan siang?"


"Ini baru mau."


"Makan siang di kantor?" Kana seperti mendengar suara kendaraan.


Hening sesaat, Joddy tidak langsung menjawab. Membuat Kana mengernyit.


"Enggak, Sayang. Mau makan di luar sama temen-temen."


Kana menghela napas. Padahal Kana sudah membayangkan makan siang berdua dengan suaminya sebagai bentuk permintaan maafnya.


"Oh, ya udah."


"Kamu udah pulang?"


"Ini baru mau pulang. Mau beliin roti kesukaan Ken dulu."


"Ya, udah hati - hati. Sampai ketemu di rumah."


Kana bergegas keluar dari tempat dia makan untuk membeli roti kesukaan Ken yang juga dijual di salah satu toko roti yang ada di dalam mall tersebut. Setelah mendapatkan barang yang dia butuhkan Kana bergegas keluar dari toko. Namun, langkahnya melambat saat dia melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang berjalan berdua dengan seorang wanita cantik.


Tangan Kana mengepal kuat saat melihat sosok itu berjalan tanpa beban. "Pembohong!" desis Kana menahan amarah menatap pria dan wanita itu menuruni tangga eskalator dengan sesekali tertawa bahagia.


*****

__ADS_1


__ADS_2