
"Na, lo ada apa sih sama Joddy? Marahan?" tanya Kanda sambil merapikan koper-koper yang akan diangkut ke mobil. Kana yang sibuk menyuapi Ken itu menatap kakaknya sekilas.
"Enggak."
"Tapi kenapa lo ngehindar dari dia?"
"Gue gak ngehindar Bang!" Kana malas jika sekarang harus membahas Joddy, di mana dia sedang sibuk mengurus Ken dan 3 jam lagi harus ke Jogja menghadiri wisuda S2 Nea.
"Tapi kenapa lo gak mau nemuin dia?"
Kana terdiam dia tak mampu berkata-kata karena kenyataannya dia memang sedang menghindari Joddy. Sebisa mungkin dia harus memberi jarak pada Joddy. Membangun benteng setinggi-tingginya agar Joddy tidak berharap padanya, karena Kana sadar diri. Joddy berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari dirinya.
"Joddy beneran sayang sama kamu dan Ken, Na. Apa lo gak liat itu? Dari dulu dia selalu ada buat lo kan?" Kanda duduk di samping Kana lalu tangannya terulur mengambil tubuh Ken dan memangkunya. Si Pipi Gembil itu tersenyum dengan mulut penuh makanan.
"Lo pikir kenapa dia nge-jomlo padahal umur dia sudah 36 tahun? Karena dia gagal move on dari lo! Dia suka sama lo sejak lo masih pacaran sama Si Amar." Kanda benar-benar pandai memprovokasi, Kana jadi ingat kalau sewaktu kuliah Kakaknya yang tengil ini pernah jadi wakil ketua BEM yang membuat mama dan papanya harus kelimpungan saat dia ditangkap polisi karena memimpin demo.
"Itu artinya dia suka sama lo sejak lo masih SMA."
Kana masih dalam mode mendengarkan dan mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir Kanda.
"Dia sengaja mengenalkan Siska sebagai calon istrinya hanya untuk menjaga perasaan Ian. Biar dikira dia bisa move dari lo. Ya, walaupun nyatanya Si ***** itu gak bisa move dari lo. Tapi lo juga tahu kan dia gak pernah berusaha ngusik lo sama Ian?"
Kana mengusap mulut Ken yang penuh minyak dengan tisu lalu memintanya turun dari pangkuan Kanda dan menyuruhnya bermain sebentar dengan kakeknya.
"Kak Joddy berhak ngedapetin yang lebih baik dari gue Bang. Walaupun apa yang lo bilang itu mungkin benar, tapi kita gak tahu kan gimana respon orangtua Kak Joddy? Bagaimanapun tidak mudah menerima seorang menantu dengan status 'janda beranak satu', apalagi anaknya perjaka. Selain itu, gue masih sayang sama ayahnya Ken."
Kanda menghela napas sejenak. Adiknya ini benar- benar .... " Ah, sudahlah! Gue cuma ngingetin lo aja, Joddy itu cowok langka, limited edition. Dia kalau udah cinta sama orang bakalan setia. Nih kayak sama lo. Dari lo belum kenal tik tok dia udah nge-bucin sama lo. Ingat ya, jangan nyesel kalau dia nyerah sama lo terus disambar cewek lain!" Kanda berdiri lalu menarik 2 koper berisi baju-baju Ken dan Kana. Gila, kebiasaan banget, pergi cuma 2 hari aja udah kayak mau kabur sebulan. "Lo pikirin aja. Sekarang siap-siap kita harus segera ke bandara."
Kana mengepalkan kedua tangannya, saat mendengar apa yang Kanda katakan. Kalau memang Joddy udah bucin sama dia. Kenapa dia harus nyerah? Tapi tunggu... kenapa juga Kana harus merasa resah kalau Joddy benar-benar menyerah dan memilih wanita lain?
__ADS_1
**
Kana menyumpal kedua telinganya dengan earphon begitu dia sampai di kursi 25 A dekat jendela. Entah kenapa Kana merasa aneh dengan tempat duduknya. Mama dan papa duduk bersebelahan sedangkan Ken dengan nurutnya duduk dengan Kanda, dan dia? Kana menoleh ke arah sampingnya yang kosong masih belum ada penumpang, Kanda bilang Kana akan duduk dengan Mona sepupu Nea yang juga akan ikut bersama mereka. Tapi setahu Kana, Nea tidak punya sepupu dengan nama itu, atau mungkin sepupu jauhnya Nea.
Kana mengangkat bahunya, lalu menyalakan musik dan menyandarkan kepalanya di jendela. Lebih baik dia tidur, lumayan ada waktu 45 menit untuk sekedar beristirahat.
Kana merasa terusik saat merasakan pergerakan di sampingnya. Mungkin sepupu Nea sudah datang karena Kana mencium aroma parfum maskulin. Zaman sekarang hal biasa cewek memakai parfum cowok, tapi.... kenapa Kana seperti tidak asing ya dengan wangi parfum ini?
Kana membuka matanya lalu menoleh ke arah samping karena penasaran, matanya terbelalak saat melihat siapa yang duduk di sampingnya. Seorang pria yang dia hindari selama ini tengah tersenyum ke arahnya.
"Kak Joddy?!" seru Kana tertahan. Mendadak semua keanehan yang dia rasakan terjawab. Sepupu Nea hanyalah akal-akalan Kanda saja. Pasti mereka semua bekerja sama menjebak Kana agar mau duduk dengan Joddy. Bahkan Si Kecil Kenzo pun mau diajak bekerja sama.
Kana bersiap pergi, sayangnya terdengar suara pramugari yang meminta seluruh penumpang untuk duduk dan memasang sabuk pengaman karena pesawat akan segera tinggal landas.
"Apa kabar?" Kata pertama Joddy yang keluar setelah pesawat yang mereka tumpangi akhirnya mengudara.
"Baik." Kana berusaha tidak menatap Joddy. Ada perasaan aneh yang samar dia rasakan. Seperti perasaan bahagia tapi juga takut.
"Tidak ada masalah yang perlu diselesaikan, Kak."
"Ada Kana."
"Tidak ada." Kana menatap Joddy kesal. Si Bucin -yang-keras-kepala ini benar-benar membuat suasana hatinya campur aduk.
"Kalau tidak ada masalah, kamu tidak perlu terus menghindar dari aku Kana. Terus menghindar hanya akan membuatku lebih keras berjuang untuk mendapatkan kamu."
Kana menggeleng pelan. " Kalau begitu berhenti, Kak. Berhenti berjuang untuk aku. Aku bukanlah sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik."
"Beri satu alasan kenapa kamu tidak pantas untuk diperjuangkan maka aku akan berhenti," tantang Joddy. Kana terdiam , tangannya saling bertautan. Mendadak tenggorokannya terasa kering lidahnya pun kelu.
__ADS_1
" Kalau alasannya karena status kamu, maaf jika sudah mengecewakanmu, karena aku tidak akan berhenti berjuamg hanya karena hal sepele seperti itu."
"Hal sepele buatmu tapi tidak untuk kedua orangtua kamu dan lingkungan sosial. Apalagi kamu dan ayah Ken bersahabat." Kana menyahut cepat.
"Kebahagian tertinggi orangtua adalah melihat anaknya bahagia dan semua akan terasa sia-sia kalau kita mendengar dan mengkhawatirkan tanggapan orang lain tentang kita." Jangan panggil dia Joddy kalau tidak kepala.
"Kak!"
"Kamu cukup duduk manis dan serahkan semua padaku. Berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu. Kamu berhak bahagia," sambar Joddy tangannya mengambil satu tangan Kana mengenggamnya erat-erat. Kana berusaha melepaskan tangannya sendiri tapi kekuatan Joddy berkali-kali lipat lebih besar darinya.
"Kak, mengertilah." Kana memohon walaupun entah kenapa hati kecil Kana seperti tidak rela kalau Joddy benar-benar menuruti apa yang dia inginkan.
"Apa yang harus aku mengerti Kana? Status kamu? atau ketakutan kamu terhadap pandangan orang jika aku menjalin hubungan dengan istri almarhum sahabatku sendiri?" kata Joddy telak. Kana tak menyahut kali ini dia benar- benar bungkam.
"Seperti yang aku bilang tadi. Kamu cukup duduk manis dan diam. Biarkan aku yang berjuang." Joddy memgangkat tangan Kana yang ada digenggamannya. lalu mengecup lembut punggung tangan Kana membuat si empunya tangan menatapnya dengan mata terbelalak lebar, karena sungguh saat bibir Joddy menyentuh lembut kulit putihnya, tubuhnya bereaksi berlebihan.
Tapi tidak bisa dipungkiri perlakuan manis Joddy terhadapnya memberi rasa hangat di relung hatinya. Darahnya terasa berdesir, perutnya terasa mulas seperti ada ribuan kupu-kupu yang saling bertubrukan. Dan Kana menikmati itu semua. Ingin sekali Kana berteriak pada tubuhnya karena sudah berkhianat hingga Kana merasakan sensasi yang sudah lama tidak dia rasakan.
Terasa panas di dalam suhu yang dingin.
Tapi semua terasa salah, saat tiba-tiba wajah Adrian melintas begitu saja di pikirannya.
"Cukup!" Kana menghempaskan tangan Joddy sedikit kasar.
"Semakin kamu mengejarku aku semakin berlari jauh, Kak!" Kana benci mengatakan ini. Tapi harus. Dia harus membangun dinding yang kokoh dan tinggi setinggi-tingginya agar Si-Bucin- yang- keras kepala ini berhenti mengejarnya.
"Silahkan! Berlarilah sejauh mungkin dan aku akan terus berjuang untuk mengejarmu. Silahkan membangun dinding yang tinggi dan aku akan merobohkannya." Joddy tersenyum manis lalu mencondongkan tubuhnya ke depan Kana. "Kalau lelah berlari, istirahatlah. Di saat itu menolehlah ke belakang dan akan selalu ada bahu untukmu bersandar." Tangan Joddy terulur mengusap lembut kepala Kana.
"Kamu gila!" Kana menepis tangan Joddy lalu menjauhinya merapat ke jendela membuang pandangannya keluar. Pura-pura sibuk menikmati pemandangan awan putih yang seperti sekumpulan kapas yang menggantung padahal sebenarnya Kana sedang sibuk menutupi rona merah di pipinya. Bibirnya berkedut menahan senyum. Sekali lagi dia dikhianati oleh reaksi tubuhnya sendiri. Chessy.
__ADS_1
******