Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Sudahi saja


__ADS_3

"Kak, mau ke mana?" Nea mendekati Kanda yang sibuk mengemasi baju-bajunya ke dalam koper. Baju yang sengaja Kanda tinggal untuk berjaga-jaga agar dia tidak perlu membawa baju apabila pulang ke Bandung.


"Pulang ke Jakarta."


"Kak, jangan ke kanak-kanakan, kita bicarakan dulu baik-baik."


Kanda menutup kopernya setengah membanting lalu menatap Nea tajam. "Membohongi orang , melampiaskan kemarahan pada seorang anak kecil karena iri pada ibunya dan mengarang cerita dengan mengatakan suami dan temanku ada hubungan, itu baru kekanakan, dan kita tahu siapa orangnya."


Selama berhubungan dengan Kanda, tidak sekalipun pria itu membentaknya. Bicara dengan nada tinggipun Kanda tidak pernah, apalagi bicara kasar. Kanda memperlakukan Nea seperti seorang ratu. Kanda selalu menuruti apapun yang diminta Nea. Dia selalu memaafkan apapun kesalahan atau ulah yang dibuat Nea. Bahkan saat tahu Nea tak 'utuh' lagi saat malam pertama pun Kanda menerimanya dengan tulus dan dia masih bisa tersenyum manis.


Tapi sekarang Nea kehilangan sosok yang mempunyai kebiasaan itu. Tidak ada senyum di wajah Kanda, yang ada wajah dingin dengan tatapan menusuk. Nea semakin panik saat Kanda mengunci kopernya lalu menariknya keluar kamar.


Melihat itu amarah Nea tidak dapat dia bendung lagi. "Aku tahu aku salah, tapi itu semua karena kalian! Kalian terlalu menyayangi Kana."


Kanda menghentikan langkahnya, tertarik lebih tepatnya terganggu dengan kata-kata Nea.


"Sedari dulu sampai sekarang semua orang selalu memberikan perhatian pada Kana. Mama memilih menginap di rumah Kana begitupun Papa selalu memikirkan Kana selalu menanyakan keadaannya walaupun sedang bersamaku. Dan kamu...Kamu tidak pernah memprioritaskan aku! Selalu saja Kana-Ken-Kana-Ken. Muak aku, Kak! Muak!"


Kanda membalikan tubuhnya dan menatap Nea lurus." Coba kamu pikirkan apa yang sudah orangtua aku lakukan untuk kamu yang tidak dia lakukan pada Kana?"


Nea terdiam.


" Mereka membiayai kuliah S2 kamu dan kehidupan kamu selama tinggal di perantauan. Kamu pikir itu uang dari mana? Sebagian hasil kerja Papa untuk membiayai kamu."


Lagi-lagi Nea hanya diam, itu memang benar. Selama dia tinggal di Jogja orangtua Kanda yang selalu mengirimkan uang. Orangtua Nea yang seorang pensiunan guru itu hanya tahunya Nea mendapat beasiswa dan Nea pun tak pernah memberi tahu jika Gufron membiayainya S2. Orangtua Nea memang tak semampu orangtua Kana yang bekerja sebagai Kontraktor membuat Nea terkadang minder.


" Ketika kita menikah Papa memberi kita rumah ini serta liburan bulan madu ke beberapa tempat." Kanda terus saja bicara, karena selama dia cukup diam.


" Asal kamu tahu saja, Kana tidak pernah meminta uang sepeserpun pada Papa setelah dia menikah bahkan setelah suaminya meninggal pun dia hanya hidup dengan peninggalan suaminya yang tak seberapa." Tatapan Kanda menerawang mengingat betapa berat hari-hari yang telah dilalui adiknya itu.


" Setiap bulan dia memberi jatah Mama untuk keperluan rumahnya, dia juga harus bekerja keras untuk membiayai Ken dia menolak dan mengembalikan dana yang Papa tawarkan setiap bulan. Lalu apa yang kamu lakukan, meminta kami merahasiakan semuanya dari Kana dengan alasan tidak enak. Padahal kamu hanya takut harga diri kamu jatuh di depannya. "


Nea meremas kuat ujung dress yang dia pakai. Hatinya terasa ditusuk saat dibandingkan dengan Kana. Dia tidak terima, sedari dulu sampai sekarang dia selalu dibandingkan dengan Kana, bahkan sewaktu SMA orangtuanya pun menyukai Kana.


Padahal jelas-jelas dia lebih dari Kana. Dia selalu juara 1, sedangkan Kana masuk sepuluh besar pun tidak. Nea selalu memenangkan perlombaan yang dia ikuti, sedangkan Kana hanya menang lomba fashion. Tapi kenapa dari dulu selalu saja dia yang dikagumi banyak orang.


"Itu bukan salahku, Kana sendiri yang tidak mau menggunakan fasilitas yang diberikan orangtuanya. Entah dia bodoh atau naif." Nea tidak mau disudutkan apalagi dibandingkan dengan Kana dia benci itu, benci sekali, harga dirinya terluka.


"Memang, bukan salah kamu. Tapi bisa kita lihat siapa yang lebih dewasa di sini." Kanda melempar tatapan ke arah lain dia tidak mau terpedaya dengan tatapan Nea lagi.


"Sebelum kamu hadir di kehidupan kami. Kana sudah menjadi prioritas. Dia anak yang baik, menurut dan tidak pernah mengeluh pada keadaan. Maka dari itu kami menyayanginya. Kalau kamu pikir itu semua karena dia anak seorang Gufron yang sukses, kamu salah. Kana juga mengalami dan ikut berjuang bersama kami. Bahkan ketika dia masih bayi pun dia sudah berjuang untuk hidup. Bayi prematur yang sudah divonis tidak akan hidup lebih dari 24 jam kini tumbuh dewasa."


Hati Nea semakin panas waktu mendengar Kanda begitu sangat membanggakan Kana.


" Kamu tahu sendiri berapa kali dia kehilangan lalu terpuruk hingga kemudian bangkit lagi. Tak sekalipun dia mengeluh pada keadaan dan segala yang dia alami. "


Nea berjalan mendekati Kanda dengan dagu terangkat sombongnya. "Kamu bicara seolah-olah aku ini suka mengeluh dan tidak pandai bersyukur."


"Kenyataannya memang begitu, kan?" Kanda tersenyum tipis. Dia selalu ingat bagaimana Nea mengeluh akan hal sepele. Seperti rasa makanan atau cuaca yang kelewat panas.


"Kalau memang kamu bersyukur atas apa yang sudah kamu punya. Kamu tidak akan berselingkuh dengan teman kuliah kamu sewaktu di Jogja."

__ADS_1


Langkah Nea berhenti, wajahnya mendadak tegang membuat kepercayaan dirinya hilang.


Dari mana suaminya tahu tentang itu? Nea memang berpacaran dengan Fahri teman satu kampusnya di Jogja saat dia menjalani pacaran jarak jauh dengan Kanda, dia juga melakukan perbuatan terlarang pertama kali dengan Fahri. Dia tidak bisa menolak pesona Fahri yang terus menerus mendekatinya. Apalagi dia jauh dari Kanda.


"Tidak perlu bertanya aku tahu darimana, itu tidak penting." Kanda mengedikkan bahu.


"Aku sudah berusaha untuk memaafkanmu dan menerima kamu apa adanya dengan harapan kamu bisa berubah dan melakukan hal yang sama. Tapi apa? Kamu masih sama." Kanda menghela napas kasar.


"Dalam sebuah hubungan hal yang paling penting adalah kepercayaan dan kejujuran. Dan kamu tidak punya itu. Jadi..." Kanda memberi jeda ucapannya lalu menatap Nea lekat-lekat.


"Mari kita sudahi saja," lanjut Kanda berusaha tidak mengeluarkan suara yang bergetar menandakan dia berat mengatakan itu semua.


Nea terperangah sejenak tapi kemudian dia tertawa hambar. "Ngaco kamu! Bucin seperti kamu tidak mungkin bisa jauh dariku." Nea tertawa meremehkan.


"Aku memang sangat mencintai kamu Ne, bahkan sekarang masih. Sayangnya, itu mulai terkikis bersamaan dengan semua sifat kamu yang mulai terlihat aslinya. Dan Ken adalah puncak dari kepercayaanku yang mulai hilang."


Nea menatap Kanda tak percaya, rasanya ada bagian yang sakit di dalam dirinya. Awalnya, dia memang tidak mencintai Kanda dia menikahi pria itu hanya agar hidupnya terjamin selain itu dia ingin bisa melampaui Kana. Tapi sejak Kanda memaafkannya di luluhmana saat pria itu tahu dia sudah tidak perawan hati Nea mulai luluh dengan ketulusan Kanda.


"Seberapa dalam kamu membenci Kana dan menyakitinya. Dia akan tetap memaafkan kamu. Tapi jika kamu terus begini maka kamu akan kehilangan seorang sahabat terbaik yang kamu punya. Sesampainya di Jakarta aku akan urus semuanya."


Nea menggeleng keras-keras. "Gak! Kamu gak bisa pisah dari aku!"


"Kamu bisa tinggal di sini sampai semua selesai." Kanda membalikkan badannya lalu menyeret kopernya keluar dari kamar.


"Enggak! Enggak bisa, kamu gak bisa tinggalin aku gitu aja!" Nea menarik tangan Kanda mencegahnya agar tidak pergi.


Kanda menatap Nea lekat-lekat, memegang tangannya erat. Membuat Nea tersenyum karena Kanda luluh dengannya.


Senyum Nea menghilang begitu tangan Kanda melepas tangannya sedikit kasar, lalu berjalan cepat meninggalkan Nea yang berdiri mematung dengan wajah tak percaya.


"Arghhhh!"


**


Joddy tersenyum manis lalu menerima cup kopi hangat yang disodorkan Kana. Mereka sedang menunggu Ken yang masih tertidur pulas di ranjang rumah sakit. Dokter meminta Ken menginap semalam, selain memantau Keadaannya juga agar Ken bisa beristirahat. Keadaannya sudah baik dia hanya mengalami shock karena tenggelam di dalam air. Jika tidak ada keluhan semacam demam maka Ken boleh dibawa pulang.


"Tidur saja. Biar aku yang jaga Ken."Joddy menunjuk sofa panjang yang di sediakan di ruang VVIP di rumah sakit itu.


" Kamu gak pengen njelasin apa-apa ke aku?" Kana mengabaikan usul suaminya.


Tanpa berpikir terlalu lama, Joddy tahu apa maksud Kana." Omongan Nea tadi?"


Kana mengangguk.


Joddy menepuk sisi kosong di sampingnya, isyarat agar Kana duduk dan wanita cantik itupun menurut.


"Aku tidak pernah pacaran sama Moli. Aku gak cerita karena kupikir kamu udah tahu."


Mendengar itu hati Kana merasa lega.


"Iya, aku memang pernah jalan sama dia itupun aku gak enak nolak karena dia sahabat baik kamu. Aku sama sekali tidak pernah mengungkapkan perasaan ke dia. Juga tidak pernah melakukan apapun sama Moli, cuma makan dan nonton itupun tidak ada kontak fisik. Ya, cuma gombalan-gombalan receh gak jelas aja."Joddy meletakkan cup kopi di atas meja lalu menyandarkan tubuhnya.

__ADS_1


"Makanya aku heran kenapa Nea bilang begitu tadi. Aku tidak tahu kalau Moli menyimpan perasaan padaku."


"Karena gombalan-gombalan gak jelas kamu lah. Itukan modal kamu bikin cewek klepek-klepek!" sindir Kana tapi matanya lurus ke arah tembok putih, kesal melihat wajah tengil suaminya.


Joddy menahan senyum melihat Kana terlihat cemburu. "Termasuk kamu, kan?"


Kana tertawa sumbang."Kamu aja yang selalu gak peka. Coba berapa wanita yang kemakan PHP kamu?" Kana menatap suaminya tajam. "Kalau dihitung pakai jari. Jari tangan sama kaki aku aja pasti gak cukup," cibir Kana, membuat Joddy terkekeh.


"Kesannya aku tuh play boy banget. Padahal kita tahu siapa yang udah mengambil keperjakaanku." Joddy mengedipkan sebelah matanya membuat wajah Kana merah.


"Enak aja! Kamu yang menyerahkan sendiri."


Joddy mengerling lalu tersenyum. "Tapi kamu suka, kan?"


"Apaan, sih!" Kana menatap ke arah ranjang Ken menyembunyikan wajahnya yang merah menahan malu.


"Besok pagi kita langsung pulang saja ke apartemen."


" Kok, apartemen?" Kana menoleh cepat ke arah Joddy.


"Iya, kan kita sudah obrolin kemarin, sementara Kita akan tinggal di sana sampai dapat rumah baru."


"Aku belum bilang setuju kan, Kak?" Kana tak terima.


"Tinggal di apartemen gak baik buat perkembangan Ken. Tinggal di rumah lebih baik. Kalau kita tinggal di apartemen siapa yang mau jagain rumah?"


"Biar aku yang jagain."


Refleks Kana dan Joddy menoleh ke arah suara yang tiba-tiba datang. Kanda menjatuhkan tubuhnya di samping Kana menyandarkan kepalanya lalu memejamkan matanya sejenak.


"Kenapa lo?" tanya Joddy heran.


"Gue nebeng kalian ke Jakarta."


"Udah beres urusan lo sama Nea?"


"Bukan beres tapi selesai." Kanda membuka matanya tatapannya menerawang.


"Maksud lo, apa Bang?" Kanda menatapnya


"Gue udah putusin pisah sama dia."


"What?! Jangan ngaco lo, Bang! Lo belum ada setengah tahun nikah sama dia!" hardik Kana.


Kanda tersenyum tipis. "Gue gak bisa tetap sama wanita yang tega bunuh anaknya sendiri."


Hah?


"Maksud lo-"


Kanda menatap Kana lurus. "Sesuai dugaan lo."

__ADS_1


****


__ADS_2