
Joddy berjalan terburu-buru menuju apartemennya, jarum jam menunjuk di angka 11. Joddy sebenarnya merasa letih, perjalanan Jakarta-Bandung cukup membuat tenaganya terkuras habis. Dia ingin sekali merebahkan tubuhnya di tempat tidur barang satu jam saja di rumah Kana, untuk memulihkan tenaganya. Tapi rasanya tidak akan bisa. Ferddy meneleponnya untuk segera pulang karena ayah dan ibunya sekarang berada di apartemen Joddy.
"Ada apa ini?" tanya Joddy begitu dia masuk ke dalam apartemen dan menemukan kedua orangtua, adik serta Laras berada satu ruangan.
Wajah mereka terlihat tegang berbeda dengan Laras yang menangis sesegukkan. Kejadian ini membuat Joddy merasa de ja vu kejadian beberapa minggu lalu. Jihan menatap ke arah Joddy lalu beranjak dari duduknya berjalan ke arah anak sulungnya itu.
Plakk ....
Tiba-tiba Jihan menampar Joddy dengan keras. "Anak kurang ajar kamu!"
"Bu, ada apa ini?" Joddy refleks memegang pipinya lalu menatap ibunya kaget. Seumur hidup baru sekali ini Jihan menamparnya.
" Kamu masih tanya kenapa? Ibu mengajari kamu tentang cara bertanggungjawab tapi apa yang kamu lakukan? Kamu pergi meninggalkan Laras sendirian untuk meeting dan tidak kembali. Ke mana kamu?" tanya Jihan dengan tatapan meneliti.
"Aku bertemu teman lama, Bu. Dia minta tolong untuk mengantarnya ke Bandung."
"Tapi bisa kan kamu ngasih tahu Laras?Telepon atau Wa bukan malah pergi begitu saja dan tidak kembali. Kamu tahu yang terjadi?" Jihan memberi jeda ucapannya lalu menatap Joddy tajam.
"Oke, Joddy minta maaf itu memang salah. Tapi ada apa, Bu?"tanya Joddy yang dalam benaknya bertanya-tanya kenapa ibunya bisa sampai semarah ini hanya karena Joddy meninggalkan Laras? Toh, Laras itu wanita mandiri dia sudah terbiasa melakukan semua sendiri.
"Laras tadi pingsan. Kamu tahu karena apa?"
Joddy hanya menatap Laras tak peduli.
"Laras belum makan seharian, Mas. Dia terlalu lama menunggumu," imbuh Jihan. Joddy tertawa sinis, astaga terlalu didramatisir. Kenapa perkara makan saja dia harus menunggu Joddy?
"Laras sedang hamil, Mas!" seru Jihan membuat Joddy terkesiap, rahangnya nyaris jatuh ke bawah saat mendengar apa yang Jihan katakan.
"Apa?!" Joddy masih tak percaya dengan pendengarannya.
"Laras hamil anak kamu, Joddy." Heru yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, memperjelas semuanya.
"Apa?Hamil? Gak mungkin!"seru Joddy lalu mendekati Laras, menatapnya dengan mata merah menahan amarah.
"Apa rencana kamu sebenarnya, Wanita Licik!" Joddy menarik tangan Laras memaksanya berdiri. Laras menjerit lirih.
"Jangan kasar pada wanita Joddy, Ibu tidak pernah mengajarimu untuk berbuat kasar!" Jihan melepas tangan Joddy yang menarik tangan Laras dengan kuat lalu menarik Laras ke belakang punggungnya mengamankan jika sewaktu-waktu Joddy akan berbuat kasar padanya lagi.
"Bu, jangan percaya begitu saja pada wanita ini!" Benar-benar Joddy ingin sekali menarik Laras dan memaksanya untuk berkata jujur.
"Maksud kamu Laras berbohong? Ini buktinya!" Jihan melempar 3 buah tespack ke meja. Joddy sama sekali tak tertarik melihat secara detil. Tapi dari jauh pun benda pipih itu menunjuk dua garis merah.
"Ibu lihat sendiri itu punya dia? Bisa saja itu punya orang lain yang sengaja dia gunakan untuk pura-pura hamil," tuduh Joddy tangannya terang-terangan menunjuk Laras, mendengar tuduhan Joddy itu membuat Laras menangis di pelukan Jihan.
"Ya Tuhan, Joddy! Tega sekali kamu bicara begitu! Jelas-jelas ini adalah anak kamu. Kamu yang melakukannya. Kamu yang berbuat!" Jihan benar-benar tak habis pikir dengan anak lelakinya ini. Pasti karena Kana dia jadi berubah.
__ADS_1
Joddy menggeleng pelan. "Dia pasti hanya pura-pura hamil, Bu."
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, jelas-jelas itu hasilnya positif," sahut Heru menatap anaknya tajam.
"Ya, sudah kita test lagi saja di sini," usul Joddy, membuat Laras terhenyak. Joddy tersenyum sinis. Kena kau! pasti hasilnya akan negatif.
"Fer, ke apotik sana! Beli 5 tespack sekaligus!" perintah Joddy pada Ferddy.
Mahasiswa tingkat akhir yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan orang dewasa itu tersentak kaget, bahkan snack yang sejak tadi ada di pangkuannya nyaris jatuh dan berhamburan.
"Kok, aku sih, Bang?" protes Ferddy tak terima, tapi melihat delikan mata Joddy dia memilih mengalah. "Iya, berangkat." Ferddy lalu beranjak dari duduknya. Tapi seperti diingatkan oleh sesuatu dia menatap Joddy.
"Uangnya mana?"
Joddy hanya mendelik lagi dan Ferddy tahu maksudnya. "Iya, pakai uangku," serunya lesu, lalu bergegas pergi ke apotik sambil berpikir, bagaimana kalau dia bertemu orang yang dikenalnya saat membeli tespack nanti? Ah, Bang Joddy, bikin anak gak mikir-mikir!
Setengah jam kemudian semua orang sedang menunggu hasil dari tespack Laras yang sekarang sedang berada di kamar mandi. Jika Joddy berharap Kana hamil anaknya, tidak begitu ketika Laras yang mengaku hamil. Joddy berdoa semoga hasil tespack Laras negatif jadi, dia masih punya kesempatan untuk mengagalkan pernikahannya sendiri.
"Bang, gak deg-degan?" Ferddy menyikut lengan kakaknya yang sejak tadi diam saja dengan tatapan yang menerawang. Joddy hanya mendengus sekilas membuat Ferddy memcibir kesal.
Ceklek...
Semua mata terarah pada pintu yang terbuka, Laras keluar dari kamar mandi dengan wajah lesu membuat Joddy bersorak dalam hati. Pasti negatif! Joddy yakin hasilnya pasti negatif.
"Gimana, Ras?" Jihan segera menghampiri Laras yang menunduk dengan lima tespack di tangannya.
Jihan mengambil ke lima tespack yang ada di tangan Laras. "Positif." Jihan menunjukan kelima benda pipih itu pada semua orang yang ada di ruang tamu apartemen Joddy.
Joddy menoleh ke arah Jihan lalu dengan cepat menyambar tespack yang ada di tangan Ibunya untuk membuktikan apakah benar hasilnya positif. Joddy tak percaya dengan apa yang dia lihat benda pipih itu memang menunjukan dua garis merah dan itu kelima-limanya.
"Gak! Gak mungkin!" Joddy mengelengkan kepala kuat-kuat, lalu menatap Laras penuh amarah.
"Kamu bohong, kan?! Apa yang kamu sembunyikan!" Joddy mencengkram pergelangan tangan Laras sampai dia merintih kesakitkan.
"Auhh! Sakit!" rintih Laras saat cengkraman di tangannya semakin menguat.
"Apa yang kamu rencanakan!" bentak Joddy.
"Joddy, lepaskan tangan Laras kamu menyakitinya!" Heru memperingatkan Joddy. Dia tidak pernah melihat Joddy semarah ini.
"Mas, lepaskan tangan Laras, kamu menyakitinya!" Jihan yang akhirnya turun tangan melepas tangan Joddy dan mendorongnya menjauh dari Laras.
"Bu, dia bohong!"
"Astaga, Joddy. Kurang jelas apalagi? Ini buktinya!" Jihan menunjuk benda-benda pipih yang sudah Joddy banting ke lantai.
__ADS_1
"Itu hanya benda buatan manusia bu belum tentu akurat! " Joddy masih menyanggah setiap kata-kata Jihan. Dia masih yakin jika Laras tidak hamil.
"Kita buktikan secara medis," cetus Joddy tiba-tiba. Membuat Laras menatapnya tak percaya.
"Gak bisa Tante!" seru Laras, semua mata menatap ke arahnya.
"Kenapa? Kamu takut kalau kebohongan kamu terbongkar?" Joddy tersenyum miring ke arah Laras.
"Bukan seperti itu. Jika kita periksa ke dokter itu dibutuhkan data suami dan kita belum menikah, sebenarnya tidak masalahh buat aku pribadi tapi bagaimana dengan orang kantor?Lalu Mama sama Papa aku. Bagaimanapun ini sudah mencoreng nama baik mereka?" balas Laras membuat Joddy terdiam karena bagaimanapun apa yang dikatakan Laras ada benarnya. Terlebih orangtua Laras adalah seorang pejabat daerah di kota mereka tinggal.
"Kalau begitu kalian menikah saja dulu, lebih cepat lebih baik," usul Heru. Jihan mengangguk setuju dengan usul suaminya.
"Benar, apa yang dikatakan Ayah kamu, Mas. Kalian lebih baik menikah. Itu sudah solusi terbaik." Jihan menepuk pundak suaminya.
"Tapi aku yakin Bu. Kalaupun Laras hamil itu bukan anakku."
"Joddy! Kenapa kamu jahat sama aku sih! Ini anak kamu Joddy, aku hanya ngelakuin itu sama kamu!" seru Laras histeris lalu memeluk Jihan.
Joddy menatap Laras tajam lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. "Itu bukan anakku," kata Joddy lirih lalu mengacak rambutnya frustasi. Bagaiamanapun Joddy tidak pernah merasa melakukan itu pada Laras, semabuk apapun Joddy dia tidak akan sepenuhnya kehilangan kesadaran.
"Kalian harus secepatnya menikah. Ayah dan Ibu akan segera menghubungi orangtua Laras di Surabaya untuk mempercepat pernikahan kalian seminggu lagi," putus Heru membuat Joddy tersentak kaget.
"Gak bisa seperti itu, Yah!" tolak Joddy keberatan.
"Gak bisa bagaimana? Ingat Jod, perut Laras akan semakin membesar," balas Jihan.
"Tapi bagaimana dengan Kana?" Joddy benar-benar tidak tega jika Kana harus menanggung kehamilannya sendirian.
"Apa hubungannya sama wanita itu?" sahut Jihan.
"Kana hamil Bu," jawab Joddy.
"Terus dia bilang itu anak kamu? Astaga, Joddy! Dia itu janda. Dia bisa tidur dengan pria manapun yang dia mau! Itu belum tentu anak kamu!"
"Bu, berhenti berpikiran negatif tentang Kana dan statusnya. Dia wanita baik-baik dan bisa jaga kehormatannya." Entah kenapa rasanya sakit sewaktu Jihan berkata buruk tentang Kana.
"Kalau dia wanita baik dia tidak akan hamil!"seru Jihan kesal.
Joddy tersenyum sinis lalu menatap ke arah Laras. "Apa bedanya sama wanita di samping Ibu? Bukannya dia juga hamil sebelum nikah?" balas Joddy telak, membuat Jihan terdiam tapi terlihat jelas amarah di matanya.
"Sudah, cukup! Jangan ribut." Heru menengahi. "Pernikahan kamu tetap akan berjalan dan itu seminggu lagi. Keputusannya sudah bulat. Jangan membuat malu keluarga dengan berusaha membatalkan pernikahan ini," putus Heru final. Membuat Joddy terhenyak tak percaya.
"Tapi-"
"Ayah akan hubungi orangtua Laras secepatnya. Ingat pesan Ayah tadi, jangan membuat malu keluarga dengan berusaha mengagalkan pernikahan ini," potong Heru cepat.
__ADS_1
Joddy mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tidak akan menyerah secepat ini.
*****