Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
LDR


__ADS_3

"Surprise !!"


Kana refleks memundurkan tubuhnya saat tiba-tiba Joddy sudah berada di depannya begitu dia membuka pintu rumah. Joddy tersenyum tanpa dosa dengan sekotak pizza di tangannya.


"Om Daddy!" Ken yang berlari dari belakang Kana tahu-tahu sudah melompat ke arah Joddy, untung pria itu bisa dengan sigap menyerahkan barang bawaannya pada Kana.


"Hallo, Boy!" Joddy mencium pipi Ken dan membawa bocah itu masuk ke dalam rumah.


"Om Daddy abis dali kelja?"tanya si Gempil, tangannya memeluk leher Joddy.


" Iya, Sayang. Om bawa tuh makanan ke sukaan Ken dibawa Bunda, " tunjuk Joddy dengan arah dagunya ke arah Kana yang meletakkan barang bawaan Joddy di meja makan, lalu menyuruh Mbok Dar menatanya.


"Holee!"Ken meringsek turun lalu berlari ke arah meja makan dengan antusias.


"Baru pulang?" tanya Kana memperhatikan penampilan Joddy yang sedikit berantakan. Lengan kemeja sudah digulung sampai siku, rambut terlihat berantakan dan wajah yang sedikit kusut.


"Iya, kangen kalian langsung aja ke sini." Joddy lalu mengajak Kana menyusul Ken di meja makan.


"Wow pizza!" Ken membulat saat melihat pizza dengan aneka topping terhidang di depannya, bocah gempil itu mencomot sepotong pizza lalu memakannya.


"Ken suka?" tanya Joddy mengacak rambut Ken yang mengangguk antusias itu.


"Kakak sudah makan?"


"Sudah, tadi sama anak kantor." Joddy mengusap sudut bibir Ken yang belepotan keju. Perhatian spontan seperti inilah yang selalu membuat Kana semakin yakin Joddy tulus menyayangi Ken.


"Kami juga sudah makan." Kana tersenyum manis. Membuat jantung Joddy berdebar lebih kencang. Sungguh, semua rasa lelah dan jenuh hilang saat melihat senyum dan tatapan lembut Kana.


Tapi senyum Joddy memudar saat dia ingat tujuan utama dia menemui Kana. "Oh ya, Na. Lusa aku ke Papua."


Kana menoleh cepat ke arah Joddy, tangannya yang semula terulur mengambil pizza akhirnya urung begitu mendengar apa yang dikatakan Joddy.


"Kok mendadak banget Kak? Berapa hari?" Ih, kenapa rasanya tidak rela ya, Joddy meninggalkannya.


Joddy juga sedikit kesal, pemberitahuan kepergiannya mendadak. Tidak bisa diwakilkan karena memang urusan pekerjaan yang ada sangkut pautnya dengan Joddy saat dia masih bertugas di sana. "Iya, ada masalah di kantor sana. Ada proyek yang dulu aku kerjakan terkendala, makanya mereka butuh sedikit tenagaku."


"Lama?"


"Seminggu, paling cepat." Joddy sedikit ragu mengatakannya, seperti tidak yakin.


"Hari H tinggal 2 minggu lagi," Tapi kamu malah pergi, gumam Kana, ada sedikit rasa takut dalam benaknya. Mendadak pikirannya sedikit terganggu, kata orang dulu, calon pengantin dilarang bepergian jauh untuk menghindari malapetaka, dan tiba-tiba saja Joddy bilang akan pergi ke Papua.


Papua?


Astaga, itu kan jauh sekali!


Selama ini Kana sudah terbiasa dengan keberadaan Joddy. Terbiasa dengan segala perhatian dan rayuannya. Terpisah rumah dan tidak bertemu sehari saja rasanya Kana sering kesepian, apalagi ini seminggu dan beda pulau?


Joddy yang menangkap kegelisahan Kana itu tersenyum mencoba menenangkan calon istrinya. "Be positif. Aku akan baik-baik saja, Sayang. Seminggu itu cepat, Kana. Kamu jangan terlalu berpikir yang aneh-aneh." Joddy meraih tangan Kana, mengenggam jemarinya lembut. Berharap kegelisahan wanita itu hilang.


"Papua itu dekat, tinggal nyebrang doang sampai. Seminggu akan jadi serasa sehari." Joddy terkekeh berharap candaannya akan membuat Kana tersenyum.


"Aku akan sering-sering hubungi kamu. Kalau perlu satu jam sekali, telepon, SMS, WA, VC, Fb, twitter, IG-"

__ADS_1


Bibir Kana mulai ketarik ke atas membentuk senyuman.


"Nah, gitu dong! Kalau senyum kan damage-nya gak ada obat." Joddy mengedipkan sebelah matanya. Kana tergelak mendengar kata - kata kekinian Joddy tersebut.


"Gak apa-apa kan aku tinggal seminggu? Persiapan pernikahan kita serahkan sepenuhnya pada WO. Kamu cukup duduk manis sambil mempersiapkan diri."


Kana mengangguk."Iya, asal kamu juga jangan macam-macam di sana! Aku dengar kamu punya mantan yang satu kantor di sana." Kana cemberut.


Sebut saja dirinya posesif atau pacar yang pencemburu, tapi membayangkan Joddy bertemu dengan mantannya di pulau seberang membuatnya mau tak mau sedikit khawatir.


Bagaimana jika Joddy tertarik lagi dengan mantannya? Bagaimana jika mantannya itu merayu dan Joddy termakan rayuannya?


"Hei, hentikan! Jangan berpikir yang tidak-tidak." Jangan panggil dia Joddy kalau tidak tahu apa yang ada di pikiran Kana.


"Asal kamu tahu ya, Na. Di jidat aku sudah tertulis dengan jelas 'MILIK KANA FADELLA GUFRON' boleh dipandang tak boleh dipegang." Joddy lagi-lagi mengedipkan sebelah matanya membuat Kana mau tak mau menahan senyum melihat kelakuan Joddy yang tak sesuai umur itu.


" Aku sudah punya kamu, Na. Aku tidak butuh wanita lain karena dari 1000 wanita aku cuma mau kamu," bisik Joddy sambil melirik Ken yang sibuk makan pizzanya dengan mulut belepotan.


Kana tergelak. "Cukup, Kak! Aku bisa pingsan karena terlalu banyak dengar rayuan recehmu!"


Jika Joddy merayunya belasan tahun lalu saat dia masih memakai seragam biru putih mungkin Kana akan tersipu malu tapi untuk sekarang di usia mereka yang sama-sama matang rayuan Joddy lebih ke arah 'garing'.


II


" Ngomong-ngomong, si Bocah gempil itu kalau tidur jam berapa sih?" tanya Joddy mengedikan bahu ke arah Ken yang sejak tadi sibuk mengunyah tanpa peduli pada dua orang dewasa yang sejak tadi berbicara.


"Paling malam jam 9. Kenapa emang?"


"Dan siap mandi tengah malam untuk 'meredanya'?" balas Kana terkikik geli karena mereka sama - sama tahu, Joddy hanya bisa 'sampai di depan pintu tanpa bisa menerobos masuk'.


*


Kana tak menyangka jauh dari Joddy rasanya lebih menyiksa dari yang dia bayangkan. Tiga hari Joddy berada di Papua memang sangat intens menghubungi Kana. Perhatian kecil masih Joddy berikan. Mulai dari menanyakan kegiatan Kana ataupun Ken, bahkan Mbok Dar juga tak lepas dari perhatian Joddy.


Persiapan pernikahan Mereka pun sudah mencapai 90%. Terhitung hari kelima Joddy di Papua, tapi anehnya hari kelima ini tidak ada kabar sama sekali dari Joddy. Bahkan saat Kana hubungi Joddy ponselnya sibuk malah beberapa kali dialihkan, membuat Kana was-was.


"Kenapa? Joddy sulit dihubungi?" Kanda yang sedari tadi memperhatikan adiknya yang galau itu akhirnya bersuara.


"Iya. Nyebelin banget kemarin dihubungi sibuk, terus aku dialihin eh, sekarang malah gak aktif!" Kana mendengus lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ya, mungkin saja lagi sibuk, Na." Maya yang sibuk memotong sayur untuk makan malam itu menimpali.


"Bener! Sibuk pasti. Sibuk sama yang lain." Kanda tertawa lalu kabur sebelum kena lemparan piring adiknya.


"Jangan dengarkan Abang kamu. Joddy kan ke sana buat kerja, bukan buat liburan." Maya mencoba menenangkan putrinya yang nampak gelisah akibat perkataan kakaknya yang jahil itu.


"Tapi ingat Ma, pria kalau udah ngerasain yang namanya 'surga dunia' apalagi tadinya perjaka dan lagi LDR-an beuhhhhh.. dijamin itu yang bawah nyut...nyutan!" Menyebalkan, adalah nama tengahnya Kanda. Lihatlah betapa kata-katanya yang bernada provokasi itu mampu membuat Kana makin 'sedikit' kepikiran. Tapi wanita itu berusaha tidak mengambil hati ucapan kakaknya.


" Sama dong sama lo sekarang, Bang?Lo kan juga lagi LDR-an," balas Kana tersenyum meledek membuat Kanda melotot ke arahnya dengan wajah salah tingkah.


"Ya, bedalah. Kalau gue kan tinggal nyamper ke Bandung kalau kangen. Lha dia harus nyebrang pulau." Tak lupa Kanda menjulurkan lidahnya di akhir kalimat.


"Ih. Nyebelin!" Kana melempar kakaknya dengan kain serbet tapi pria itu berhasil menghindar.

__ADS_1


"Astaga, kalian ini! Malu kalau Ken sampai lihat." Maya mengerang frustrasi melihat tingkah kedua anaknya yang seperti anak kecil itu.


"Ya, habisnya anak Mama tuh! Dari tadi bikin aku mikir yang enggak-enggak."


"Lha, kok gue. Eh, Kuya. Orang ngomong yang jelek-jelek tentang Joddy kalau lo udah percaya sama dia lo enggak bakal terpengaruh, karena dasar suatu hubungan itu adalah kepercayaan. Kalau tanpa itu ya udah, ucapin bye sama hubungan lo."


Kana menatap kakaknya tak percaya, benarkah yang bicara itu adalah Kanda? Kakaknya yang gayanya tengil dan slengekan?


" Gue aja yang cowok yakin kalau dia gak bakalan macam - macam, karena apa? Karena kalau sampai dia macam-macam Bapak Gufron yang terhormat yang lagi main sama cucunya di kebon belakang sana bisa murka. Dan apa yang terjadi kalau dia murka? Bisa habis 'masa depan' si Kampret yang lagi di Papua itu! "Kanda tersenyum miris membayangkan sesuatu yang akan dilakukan Papanya jika Joddy lagi-lagi menyakiti Kana.


Kana mengangkat sebelah alisnya , belum paham dengan apa yang dikatakan Kanda, tapi kemudian dia tersenyum saat tahu apa yang dimaksud kakaknya.


"Mama setuju, Joddy pria yang baik. Sama Kayak Ian. Keduanya sayang sama kamu." Maya mengelus kepala Kana.


Kana mengangguk. Benar kata Kanda dan juga Maya, tak seharusnya Kana berpikir negatif tentang Joddy. Pria itu tulus menyayangi dia dan Ken. Kalau tidak, mana mungkin Joddy akan berjuang sampai dia bisa berada di posisi menjadi tunangannya seperti sekarang. Ah, sudahlah mungkin benar Joddy sedang sibuk atau di sana sedang susah sinyal hingga tidak bisa menghubungi Kana.


"Daripada lo galau mulu, cari makan yuk, Na?" Kanda mendekati adiknya lalu duduk di samping Kana.


"Lho, Mama kan malam ini mau masak sayur asem." Maya yang tengah sibuk meracik bahan untuk masak makan malam itu melayangkan protesnya.


"Simpan di kulkas ajalah, Ma. Kita makan di luar aja," saran Kanda yang disetujui Kana. Sepertinya makan malam di luar tidak ada salahnya. Mereka sekeluarga sudah jarang menghabiskan waktu bersama. Sejak Adrian meninggal Maya lebih banyak tinggal untuk menemani Kana dan Ken yang tidak mau meninggalkan rumah mereka sedangkan Kanda dan Gufron tetap tinggal di rumah lama.


"Eh, aku ada tempat makan baru lho, Bang. Kemarin aku lihat di Instagram. Bentar aku cek." Dengan gesit Kana mengambil ponselnya membuka aplikasi Instagram untuk melihat tempat makan yang kemarin dia temukan secara random dan tampak menarik.


Jari Kana yang sibuk menscroll layar ponselnya tiba-tiba terhenti seketika saat melihat satu akun yang sangat dia kenal. Akun milik Joddy. Penasaran Kana membukanya ada satu postingan yang membuatnya menganga tak percaya. Sebenarnya bukan Joddy yang memposting foto tersebut, dia hanya mendapat tag dari akun lain.


"Gimana? Ketemu belum?" Kanda menatap Kana heran karena adiknya itu malah termenung dengan wajah yang seperti shock melihat sesuatu.



564 suka


Siskasiska tumbang di ranjang aku. Love you beib. Terimakasih buat semalam yang jomblo jangan sedih, yang LDR jangan iri ya kan @Joddy...


Lihat semua 156 komentar


Kiki23 Oh, jadi ini...


Mala widuhhh ini yg dr Jakerdaahhh itu?


Devidev idih kalian habis tempur???


Hana pantesan ajakan jalan-jalan ditolak


Elisa aaaa... Gantenggg wlpun cm dari punggung telanjang ajaaa


Cukup! Kana sudah tidak kuat membaca semua komentar pada foto itu. Kana mengigit bibir dalamnya kuat-kuat. Dia tidak menyangka Joddy tega melakukan ini padanya. Apa yang ditakutinya benar terjadi. Joddy dan Siska menghabiskan waktu berdua dengan mantannya.


"Na, lo kenapa sih? Kayak habis lihat hantu?" Kanda menatap Kana bingung.


"Papa jangan sampai lihat ini," gumam Kana pada dirinya sendiri


*******

__ADS_1


__ADS_2