
Guys maafkan. Bab ini mengandung adegan ++
Jadi please yang belum cukup umur silahkan mundur teratur!
***!
Kana berdiri dengan gugup di depan cermin kamar mandi apartemen Joddy. Setelah resepsi selesai mereka memutuskan untuk pulang saja ke apartemen. Maya dan Jihan bahkan Rahayu dengan senang hati untuk sementara waktu mengasuh Ken dan memberi kesempatan pengantin baru itu untuk berbulan madu.
Tentu saja itu semua disambut Joddy dengan senang hati karena dia memang butuh waktu berdua dengan Kana, apalagi dia mendapat bonus cuti seminggu dari kantornya. Joddy tidak akan membuang waktu berharganya ini.
"Kana!"
Kana tersentak kaget matanya menatap ke arah pintu kamar mandi. Dia berharap Joddy tidak menerobos masuk.
Kana takut Joddy akan kecewa padanya karena ini bukan yang pertama untuk Kana dan gugup karena bingung harus bagaimana, atau sebut saja dia minder dengan....
"Dek, masih lama?"
Ah, bagaimana ini?
Kana mondar-mandir dengan panik. Joddy terus saja memanggilnya di luar sana. Ini malam pertama mereka jadi wajar saja kalau Joddy meminta haknya sebagai suami. Tapi Kana masih takut. Takut mengecewakan Joddy. Kana mengigit bibirnya was-was.
Setelah yakin Joddy sudah tidak memanggilnya Kana memberanikan diri keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Joddy sudah berbaring dengan mata terpejam. Kana bernapas lega rupanya Joddy sudah tidur pasti dia kelelahan. Dengan hati-hati Kana memilih berbaring di samping Joddy, memunggunginya lalu menarik selimut sampai menutupi separuh badannya.
"Aku kira kamu ketiduran di kamar mandi," bisik Joddy, tangannya melingkari perut Kana membuat Kana tersentak kaget. Joddy menipunya, dia belum tidur ternyata.
"Aku hanya ingin memelukmu. Aku tidak akan memaksamu malam ini, tidurlah," bisik Joddy lalu suaranya hilang, sepertinya kali ini dia benar-benar tidur. Kana mengigit bibirnya kuat-kuat menahan tangis.
Maafkan aku, Kak! Kana memberanikan diri melepas tangan Joddy yang memeluknya lalu membalikkan badan menghadapnya. Kana terkesiap saat Joddy ternyata belum tidur, menatapnya dengan senyum manis.
"Kamu kira aku bisa tidur kalau di sampingku ada istri cantik dan mempesona seperti ini?" Joddy seperti tahu apa yang dipikirkan Kana.
__ADS_1
"Kakak, menipuku?"
Joddy terkekeh. "Bukan menipu, ini malam pertama kita tapi kamu malah menghindariku. Aku sedih." Joddy berkata dengan wajah yang dibuat sendu.
"Kamu kenapa?Insecure sama diri kamu sendiri?"
Tuhkan, Joddy selalu tahu apa yang dipikirkan Kana. "Aku-"
"Aku cinta sama kamu, Na. Aku tidak peduli status kamu, atau ini bukan yang pertama buat kamu. Kalau aku mempermasalahkan semua itu, aku tidak akan menunggumu bertahun-tahun . Aku tidak akan menjaga keperawananku yang sudah kamu ambil beberapa bulan lalu."
Kana melotot sebal ke arah Joddy, keperjakaan kali." Kamu sendiri yang menyerahkannya padaku!"
Joddy terkekeh melihat raut wajah Kana yang marah. Menggemaskan.
" Kamu mabuk, kalau kamu lupa! "
Joddy tersenyum lalu menangkup kedua pipi Kana." Makanya, aku ingin merasakannya lagi, tapi tidak dalam keadaan mabuk. Apakah rasanya akan sama dan mampu-" Joddy mengusap pipi Kana. "Membuatku lupa caranya berhenti,"bisik Joddy membuat darah Kana berdesir.
"Jangan Insecure pada diri sendiri. Berterimakasihlah pada diri kamu sendiri, tubuh kamu luar biasa. Asal kamu tahu, Na. Dari dulu kamu sudah membuatku mabuk kepayang."
Kana memicingkan matanya. "Dari dulu? Itu berarti kamu sudah menginginkan aku dari dulu, Kak?"
"Hemm, iya." Joddy terkekeh, Kana mencubit perut Joddy lalu memeluknya erat.
"Ya sudah."
"Apa?"
"Katanya mau merasakan dalam keadaan sadar?" Suara Kana teredam di dada Joddy. Malu.
Joddy tersenyum lebar karena merasa mendapat lampu hijau. Yes, siasatnya berhasil.
__ADS_1
"Boleh?"
Kana mengangguk lalu mendongakkan kepalanya menatap Joddy. Sedetik mereka hanya saling berpandangan. Napas Joddy membelai lembut bibir Kana, membuat jantung Kana berdebar kencang.
"Ini semua seperti mimpi, Na. Aku tidak menyesal karena sudah menunggu begitu lama. Semua sudah terbayar dengan adanya kamu di sini. Aku bisa melihatmu, menyentuhmu dan memelukmu." Joddy mengusap pipi Kana lembut lalu menyatukan kening mereka. Hembusan napas keduanya saling membelai lembut satu sama lain.
Joddy selalu suka aroma tubuh Kana. Lembut. Joddy juga suka rasa bibir Kana, seperti jeruk. Manis.
" Kamu percaya gak kalau aku cinta sama kamu sampai rasanya gila jika kita berjauhan walau hanya sedetik? " Joddy menatap Kana dengan mata berbinar dan penuh semangat.
Kana tertawa lalu mengecup sudut bibir Joddy. "Percaya."
Joddy terkekeh lalu menjauhkan kening mereka, memiringkan kepala mencari bibir Kana dan melum*tnya kecil-kecil sampai Kana mendesah tertahan dengan debaran jantung yang tak beraturan.
Tangan Kana tanpa sadar memeluk sepanjang leher Joddy, jemarinya menarik rambut Joddy saat lidah Joddy membelai dan mengecap, menciumnya dengan serakah, seolah-olah waktu mereka akan segera habis.
Joddy menarik tubuh Kana agar menempel dengan tubuhnya, tangannya dengan gesit menarik ujung baju terusan Kana sampai melewati kepalanya lalu melempar kesembarang tempat. Joddy semakin tak sabaran karena tubuh Kana yang memberi respon setiap sentuhannya. Tangan Joddy merayap ke punggung Kana mengelus kulit punggungnya yang halus lalu dengan terampil melepas pengait bra wanita itu dan lagi - lagi melemparnya entah ke mana.
Tiba-tiba saja Joddy menjadi tak sabaran, dia melepas satu kain yang tersisa di tubuh Kana menghempaskannya ke lantai tanpa perasaan. Lalu menjauh dari Kana hanya untuk melepas segala kain yang masih menempel di tubuhnya sendiri.
Kana membiarkan pria itu menyentuh, menyecap dan menikmati setiap jengkal tubuhnya. Pandangan keduanya menjadi sayu bahkan Kana melihat bola mata Joddy semakin hitam pekat menahan gairah. Seakan sudah lama tahu, Joddy begitu hafal titik - titik sensitif tubuh Kana. Joddy mengeram tertahan saat tubuh Kana mengeliat merespon setiap sentuhannya. Ingin sekali dia menjadi egois. Ingin sekali dia segera menyatukan dirinya dengan Kana, memasuki wanita itu lebih dalam lagi, tapi dia tidak mau terburu-buru. Dia ingin membuat Kana nyaman terlebih dulu sebelum mengajak dan membuktikan pada Kana jika dia benar-benar tergila-gila padanya.
Joddy melepas ciumanya menatap Kana sejenak untuk melihat apa akibat dari yang sudah dia lakukan pada istrinya itu.
Ada bagian dalam diri Joddy yang nyaris meledak saat melihat tubuh istrinya yang polos. Wajah Kana kemerahan terbakar gairah. Bibir Kana yang terbuka dengan tatapan tak kalah sayu dengan dirinya membuat pertahanan Joddy benar-benar runtuh.
Joddy mengulingkan tubuh Kana mengurungnya di bawah tubuhnya menatap Kana dengan lembut. Tatapannya seakan meminta izin pada Kana untuk melakukan lebih, memasuki dirinya lebih dalam. Joddy tersenyum saat Kana mengerjapkan matanya lalu mengecup sudut bibir Joddy seakan memberi izin.
"Maaf jika aku lupa caranya berhenti." Kalimat terakhir yang Joddy bisikan sebelum penyatuan itu terjadi. Desahan dan rintihan Kana menghiasi kamar di apartemen yang belum pernah disinggahi wanita manapun selain Kana dan Jihan.
Joddy benar-benar membuktikan omongannya, dia memang lupa caranya berhenti dan bisa dipastikan Joddy tidak membiarkan Kana untuk tidur.
__ADS_1
******