Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Drama


__ADS_3

"Mas!"


Jihan memeluk Joddy begitu melihat anak sulungnya itu muncul. Joddy membalas pelukan sang ibu dengan wajah bertanya-tanya. Begitu mendengar Ferddy menelepon mengabarkan jika Ibunya dibawa ke kantor polisi, Joddy bergegas menyusul Ferddy dan Ibunya.


"Ada apa sebenarnya ini?" tanya Joddy melepas pelukan Ibunya.


Jihan hanya menundukkan kepala menahan tangisnya.


"Anda siapanya Ibu Jihan?" tanya seorang petugas polisi.


"Saya anak pertamanya. Ada apa dengan Ibu saya ya Pak?"


"Ibu anda ditahan dengan tuduhan percobaan pembunuhan."


Joddy terkesiap saat mendengar jawaban dari pria berkumis tebal itu. "Hah?! Bagaimana mungkin???"


"Ibu anda sudah melakukan tindakan kejahatan dengan menyiramkan air keras pada Bapak Heru dan Ibu Laras. Tindakan itu mengenai sebagian wajah Ibu Laras dan punggung Pak Heru yang berusaha melindungi Ibu Laras. Pak Heru 6sudah melaporkan kasus ini, kami tinggal menunggu kelengkapan berkasnya."


Pandangan Joddy beralih ke Ibunya. "Bu, kenapa Ibu lakukan itu?" Bagaimana mungkin Ibunya tega menyiram kan air keras pada Ayahnya. Suaminya sendiri.


Jihan menunduk lalu menatap Joddy. "Awalnya Ibu ingin menyiram Laras, tapi Ayahmu melindunginya. Pria tua itu lebih memilih menyakiti dirinya sendiri demi wanita sialan itu!Tapi Ibu bersyukur, air keras yang Ibu siram sempat mengenai wajah wanita itu juga." Laras tersenyum aneh, seperti ada kepuasan sendiri saat melakukan tindakan itu. Melihat Itu, Joddy sedikit was-was dia menatap Ferddy yang sejak tadi duduk diam menatap Ibunya dengan mata lelah. Joddy tahu adiknya itu sudah sangat terpukul dengan keadaan rumah tangga orangtuanya, ditambah sekarang Ibunya yang berusia paruh baya harus berurusan dengan hukum.


"Bu, aku tahu Ibu sangat terpukul dengan apa yang dilakukan Ayah. Tapi Ibu tidak harus menghukum mereka dengan cara seperti ini."


Jihan hanya tersenyum tipis. Lalu mengenggam tangan Joddy. "Kamu cukup jaga adik kamu saja, Mas. Masalah Ibu tidak perlu kamu pikirkan. Mungkin ini hukuman Ibu karena sudah menyakiti hati wanita sebaik Kana. Tolong sampaikan maaf Ibu pada Kana. Ibu sudah salah menilainya, Ibu terlalu negatif menilai Kana dan statusnya. Ternyata wanita yang Ibu anggap baik malah menusuk Ibu dari belakang."


Joddy merasakan kesedihan yang sangat di akhir kalimat Ibunya. Ada luka setiap Joddy melihat mata Ibunya. Wajar saja, Ayahnya adalah pria yang dicintai Ibunya, mereka memulai semuanya dari nol. Yang Joddy lihat selama ini mereka baik-baik saja, meskipun ada masalah mereka pasti menyelesaikannya dengan kepala dingin. Tapi kenapa Ayahnya bisa berubah secepat itu hanya karena seorang wanita?


"Ayah!"


Joddy dan Jihan tersentak kaget saat mendengar suara Ferddy memanggil, mereka menatap ke arah pintu masuk di mana seorang pria masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah dingin. Rahangnya mengeras tangannya yang bebas mengepal kuat.

__ADS_1


"Mas," panggil Jihan ke arah suaminya. Pria paruh baya itu hanya melirik Jihan sekilas lalu berjalan dengan angkuhnya menuju meja polisi yang sejak tadi mengamati interaksi Jihan dan anaknya.


"Pak Heru, bagaimana?" Polisi itu menyambut kedatangan Heru yang sepertinya sudah dia tunggu - tunggu.


"Ini hasil visum dan rekaman CCTV kelakuan wanita itu pada saya dan Laras." Heru meletakkan sebuah amplop warna cokelat dan sebuah flashdisk di atas meja polisi tersebut.


Joddy menatap Ibunya yang mengigit bibir bawahnya seperti menahan agar suara tangis tidak keluar di depan suaminya. Sungguh, Joddy tidak tega melihat Ibunya seperti ini.


"Ayah, kita bicarakan baik-baik apa perlu Ayah sampai harus mempolisikan Ibu seperti ini. Ingat Yah, ini istri Ayah." Joddy mencoba membujuk Heru. Pria paruh baya itu menatap tajam ke arah anak dan istrinya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, dia sudah membuat Laras menderita dan dia juga membuat anak yang ada di dalam kandungan Laras keguguran. Masih perlu dibicarakan baik-baik?!" balas Heru ketus, matanya menatap Jihan penuh amarah.


" Laras kehilangan bayinya? " tanya Joddy tanpa sadar.


" Tidak hanya kehilangan bayi kami, dia juga kehilangan separuh wajahnya. Sudah puas, kamu!"murka Heru pada Jihan dengan mata berapi - api napasnya naik turun menahan emosi.


Jihan tercenung saat melihat pria di depannya. Jihan seperti tidak kenal dengan Heru. Pria itu sudah berubah, benar-benar berubah. Tidak ada tatapan penuh cinta yang Jihan lihat saat menatap Heru berganti dengan kebencian yang teramat dalam.


Jihan mendesis lalu tersenyum miris. "Aku gak nyangka kamu bisa berubah secepat ini, Mas. Apa kamu lupa bagaimana perjuangan kita? Bagaimana kita bisa sampai di titik kebahagiaan. Apa kamu lupa semua itu, Mas?!" ledakan amarah Jihan sudah tidak dapat dia tahan lagi. Melihat suaminya yang lebih memilih Laras membuat Jihan sakit.


Jihan tersenyum sinis. "Cinta? Saling membutuhkan? Omong kosong!" Jihan tak terima dengan apa yang Heru katakan. Tega sekali dia mengatakan cinta pada wanita lain di depan istri yang sampai sekarang masih mencintainya, bahkan ketika dia tahu Heru telah mengkhianatinya, masih saja Jihan mencintai pria itu.


" Terserah apa pendapatmu tentang aku dan Laras. Aku tidak peduli karena aku akan tetap bersamanya apapun yang terjadi. Cintaku sudah tidak ada untukmu, Jihan. Jadi lebih baik kita akhiri semuanya sekarang juga." Heru mengatakan itu tanpa menatap Jihan.


Joddy yang mendengar setiap perkataan Ayahnya hanya bisa mengeram dalam hati. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras, susah payah dia menahan diri agar tidak menerjang Ayahnya, karena bagaimanapun Heru adalah orangtuanya. Ada darah pria itu mengalir dalam tubuhnya.


"Apa maksud kamu?" Jihan berharap apa yang dia takutkan tidak benar terjadi.


Heru menarik napas pelan lalu menatap Jihan lekat-lekat. "Mari kita bercerai." Suara Heru terdengar pelan tapi sangat jelas di telinga Jihan dan kedua anaknya.


Jihan terpaku saat mendengar permintaan Heru. Lidahnya berubah kelu. Ada rasa sakit berkali-kali lipat yang menghunjam jantungnya. Membuat dadanya terasa sesak dan sulit bernapas.

__ADS_1


"Bangs**!!" Teriakan itu terdengar keras bersamaan dengan Ferddy yang tiba-tiba saja menerjang Heru. Menarik kerah Heru dan menghunjaninya dengan pukulan secara bertubi-tubi di wajahnya.


Beberapa polisi berusaha memisahkan keduanya tapi entah kenapa Ferddy yang bertubuh kurus itu mempunyai kekuatan duakali lipat dari biasanya.


"Laki-laki bejat! Anj***!!" maki Ferddy begitu Joddy berhasil menjauhkan adiknya dari tubuh Heru yang wajahnya sudah babak belur akibat pukulan Ferddy.


Dibantu oleh seorang polisi Heru bangun dari duduknya, dia menatap nyalang ke arah Jihan. " Lihat, hasil didikanmu Jihan! Kedua anak lelakimu sama-sama tidak tahu sopan santun. Anak kurang ajar! Tidak tahu balas budi!"maki Heru lalu membuang ludah ke arah samping.


Mendengar apa yang dikatakan Ayahnya, Ferddy bersiap menerjang pria tua itu lagi. Tapi Joddy menahannya.


" Cukup Yah. Kami memang bukan anak yang baik dan tidak punya sopan santun. Tapi semoga saja kami tidak menjadi pria pengecut yang menghalalkan segala cara untuk menutupi kebusukanya!" balas Joddy tak kalah sengit.


Mata Heru membelalak dia mengangkat tangannya tinggi - tinggi bersiap memukul Joddy tapi tangan Laras menghalanginya.


" Cukup! Jangan pernah sakiti anak-anakku. Cukup aku saja. Jika kamu menginginkan perceraian maka, mari kita lakukan. Urus saja secepatnya. Pergilah dengan wanita itu jangan ganggu aku dan anak-anakku. Jika kamu ingin menuntutku, silakan! Aku akan terima dengan senang hati, aku sudah cukup bahagia karena berhasil membuat wajah pacar gelapmu menjadi separuh monster. Itu pantas untuknya!" Jihan tersenyum sinis.


" Kau-"Heru bersiap memukul Jihan tapi seorang polisi menghalanginya.


" Mari Pak kita bicarakan saja di ruangan itu. " Polisi yang sejak tadi hanya menjadi penonton drama keluarga itu akhirnya memilih memisahkan Heru dengan keluarganya.


"Aku pastikan kamu akan mendekam di penjara, Jihan," ancam Heru sebelum akhirnya pergi meninggalkan Jihan dan dua anaknya.


"Ibu!" Ferddy memeluk Ibunya erat air mata tak kuasa dia bendung.


" Sudah jangan menangis! " Jihan menepuk punggung Ferddy menguatkan anak bungsunya, meskipun dia sendiri rapuh.


Joddy ikut memeluk Ibunya. "Maafkan Joddy, Bu. Maafkan Joddy! Seandainya Joddy tidak-"


"Cukup, Mas! Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Apa yang sudah kamu lakukan sudah benar. Ibu yang minta maaf sudah membuatmu sakit hati."


"Joddy janji, akan mengeluarkan Ibu dari sini. Joddy janji,"bisik Joddy mencoba menguatkan Ibunya yang berusaha mati-matian agar tangisnya tak terdengar lagi.

__ADS_1


" Iya."


*********


__ADS_2