Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Aku tak sebaik yang kamu pikir


__ADS_3

Rumah sepi begitu Kana datang. Rupanya orangtua Kana membawa Ken beserta Mbok Dar berlibur bersama Kanda dan Nea ke Bandung. Sekarang mereka lebih sering ke Bandung karena Nea berencana akan menetap di sana menerima tawaran mengajar di sebuah kampus swasta. Kana akan menyusul esok hari karena dia baru libur besok pagi. Tapi rasa-rasanya Kana tidak akan sanggup melakukan perjalanan ke Bandung sendirian. Kepalanya masih pusing ditambah sekarang suhu badannya sedang naik. Pikiran Kana juga sedang Kacau.


Kana benar-benar tidak ingin kemana-mana, pikirannya benar-benar kacau. Dia takut, cemas, binggung semua jadi satu.


Dia hamil sebelum nikah dan parahnya ayah dari janinnya adalah seorang pria yang sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Bagaimana kalau keluarganya tahu? Mereka akan sangat kecewa. Astaga, membayangkannya saja membuat Kana pusing.


Kana menyalakan TV mungkin dengan menonton televisi pikirannya akan sedikit teralihkan. Lima sampai sepuluh menit memang pikiran Kana teralih tapi semua buyar saat bel pintu rumahnya berbunyi, dengan malas Kana berjalan untuk membuka pintu.


"Kamu?!" Kana begitu terkejut saat membuka pintu dan mendapati seorang pria berdiri menjulang di depannya dengan cepat Kana mendorong daun pintu untuk menutupnya tapi terlambat, kaki pria itu menahannya lalu sedikit memaksa mendorong pintu itu lebih lebar lalu meringsek masuk.


"Ngapain kamu ke sini? Pergi!" usir Kana. Joddy tak bergeming dari tempatnya berdiri. Dia malah tersenyum manis.


"Jangan marah-marah. Ibu hamil dilarang marah. Nanti kening anaknya berkerut."


"Ka-kamu bicara apa? Siapa juga yang hamil!" balas Kana gugup lalu mengalihkan pandangan ke arah lain saat Joddy menatapnya tajam.


"Punyamu, kan?"


Kana tersentak kaget saat Joddy menunjukan tiga buah tespack dengan dua garis merah, sepertinya itu hasil tes dia tadi. Jadi, Joddy mengambil hasil tes Kana? Padahal tadi dia sudah membuangnya ke tempat sampah.


"Bicara apa kamu! Itu bukan punyaku! " seru Kana.


"Jangan mengelak, jelas-jelas ini punyamu."


"Pengunjung yang datang ke apotek itu bukan cuma aku." Kana tersenyum penuh kemenangan. "Apa buktinya kalau itu punyaku?" tantangnya kemudian.


Joddy tersenyum lalu mendekat. "Kata petugas apotek cuma kamu pengunjung wanita yang menggunakan toilet. Apa perlu sekarang kita ke sana dan lihat CCTV?" Joddy menantang balik Kana membuat Kana menutup mulutnya rapat-rapat.


"Dan ini aku ambil tak lama setelah kamu pergi dari apotek itu," imbuh Joddy.


"Mau kamu apa sih?! Pergi dari rumahku!" usir Kana dia tidak mau Joddy berada lebih lama di sini dan berhasil memancingnya untuk berkata jujur.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu jawab jujur kalau kamu hamil anak aku." Joddy mendekat ke arah Kana yang refleks memundurkan tubuhnya itu.


"Alat itu tidak menunjukkan apa-apa itu bisa saja salah. Jadi, sebelum para tetangga dan tunangan kamu salah paham silahkan keluar dari rumah ini. " Selesai bicara Kana membalikkan badan bermaksud meninggalkan Joddy, tapi langkahnya terhenti saat sepasang tangan melingkari perutnya.


"Tolong Kana, jujur padaku jika kamu adalah wanita di malam aku mabuk," bisik Joddy berbisik di telinga Kana. Membuat darah Kana berdesir. Kana sudah mulai terbiasa dengan sentuhan Joddy dan dia merindukannya.


"Dan sekarang kamu sedang hamil anak aku, kan?" Joddy mengeratkan pelukannya dia menghirup aroma tubuh Kana yang sangat dirindukannya. Sungguh, Kana ingin menolak tapi seperti biasa respon tubuhnya selalu mengkhianati.


"Pergi, Kak," usir Kana suaranya terdengar lemah.


"Katakan ini anak aku, maka aku akan lanjut berjuang."

__ADS_1


"Kak, kumohon." Kana melepas kedua tangan Joddy yang memeluknya lalu sedikit menjauh memberi jarak. "Aku sudah bilang ke kamu ratusan kali. AKU BUKAN WANITA ITU!"


Joddy terpaku di tempatnya berdiri. Mencoba untuk percaya apa yang dikatakan Kana, dia menatap di manik matanya yang kecoklatan. Joddy tahu sekali Kana sedang berbohong.


"Kalaupun aku memang hamil ini bukan anak kamu. Jadi, percuma kamu mengejarku. lebih baik kamu fokus pada pernikahan kamu. Jangan ganggu aku dan Ken."


"Kamu berbohong Kana. Aku tahu siapa kamu tidak mung-"


"Kamu tidak tahu siapa aku, Kak. Aku tak sebaik yang kamu pikir." Cepat Kana menyela kata-kata Joddy.


Kana tahu seberapa kuat dia menyangkal, Joddy tidak akan menyerah begitu saja. Lihat saja, bahkan sekarang Joddy hanya menanggapi perkataan Kana dengan senyum remehnya.


"Jadi, siapa Ayah dari janin kamu? Thomas?"


"Siapapun Ayahnya itu bukan urusan kamu dan yang jelas bukan kamu!" balas Kana.


Joddy tertawa lalu menatap Kana dengan tangan dilipat di dada menunjukan kepercayaan dirinya yang tinggi."Teruslah menyangkal Kana dan aku akan buktikan kalau wanita yang bersamaku itu kamu."


Kana mendecih," Silahkan." Kana tak peduli, dia sudah tidak terlalu berharap pada hubungannya dengan Joddy. Masalah kehamilannya nanti, biar Kana pikirkan sendiri


"Dan jika semua terbukti, bersiaplah untuk menjadi Nyonya Joddy Pradana."


Jujur saja mendengar kata-kata Joddy barusan, hati Kana menghangat. Tapi dia tidak boleh terbuai harus sadar jika Joddy bukan miliknya. Sampai kapanpun Jihan tidak akan pernah menyukai Kana. Lalu bagaimana mungkin jika Kana menikah dengan Joddy dia akan hidup tenang dan bahagia bila mertuanya saja tidak menyukainya.


"Tutup saja pintunya kalau mau per-"Kata-kata Kana terhenti saat Joddy tiba-tiba menarik tangannya lalu menarik ke dalam pelukannya. Memeluk Kana erat.


Kana terpaku saat Joddy mengelus punggungnya lembut. Rasanya begitu hangat sampai-sampai Kana enggan menjauh. Seketika rasa mual dan pusing menguap entah kemana berganti dengan rasa nyaman.


"Na, tolong jangan siksa aku. Menikahlah denganku," bisik Joddy ketika tahu Kana tidak menolak pelukannya. Sepertinya masih ada harapan untuknya.


Kana tertegun seperti baru saja bangun dari mimpi indahnya, dia segera melepas pelukan Joddy menatapnya tajam. " Pulanglah, Kak. Kamu tidak pantas berada di sini," usirnya lalu tanpa menunggu jawaban Joddy Kana berlari pergi meninggalkan Joddy yang berdiri menatapnya dengan tatapan nanar.


****


"Sayang, jadinya kita mau pakai tema apa?" Laras membuka-buka katalog yang diberikan Karin tadi sebelum berpamitan untuk menerima telepon dari klien lain.


Joddy hanya mengangkat bahu malas, dari awal memang dia tidak bersemangat untuk datang dan ikut final meeting kalau bukan karena Jihan yang terus saja memaksanya, dia memilih lembur di kantor atau menguntit Kana diam-diam seperti yang sudah dia lakukan beberapa hari ini. Menguntit Kana ketika pulang kantor. Kalau Kana tahu bisa jadi dia akan makin membencinya.Untunglah, Kana sekarang lebih memilih naik mobil ketimbang naik motor seperti biasanya, itu membuat Joddy sedikit tenang paling tidak Kana dan bayi di perutnya aman tidak terlalu terkena angin malam.


Bayi? Membayangkannya saja membuat Joddy bahagia. Joddy sangat yakin jika janin di perut Kana adalah anaknya dan dia bertekad akan mencari bukti kalau Kana adalah wanita yang bersamanya saat dia mabuk.


"Sayang, kita fix pakai tema outdoor aja yang rustic kayaknya keren deh." Laras menunjuk sebuah gambar.


"Kamu hamil?"tanya Joddy tiba-tiba membuat Laras yang mendengar itu sedikit terkejut.

__ADS_1


"Hamil? Kok tiba-tiba kamu nanya begitu sih?"


"Ya, soalnya kamu ngebet banget pengen cepat nikah?" Joddy menatap Laras mencoba meneliti reaksinya.


Laras terlihat sedikit gugup terlihat dari gestur tubuhnya.yang sedikit gelisah. "Ya , karena kita memang harus segera menikah Jod. Selain karena kita sudah berbuat jauh dan menikah adalah salah satu cara mencegah hal seperti itu, orangtua kita juga udah dari dulu jodohin kita."


"Kamu gak hamil?" Joddy bertanya sekali lagi dia sengaja memancing Laras dengan pertanyaan itu, dan Joddy punya satu hal yang bisa dia jadikan bukti kalau Laras bukan wanita itu. Jika dia menjawab 'tidak'.


Laras mengernyitkan dahi seperti sedang berpikir keras. Kenapa tiba-tiba Joddy bertanya seperti itu? "Aku sudah telat tapi aku belum cek hamil atau tidaknya. Kemungkinan memang ada karena... ini sudah sebulan lebih setelah kejadian itu."


Joddy mengumpat dalam hati. Sial! Kenapa dia tidak jawab 'tidak' saja sih? Bagaimana kalau Laras benar-benar hamil? Maka Joddy tidak bisa membatalkan rencana pernikahan ini.


"Kenapa memang Jod?" Laras semakin yakin Joddy bukan tanpa alasan menanyakan itu. Apa Kana hamil? Tidak! Tidak! Itu tidak boleh terjadi, kalau Kana sampai hamil bisa rusak rencana Laras untuk mendapatkan Joddy.


"Setelah dari sini aku akan cek." Laras harus buat rencana lain agar Joddy tidak bisa membatalkan rencana pernikahan mereka yang tinggal sebentar lagi.


Joddy mengepalkan tangannya kuat-kuat, semoga saja wanita ini tidak hamil.


"Sayang, jadi kita pilih tema rustic saja ya?" Laras kembali ke topik awal sengaja agar Joddy tak membahas lagi tentang kehamilan.


Joddy urung menjawab saat ponsel di tangannya bergetar sebuah pesan dari nomor yang tidak asing masuk ke ponselnya.


🤡🤡: Beib gue ada di Jakarta sekrng. Jemput gue dong!


Joddy : sibuk!


Joddy sedang malas saja, satu Laras saja sudah membuatnya pusing apalagi ditambah dia


🤡🤡: Bodo amat gue tunggu lo. Cept ya sygkuuu😘😘😘


Joddy mengernyit, dia ke Jakarta? Mau ngapain bocah ini?


"Joddy! Mau kemana?" tanya Laras nyaris teriak saat melihat Joddy beranjak dari duduknya bersiap pergi.


"Ada urusan!"


"Tapi kita belum selesai meetingnya!"


"Atur saja!" Joddy segera pergi dari tempat itu, membuat Laras menatapnya frustasi.


"Joddy!"


*************

__ADS_1


__ADS_2