Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Tunda


__ADS_3

Joddy mengecup pucuk kepala Kana yang sejak tadi berbaring sambil memeluknya. Setelah percintaan mereka yang panas dan berlangsung 1 jam mereka menikmati udara dini hari di balkon apartemen Joddy. Berbaring di sofa malas yang sengaja Joddy letakkan di balkon untuk bersantai, asik bersembunyi di selimut tebal.


"Kak,"panggil Kana tangannya asik membelai dada telanjang Joddy sambil sesekali membuat pola abstrak yang membuat Joddy sedikit terganggu, karena perbuatan Kana bisa saja membangkitkan sesuatu yang sedang tidur.


" Ya."


"Terimakasih ya."


"Untuk?"


"Kamu sudah mau menunggu dan menerima aku serta Ken."


Joddy meraih tangan Kana yang sejak tadi bergerak lembut di dadanya lalu mengenggamnya erat.


"Kamu pantas untuk itu."


"Kakak gak menyesal menikahi janda sepertiku?"


"Aku harap ini yang terakhir kamu bertanya seperti itu. Jangan pernah menanyakan lagi."


Kana mengangkat kepalanya lalu matanya bertemu dengan mata Joddy yang menatapnya lekat-lekat.


"Jika kamu bertanya seperti itu lagi, itu berarti kamu masih belum percaya padaku."


"Maaf," ujar Kana lirih.


Joddy mengusap pipi Kana lalu berhenti di dagunya. "Maaf diterima, karena malam ini kamu sungguh-" jeda saat Joddy menarik dagu Kana. "Luar biasa," lanjutnya lalu mengecup sudut bibir Kana lembut.


"Asal kamu tahu itu tadi pertamakali aku lakukan." Kana menyembunyikan wajahnya di dada Joddy. Malu.


Kana tidak berbohong. Dia belum pernah menggoda seorang pria seperti itu. Dengan Adrian dulupun selalu Adrian yang memulai. Tapi begitu bersama Joddy semua berubah. Kana menjadi lebih berani.


Joddy merapatkan tubuh Kana di pelukannya mengusap punggung telanjang sang istri. "Kalau begitu kamu harus sering-sering melakukannya."


"Ihh, gak mau. Malu!"


"Kenapa mesti malu kamar di sini aku bikin kedap suara."


"Tapi kamar di rumah engga." Kana mengangkat kepalanya untuk menatap Joddy lagi. "Kakak gak berniat ngajakin aku sama Ken tinggal di sini terus, kan?"


Joddy terdiam dan Kana menangkap perubahan raut wajah Joddy yang berbeda.


"Kak, Kita akan tinggal di rumah aku, kan?" tanya Kana lagi. Joddy menghela napas lalu mencium pipi Kana lembut sebelum menatapnya kembali.


"Sayang, bukan aku tidak mau. Tapi-"


"Tapi karena rumah itu peninggalan Kak Ian?" sela Kana membuat Joddy membisu sejenak.


"Dengarkan aku, Na. Aku tidak mau tinggal di sana bukan karena rumah itu punya Ian atau ada kenangan kamu dan Ian di sana. Tapi, kamu istriku sekarang Na. Kamu tanggung jawabku. Jadi, biarkan aku yang membawamu ke istana baru tanpa melupakan istana lamamu. Rumah itu untuk Ken jika dia sudah dewasa kelak tapi sekarang tinggallah bersamaku di istana yang baru. "


" Tapi rumah itu-"


" Kita pikirkan nanti bagaimana baiknya. Sekarang please jangan bahas ini dulu ya, paling tidak jangan malam ini." Joddy tidak mau merusak suasana hangat mereka. Besok mereka sudah harus kembali bersama Ken. Joddy ingin menghabiskan sisa malam bulan madu mereka dengan percintaan yang tanpa jeda.

__ADS_1


Kana mengigit bibirnya lalu mengangguk pelan." Iya, ayo malam ini kita bercinta habis - habisan!" Kana mengerling manja, membuat Joddy membulatkan matanya tak percaya mendengar apa yang Kana katakan. Memang Kana mengatakannya dengan suara yang biasa tapi di telinga Joddy nada suara Kana kedengaran merayu.


"Oke, sesuai permintaan, Nyonya!" balas Joddy lalu mencium bibir Kana rakus membuka akses untuk masuk lebih dalam untuk bersama Kana terbang ke nirwana.


**


Kanda berdecak kagum saat melihat makanan yang Kana pesan. Mereka sedang beristirahat dari perjalanan Jakarta - Bandung dan makan siang di sebuah restoran. Mereka sengaja berangkat bersama, karena kebetulan Kanda juga akan berakhir pekan bersama Nea. Daripada sendiri dia memilih ikut mobil Joddy.


"Na, lo gak makan setahun apa gimana? Kita cuma bertiga lho, tiga setengah sama Ken. Ini banyak banget tahu gak?" Kanda menunjuk aneka makanan yang Kana pesan.


"Aku lapar banget, gak sempat makan." Kana dengan telaten mengambil makanan untuk Ken lalu membiarkan bocah berumur 5 tahun itu makan sendiri.


"What?Ngapain aja lo sampai gak sempat makan?"


Pertanyaan Kanda itu membuat Joddy tersedak dia melirik Kana yang tampak santai memakan makanannya.


"Dieksploitasi lo ya sama laki lo? Gila lo Joddy, mentang-mentang lagi tinggi."


Joddy tak mampu menahan senyumnya. Masih teringat jelas bagaimana semalam dia menghabiskan malamnya bersama Kana yang benar-benar luar biasa. Membuatnya ingin selalu mengulang dan mengulangnya lagi. Sampai mereka berdua bangun kesiangan dan terlambat menjemput Ken.


"Pejuang LDR mana ngerti!" sahut Joddy cuek lalu membantu Ken memisahkan tulang ikan.


"Na, lo hati-hati bisa hamil mulu lo sama dia tiap tahun!" bisik Kanda melirik Joddy yang melotot ke arahnya.


"Aku bukan kucing ya!" seru Kana sewot menatap Joddy tajam. Sang suami hanya mampu menelan ludah dalam-dalam.


Sialan memang Kanda!


"Tapi jangan ditunda lah, Na. Bukan apa-apa kasian anak lo ntar. Umur Joddy kan udah gak muda lagi." Lalu Kanda membalas pelototan Joddy. "Fakta Jod! Kebayang gak sekarang lo 36, misalnya kalian tunda punya anak 3 tahun aja. Lo sudah 39 tahun kebayang kan lo sama anak lo jaraknya ngeri waktu anak lo usia SMP. Ntar lo dikira kakeknya lagi!"


" Makanya jangan ditunda." Joddy menarik turunkan alisnya.


"Aku gak nunda, cuma minta jeda buat istirahat," kilah Kana.


"Terus kapan?" Joddy tak mau menyerah.


"Nanti kalau Ken udah minta adik sendiri!"


Joddy tiba-tiba berbisik sesuatu pada Ken membuat bocah 4 tahun itu mengangguk patuh. "Bunda, Ken mau adek."


Kana melotot ke arah Ken sedangkan Joddy pura-pura sibuk dengan makanannya.


"Udah. Jalanin aja dulu." Kanda sedang malas melihat adik dan adik iparnya berdebat. "Kalian boleh titipin Ken sama gue kalau mau bulan madu."


"Boleh!"


"Gak usah!"


Joddy dan Kana menjawab bersamaan, lalu berpandangan karena sama-sama tak setuju dengan jawaban masing-masing.


"Gak usah, Bang. Lo ke Bandung mau ketemu Nea. Masa iya, gue tega nyuruh kalian jagain Ken." Kana mengabaikan delikan mata Joddy yang keberatan dengannya.


"Gak papa. Gue seneng jagain Ken." Kanda menatap Ken dengan pandangan sendu seperti ada kerinduan yang mendalam. Kana tidak pernah melihat kakaknya seperti ini. Seperti menahan sesuatu.

__ADS_1


"Bang, semua baik-baik aja kan?" Memang ikatan darah lebih kental buktinya Kana bisa merasakan jika ada yang tidak beres dengan sang kakak.


"Baik-baik saja." Kanda tersenyum tipis.


"Lo gak bo-"


"Bun, mo pipis." Ken menyela kata-kata Kana. Wanita cantik itu membulatkan matanya lalu dengan tergesa-gesa meletakkan piring dan sendoknya lalu mengendong Ken berlari ke toilet.


"Dasar!" gumam Kanda menahan tawa melihat kelakuan adiknya yang selalu panik jika anaknya ingin buang air. Kana ada trauma, sewaktu Ken berumur 2 tahun pernah terkena penyakit infeksi saluran kencing akibat dari seringnya menahan pipis. Sejak itu Kana selalu insecure tiap anaknya menahan pipis.


"Lo ada masalah apa?" Joddy pun merasa Kanda sedang ada masalah karena sepanjang perjalanan Kanda sering menangkap basah Kanda sedang melamun dengan tatapan kosong.


"Gak ada."


"Kita temenan udah lama Nda. Gue tahu lo ada masalah."


Kanda menghela napas menyuapkan makanan ke dalam mulutnya tanpa suara. "Sialan lo emang!"


"Jadi, ada apa?" Mumpung Kana tidak ada Joddy akan mencari tahu. Bisa jadi Kanda tidak mau terbuka karena tidak enak pada Kana.


Kanda menghela napas lalu meletakkan sendoknya. "Nea ingin menunda kehamilannya."


"Oh, jadi ini alasan kenapa lo ngeliatin Ken segitunya."


"Hmm, gue sebenarnya gak mau Nea nunda kehamilannya. Seperti apa yang gue bilang tadi, usia kita udah gak muda lagi. Maksud gue, mumpung gue masih kuat kerja gue pengen punya anak. Tapi Nea menundanya dengan alasan mau fokus karier dulu."


"Selain itu?"


"Selain itu, apa maksud lo?"


Joddy menyuapkan makanan ke mulutnya lalu menatap Kanda lekat-lekat. "Gue tahu masalah lo bukan sekedar Nea - nunda - kehamilan. Ada yang lain, kan?"


Percuma memang bohong pada orang yang penuh dengan logika. "Hmmm, gue gak tahu kenapa ada yang berbeda sama Nea. Dia udah bukan Nea yang dulu. Dia selalu memaksa kan kehendaknya sama gue, misalnya saja sampai sekarang dia masih membujuk gue buat menetap di Bandung. Tapi lo tahu kan kerjaan gue di sini."


"Kenapa lo gak nyoba cari kerjaan di Bandung aja?".


"Gak semudah itu." Kanda menghela napas. "Lo tahu gak sih Jod. Gue tuh dari dulu ngerasa kalau Nea gak benar-benar mau menerima gue, dia gak benar-benar cinta sama gue. Kadang malah gue ngerasa dia mau sama gue karena sekedar balas budi atas jasa bokap gue yang biayain S2 - nya"


Joddy terkesiap mendengar apa yang dikatakan Kanda. "Jadi-"


"Sttttt, jangan sampai Kana tahu. Sampai sekarang Kana gak tahu kalau biaya kuliah S2 Nea itu bokap gue yang nanggung, karena Nea anak yang cerdas, sayang kalau tidak dilanjutkan sekolahnya."


"Emang kenapa kalau Kana tahu? Gue rasa Kana gak keberatan."


"Ya, memang. Adik gue itu bukan tipe orang yang iri dengki. Tapi Nea tidak mau Kana tahu, gengsi lah!"


Joddy hanya manggut-manggut. "Soal Nea gak beneran mau sama lo, gue rasa itu hanya perasaan lo aja. Kalau dia gak beneran cinta dia gak bakal bertahan lah LDR bertahun-tahun ."


Kanda tersenyum sinis. "Analisis lo salah. Kalau dia cinta sama gue. Dia bisa jaga harga dirinya ketika jauh dari gue."


Joddy mengernyit bingung. "Maksud lo?"


Kanda menatap ke arah luar restoran dengan tatapan menerawang. "Nea udah gak 'utuh' lagi ketika nikah sama gue. Lo ngertikan maksud gue?"

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama dan otak cerdas untuk mengerti apa yang dimaksud Kanda karena begitu Kanda selesai mengatakan itu, Joddy langsung paham.


****


__ADS_2