Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Gendut


__ADS_3

Kehamilan Kana sudah menginjak bulan ketujuh atau sudah masuk trimester ketiga. Perutnya pun sudah kelihatan buncit. Walaupun sudah beberapa kali hamil namun, kehamilan Kana kali ini terbilang berbeda, karena Kana mengalami kenaikan berat badan yang sungguh di luar dugaan dan berbeda dengan kehamilan sebelumnya. Kana juga lebih sensitif dan emosional. Mood swing yang tidak ada habisnya.


Untunglah, Joddy cinta mati pada istrinya itu jadi, dia selalu sabar menghadapi Kana dan tidak pernah disimpan di hati apabila ada sikap Kana yang sedikit kelewatan. Entah kenapa semua tingkah menyebalkan Kana itu tertutupi oleh rasa cintanya yang kelewat besar pada wanita yang bertahun-tahun dia tunggu itu.


"Kak, agak bungkuk dong aku benerin kerah baju kamu yang gak rapi!" pinta Kana begitu Joddy selesai memakai kemejanya. Joddy tersenyum lalu menuruti permintaan sang istri membungkukkan badannya agar tangan mungil Kana bisa menggapai kerah bajunya.


"Nah, begini kan rapi!" Kana menepuk-nepuk kedua sisi pundak Joddy setelah yakin kerah baju suaminya yang sejak tadi menatapnya tak berkedip itu rapi. Kana berjengit kaget saat tiba-tiba saja Joddy mengecup lembut bibir Kana.


"Ihh! Mesum!" Kana mendorong tubuh Joddy menjauh saat pria itu berniat mengulangi perbuatannya untuk kedua kalinya.


"Mesum darimana? Itu ucapan terimakasih karena kamu sudah merapikan bajuku," elak Joddy lalu membungkuk ke arah perut Kana.


"Dek, baik-baik ya di perut Mama. Jangan rewel. kasian Mama kamu, kalau ngambek, nanti jadi jelek! Auh!" Joddy mengaduh di akhir kalimat karena Kana menepuk pundaknya cukup keras.


"Kok dipukul sih?"


"Tadi bilang aku jelek! Mentang-mentang sekarang aku gendut? Gitu?!" Kana berkacak pinggang tak terima.


"Becanda Sayang. Kamu tetap cantik kok walaupun lagi hamil, tambah cantik malah," rayu Joddy dalam hati dia berdoa semoga rayuannya kali ini mempan.


"Jadi kamu ngakuin kalau aku gendut?!"


Duh, salah ngomong lagi!


"Bundaaa!" Teriakan Ken yang membahana menyelamatkan Joddy dari amukan wanita hamil di sampingnya.


"Tuh, Ken udah nungguin. Ayo, kita turun." Joddy merangkul pundak Kana dan membimbingnya ke ruang makan untuk sarapan. Walaupun dengan muka cemberut wanita itu tetap menurut mengikuti langkah Joddy.


"Jangan lupa minum susu sama vitaminnya. Hari ini biar Kanda yang antar jemput Ken. Ingat, jangan kecapekan, jangan makan banyak gorengan, makan-"


"Makan sayur dan buah, iya, iya aku tahu!" sela Kana hafal dengan pesan Joddy sebelum berangkat kerja.


"Nah, gitu dong!" Joddy mengacak rambut Kana lalu tersenyum.


"Mau dimasakin apa buat nanti malam?" tanya Kana duduk di samping Ken yang sedang makan roti cokelat kesukaannya.


"Kayaknya masak cumi enak deh, Na."


"Oh, ditumis pakai cabe hijau?" tanya Kana lagi.


"Iya," jawab Joddy lalu menatap Ken yang asik mengunyah tanpa menghiraukan kedua orangtuanya. " Ken mau dimasakin apa, Sayang?" tanya Joddy.


"Apa aja Ken mau!" jawab Ken dengan senyum manisnya. Bocah kecil itu memang tidak pernah pilih-pilih dalam hal makanan persis dengannya.


Joddy kagum dengan cara Kana mendidik Ken. Ken tumbuh menjadi anak yang baik, mandiri dan santun untuk anak seumurannya. Joddy makin sayang dengan anak sambungnya ini. Duplikat Adrian sekali. Mulai dari wajah dan sifatnya.


"Anak pintar!" Joddy mengusap kepala Ken penuh sayang.


"Daddy, adeknya Ken cewek apa cowok sih?" tanya Ken tiba-tiba membuat Kana dan Joddy saling berpandangan sejenak. Pasalnya, selama ini ketika cek kandungan, mereka berdua meminta dokter untuk tidak memberi tahu jenis kelamin anak mereka biar surprise katanya.


"Emang Ken mau adek cowok apa cewek?" Joddy balik tanya. Kening Ken mengerut lucu dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagunya.

__ADS_1


"Cewek!" jawabnya antusias.


"Lho emang kenapa?"


"Bial Bunda ada temennya," jawab Ken mengerjap lucu membuat Kana tersenyum geli melihat antusiasme anaknya itu.


"Yahh, Bunda gak cantik sendiri dong kalau adiknya Ken nanti cewek," pancing Kana pura-pura sedih.


"No, no. Adek cantik, tapi Bunda paliiiiiiiing cantik seduniaaa!" seru Ken sambil merentangkan tangannya lebar-lebar membuat Kana mau tak mau tertawa lalu memeluk bocah gempal itu.


"Bener kamu Ken, Bunda kamu ini memang paling cantik sedunia!!" Joddy mengikuti gaya Ken merentangkan kedua tangannya dengan wajah lucu membuat Kana tersipu malu.


"Gombal!"


"Jujur nih. Ken juga bilang kan barusan kalau kamu paling cantik sedunia. Tahu sendiri kalau anak kecil gak pernah bohong!" seru Joddy membuat pipi chubby Kana memerah.


Joddy bersorak girang. Yes! malam ini bisa dapat jatah nih!


"Ken dengerin Bunda, mau nanti adeknya cewek apa cowok itu sama saja Sayang, yang penting dia sehat," nasehat Kana mengabaikan Joddy yang mengerling penuh arti.


"Kamu harus jagain dan selalu sayang sama Adik Ken nanti, ya?" sambung Kana.


Ken tersenyum manis lalu mengangguk. "Iya deh, Ken mau adik apa aja bial nanti Ken ajak main telus Ken jagain kalau bobok! Yah, kan Daddy?" Ken menoleh ke arah Joddy yang langsung tersenyum manis.


"Iya," Joddy mengacak rambut Ken penuh sayang sambil tak henti-hentinya bersyukur mempunyai anak sebaik Ken.


Sepeninggalnya Joddy ke kantor, Kana memutuskan untuk belanja di tukang sayur yang biasanya mangkal di depan rumahnya. Sudah banyak ibu-ibu yaang asik memilih sayur saat Kana datang.


"Iya, jarang keluar rumah sih! Biasanya kalau gak Mamanya ya Mbok Darmi yang belanja. Mbak Kana mah enak, ya?" Bu Denok yang konon katanya terkenal nyinyir menimpali.


"Enak gimana, Bu?" Kali ini Bu Ratmi yang mulai memancing obrolan di lebih panjang lagi.


"Ya, enak semua diambil alih orang lain. Saya suka kasian sama Mamanya yang sering belanja sama ngurusin anaknya yang pertama." Sungguh, nyinyir sekali mulut Bu Denok ini, ingin rasanya Kana melempar tomat yang sekarang sedang dia masukan ke dalam kantong plastik.


"Ya, gak apa-apa lah Bu. Mbak Kana sedang hamil juga." Bu Fara mencoba membela Kana karena merasa tak enak hati sejak membuka obrolan.


"Eh, jangan hamil dijadikan alasan ,Bu. Itu Anjani, mantu saya walaupun lagi hamil besar masih aja kerja. Kerjaan rumah juga masih dia handle. Saya suruh istirahat aja gak mau, katanya biar anak dalam perutnya kalau lahir gak jadi anak malas dan manja!" Bu Denok terang-terangan melirik Kana sewot. Sebenarnya ingin sekali Kana membalas setiap kata wanita itu tapi dia masih waras dan menjaga nama baik suaminya.


"Namanya juga Ibu hamil, beda-beda kondisi tubuhnya." Bu Ani yang sejak tadi diam akhirnya menimpali.


"Iya emang, ibu hamil ada yang kuat ada yang manja!" Bu Denok tersenyum tipis ke arah Kana yang sejak tadi mencoba mati-matian menahan tangisnya.


"Mbak Kana udah berapa bulan, udah kelihatan turun itu perutnya ya?" Bu Fara mengalihkan pembicaraan.


Kana mencoba tersenyum." Oh, Sudah 7 bulan, Bu."


"Ya, ampun kirain udah masuk 9 bulan ternyata baru 7? Habisnya gendut banget sih!" Bu Denok tersenyum mengejek.


"Habis melahirkan harus banyak-banyak olahraga Mbak! Zaman sekarang pelakor udah semakin gak tahu diri. Hati-hati lho! Kayak menantu saya, Mbak. Setelah melahirkan langsung dia ikut segala macam senam. Dari aerobik, filates sampai joging tiap habis subuh. Hasilnya udah kayak ABG lagi sekarang. Anak saya kalau udah begitu gak bakalan kabur sama pelakor soalnya ya itu tadi mantu saya pandai merawat diri!" Bu Denok tanpa basa-basi bicara bahkan dia terang-terangan menatap ke arah Kana.


"Mbak Kana jangan didengerin!" bisik Bu Fara tersenyum menenangkan Kana karena terlihat sekali wajah Kana yang masam.

__ADS_1


Kana hanya tersenyum tipis walaupun dalam hati dia ingin sekali mencaci maki wanita paruh baya yang sejak tadi menyindirnya.


"Pak, ini belanjaan saya, tolong cepat ya Pak!" Semangat Kana untuk belanja dan memasak sudah hilang bersamaan kata-kata Bu Denok yang memojokkan itu, dia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini.


Maka, setelah tukang sayur menghitung dan menyerahkan belanjaannya. Kana segera berpamitan pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah dia langsung mengurung diri di kamar tanpa memperdulikan Mbok Dar yang terlihat khawatir melihat Kana. Kana sengaja meminta Kanda menitipkan Ken di rumah mamanya sampai Joddy pulang karena tidak mau anak itu melihatnya kacau.


Kana tidak keluar kamar sampai Joddy pulang ke rumah dan mendapatinya duduk termenung di teras balkon ditemani segelas susu dan aneka cemilan.


"Dek," panggil Joddy.


Kana yang belum menyadari suaminya sudah pulang itu langsung saja berlari menubruknya lalu menangis sesenggukan.


"Hei, kamu kenapa? Kata Mbok Dar kamu gak mau keluar kamar dan belum makan." Walaupun Joddy yakin tidak akan masalah kalau dilihat betapa banyaknya cemilan yang dibawa istrinya ke dalam kamar.


"Aku mau pindah rumah!" Kana melepas pelukannya lalu menatap suaminya dengan mata berair.


"Lho, kenapa tiba-tiba mau pindah rumah?" tanya Joddy lalu mengusap air mata Kana.


Kana mengusap ingusnya dengan ujung kerah Joddy lalu mulai bercerita panjang lebar tentang kejadian yang dia alami tadi pagi sewaktu berbelanja sayur.


Saat mendengar cerita Kana ingin rasanya Joddy tertawa tapi dia tahan, mengingat istrinya ini benar-benar sedang sensitif.


"Mereka jahat banget, ngatain aku manja sama malas!" Kana lalu menangis lagi kali ini lebih keras. Joddy tersenyum lalu memeluk istrinya itu dan membawanya ke dalam kamar.


"Sayang, dengerin aku. Aku bukan anak Bu Denok itu. Aku tidak akan menuntut kamu untuk kembali seperti waktu sebelum kamu menikah. Aku juga tidak akan menuntut kamu untuk rajin ini itu, enggak Sayang. yang terpenting buat aku adalah kamu sama anak-anak bahagia, tidak kurang suatu apapun." Joddy mengusap kepala Kana penuh sayang membuat wanita itu tenang di pelukannya.


"Tapi kalau aku besok beneran gendut gimana?"


"Bodo amat!"


"Kalau aku jadi jelek?"


"Orang yang bilang kamu jelek aja yang harus pergi ke dokter mata!"


Kana tersenyum lalu menatap suaminya. "Makasih ya, Kak, udah mau nerima aku apa adanya. Makasih juga buat kata-katanya barusan, walaupun aku tahu kalau itu cuma buat ngehibur aku."


"Aku tidak menghibur! Aku bicara apa adanya," sangkal Joddy. Kana tersenyum manis lalu memeluk suaminya lagi menghirup aroma telon yang sudah bercampur dengan keringat.


"Iya, iya." Suara Kana teredam di dada bidang Joddy.


"Jadi, sekarang makan ya. Mbok Dar udah masak banyak tuh!" bisik Joddy mengecup pucuk kepala Kana.


"Peluk dulu. Aku kangen sama capek nangis terus seharian," rajuk Kana manja.


"Cuma peluk aja? Gak mau yang lain?" bisik Joddy seduktif.


Kana hanya tersenyum, senyum yang sangat Joddy hafal apa artinya.


*******

__ADS_1


Bab terakhir tidak ada konflik yang berarti ya guys!! happy reading. love you all


__ADS_2