
Nea menyodorkan potongan buah pada Kana yang langsung melahapnya. Hari ini mereka sedang menikmati waktu bersama sebelum bu dosen kembali ke Bandung. Gazebu di belakang rumah Kana menjadi tempat yang mereka pilih. Ken asik bermain bola dengan Mbak Dar. Sambil sesekali menghampiri Kana untuk meminta disuapi.
"Kamu gak kepikiran nyari pengasuh buat Ken, Na?" tanya Nea.
"Belum kepikiran."
"Ya, bentar lagi kan dia mau punya adek, repot lho ngasuh dua balita." Tanpa sadar Nea menatap ke arah perut Kana yang masih saja terlihat rata. Di kehamilan Kana yang kedua pun perut Kana baru terlihat membunuh di usia 5 bulan.
"Benar juga, Mbok Dar juga udah sepuh. Dulu sebelum Kak Ian meninggal aku udah pernah nawarin Mbok Dar buat nyari temen tapi dia gak mau dengan alasan masih kuat handel kerjaan sendiri, eh jadi keterusan. Ken juga terlanjur sayang sama Mbok Dar." Kana menyuapkan sepotong semangka ke dalam mulutnya sambil memperhatikan Mbok Dar yang dengan sabar mengasuh Ken.
Mbok Dar sebenarnya orang kepercayaan Rahayu, mantan mertuanya yang dimintai tolong membantu Kana. Setahun setelah Adrian meninggal, Kana menyerahkan keputusan pada Mbok Dar apakah akan kembali ke rumah Rahayu atau tetap bersama Kana. Dan Mbok Dar memilih tetap tinggal dengan alasan dia tidak bisa meninggalkan Ken yang sudah dia anggap cucu sendiri, dan menurut Mbok Dar Ken mengingatkan pada Adrian.
"Kayaknya kamu kehamilan ini agak rewel ya?" Nea memecah lamunan Kana.
"Iya, morning sick. Tapi anehnya kalau lihat Kak Joddy rasa mual itu hilang." Dan Kana tidak berbohong, mual dan pusingnya hilang saat Kana bertemu dengan Joddy.
"Berarti dia maunya deket sama Bapaknya." Nea melihat semburat merah di pipi Kana. "Aku gak nyangka lho, Na."
Kana menoleh ke arah Nea. "Apa?"
"Kak Joddy, dia ternyata beneran cinta sama kamu. Tulus juga kayaknya sama Ken." Nea tersenyum geli mengingat percakapan Joddy dan ayah mertuanya kemarin. Mereka selalu saja punya cara untuk mematahkan argumen satu sama lain.
"Yah, aku juga gak bisa bohong Nea. Semakin aku menjauhi dia, malah semakin susah buat ngelupain." Kana meringis mengingat perjalanan panjang kisah cinta dia dan Joddy.
"Lama banget lho dia nungguin kamu, Na."
Kana mengangguk lalu menatap ke arah kolam ikan koi kesayangan almarhum suaminya. "Lama banget. Aku tuh ngerasa diam-diam dia selalu jagain aku. Di saat aku terpuruk dia selalu ada buat aku, Ne. Dia udah banyak berjuang untuk aku dari dulu. Dari sebelum aku nikah sama Kak Ian."
"Dan sekarang dia harus berjuang makin keras lagi demi restu Papa." Kana menghembuskan napas keras-keras.
"Kamu balik Ke Jogja lagi?"
"Iya, Papa minta aku balik ke Jogja. Katanya mau ngasih pelajaran Kak Joddy." Kana menghela napas berat.
Nea merangkul bahu Kana. "Yakin, kalian pasti bisa melewati ini semua. Aku ada di tim kalian. Pokoknya aku dukung kalian sampai naik pelaminan, punya anak banyak dan menua bersama."
Kana terkekeh membalas pelukan Nea. "Doa yang sama untukmu. Semoga kamu betah ngadepin tingkah Kakakku yang absurd."
"Dibetah-betahin, Kakak kamu nyebelin soalnya." Nea tergerak, dia masih tak menyangka bisa menikah dengan kakak sahabatnya sendiri. Awalnya, Nea tidak punya perasaan apa - apa tapi lama-lama dia jatuh cinta juga dan menerima lamaran Kanda.
"Walaupun dia itu kadang annoying, tapi untuk urusan kesetiaan dia nomor satu!"
"Iya kalau itu, aku percaya. Kakak kamu itu juga kadang manis kayak gula tapi kadang juga asem kayak bau keteknya," kelakar Nea, lalu mereka berdua tertawa bersamaan.
Di tempat lain, Kanda yang sedang minum segelas kopi di tempat kerjanya itu tersedak kemudian terbatuk-batuk.
Dering ponsel Kana menghentikan tawa Kana dan Nea." Kak Joddy. "Kana menunjukkan layar ponsel sebelum menerima panggilan Joddy.
" Iya, Kak. Gimana?"
".... "
" Beneran Kak?! Alhamdulillah, ya udah Kana ke sana sekarang! "
Kana menutup percakapannya dengan Joddy lalu menatap Nea yang menunggunya dengan kening berkerut.
"Ibunya Kak Joddy udah sadar. Aku mau ke rumah sakit." Kana tersenyum semrinngah.
"Ya udah. Yuk, aku antar."
"Gak usah, tolong jagain Ken aja ya, bentar. Mama lagi pulang," pinta Kana. Nea mengangguk lagipula dia memang sedang malas keluar rumah.
*
Joddy menunggu di lobi rumah sakit ketika Kana datang. Joddy memintanya memberi kabar jika Kana sudah akan sampai. Senyum manis menyambut kedatangan Kana. "Nyetir sendiri?" tanya Joddy.
Kana mengangguk lalu menerima uluran tangan Joddy. "Iya."
"Om, tahu kamu ke sini?"
"Papa masih kerja."
Joddy meringis dalam hati sambil berdoa semoga saja Gufron tidak mengamuk jika tahu Kana berada di sini.
__ADS_1
"Ken?"
"Sama Nea sama Mbok Dar. Tante udah dipindahin di kamar rawat?" tanya Kana mengiringi langkah lebar Joddy.
"Iya sekarang baru diperiksa dokter."
"Kenapa Kakak tinggal!"
"Ada Ferddy." Joddy memberi isyarat pada Kana untuk memperhatikan jalannya karena beberapa kali Kana terlihat hampir menabrak orang yang kebetulan berpapasan di lorong rumah sakit.
"Ibu nanyain kamu." Senyum bahagia Joddy terlihat jelas. Sesaat setelah siuman entah kenapa Jihan menanyakan Kana. Jihan bilang ingin bertemu langsung Kana. Mendengar itu, Kana hanya mengulas senyum.
"Mereka gak pulang?" Kana menarik lengan kemeja Joddy begitu melihat dua orang polisi yang masih saja berjaga.
"Iya, takut kali aku bawa Ibu ke Antartika." Joddy terlihat malas membahas polisi itu lalu dengan lembut merangkul pundak Kana dan membimbingnya masuk ke dalam ruang rawat Jihan.
Kana sedikit gugup, pasalnya ini adalah kali pertama Kana berhadapan dengan Ibu Joddy setelah keadaan mereka 'membaik'.
Dokter masih ada ketika Kana masuk, sedang bicara serius dengan Ferddy. Kana menghampiri ranjang di mana wanita separuh itu masih berbaring lemah. Jihan masih memakai selang oksigen, wajahnya masih terlihat pucat.
"Bu, Kana datang." Joddy mendekati Jihan lalu membungkuk setengah berbisik. Wanita paruh baya itu menoleh untuk melihat Kana lalu tersenyum lemah. Kana sedikit tertegun saat melihat senyum itu. Ini pertama kalinya Kana melihat senyum tulus dari Jihan.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya. Bu Jihan tetap semangat, istirahat yang banyak biar lekas sembuh." Dokter berkata pada Jihan sebelum berpamitan untuk melanjutkan tugas visitnya. memberi semangat yang ditanggapi senyuman oleh Jihan.
"Tante, sudah baikan?" tanya Kana mengenggam tangan Jihan yang bebas dari jarum infus.
Jihan mengangguk lemah. "Tante, minta maaf. Tante sudah menyakiti Kana." Jihan berkata lirih dengan suara parau."Tante sudah mendapatkan hukuman dari apa yang sudah Tante lakukan ke kamu."
"Iya, Tante. Kana sudah memaafkan, Tante." Kana menepuk lembut punggung tangan Jihan.
"Tante merestui hubungan kalian berdua. Tolong, jaga Joddy. Dia anak yang baik walaupun kelihatannya bandel."
Joddy berdecak sebal saat Ibunya menyebut dirinya bandel. Dia bukan anak yang bandel hanya sedikit nakal.
Kana mengangguk. "Iya, Tante. Sekarang Tante istirahat saja. Kalau sudah sembuh, nanti kita bisa ngobrol bareng sambil minum teh."
Jihan tersenyum getir, jikalau dia sembuh pun. Dia harus kembali ke jeruji besi menunggu kepastian hukumnya. Jika dengan sakit ini dia bisa menghirup udara segar, maka dia akan menikmati kebebasan yang dia miliki ini.
"Bagaimana kandungan kamu?" Jihan mengalihkan topik, matanya menatap ke arah perut Kana.
"Jaga dengan baik ya." Kana hanya mengangguk. Tepat saat itu seorang perawat masuk.
"Mohon maaf, biarkan Bu Jihan istirahat dulu, jangan terlalu banyak diajak bicara." Perawat itu berkata dengan nada yang lembut anehnya, pandangannya melirik ke arah Ferddy yang sejak tadi asik bermain ponsel di kursi tunggu.
"Bu, Joddy keluar dulu. Kalau ada apa-apa suruh Ferddy panggil Joddy."
Jihan mengangguk lalu tersenyum pada Kana mengucapkan kata terimakasih tanpa suara. Kana menanggapinya dengan senyum manis sebelum mengekor Joddy yang lebih dulu keluar.
Kana tersentak kaget saat Joddy mencium pipinya." Kak! Malu diliatin pak polisi!"Kana melotot kesal.
"Biarin, aja." Joddy menoleh acuh pada dua polisi yang asik mengobrol itu.
"Terimakasih." Joddy mengecup pipi Kana sekali lagi.
"Untuk?"
"Untuk cinta kamu."
Kana tercenung kemudian tersenyum malu dengan pipi merah. Joddy suka, suka sekali.
"Udah ah, aku mau ke toilet." Salah tingkah Kana membuat Joddy yakin jika pergi ke toilet hanyalah alasan Kana saja untuk menghindarinya.
"Ditemenin gak?" goda Joddy yang berhasil membuat mata Kana melotot cantik.
Joddy terkekeh lalu memilih mengangkat tangan seperti orang menyerah. Kana mendecih lalu bergegas pergi ke toilet untuk sekedar mencuci tangan dan sedikit membenarkan riasan wajahnya.
Kana sengaja memilih ke toilet yang agak jauh dari bangsal Jihan dirawat. Berada di lantai bawah, sekalian dia ingin membelikan Ferddy dan Joddy kopi.
Kana membilas tangannya lalu mengeringkan dengan tisu. Dia baru saja akan keluar saat pintu tiba-tiba terbuka dan seorang wanita dengan masker menutupi sebagian wajahnya masuk ke toilet.
Kana mengangguk sebagai sopan santun karena akan keluar dari toilet lebih dulu . Anehnya, wanita itu tak bergeming dia malah seperti sengaja menghalangi Kana untuk keluar dari toilet.
"Maaf, saya mau keluar."
__ADS_1
Wanita itu tak bergeming membuat Kana menatapnya was-was. dia tiba-tiba saja membuka topi dan masker yang dikenakannya. Kana mundur selangkah karena terkejut melihat wajah wanita itu. Sebelah wajah wanita itu masih ditutup kain kasa.
Tidak perlu menunggu lama untuk tahu siapa wanita itu.
"Apa kabar, pelakor?"
"Sorry, aku mau keluar." Kana meringsek mencoba membuka pintu. Tapi wanita itu menghalanginya. Mendorong Kana menjauh dari pintu.
"Nanti kalau kita sudah bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku gak ada urusan sama kamu!"
Wanita itu tertawa lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya angkuh. "Aku datang ke sini untuk memastikan apakah wanita tua itu masih hidup atau sudah tamat, tapi rupanya dia masih hidup. Padahal aku sudah membayar mahal orang untuk memberinya pelajaran tapi rupanya dia masih hidup. Sial sekali!"
Kana menatap wanita itu menyelidik." Jadi kamu yang menyuruh orang menyakiti Tante Jihan?"
"Cerdas!"
"Tega kamu Laras!Jahat kamu!"
Laras tersenyum sinis. "Jahat kamu bilang? Dia yang membuat wajahku cacat!"
"Tapi tidak sebanding dengan kamu yang sudah merebut suaminya, menghancurkan kebahagiaannya dan mengambil kebebasannya." Kana menatap gusar pada Laras.
"Oh ya? Tahu apa kamu! Dia sudah membunuh anakku!"
Kana tertegun. "Maksud kamu apa?"
"Gara-gara wanita tua itu aku kehilangan janin. Gara - gara dia aku keguguran, kamu masih mau bilang itu tidak sebanding?"
Kana terdiam. Jadi, Laras keguguran?
"Tapi gak masalah sih. Toh, dengan tidak adanya bayi itu aku malah bebas dari pria tua yang udah ngebosenin itu." Laras tertawa lalu memainkan kuku-kuku jarinya yang terawat.
Tak sulit menebak bahwa orang yang Laras maksud itu adalah Heru.
"Wanita macam apa kamu Laras! Kamu sudah menyakiti banyak orang!"
Laras mengangkat telapak tangannya isyarat agar Kana diam. "Diam, aku menemuimu bukan untuk berdebat tentang betapa jahatnya aku. Tapi aku mau ngasih penawaran sama kamu."
Kana mengernyit. "Penawaran apa maksud kamu?"
Laras mendekati Kana. "Penawaran yang akan membuat Joddy bahagia."
"Apa?"
"Tinggalkan Joddy dan aku akan cabut tuntutanku pada Ibunya."
Kana mengepalkan tangannya kuat - kuat. Wanita ini benar-benar tidak punya hati. Setelah mengambil suami Jihan dia lalu menginginkan Joddy? Keterlaluan!
"Lupakan saja. Aku tidak mau! Aku yakin ada cara lain untuk membebaskan Tante Jihan." Kana mundur selangkah kebelakang. Perasaannya benar-benar tidak enak. Mendadak dia merasa dejavu dengan keadaan seperti ini.
Kana teringat beberapa tahun lalu ketika Susan menyakitinya.
Tidak, tidak.
Ini tidak akan terjadi lagi, kali ini Kana akan menjaga janinnya dari orang yang berusaha menyakitinya .
"Tidak ada cara lain Kana. Tidak ada. Mending kamu turuti saja saranku. Tinggalkan Joddy dan akan aku membebaskan Ibunya."
Kana menggeleng kuat-kuat. "Maaf, aku tidak mau. Jadi, tolong menyingkir."
"Sombong sekali kamu!" hardik Laras lalu tiba-tiba dia menarik tas Kana dan melempar entah kemana.
Kana mundur menjauh dari Laras dia berusaha masuk ke dalam satu bilik kosong tapi Laras menarik tangan Kana dan tiba-tiba saja mendorong Kana hingga perutnya terbentur sisi westafel.
Kana jatuh terduduk, refleks tangannya memegang perutnya yang tiba-tiba terasa mulas. Tidak, tidak! Jangan lagi.
"Rasakan itu!" Laras tersenyum sinis lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Kana yang tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di perutnya.
"Tolong.." Suara Kana terasa tertahan di tenggorokan. Rasa sakit di perutnya sudah tak tertahankan lagi. Kana mencoba meraih handle pintu tapi terkunci.
"Arghh.. Sakit." Kana susah payah mengambil ponsel di dalam tasnya mencoba menghubungi Joddy.
__ADS_1
"Kak.. Tolong." Mendadak semua gelap tapi Kana masih sempat melihat sesuatu mengalir di kakinya.
****