
"Gimana keadaannya?" tanya Kana begitu Kanda keluar dari bangsal di mana Nea dirawat.
"Baik-baik saja. Luka di pergelangan tangannya tidak terlalu dalam. Kanda membanting tubuhnya di bangku kosong yang ada di samping Kana.
" Lha, jadi Nea nyusul kita ke Jakarta? "Joddy menyodorkan minuman kopi kaleng kepada Kanda.
"Dia berangkat kemarin setelah kami berantem. Sesampai di rumah katanya Nea nangis dan tidak mau keluar dari kamar dan tadi pagi Ibunya menemukan dia tak sadarkan diri dengan lluka di pergelangan tangannya. Dia sengaja melukai dirinya sendiri." Kanda mengembuskan napasnya kasar.
" Dia mencoba bunuh diri dengan memotong nadi?" gumam Kana refleks menutup pergelangan tangannya sendiri menutupi luka gores di sana. Tiba-tiba dia ingat kebodohannya beberapa tahun lalu. Kebodohan akibat rasa kecewa karena suaminya meninggalkannya dengan cara tragis. Mungkin Nea merasakan hal yang sama. Dia kecewa dengan Kanda yang berniat pisah dengannya.
"Dia mendramatisir keadaan," sahut Joddy sarkas.
"Dia hanya kecewa saja."
Joddy menoleh ke arah Kana, wajah cantik istrinya itu terlihat sedih. Apa dia teringat masa lalunya yang tergolong kelam?
"Lo tahu gak sih? Gara-gara ini, bapak sama ibu mertua gue nyalahin gue, dianggaplah gue udah nyakitin anaknya. Padahal kebalikannya, kan? Mana tadi gue dituduh punya simpanan pula, gila kagak tuh!" Kanda meneguk minumannya sekali habis lalu melempar kalengnya begitu saja di tempat sampah yang berjarak dua meter dari tempatnya duduk. Anehnya, kaleng itu masuk ke dalam tempat sampah dengan gampangnya.
" Ya, lo tinggal bilang aja sejujurnya apa yang udah dilakuin anak mereka!" Joddy mulai gemas juga, dia merasa kisah Kanda ini seperti sinetron saja.
Kanda diam.
"Dia gak tegalah. Secara, Abang gue ini kan bucin akut. Sama kayak yang duduk di sebelah gue!" sahut Kana matanya melirik ke arah Joddy yang mendengus pelan itu.
"Bukan gue gak tega. Tapi gue belum ada bukti. Gue mau ngumpulin bukti dulu." Kanda menoleh ke arah Kana dan Joddy.
"Kalian jangan cerita ke Mama sama Papa dulu sebelum gue punya bukti."
"Emang lo masih mau lanjut pisah dari dia?" tanya Joddy.
"Iya!" jawab Kanda mantap.
"Ya, kasih dia waktu untuk berubah, Bang." Kana masih berusaha menggoyahkan niat Kanda untuk menceraikan Nea.
"Ckk, gak tahulah!" sambar Kanda memejamkan matanya lelah.
"Kalian mau ketemu Nea gak? Sana buruan, gue nebeng pulang."
"Lho lo gak jagain bini lo?" tanya Joddy.
"Besok pagi. Gue capek banget!Tadi gue udah izin sama Ibunya." Kanda menjawab tanpa membuka matanya.
"Ya, udah gue nengok Nea dulu di dalam." Kana beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar Nea.
Kana melihat Nea yang sedang berbaring di ranjang dengan infus di tangan kanannya. Kedua orangtuanya sedang sibuk bicara dan berhenti begitu melihat Kana. Menyapa Kana dengan sangat ramah.
" Yah, Bu. Kalian makan dulu di kantin saja. Kalian belum makan dari tadi pagi, kan?" usul Nea dengan suara yang dilemahkan.
__ADS_1
"Tidak perlu, kamu sendirian," tolak Ibu Nea.
"Gak papa, ada Kana. Dia gak akan keberatan menemaniku. Iya, kan Na?" Nea mengalihkan pandangannya ke arah Kana seolah memaksa Kana untuk mengatakan 'iya'.
"Iya, Tante sama Om makan dulu saja. Biar saya temani Nea." Walaupun sebenarnya Kana lebih memilih pulang dan tidur di rumah dengan suaminya.
Kedua orangtua Nea akhirnya memilih menuruti kemauan sang anak. Mereka kemudian pergi meninggalkan keduanya.
"Bagaimana keadaanmu?" Kana menghampiri ranjang Nea lalu duduk di samping ranjangnya.
"Sama seperti kamu dulu," jawab Nea membuat kening Kana mengerut tak mengerti.
Kenapa dia jadi dikaitkan? Apa maksud dari pernyataan Nea barusan?
"Kamu dulu juga melakukan hal yang sama kan, Na?" Tiba-tiba Nea menegakkan tubuhnya pada tumpukan bantal lalu menatap Kana dengan senyum miringnya.
"Maksud kamu apa menyamakan keadaanmu denganku?"
Nea tertawa lalu menggeleng pelan,"Kamu lupa, pernah melakukan hal yang sama saat suami kamu meninggal?" jeda kemudian dia mencondongkan tubuhnya ke depan Kana.
"Mencoba bunuh diri karena merasa takut menjalani kehidupan sendiri,"bisik Nea lalu menjauh dan terkikik geli. Membuat Kana mematung di tempatnya.
Kana masih tak percaya jika yang duduk di depannya saat ini adalah sahabat terbaiknya yang dulu selalu ada buat dia. Mendengarkan keluh kesahnya menghabiskan hari-hari bersamanya, kini berubah seperti sosok asing di mata Kana. Sungguh, Kana benar-benar sudah tidak mengenalinya lagi.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu?"
"Dengan cara mencoba bunuh diri. Dan memang berhasil, kamu lihat sendiri kan Kakak kamu langsung kemari begitu pihak rumah sakit menelepon. Sengaja bukan orangtua aku yang mengabari biar sedikit dramatis." Nea lalu tertawa, sungguh Kana benar-benar dejavu. Nea mengingatkannya pada Sisca wanita yang sudah membuatnya kehilangan Azura.
Ternyata benar dugaan Joddy, Nea seperti memiliki kepribadian ganda.
"Aku sudah bilang, kan. Kakak kamu itu mudah diperdaya. Dia terlalu cinta sama aku dan tidak akan pernah menceraikan aku, karena semakin dia mencoba ingin pisah denganku semakin kuat pula aku akan menghalanginya."
"Kamu salah, Ne." Kana mencoba tersenyum senatural mungkin padahal dalam hati dia menahan amarah karena kelakuan Nea.
"Pertama, Kakakku tidak mudah diperdaya oleh siapapun. Dia datang ke sini hanya karena menjalankan tugasnya sebagai suami. Kamu lihat sendiri, dia memilih pulang ketimbang menunggumu di sini."
Senyum di wajah Nea perlahan memudar saat mendengar apa yang Kana katakan.
" Kedua, kamu bilang apa tadi? Dia terlalu cinta sama kamu? Sayang sekali aku harus ngasih tahu kamu ini."
Kana beranjak dari duduknya." Rasa cinta Kakakku sudah menguap bersama semua kebohongan yang kamu buat kedia. Jadi, jangan terlalu berharap nanti kalau tidak sesuai sakitnya sampai ulu hati. "
Senyum yang semula memudar kini benar-benar hilang dari wajah Nea, berganti dengan wajah marah dan pucat Nea mendengar apa yang dikatakan Kana. Wanita yang dulu lemah dan polos kini berubah menjadi wanita yang terlihat tegar dan penuh percaya diri.
" Lalu kenapa? Dia masih mau menceraikan aku? Tidak akan pernah bisa, kamu lihat sendiri aku kayak gini aja dia sudah dikira selingkuh. Orangtua kita akan lebih memihak padaku ketimbang dia."
"Masa? Gimana kalau mereka tahu apa yang sudah kamu lakukan selama ini? Apa perlu aku sebutkan apa saja list dosa yang sudah kamu lakukan? Yah, walaupun sebenarnya bukan hakku."
__ADS_1
"Apa maksud kamu?"
Kana tersenyum. "Menjalin hubungan dengan pria lain, hamil dengan pria lain, dan parahnya menggugurkan hasil hubungan gelap kamu dengan pria lain. Kira-kira apa mereka masih memihakmu?"
Nea terperangah tak percaya saat mendengar semua yang Kana katakan. Tahu darimana wanita ini tentang semua itu?
" Tidak usah heran aku tahu darimana, bangkai tetap saja bangkai."
"Orangtua kita tidak akan pernah percaya semua itu." Nea masih berusaha membangun kepercayaan dirinya yang mulai hilang, dia tidak mau terlihat takut di depan Kana.
"Jangan terlalu yakin, pasti akan ada buktinya. Walaupun bukan Kakak yang mendapatkannya, mungkin dari orang lain." Kana mengedikan bahunya lalu merapikan bajunya.
"Baiklah, aku harus pulang. Tolong sampaikan maafku pada Om dan Tante karena aku gak bisa nemenin sampai mereka balik ke sini. Bye, Nea! Cepat sembuh ya." Kana tersenyum lalu bergegas pergi meninggalkan Nea yang menatapnya penuh kekalahan.
"Arghhhh!"
Kana masih mendengar teriakan frustrasi Nea diiringi pecahan gelas.
"Ada apa Na?" tanya Joddy yang sempat mendengar suara ribut di dalam kamar Nea dirawat.
"Gak ada apa-apa." Kana tersenyum sewajar mungkin lalu menatap Kakaknya yang sibuk dengan ponselnya.
"Kasih kunci mobilnya ke Bang Kanda!" perintah Kana.
"Dih, lo nyuruh gue jadi sopir?" sambar Kanda sewot.
"Enggak, lo bawa mobil pulang ke rumah. Gue sama Kak Joddy naik taxi mau mampir ke apartemen sebentar."
Mendengar itu Joddy yang semula terlihat lesu kembali bersemangat. "Serius?" Terbayang sudah kegiatan pengantin baru mereka yang sempat tertunda karena harus menjaga Ken di rumah sakit.
"Iya, SEBENTAR, ingat!" Kana tentu saja tahu apa yang ada dipikiran Joddy.
"Mau ngapain lo?" tanya Kanda.
"Urusan sebentar, oiya Bang... Gue dukung lo kalau mau pisah sama Nea. Cari bukti sebanyak-banyaknya."
Kontan kedua pria di depan Kana menatap Kana tak percaya. Pasalnya, beberapa menit yang lalu wanita itu mengatakan untuk memikirkan baik-baik rencana pisah Kanda. Tapi kenapa dalam hitungan menit dia bisa berubah pikiran?
" Udah, ayo kita pulang! " Kana berjalan mendahului kedua pria
yang kini tengah menatapnya tak percaya.
"Dia adik gue Jod?"
"Bukan. Selena Gomez kayaknya."
****
__ADS_1