
Kana mengamati satu persatu brosur konsep pernikahan yang disodorkan Karin orang WO yang dulu pernah-nyaris-menangani pernikahan Joddy dan Laras. Sejak tadi Karin mengamati Kana dan Joddy dengan mengernyit bingung sampai beberapa kali Jihan harus memanggilnya berulangkali karena Karin tampak melamun.
"Kamu kenapa Karin seperti kebingungan begitu?" Jihan sudah tidak tahan untuk tidak bertanya pada Karin pemilik WO sekaligus anak dari teman baiknya Jihan. Maka dari itu, Jihan mempercayakan pernikahan Joddy pada Karin. Sebenarnya Kana dan keluarganya tidak terlalu menginginkan pernikahan mewah. Tapi Jihan bersikeras karena ini adalah pernikahan pertama dan terakhir untuk anak kesayangannya. Keluarga Kana pun akhirnya menyerahkan semua pada Jihan
"Maaf Tante, calonnya beda ya?" Karin berbisik ke arah Jihan yang menahan senyum itu. Karin penasaran sedari tadi karena yang dia lihat kemarin calon mempelai Wanitanya terlihat seperti tante-tante tapi sekarang beda. Lebih cantik, muda dan santun. Jika tempo hari yang paling vokal perempuannya sekarang malah prianya yang vokal dan terlihat, sangat antusias. Si calon mempelai Wanita sedari tadi hanya mengangguk dan tersenyum tanpa membantah.
"Kemarin jodoh yang tertukar Mbak, sekarang baru bener ini calonnya." Joddy menyenggol lengan Kana pelan membuat wanita itu tersipu.
"Oalah, pantes kemarin kayak males-malesan gitu Mas Joddynya, sekarang terlihat lebih antusias. Mbaknya juga kayak masih anak kuliahan."
Kana hanya tersenyum malu.
"Jadi gimana mau konsep seperti apa?" tanya Karin memastikan.
"Tema rustic indoor."
"Wah, pilihan yang tepat tema rustic memang sedang trend saat ini."
"Tapi kenapa tidak di outdoor saja mumpung belum masuk musim penghujan?" tawar Karin.
Joddy menatap Kana yang sejak tadi mengamati setiap gambar di brosur.
"Dek, kamu mau out apa in?" tanya Joddy
"Mana aja boleh, Kak." Kana tersenyum, karena kalau boleh jujur buat Kana konsep apapun dia mau saja baginya saat ini yang penting sah secara agama dan negara. Tapi lain halnya dengan Joddy dia ingin pesta yang sedikit mewah karena baginya Kana pantas mendapatkan itu.
"Out saja, kita ke candi Prambanan. Menikah di sana? Gimana?"usul Joddy.
" Ibu setuju! "
" Apa tidak kejauhan, Kak? Lagipula kita cuma punya waktu kurang dari sebulan selain itu kerabat kita kan di sini semua." Membayangkannya saja Kana sudah pusing sendiri, betapa ribet nya nanti.
Joddy tersenyum." Kita bikin pesta dua kali saja. Pertama di Jakarta kedua di Jogja. Gimana? "
Kana meringis lalu mendekatkan dirinya untuk berbisik pada Joddy." Berlebihan, Kak. Kamu tahu kan status aku?"
"Bodoh amat sama status kamu!" Joddy mengangkat bahu lalu menatap Karin.
"Apa WO ini sanggup mempersiapkan semuanya dalam waktu satu bulan?"
Karin sedikit gelagapan mendengar tantangan dari Joddy itu. "Kalau di Jogja saya gak janji Mas. Sepertinya butuh waktu untuk mengurus surat izin dan sebagainya."
"Tuhkan, Kak!" Kana tersenyum lega. "Kita di Jakarta aja Mbak, temanya sesuai yang tunangan saya minta," ujarnya kemudian pada Karin.
Joddy menghela napas kecewa dia hanya ingin membuat pesta pernikahan yang berkesan untuk Kana yang akan Kana ingat terus.
"Santai Joddy, kan kalian bisa bulan madu ke sana gak harus nikahnya." Jihan menahan tawa saat melihat Joddy cemberut.
"Iya." Walaupun terlihat masih sedikit kecewa Joddy memaksakan senyum di depan Kana dan Ibunya.
"Hai Bang Joddy, Tante Jihan!"
Semua perhatian teralih pada wanita yang memanggil Jihan dan Joddy. Wanita cantik berpakaian seksi dengan dandanan ala model tersenyum manis.
"Hai, Cha!" sapa Jihan lalu kedua wanita itu bercipika cipiki. Kana sedikit melihat berubahan raut wajah Joddy saat wanita itu muncul.
__ADS_1
"Bang Joddy, How are You!!" Wanita yang tadi dipanggil Chaca itu tiba-tiba menubruk Joddy memeluknya erat jelas saja Joddy gelagapan dan tidak siap mendapat perlakuan itu.
"Kalian apa kabar lagi ngapain sih di sini? ih, aku kangen lhoo sama kalian," ujar Chaca begitu menjauh dari Joddy, lebih tepatnya Joddy yang menjauhkannya karena tiba-tiba dia merasakan aura panas yang keluar dari wanita cantik yang duduk di sampingnya.
" Ini, lagi meeting buat nikahan mereka berdua." Jihan tahu Kana sedikit tak suka saat Chaca tiba-tiba meringsek duduk di antara mereka.
Chaca menoleh ke arah Kana lalu menjerit kecil. "Ouh! Calonnya Bang Joddy ya?"
Kana hanya tersenyum kikuk.
"Ini Chaca dia dulu tetangga di rumah lama kami." itu Jihan yang memperkenalkan wanita cantik yang Kana duga usianya sedikit lebih tua darinya, Joddy hanya diam seperti orang bingung.
"Oh, hai. Kana." Demi kesopanan saja Kana mengulurkan tangannya ke arah Chaca. Tapi wanita itu hanya tersenyum tipis tanpa menyambut uluran tangan Kana. Merasa canggung Kana menarik tangannya lagi.
"Bang, temenin Chaca yuk, kita udah lama gak ketemu lho.?!"Chaca kembali mengerling ke arah Joddy mengabaikan keberadaan Kana.
" Maaf, cha kami sedang meeting dan tolong duduknya geseran." Joddy tak enak pada Karin dan tentu saja Kana.
" Ih, emang kenapa? Dulu saja waktu kita pacaran malah pangku - pangkuan, "sergah Chaca membuat Kana tercenung, jadi mereka berdua pernah pacaran? Kenapa Joddy tidak pernah menceritakan apa-apa padanya?
Suasana makin canggung . Jihan pun bingung harus bagaimana. Chaca ini anaknya memang manja dan cenderung implusif Jihan malah tidak tahu mereka pernah pacaran.
Joddy menatap Kana yang terlihat kesal dan memilih mengalihkan pandangan ke pengunjung restoran di mana mereka meeting.
"Chaca sayang, memang lagi ngapain di sini?" Jihan mencoba mengalihkan perhatian wanita itu.
"Jalan-jalan, Tante."
"Suami kamu mana?" tanya Jihan lagi.
"Edward kerja, Tan. Mana ada waktu sih dia buat aku?" Wajah Chaca terlihat muram.
"Mobil aku aja sekarang lagi di bengkel depan situ, Tan. Makanya aku nunggu sambil mau makan, eh malah ketemu mantan pacar sama mantan calon mertua." Chaca terkikik geli sama sekali tidak mempedulikan Kana.
"Kalian gak keberatan kan aku gabung?" tanya Chaca dengan mengedipkan matanya. Maka satu jam berikutnya Kana harus menahan diri untuk tidak menimpali setiap komentar Chaca di sepanjang meeting. Dia memilih diam begitupun saat Chaca memaksa Joddy mengantarnya ke bengkel Kana memilih diam dan mengantar Jihan yang meminta pulang ke apartemen Joddy.
Tak lama Joddy pun muncul dia tertegun begitu membuka pintu dan melihat Kana sedang sibuk di dapur. Ibunya tidak terlihat. Mungkin sudah pulang atau entahlah.
"Hei, sibuk apa?"
Joddy berdoa semoga Kana tidak mendiamkannya karena dia menemani Chaca di bengkel tadi. Bukan apa-apa, Joddy kasihan saja.
Chaca ditinggalkan kedua orangtuanya yang meninggal karena kecelakaan. Dia hamil di luar nikah dengan pacarnya, mereka menikah tapi sayang anaknya meninggal karena keracunan air ketuban semenjak itu Joddy tidak tahu kabar anak itu karena rumah lama mereka dijual.
"Hai, sudah pulang? Aku habis bikin puding." Kana membalikkan badan untuk menjawab pertanyaan Joddy lalu kembali asik mencuci mangkuk.
Joddy mengernyit heran, kenapa Kana terlihat biasa saja. Apa dia tidak marah?
"Ibu mana?"
"Ibu, pulang sama Ferddy tadi."
Joddy mendekati Kana lalu memeluk dari belakang wanita itu. "Maaf, ya?"
"Untuk?"
__ADS_1
"Chaca."
"Oh."
"Aku mengantarnya bukan karena apa-apa. Kasihan saja sama anak itu. Dia yatim piatu."
"Iya, gak papa. Itung - itung meringankan tugas suaminya." Sindiran Kana memohok Joddy. Dia sadar dia salah.
"Aku memang pernah pacaran sama dia tapi cuma tiga bulan. Itupun hanya untuk membuat pacarnya cemburu. Aku memang tidak pernah cerita karena kupikir tidak penting."
Kana membisu dan Joddy sadar Wanitanya sedang merajuk terlihat dari cara dia melepaskan tangan Joddy yang melingkar di perutnya. Lalu berjalan menuju ruang tamu.
" Aku pulang, pudingnya kamu makan masih di kulkas. "Kana memakai jam tangannya bersiap pulang.
" Sayang, kamu marah? "
" Apa Kakak percaya kalau aku jawab 'enggak'? "Kana melirik Joddy tajam membuat Joddy mundur selangkah karena tatapan Kana benar-benar tajam.
" A-aku minta maaf. "
" Aku sudah dengar kalimat itu tadi."
" Hei, aku minta maaf. Tapi aku benar-benar tidak ada perasaan apapun sama anak itu. "Joddy menarik lengan Kana lalu memeluknya erat seolah sedikit saja lengah, Kana bisa kabur.
" Dek, aku gak bisa mengubah masa lalu tapi sungguh fokus aku sekarang cuma kamu sama Ken. "
Kana menghela napas." Tapi kenapa kamu harus antar dia, aku, aku gak suka. Aku cemburu." Kana membenamkan wajahnya di dada bidang Joddy. Malu.
Joddy tersenyum. "Aku cuma kasihan, Sayang. Selain itu aku tadi menegurnya untuk lebih bersikap dewasa. Thats it!"
"Maaf ya, besok aku gak akan ulangi sama wanita manapun."
"Kalian dulu juga pangku-pangkuan." Kana tiba-tiba ingat apa yang tadi Chaca katakan.
"Namanya juga orang pacaran. Tapi cuma pangkuan doang gak ada improvisasi apa-apa."
Kana mendongakkan kepalanya. "Maksudnya?"
Joddy menunduk dan mata mereka bertemu. Jantung Joddy berdegup darahnya berdesir saat melihat mata bening Kana menatapnya dan dia bisa melihat bayangannya sendiri di bola mata itu. Joddy sudah tidak tahan lagi."Maksudnya ini!"
Joddy mempertemukan bibir mereka dan Kana menyambutnya dengan terbuka. Mereka berlomba - lomba menjadi orang yang serakah, saling pagut tanpa mempedulikan jika napas mereka sudah terengah-engah.
Tangan Kana terulur memeluk leher Joddy jemarinya merayap ke kepala Joddy dan menarik rambut Joddy tiap ciuman mereka mencapai klimaks. Tangan Joddy tak tinggal diam, dia menunjukkan pada Kana apa itu yang namanya improvisasi. Dan jujur Kana menyukainya. Terlebih saat Joddy sudah berhasil membuatnya berbaring di sofa ruang tamu dengan Joddy di atasnya
"Sudah boleh belum sih?" tanya Joddy begitu dia berhasil membuka kancing blouse Kana yang terakhir dengan napas terengah-engah menahan gairah.
Kana menggeleng pelan. Belum ada 40 hari.
Joddy mengumpat dalam hati. "Kamu harus bantu aku. "
Kana mengernyit bingung. Tapi sedetik kemudian dia sadar saat Joddy mengusap bibirnya dengan ibu jari sambil membisikan kata yang membuat sekujur tubuh Kana panas.
Apakah mereka akan melakukan dosa termanis itu lagi?
******
__ADS_1