
"Belum mules juga Na?" tanya Maya begitu dia sampai ke rumah anaknya.
Kana cemberut lalu meletakkan ponsel di atas meja."Belum."
Perlahan dia mengusap perutnya yang buncit. Memang usia kehamilan Kana sudah masuk ke 40 minggu, sebenarnya bulan ini sudah masuk hpl atau hari perkiraan kelahiran tapi entah kenapa belum ada tanda-tanda seperti kontraksi atau pecah ketuban.
Padahal teman-teman Kana yang usia kehamilan sama dengannya sudah banyak yang melahirkan.
Tapi Kana belum merasakan tanda-tanda apapun.
Berbagai cara sudah Kana coba, setiap pagi jalan-jalan keliling komplek, mengepel lantai dengan cara manual bahkan senam hamil. Tapi si jabang bayi gak mau keluar-keluar. Pengennya melahirkan normal sakitnya sebentar, kalau sudah keluar plong. Sama seperti waktu melahirkan Ken.
Terakhir kali periksa, semua dalam keadaan normal. Dari berat sampai posisi bayi yang kepalanya sudah masuk panggul. Tapi mungkin memang belum waktunya. Karena kata orang setiap bayi punya waktunya sendiri.
"Assalamualaikum!" Suara Joddy yang baru pulang dari kantor terdengar di depan pintu. Kana buru-buru beranjak dari duduknya lalu berlari menghampiri Joddy di teras rumah.
"Kana, jaga kelakuan!" teriak Maya histeris karena melihat Kana berlari cukup kencang dengan perut buncitnya membuat Maya was-was kalau anak kesayangannya itu terpeleset.
Sayangnya, si Anak Kesayangan tidak menggubris dan tetap berlari lalu menubruk suaminya yang tersentak kaget karena mendapat serangan mendadak itu.
"Hati-hati sayang, jangan lari-larian seperti tadi." Joddy memperingatkan Kana yang malah asik mengendus-endus suaminya itu.
"Gimana Dek, udah mulas-mulas belum?" tanya Joddy .
Kana cemberut lalu menggeleng, tadi Maya sekarang Joddy yang bertanya itu Kana makin sebal saja karena setiap hari selalu saja ada pertanyaan itu.
Sampai bosan Kana mendengarnya, bahkan bunda Rahayu juga selalu menanyakan hal yang sama. Tak jarang membandingkan dengan anak temannya yang waktu melahirkan tepat waktu dan tanpa halangan. Kalau sudah begitu, Kana cuma bisa menahan tangis. Tapi untunglah Joddy selalu menguatkan dan menghibur Kana.
"Besok kalian periksa. Sepertinya sudah lewat hpl," kata Maya sedikit panik karena takut terjadi sesuatu pada Kana.
"Mama, aku baik-baik saja," babil Kana lalu melepas pelukannya.
Joddy mengelus perut Kana. "Benar kata Mama, kita besok periksa aja ya ke rumah sakit."
Kana mengalihkan pandangan ke arah Joddy yang juga kelihatan panik itu.
Sebenarnya Kana sama seperti mereka berdua. Kana juga panik dan takut melebihi mereka. Kana juga takut terjadi apa-apa pada dia dan bayinya. Takut persalinannya mengalami hambatan, tapi semoga saja tidak.
"Iya. Terserah Kakak." Kana memilih mengalah. Joddy dan Maya tersenyum lega.
"Ya, sudah. Cepat kalian masuk untung aja Ken lagi keluar sama Kanda kalau melihat orangtuanya mesra-mesraan kayak gini bisa banyak tanya tuh anak." Maya lalu kembali ke dapur untuk merapikan peralatan masak yang kotor. Sejak usia kehamilan Kana ke 8 bulan Maya memutuskan untuk menemani Kana tinggal di rumahnya. Untuk memastikan Kana baik-baik saja.
"Istirahat sana!"Joddy mengusap kepala Kana lalu membimbingnya masuk ke dalam rumah.
**
Keesokan paginya Kana dan Joddy memutuskan untuk memeriksakan kandungan Kana ke rumah sakit bersalin.
Kana menatap dokter wanita yang sedang mengoleskan cairan ke atas perut Kana. Lalu memutar - mutar suatu alat sambil mengamati layar usg.
Joddy sejak tadi mengenggam tangan Kana erat mencoba menenangkan istrinya itu.
"Bagaimana Dok?" tanya Kana tak sabar.
" Posisi bagus, tapi plasenta sudah tua dan air ketuban tinggal sedikit Mbak Kana." Dokter Tasya sedikit terkejut melihat gambar di layar USG.
"Maksudnya apa ya Dok?" tanya Joddy. Dokter Tasya menyelesaikan Usg -nya. Lalu meminta Kana dan Joddy untuk duduk di kursi setelah seorang perawat membantu Kana merapikan pakaiannya.
"Jadi begini Mbak dan Pak Joddy. Kehamilan Mbak Kana memang sudah lewat dari hpl. Bisa dilihat dari plasentanya. Selain itu air ketubannya sudah menipis. Apa Mbak Kana sering merasa ada air yang merembes?" Dokter Tasya menatap Kana yang menggeleng pelan.
Kana tidak tahu pasti tapi seingatnya saat dia batuk atau bersin seperti ada cairan yang keluar. Apa mungkin itu air ketuban yang merembes?
"Jadi gimana Dokter? "
Dokter Tasya tersenyum lembut. " Harus segera diambil tindakan . Jika Mbak Kana ingin melahirkan normal harus diinduksi untuk membantu persalinan. Karena setelah kehamilan berusia 41 minggu (atau 7 hari melebihi waktu seharusnya), akan meningkatkan resiko komplikasi pada bayi. Maka dari itu, induksi dibutuhkan. "
"Induksi seperti apa ya dok? "
"Ada dua cara yang biasanya dilakukan oleh dokter untuk melalui proses induksi yaitu kimia dan mekanik. Namun pada dasarnya, kedua cara ini dilakukan untuk mengeluarkan hormon prostaglandin yang berfungsi sebagai zat penyebab otot rahim berkontraksi. Secara kimia, anda akan diberikan obat-obatan khusus. Ada yang diberikan dengan cara diminum, dimasukkan ke dalam ******, diinfuskan. Biasanya tak lama setelah salah satu cara kimia itu dilakukan. Anda akan merasakan datangnya kontraksi. Secara mekanik, biasanya dilakukan dengan sejumlah cara, seperti menggunakan metode stripping, pemasangan balon keteter, (oley chateter) di mulut rahim, serta memecahkan ketuban saat persalinan sedang berlangsung tapi semua tergantung kondisi."
Kana terdiam mendengarkan penjelasan dokter yang panjang lebar itu. Keringat dingin membanjiri pelipisnya.
"Saya ingin melahirkan normal, Dok. Jadi tolong lakukan yang terbaik untuk kami." Kana berkata dengan suara bergetar, Joddy mengenggam tangan Kana menyalurkan kekuatannya. Walaupun ini kelahiran yang kedua tetap saja Kana merasa was-was.
" Baiklah, hari ini juga kami akan melakukan observasi untuk mengambil tindakan. Mengingat riwayat Mbak Kana yang pernah mengalami keguguran. malam ini Mbak Kana menginap di sini ya?" Dokter Tasya tersenyum dan Kana hanya mengangguk.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja Ra," bisik Joddy memberikan semangat pada Kana. Kana mengangguk lalu mengelus perutnya perlahan.
Kita berjuang bersama nak.
*
Kana duduk termenung sambil menunggu Joddy yang sedang memesan kamar rawat. Pikiran Kana sedikit kacau dia bahkan tidak selera makan sama sekali.
Kana cemas, takut dan berbagai pikiran negatif lainnya hinggap di kepala Kana. Kana takut jika ini adalah terakhir kali dia bisa bertemu suaminya.
"Kana." Sebuah suara membuyarkan lamunan Kana. Seorang wanita yang sedang menggendong bayi mungil sudah berdiri di depan Kana.
"Nea?" Kana berdiri lalu melihat ke arah bayi mungil di gendongan Kana.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Kana.
"Aku vaksin anak aku."
Kana baru ingat kalau rumah sakit ini juga ada dokter spesialis anaknya juga jadi mungkin memang benar Nea bertemu dengan dokter anaknya.
"Apa kabar? Senang dengar kabar kamu hamil." Nea tersenyum canggung ke arah Kana yang sama-sama canggung dengan kondisi pertemanan mereka. Keduanya tidak pernah kontak setelah obrolan mereka yang terakhir di cafe. Dan baru di sini mereka bertemu lagi.
"Ini--"
"Anak aku Na, namanya Bagas Saputra." Nea mendorong bayinya untuk lebih dekat pada Kana.
"Wah, ganteng banget!" puji Kana tulus. Nea tersenyum lalu mengangguk.
"Iya dia ganteng dan kuat," gumamnya lirih. Kana diam-diam memperhatikan Nea, dia sepertinya sudah banyak berubah. Kana dengar pria yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab pria itu lebih memilih istrinya dan tentu saja itu adalah sesuatu yang wajar.
"Kana bisa bicara sebentar?"
Kana mengangguk lalu memberi isyarat pada Nea untuk duduk di kursi kosong dekat mereka.
"Mau ngomong apa?"
Nea terdiam sejenak lalu menatap Kana ragu. "Aku mau minta maaf Na atas apa yang sudah aku lakukan ke kamu dan keluarga kamu. Aku tahu mereka, terutama Kakak kamu akan sulit memaafkanku. Aku benar-benar minta maaf. Obsesi untuk mengalahkanmu membuat akal sehatku hilang entah kemana."
Kana tak menyahut dia memberi kesempatan pada Nea untuk mengeluarkan segala isi hatinya.
"Aku sudah mendapatkan hukuman atas perbuatanku Na. Aku dipecat, Kanda membenciku, orangtuaku sangat kecewa dan Ayah anak ini tidak mau mengakuinya. Aku benar-benar minta maaf." Nea menunduk menatap bayi di gendongannya yang tertidur pulas.
"Terimakasih Kana, terimakasih." Nea tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Membuat hati Kana mencelos seketika melihat mantan kakak iparnya yang berubah. Dulu wanita ini adalah wanita yang cantik dan terlihat kuat tapi sekarang terlihat lebih rapuh.
"Aku juga mau pamit, Na."
"Lho memang kamu mau kemana?"
Nea tersenyum sejenak. "Aku akan ke Surabaya, Na. Pulang ke kampung halaman Ibuku aku akan tinggal di sana."
"Harus?"
Nea mengangguk. "Harus, Na. Aku dan Bagas akan membuka lembaran baru kami di sana," sahut Nea.
"Kalau itu baik untuk kamu dan anak kamu, aku akan selalu mendukungmu, Nea. Aku akan selalu mendoakanmu semoga kalian berdua selalu dilindungi oleh Tuhan semoga kalian berdua selalu bahagia."
"Terimakasih, Kana." Nea memeluk Kana hati-hati agar bayi tidak tergencet.
"Sehat selalu ya, Nea."
"Pasti. kamu juga, semoga lancar ya lahiran kamu dan salam buat dedek bayinya. Aku juga cuma bisa mendoakan."
"Iya terimakasih. Kalau gitu aku pamit ya, Kak Joddy udah selesai tuh!" Kana menunjuk Joddy yang tersenyum ke arahnya.
"Salam buat Joddy. Selamat tinggal, Kana."
Mereka saling berpelukan sebelum akhirnya berpisah. Nea dengan kehidupan barunya dan begitupun Kana.
**
Joddy mengusap pelipis Kana yang berkeringat. Sambil sesekali menghiburnya . Maya sejak tadi mondar mandir seperti setrikaan bahkan bujukan Gufron untuk tenangpun diabaikannya.
Jihan dan Ferddy belum datang karena mereka sedang berada di pengadilan agama menghadiri sidang perceraian Jihan dan Heru.
Mantan mertua Kana, Rahayu dan suaminya masih dalam perjalanan dari Jogja. Sedangkan Kanda ikut menunggui Kana tapi hanya keluar masuk menanyakan apakah sudah mulas apa belum. Kana sampai ingin melemparnya dengan kursi kalau tidak ingat sedang hamil.
__ADS_1
"Belum mulas juga, Na?" tanya Maya. Kana hanya menggeleng sebagai jawaban. Dokter sudah beberapa jam yang lalu memasangkan alat entah apa di bawah perut Kana tapi sama sekali tak berefek. Ketika diperiksa hanya terjadi pembukaan dua dan tidak nambah - nambah.
"Anak kamu ngeyel banget," gumam Maya tak panik, berbeda dengan kelahiran Ken yang lancar jaya.
Tak berapa lama dokter Tasya datang dengan beberapa perawat. Mereka memeriksa detak jantung janin, tekanan darah, juga pembukaan Kana.
"Kita pakai cara kimia ya Mbak," kata dokter Tasya lalu meminta perawat melepas sesuatu yang dimasukkan ke bawah perutku yang sakitnya luar biasa . Lalu mengganti infus Kana dengan infus yang berbeda.
Beberapa jam setelah itu tiba-tiba Kana merasakan perutnya mulas seperti ingin bab, tapi ini jauh lebih sakit. "Kak.. Sakit Kak," rintih Kana sambil mencengkram bahu Joddy.
"Mungkin sudah saatnya Joddy," kata Maya cemas
"Gimana, gimana udah mau lahir? " tanya Kanda ikutan panik.
" Panggil dokter Nda cepat! " perintah Joddy tak kalah panik. Tanpa banyak bicara Kanda melesat pergi, tak berapa lama dokter Tasya muncul dengan beberapa perawat.
"Baik, Mbak Kana sudah mau melahirkan. Akan kami bawa ke ruang bersalin. Pak Joddy boleh menemani," kata dokter Tasya lalu bergegas pergi.
Joddy mengenggam tangan Kana lalu mencium keningnya lembut." Mari berjuang, Sayang."
"Kak, kalau terjadi apa-apa padaku, jaga anak kita ya," kata Kana menahan sakit yang teramat. Pinggangnya terasa mau patah begitu pula dengan tulang - tulangnya.
"Semua akan baik-baik saja. Kamu dan anak kita akan baik-baik saja," bisik Joddy saat perawat mulai membawaku ke ruang bersalin.
*
"Ayo Mbak Kana tarik nafas dan buang pelan-pelan." dokter Tasya memberi aba - aba."
"Hitungan ketiga mengejan ya Mbak... 1,2,3.."
"Erghhhhhhh....."
"Bagus... Ayo lagi Mbak"
Aku menarik nafas dan mulai mengejan lagi.
"Sa.. Kit.. Dok! Saya tidak ku.. at." Entah ke mana perginya ilmu pernapasan yang Kana pelajari saat senam kehamilan. Semua hilang karena rasa sakit ini.
"Tidak Mbak, Mbak kuat ayo kita berjuang sama-sama," sahut dokter Tasya.
" Ayo Na, kamu bisa," bisik Joddy mengecup pipi Kana lembut.
" Ayo Mbak Kana kita coba lagi. Tarik napas, hitungan ketiga mengejan.. 1,2,3..."
"Erghhhhhhhhh...."
"Bagus kepala dedeknya sudah kelihatan...ayo Mbak.. "
"Ergghhhhhhhhhhhh.. "
"Oeeeeeeeeww..." Pecahlah tangisan mungil itu.
"Alhamdulillah... Bayinya perempuan Pak,sehat, cantik dan putih," kata dokter Tasya.
Kana tersenyum badannya terasa lemas sekali tapi lega. Joddy tersenyum dengan air mata di sudut matanya dia sangat bahagia saat mendengar tangis bayinya.
" Kak aku mau lihat.. "
" Sebentar Sayang sedang dibersihkan," bisik Joddy mencium kening Kana sebagai luapan bahagia.
Kana mencoba tersenyum walaupun rasanya lemas dan pandangannya mulai kabur.
"Dok, pasien mengalami perdarahan!" teriak seorang perawat membuat heboh ruangan bersalin.
" Mbak Kana , jangan tidur," seru dokter Tasya.
"Pak, tolong buat istri anda tetap sadar!"
Kana sudah tidak terlalu mendengar apa yang dokter dan para perawat ucapkan. Badannya terasa lemas, lelah dan sangat mengantuk.
"Na.. Tetap terjaga Sayang. Anak kita sudah dibersihkan dia sangat cantik sepertimu." Joddy menciumi wajahnya, sayangnya Kana terlalu lelah untuk menanggapinya.
Samar-samar Kana melihat bayangan Adrian yang datang dan tersenyum ke arahnya.
"Kak Ian?" desis Kana tak percaya pada pandangannya. Adrian hanya tersenyum lalu mengulurkan tangannya ke arah Kana.
__ADS_1
****
2000 kata lebih dikit ya guys. terimakasih buat yang selalu menunggu cerita ini. I love you