
Jihan dan Heru menikah di usia muda. Mereka dipertemukan dalam sebuah perjodohan. Walau begitu, seiring waktu cinta tumbuh di antara keduanya. Saat menikah mereka masih sama-sama muda. Jihan saat itu berusia 20 tahun dan Heru berusia 23 tahun dan baru lulus kuliah.
Jihan yang terlahir dari keluarga berada harus memulai semua dari nol bersama Heru, pria sederhana dan bersahaja. Selama 36 usia pernikahan tidak ada masalah yang berarti. Keduanya hidup bahagia apalagi dengan hadirnya dua anak lelaki yang sama-sama tampan.
Walaupun kedua anaknya sudah tinggal sendiri dan hanya sesekali pulang ke rumah, tapi tak membuat mereka putus komunikasi. Heru yang terlihat begitu mencintai Jihan dan sebaliknya menjadi pasangan yang banyak membuat orang lain iri melihatnya.Tapi siapa sangka semua hancur dalam sekejap mata begitu perselingkuhan Heru terbongkar.
Tangan Jihan masih gemetar saat mengenggam selembar foto. Hatinya hancur antara tidak percaya dan shock dengan apa yang terjadi, Laras bungkam dengan wajah pucat sedangkan Heru terlihat panik dan kalut. Tak jauh berbeda dengan Jihan kedua orangtua Laras pun tak kalah shock. Mereka tidak menyangka anak semata wayang yang selama ini mereka banggakan bisa melakukan itu semua. Ferddy hanya bisa diam di tempatnya mencoba untuk menerima keadaan ini.
"Kenapa kamu tega sama aku, Mas?" Jihan akhirnya bersuara, suaranya bergetar menahan isak tangis. Heru mencoba mendekat, tangannya terulur menyentuh lengan Jihan tapi dengan kasar Jihan menepisnya. Dia jijik membayangkan tangan itu sudah menjamah tubuh wanita lain, dia jijik dengan suaminya sendiri.
"Aku minta maaf Jihan. Aku tidak bisa menahan diri. Aku salah." Heru menunduk, dia mengakui dia salah tapi Heru tidak bisa menghindar dari pesona Laras. Gadis kecil yang awalnya dia anggap sebagai anak lama kelamaan membuatnya goyah. Laras yang butuh kasih sayang seorang ayah yang tinggal jauh terpisah dengannya sering datang menemuinya atau sekedar bersua di telepon dan itu hampir setiap hari. Membuat rasa nyaman di hati Heru yang memang butuh perhatian karena terkadang Jihan sibuk dengan dunianya sendiri dan anak-anaknya sibuk dengan urusan masing-masing. Heru kesepian lalu dia jatuh cinta pada Laras yang cantik dan energik. Selain itu, Laras masih bisanya memberinya anak karena setelah melahirkan Ferddy rahim Jihan bermasalah dan harus diangkat padahal dia masih menginginkan seorang anak perempuan.
"Sudah berapa lama?" tanya Jihan tanpa menatap suaminya. Heru bungkam begitupun dengan Laras.
"Aku tanya sudah berapa lama?!" seru Jihan setengah berteriak membuat Heru dan Laras tersentak kaget.
"Satu tahun," jawab Heru lirih matanya tak berani menatap mata Jihan yang nyalang menghunus ke arahnya.
"Satu tahun? Satu tahun kamu berselingkuh dengan wanita yang lebih pantas jadi anak kamu Mas?! Tega kamu, Mas! Tega!!" Jihan histeris, dia memukul-mukul dada Heru dengan amarah yang meledak-ledak.
Ferddy yang berniat memisahkan keduanya urung saat Joddy memberinya isyarat untuk diam di tempatnya. Joddy hanya ingin memberi waktu ibunya mengeluarkan segala amarah pada suaminya.
"Maafkan aku Jihan. Aku jatuh cinta pada Laras. Aku menginginkan anak darinya Jihan." Heru menatap Jihan penuh sesal.
__ADS_1
Jihan menatap Heru tak percaya, apa dia bilang? Jatuh cinta pada Laras? Menginginkan anak?
"Apa? Aku tidak salah dengar? Kamu menginginkan anak, lalu karena aku sudah tidak bisa melahirkan itu kamu jadikan alasan untuk berselingkuh? Bejat kamu, Mas!"Jihan melempar bantal ke muka Heru yang pasrah begitu saja.
"Dan kamu!" tunjuk Jihan pada Laras yang menatap Jihan dingin.
"Kamu sudah aku anggap sebagai anak sendiri bahkan aku jodohkan dengan anak kesayanganku, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu tega berselingkuh dengan suamiku, hamil dengannya bahkan kalian tega menjebak anakku. Bejat kalian berdua." Jihan menampar pipi Laras keras-keras sebagai luapan emosi.
"Laras, jangan diam saja. Katakan ini semua tidak benar!" Hana mengguncang-guncangkan pundak Laras yang hanya diam dengan telapak tangan memegang pipi yang baru saja ditampar Jihan.
Laras menatap ibunya kemudian menatap Laras tajam. "Benar. Aku memang sudah berselingkuh dengan suami kamu. Dan itu salah kamu sendiri, Jihan. Kamu tidak menjaga suami kamu dengan baik." Laras tersenyum miring seperti tidak ada penyesalan sama sekali dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Yah, walaupun rencana kami untuk menjebak anakmu menikah denganku agar hubungan kami tetap aman, gagal tapi percayalah. Heru akan tetap bersamaku." Laras tersenyum penuh kemenangan membuat semua.orang yamg berada di ruangan itu menatapnya terkejut.
Malik dan Hana sampai tercengang mendengar kata-kata Laras yang di luar dugaaan mereka.
"Lepaskan Ibu Joddy. Biar Ibu beri pelajaran jalang itu!" Jihan berteriak frustasi mencoba melepaskan pelukkan anaknya. Laras yang dibantu Hana bangun itu tertawa mengejek ke arah Jihan.
"Kamu bunuh aku sekalipun, tidak akan membuat suamimu kembali padamu, Jihan. Dia akan memilih aku karena aku hamil anaknya." Laras membuat gerakan merapikan rambutnya lalu menatap Jihan kembali.
"Asal kamu tahu Jihan, suami kamu selalu mengatakan aku wanita yang hebat di segalanya, termasuk urusan ranjang. Dia selalu meminta lebih dari dua kali denganku Jihan. Bagaimana saat denganmu?" ejek Laras lalu tertawa terbahak-bahak.
Tangan Jihan mengepal lalu saat pegangan tangan Joddy merengang dia menghampiri Laras dan menjambak rambutnya kuat-kuat menarik tangannya lalu mendorong tubuh Laras ke lantai tanpa sempat dicegah oleh siapapun.
__ADS_1
"Cukup, Jihan! Kamu bisa melukai anaknya!" Heru tiba-tiba saja berlari dan melindungi tubuh Laras dari kemungkinan amukan Jihan.
Melihat hal itu, hati Jihan terasa sakit. Rasanya seperti dicabik-cabik kemudian dibuang begitu saja. Sakit sekali. Pria yang selama ini berjuang bersamanya dalam suka maupun duka kini lebih memilih wanita lain.
"Kamu lebih memilih dia daripada aku, Istrimu yang mendampingi kamu bahkan di saat kamu berada di titik paling bawah, Mas? Iya?!" Jihan mencoba menarik tangan Heru tapi pria berumur 50 tahun lebih itu dengan sedikit kasar menepis tangan Jihan lalu memeluk tubuh Laras yang tiba-tiba terlihat rapuh di pelukan Heru.
Melihat itu Jihan benar-benar hancur. Seperti ada ribuan pedang yang menghujam jantungnya membuat dunianya seakan runtuh.
"Maafkan aku Jihan. Maafkan aku. Aku mencintai kamu. Tapi- tapi Laras juga membutuhkan aku. " Heru menatap ke arah Laras yang entah kenapa tiba-tiba terlihat rapuh di pelukan Heru.
Jihan terdiam. Mendadak lidahnya kelu. Pipinya sudah basah sedari tadi oleh air mata yang sudah tidak mampu dia bendung lagi. Suami yang dia kenal puluhan tahun, kini terlihat asing di depannya.
Jihan tertawa dalam hati meruntuki kebodohannya. Seharusnya, dia curiga kenapa selama ini Heru terlihat lebih romantis kepadanya. Selalu memberinya hadiah dan hampir tiap minggu mengajaknya jalan-jalan. Harusnya Jihan curiga kenapa belakangan suaminya terlihat berbeda dengan penampilan baru seperti anak muda. Jihan pikir itu karena Heru ingin membuatnya bahagia. Tapi nyatanya, Heru melakukan itu untuk wanita lain. Wanita yang bahkan lebih pantas menjadi anaknya ketimbang pasangannya.
"Pergi dari hadapanku! Pergi kalian semua!!!" usir Jihan dengan amarah yang meledak-ledak. Heru mengangkat tubuh Laras yang tiba-tiba lemas.
"Jihan kita akan bicarakan nanti. Aku antar Laras ke rumah sakit dulu. Aku mencintaimu Jihan." Heru bergegas membawa tubuh Laras meninggalkan rumah Ferddy. Begitupula dengan kedua orangtua Laras yang tidak bisa berbuat apa-apa. Hana sempat ingin mengatakan permintaan maaf, tapi Joddy mencegahnya dan memberi isyarat untuk mereka pergi dari rumah Ferddy.
"Bu, maafkan Joddy." Joddy memeluk Jihan dari belakang mencoba menguatkan wanita paruh baya yang terlihat hancur itu.
"Kenapa Ayahmu jahat, Mas." Jihan menangis di pelukan Joddy.
"Ibu!" Ferddy yang sejak tadi diam akhirnya ikut Joddy memeluk ibunya yang terisak itu.
__ADS_1
"Masih ada Joddy dan Ferddy, Bu," bisik Joddy menenangkan sang ibu. Lihat saja Laras, suatu saat kamu akan dapat balasannya.
*******