
Joddy mengambil kaos yang tergeletak begitu saja di lantai lalu memakainya. Dilihatnya baju Kana yang semalam berserakan sudah tidak ada, apa mungkin Kana sudah pulang? Bukankah hari ini dia akan menyusul Ken ke Bandung?
Joddy bernapas lega saat keluar kamar dan mendapati Kana sedang sibuk di dapur. Joddy bersandar pada pintu mengamati Kana yang berdiri membelakanginya. Kana hanya memakai kaos milik Joddy yang kebesaran dia curiga Kana tidak memakai apa-apa di dalamnya karena semalam sempat mengeluh bajunya bau keringat dan Joddy tak memperbolehkan Kana pulang.
Kana bergerak dengan lincah, rambutnya diikat jadi satu tubuhnya yang mungil seperti tenggelam di balik kaos yang dia pakai, tapi itu menimbulkan kesan seksi. Ah, sial! melihatnya membuat 'adik kecil' yang Joddy beri nama Edward, bangun. Padahal semalam, Kana sudah membantunya menidurkan Sang Adik tapi hanya karena melihat Kana memakai bajunya saja sudah bikin bangun lagi.
Apakah semalam terjadi sesuatu yang 'iya-iya' antara Joddy dan Kana? Jawabannya TIDAK.
Padahal suasana sudah sangat mendukung. Dini hari, dingin, mereka sama-sama butuh dan sudah sama-sama tidak memakai benang sehelaipun. Tapi hanya mendengar 1 kalimat 4 kata. " Kak, kayaknya aku haid." membuat hasrat Joddy yang semula setinggi gunung Himalaya mendadak hancur berkeping-keping. Tapi lebih baiklah, nanti setelah nikah kan mereka melakukannya sampai puas.
"Masak apa, Dek?"
Kana berjengit kaget saat merasa sepasang tangan melingkari perutnya yang rata. Tubuhnya kembali rileks saat tahu Joddy lah yang memeluknya. Yaiyalah ini kan apart Joddy!
"Aku bikin pancake Kak. Suka gak?"
"Apapun kalau yang bikin kamu aku suka," bisik Joddy mengigit kecil telinga Kana.
"Jangan usil Kak!"Kana menyikut perut Joddy yang langsung mundur dan merintih pelan itu.
Kana hanya mendengus karena dia tahu Joddy hanya pura-pura. Sikutannya tadi hanya pelan saja. Kana membalik lalu mengangkat satu pancake terakhirnya dan meletakan di piring .
"Kamu belanja, Sayang?" tanya Joddy saat membuka pintu kulkas dan mendapati isinya penuh dengan sayur, buah, minuman dan entah apalagi.
Mendengar Joddy memanggilnya 'sayang' membuat hati Kana berdesir.
"Iya, belanja online di warung langganan mama." Kana tersenyum membawa dua piring ke ruang makan.
"Kirain kamu berangkat sendiri pakai baju ini." Joddy mengekor Kana lalu menarik kursi dan duduk dengan tenang.
"Emang yakin Kakak ngebolehin aku pakai baju ini pergi ke supermarket?" Kana tahu betul dari dulu Joddy selalu posesif padanya.
__ADS_1
"Enggak lah. Aku gak mau capek nyolokin mata pria satu persatu yang udah ngeliatin kamu."
See... dulu saja waktu baru jadi temen, posesifnya minta ampun gimana sekarang statusnya udah naik tingkat jadi 'seseorang yang spesial'?
"Udah, sarapan dulu." Kana menuangkan madu kemasan bergambar lebah di atas pancake punya Joddy dan bergantian punyanya.
"Kamu gak nanya Dek, aku udah sembuh apa belum?"
Joddy bertanya sambil asik memakan makanannya.
"Gak perlu, dari apa yang kamu lakukan semalam itu udah menandakan kamu sembuh," sahut Kana cuek.
"Emang melakukan apa? Semalam kan gagal," gerutu Joddy melirik Kana yang asik melahap pancake-nya.
"Ke Bandung jam berapa?" tanya Joddy.
"Bentar lagi nunggu baju aku kering. Oh iya, baju kamu udah aku cuciin sekalian, nanti jemur sendiri ya."
"Kalau cari begitu sih, gak perlu nikah kali Kak. Cari aja pembantu, "sela Kana sedikit ketus. Memang dia pikir Kana itu pembantu?
"Tapi kalau pembantu gak bisa ngangetin kalau dingin, kayak semalam, auhhh!!! " seru Joddy yang dihadiahi getokan di kepalanya.
"Mesum!"
Kana beranjak dari duduknya lalu mengambil piring kotor dan mencucinya.
"Na, aku antar ya ke Bandungnya." Joddy memeluk Kana dari belakang mengecup bahunya berulangkali.
"Bukannya hari ini kamu ada acara di kantor?" balas Kana mengabaikan tangan Joddy yang mulai berani bergerilya ke mana-mana. Ah, iya Joddy baru ingat kalau hari ini dia ada outing. Mau bolos tapi tidak enak.
"Malas sebenarnya, pasti mereka bawa pasangan. Istri, suami, anak. Aku bawa siapa, pacar ke Bandung. Hah, capek juga 36 tahun belum punya istri."
Kana hanya tersenyum tipis mendengar celotehan Joddy, dia tidak bodoh Joddy sedang memberi kode padanya untuk maju kejenjang hubungan yang lebih tinggi. Tapi Kana belum siap. Kana takut penilaian orangtua Joddy padanya.
__ADS_1
"Na, ketemu orangtuaku ya?" bisik Joddy meletakkan dagunya di bahu Kana. Kana menghela napas lalu membalikan badan agar bisa menatap Joddy.
"Kak,apa kamu yakin orangtua kamu suka sama aku? Karena bagaimanapun setiap orangtua mengingnkan yang terbaik untuk anaknya. Dan aku seorang janda dengan satu anak, aku tidak yakin mereka akan menyukaiku- Auhhh sakit!" Kana memengang dahinya saat Joddy menyentil di akhir kalimatnya.
"Sudah aku bilang. Berhenti menikirkan penilaian oranglain terhadapmu."
"Mereka bukan oranglain, mereka orangtua kamu! Jadi sebelum terlalu dalam hubungan kita ada baiknya kita pikirkan kembali apakah kita bisa melanjutkan hubungan ini atau tidak?"
Joddy menatap Kana tajam, terlihat kemarahan di sana. "Berhenti bicara omong kosong Kana! Aku tidak pernah main-main dengan hubungan kita."
"Tapi Kak-"
"berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu kamu khawtirkan!" sela Joddy. "Tetaplah duduk manis dan biarkan aku berjuang."
"Kak-"
"Diam, Na!" Joddy mengangkat tubuh Kana lalu mendudukkannya di atas kitchen set. Mengurung Kana di kedua sisinya.
"Aku menunggu selama puluhan tahun Kana, membahagiakanmu adalah keinginanku dari dulu. Jadi tolong berhenti berpikiran untuk pergi dariku. Semua sudah terlambat begitu kamu bilang 'iya'. Aku tidak akan pernah melepaskanmu Na. Tidak akan pernah." Joddy mengusap pipi Kana menelusuri wajah cantik kekasihnya. Tangan Joddy berhenti di bibir merah Kana. Lalu tanpa izin dia menarik dagu Kana dan mencium bibirnya. Hanya berupa kecupan-kecupan kecil.
"Too love,"bisik Joddy sebelum mencium Kana lebih dalam lagi. Tangan Joddy menelusup ke belakang mengusap kulit punggung Kana yang halus. Tak mau Kalah, Kana menarik tengkuk Joddy agar menciumnya lebih dalam lagi. Entahlah, Kana menjadi murahan bila bersama Joddy.
"Ehhmmm.." Tanpa sadar Kana mengerang saat Joddy memasukan lidahnya ke dalam mulut Kana mengeksplor masuk ke dalam sana. Keduanya terlalu larut dalam ciuman, Joddy mengumpat dalam hati, seandainya saja Kana tidak datang bulan mungkin dia bisa melakukan lebih dari ini.
Tangan bebas Joddy sudah akan berpindah kebagian depan Kana tapi rupanya semesta tidak mengizinkan ketika tiba-tiba sebuah suara menghentikan semuanya.
"Surpri-se.." Teriakan yang semula lantang menjadi lirih saat melihat adegan 18+ di atas kitchen set itu. Joddy dan Kana panik lalu saling menjauh .
" Mas Joddy Ibu dat-" Satu lagi orang yang membuat panik keduanya wanita paruh baya itu menatap Joddy dan Kana tak percaya.
Joddy mengumpat dalam hati, sial kenapa dia harus memberi tahu password apartmentnya pada adiknya itu. Kana menunduk saat tatapan mata wanita paruh baya itu serasa menusuk sampai ke jantungnya. M*ti kali ini!!
**********
__ADS_1