Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Rujuk


__ADS_3

Kehidupan Kana kembali normal. Dia sudah pindah ke rumah barunya bersama Ken dan juga Mbok Dar. Rumah lama Kana untuk sementara ditempati Kanda yang masih saja menganggap dirinya sendiri sebagai calon duda, sedangkan apartemen Joddy dibiarkan kosong hanya seminggu sekali Joddy menyuruh orang untuk membersihkannya. Hubungan Nea dan Kana masih sama. Dingin dan asing karena mereka juga jarang sekali bertemu.


Semenjak menikah Kana hanya menjadi ibu rumah tangga yang patuh pada suami. Rutinitas Kana yang monoton kadang membuatnya bosan apalagi Ken sudah masuk sekolah TK makin kesepian saja dia di rumah. Beberapa kali dia meminta Joddy untuk mengizinkannya bekerja. Sayangnya, pria itu masih tidak memberinya izin. Joddy hanya ingin Kana di rumah fokus pada Ken dan tentu saja dirinya. Bahkan dia pernah bilang ingin sekali membuat Kana hamil tiap tahun agar dia fokus di rumah, keinginan yang ditolak mentah-mentah oleh Kana.


Kana memperhatikan Joddy dan Ken yang asik bermain di kolam ikan dengan 'air terjun' buatan yang khusus dibuat Joddy untuk Ken. Lihat saja anak itu sangat bahagia hanya dengan hal sepele sederhana semacam itu.


Kana sungguh bersyukur menikah dengan Joddy, pria itu bisa menjadi ayah yang baik untuk Ken. Joddy terlihat sangat menyayangi Ken, bahkan malah cenderung memanjakannya. Sama persis seperti Adrian.


Semoga saja selamanya akan begitu.


"Mbak, di luar ada Ibunya mas Joddy."


Lamunan Kana membuyar. Kana menoleh pada pria separuh baya yang baru saja datang itu. Pak Nurdin, satpam rumah yang ternyata bertugas menjaga rumah Joddy selama ini. Dan Pak Nurdin ini yang ditugasi untuk membersihkan apartemen Joddy setiap seminggu sekali.


"Ah, Ibu. Iya Pak udah dibukain pintunya kan?" tanya Kana, pria itu mengangguk lalu bergegas kembali ke posnya.


"Kana!" seru wanita paruh baya lalu menghambur memeluk Kana.


"Ibu, sama siapa?" tanya Kana melepas pelukannya. Jihan tersenyum tepat saat pria yang sangat Kana kenal berjalan pelan menghampiri mereka .


"Ay-Ayah?" Kana terkejut melihat pria paruh baya tersenyum hangat ke arahnya.


"Kalian?" Joddy tergopoh-gopoh menghampiri kedua orangtuanya dengan tatapan tak percaya.


Jihan tersenyum malu lalu mengalihkan perhatiannya pada Ken yang ada digandengan Joddy.


"Hai, Kenzo-nya Oma! Makin ganteng aja," sapa Jihan lalu membungkuk menyamai tinggi Ken.


"Oma, Ken cehat!"balas Ken dengan ceria


" Apakabar kalian?"tanya Heru yang sejak tadi hanya diam.


" Baik. Apa kalian tidak ingin menjelaskan sesuatu? " Joddy tidak ingin berbasa-basi, dia sungguh penasaran kenapa kedua orangtuanya bisa datang bersama ke rumahnya.


Heru dan Jihan hanya saling berpandangan dengan senyum terselip di bibir keduanya.


"Yah, Bu?" seru Joddy menanti jawaban kedua orangtuanya yang masih saja tak bergeming. Menatap dengan canggung satu sama lain.


"Ayah dan Ibu silahkan duduk dulu, biar Kana bikinin minum." Kana mencairkan suasana. Lalu mengkode suaminya untuk tidak banyak bertanya dulu.


*


"Ibu yakin?" Joddy bertanya sekali lagi memastikan jika pendengarannya tidak salah. Ibunya tiba-tiba saja ingin rujuk dengan ayahnya, pria yang sudah menyakitinya?


Jihan tersenyum lalu menatap dari kejauhan Heru yang sedang mencoba mengambil hati Ken. Mereka berdua asik bermain di taman. Ken yang memang cepat dekat dengan orang itu langsung akrab dengan Heru.


"Ayah kamu melakukan segala cara untuk mengambil hati Ibu. Awalnya, Ibu ragu. Tapi melihat kesungguhan di mata Ayah kamu. Ibu jadi luluh dan mencoba memberinya satu kesempatan lagi."


"Ibu yakin Ayah benar - benar serius?" tanya Joddy yang langsung mendapat isyarat Kana untuk tidak bicara aneh-aneh.


Jihan termenung lalu menatap Joddy. "Ya, semoga saja dia serius. Dia bilang sudah tidak berhubungan dengan Laras. Mereka sudah hilang kontak."


"Ferddy tahu?"


Jihan mengangguk, "Walaupun Ferddy sebenarnya tidak menyetujui kami rujuk."


Joddy maklum saja, karena Ferddy masih sakit hati dengan perbuatan Heru dan itu jelas sudah menggores hati Ferddy yang sangat menyayangi ibunya.

__ADS_1


"Kalau kamu gimana, Bang?"


"Kalau Joddy, terserah Ibu saja. Kalau menurut Ibu itu yang terbaik, Joddy ya setuju saja karena Ibu yang menjalani."


Jihan tersenyum lalu menatap Kana. "Kalau menurut Kana bagaimana?"


Kana tergeragap dia tidak menyangka akan dimintai pendapatnya."Oh, kalau Kana sama kayak Kak Joddy, Bu. Semua terserah Ibu saja." Walaupun sebenarnya Kana sedikit ragu. Dia teringat ucapan Laras sebelum wanita itu ke Jerman. Dia bilang selama dia pergi Heru akan kembali ke Jihan tapi setelah dia kembali ke Indonesia Heru akan merangkak padanya kembali.


Semoga saja itu hanya cara Laras untuk menakuti-nakuti saja. Buktinya sampai hari ini Kana tidak mendengar kabar berita tentang wanita itu.


"Syukurlah, Ibu jadi tenang kalau begini." Terlihat sekali kelegaan di wajah Jihan. Sepertinya Jihan memang masih mencintai Heru dan ingin kembali pada pria yang sempat menyakitinya itu.


Joddy tersenyum mau tidak mau dia bersyukur karena keluarganya kembali utuh.


Jihan memutuskan untuk menginap di rumah Joddy tanpa Heru. Dengan alasan paginya ada meeting penting maka Heru tidak ikut menginap dan pulang ke rumahnya. Jihan tidak keberatan sama sekali karena dia memang ingin menghabiskan malam dengan Ken.


"Ken sudah tidur?" tanya Joddy ketika Kana kembali ke kamarnya.


"Iya, dikelonin Ibu," sahut Kana lalu duduk di depan meja rias untuk melakukan ritualnya sebelum tidur.


"Aku seneng Ibu sayang banget sama Ken dan menerima Ken seperti cucunya sendiri." Kana mengambil kapas lalu meneteskan pembersih muka dan perlahan mengusapkan ke wajah.


"Lha, memang Ken cucu Ibu kan?" balas Joddy yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.


"Iya, sih. Walaupun cucu sambung," gumam Kana pelan.


"Tapi Kak, apa kamu yakin Ayah sudah berubah?" tanya Kana hati-hati, matanya menanti reaksi Joddy melalui cermin.


"Semoga saja." Joddy masih sibuk dengan ponselnya.


"Kalau Laras kembali dan -" Kana tak jadi melanjutkan kata-katanya. Dia takut Joddy akan tersinggung.


"Dan mencari Ayah lagi?" tanya Joddy seolah tahu apa yang ada dipikiran Kana.


Kana membalikkan badannya lalu mengangguk.


"Semoga saja tidak, Na. Karena walau bagaimanapun Ibu yang sudah menemani Ayah dari nol pasti tidak mudah melupakan Ibu begitu saja."


"Hmmm, semoga saja ya, Kak," sahut Kana lalu asik mengusapkan skin care ke wajahnya yang putih bersih. Itu tak luput dari perhatian Joddy. Dia tidak menyangka ternyata ritual Kana sebelum tidur itu benar-benar panjang dan ribet.


Tak jarang Joddy akan merajuk bila dirinya sedang menginginkan Kana dan istrinya itu terlalu lama di depan cermin.


"Dek, kenapa sih mau tidur aja mesti pake make up begitu? Ntar juga berantakan dan keringatan lagi?" tanya Joddy penasaran.


"Ini bukan hanya make up tapi skin care Kak. Biar kulit aku gak kusem."


"Ah, gak pakai begituan aja kamu udah cakep."


"Emang. Tapi kalau lebih cakep kamu juga lebih suka kan?"


Joddy hanya terkekeh. "Suka lah, apalagi kalau kamu di atas," balas Joddy menaik turunkan alisnya.


Kana mendecih, "Ckkk, kamu tuh gak jauh dari situ pikirannya!"


"Dari situ apa? Emang kamu tahu apa yang aku pikirin?" goda Joddy dengan wajah mesumnya.


"Ah, lupakan!" Sama dengan mancing singa tidur kalau sampai Kana menyinggungnya hal-hal tabu yang sudah seminggu ini mereka abaikan karena Kana sedang datang bulan dan malam ini sebenarnya mereka sudah bisa melakukannya tapi Kana belum memberitahukan hal itu pada Joddy. Biar saja pria itu menunggunya

__ADS_1


"kok lupakan? Enak saja, kamu itu sulit dilupakan."


Kana melepas ikatan rambutnya lalu menghampiri ranjang dan merebahkan separuh badannya di sebelah Joddy.


"Tumben mainan hp?" tanya Kana ke arah ponsel ditangan suaminya.


"Habis, 'mainanku' masih belum bisa dimainin sih," sahut Joddy matanya melirik ke bawah perut Kana. Membuat Kana mendelik lalu memukul wajah suaminya dengan bantal.


"Mesum!"


Joddy terkekeh lalu menarik pundak Kana.


"Mau lihat gak komentar netizen saat aku posting wajah kamu di IG?" Joddy mengarahkan ponselnya ke arah Kana. Wanita cantik itu ikut melongokan kepalanya ke arah ponsel Joddy lalu ikut membaca setiap komentar pengikut akun suaminya yang didominasi Kevin dan Dipta.


" Astaga, Bang Kanda! "Kana tertawa saat membaca nama akun kakaknya itu. Tapi tawanya berhenti saat membaca satu komentar. Komentar yang membuat wajah Joddy memucat seketika. Apalagi saat Kana menatapnya tajam dan penuh selidik.


" Oh, jadi ternyata pakai improvisasi juga?" Mata Kana menyipit seolah bersiap menguliti suaminya yang terpaku dengan wajah pucat.



❀️536 like 78 comments


Joddy too love 😘😘😘 @Kanafadella


Lihat komentar lainnya


GIORDANO iya iya yg udh ada bini


Hasanhrd cuti abis woyy


CHERRYA PAK JODDY AKU CEMBURU!!!


kinan sapa lo? @Cherrya


Kevinanda krja bang! Ngayal mulu!


Diptadip65 tu ngapa bibir Kana kyk disengat lebah! πŸ™„πŸ™„


Kevinanda eh, iya gw br nyadar @**Diptadip65 🀣🀣


Dimas** Bang kpn nongkrong lg?


Diptadip65 Kira-kira Knp ya @kevinanda πŸ€”πŸ€”


Kevinandan Paling juga seperti biasa, disengat lakinya🀣🀣🀣


Joddy bac*t.@Kevinanda


Kandasugardudawannabe adek gw napa jad berantakan?!


Diptadip65 astoge, mual gw baca nama lo bang?!@Kandasugardudawannabe 🀣🀣🀣🀣


Kevinanda What? Sugar duda??? 🀣


Joddy sugar duda?


Ichaicha my Best Kisser. Kapan mampir lagi? @Joddy 😘😘😘😍😍

__ADS_1


*****


__ADS_2