Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Bukti lagi


__ADS_3

“Bang, malah ngelamun. Gue berasa lagi ngadepin Rara yang ngambek tahu gak sih lo?” Dipta menepuk pundak Joddy yang sejak tadi melamun itu, padahal mereka sudah lebih dari 15 menit berada di café tapi Joddy lebih banyak diam , pikirannya memang sedang kacau. Waktu dia hanya tersisa enam hari untuk mencari bukti dan mengagalkan pernikahannya. Ah, sial! Bahkan sekarang Joddy tidak bisa berpikir jernih.


“Gue harus gimana Dip? Kana masih saja gak mau jujur kalau dia hamil anak gue. Gue gak tahu apa alasannya.” Joddy mengacak rambutnya gusar. Dipta memperhatikan sepupunya itu dia kasihan juga pada Joddy, tidak seperti biasanya, seorang Joddy mengejar mati-matian seorang wanita seperti ini. Seingat Dipta, Joddy ini adalah Jon Duan di masanya. Dia dekat dengan banyak wanita, tapi tak satupun yang Joddy bawa ke pelaminan. Kalaupun patah hati Joddy tak akan sekalut dan sehancur ini. Dia masih bisa berpikir logis dan mampu mengendalikan emosinya.


“Bisa jadi Kana sedang di bawah tekanan, Bang. Makanya dia gak mau jujur sama lo!”


“Di bawah tekanan siapa? Nyokap?”


“Yes! Bisa jadi Tante Jihan menekan Kana dengan statusnya membandingkan sama  status lo yang masih perjaka, walaupun sekarang udah enggak sih.” Dipta menahan tawanya saat melihat lirikan mata Joddy yang tajam bak panah.


“Salah satu cara buat bikin nyokap gue yakin kalau Kana adalah wanita yang   tepat buat gue adalah dengan mencari bukti kalau Laras sama gue gak ngelakuin apa-apa. Tapi sulit, Laras hamil dan momennya pas banget. Bokap yang biasanya netral aja sekarang ikut-ikutan Nyokap, Kampret emang! ” Joddy mengacak rambutnya gusar. 


“Tenang Bang, lo harus mikir dengan kepala dingin. Kalau lo kalut kayak gini yang ada masalah lo bukannya selesai malah makin runyam.”Dipta mencoba menenangkan kakak sepupunya. 


“Tapi lo yakin Bang sama Si Laras gak begituan?” Dipta bertanya kedua tanganya membentuk tanda kutip dengan mata menatap Joddy  seperti menyelidik.


“Gue yakin cuma sama Kana. Gue hafal banget sama bentuk-“ Joddy terdiam dengan wajah merah karena teringat sesuatu yang membuatnya sering lupa diri jika berdekatan dengan Kana.


“Bentuk apa?” tanya  Dipta dengan alis sengaja dinaikturunkan.


“Bukan apa-apa, pokoknya gue yakin itu Kana.” Joddy mengalihkan tatapan keluar jendela cafe dekat kantornya tempat janjian dia dengan Dipta. Joddy tak mau Dipta melihat wajahnya yang memerah karena menahan malu.


"Bang!"


Joddy bernapas lega panggilan itu menyelamatkannya dari kemungkinan godaan Dipta. Joddy berdecak saat melihat Kevin berlari ke arahnya dan Dipta.


"Yee, dicariin juga!" Kevin menyeret kursi samping Joddy yang kosong sesudah berhigh five dengan Dipta lalu menatap pria kalut di depannya.


"Ngapain? Ini kan jam istirahat!"


Kevin memutar bola matanya jengah, entah kenapa akhir-akhir atasan di kantornya ini lebih sering ngegas dan kadang-kadang marah tanpa alasan yang jelas. Padahal bawahan itu disenyumin aja udah seneng ketimbang disuguhi muka murung. Bukan apa-apa Kevin bosan juga kalau dicaci maki tiap hari, dijadikan sasaran kemarahan.


"Nih, tanda tangan! Hari ini kan anak-anak gajian, divisi keuangan minta tanda tangan lo!"Kevin meletakan map berisi lembaran-lembaran kertas ke depan Joddy.


"Lo tahu dari mana gue di sini?" tanya Joddy membuka map lalu menandatangani kertas itu.


"Mbak Sania, tadi katanya liat lo di sini."


"Nih, pergi sana!" usir Joddy ketus. Dipta yang melihat itu terkikik geli. Sepupunya ini memang sedang dalam


mode mood swing. Senggol dikit bacok dan itu karena seorang wanita.

__ADS_1


"Astaga, tega banget kamu sama aku, Mas!" seru Kevin menirukan suara wanita dengan gaya dibuat se-dramatisir mungkin membuat Joddy menatapnya jijik.


"Jijik! Lo belum pernah digigit monyet ya?" seru Joddy. Kevin menggeleng.


"Gigit Dip!"Joddy menunjuk ke Dipta dengan arah dagunya. Anehnya, Dipta dengan gerakan santainya bersiap, seolah-olah akan menerkam Kevin yang refleks memundurkan tubuhnya, ketiganya kemudian tertawa.


"Nah, gitu dong Bang! Ketawa! Beberapa minggu ini muka lo udah kayak debt collector. Horor banget!" Kevin mencomot kentang goreng, lalu memakannya dengan lahap


"Maklumlah Kev, calon pengantin bawaannya gelisah mulu." Dipta menyahut sambil terkikik geli, Dipta memang kenal lumayan dekat dengan Kevin karena mereka sering futsal bareng.


"Wuidihhh, jadi Bang sama Kana?" Kevin menatap Joddy tak percaya.


"Bukan sama Kana, udah beda lagi Kev." Masih Dipta yang menyahut. Joddy hanya diam sambil menikmati kopinya.


"Lha, kenapa? Beneran putus emang? Gue kira habis malam itu kalian balikan rupanya tetep putus?" Kevin dan mulut embernya memang kadang tidak bisa dikondisikan.


"Putus, Kev. Makanya, bucin gila ini patah hati. Hancur berkeping-keping." Dan Dipta memang seperti bensin yang sengaja disiramkan di bara yang menyala. Joddy acuh saja, dia sudah kebal dengan ledekan teman-temannya ini.


"Terus nikahnya sama siapa? Oh, sama cewek yang dulu di apartemen itu?" Kevin menjentikkan jarinya.


"Kayaknya, lo pernah lihat?" tanya Dipta. Kevin mengangguk dia ingat benar sewaktu diminta datang ke apartemen Joddy hanya untuk ditanya kebenaran yang bahkan sebenarnya malah suatu kebohongan.


"Lo bilang apa?!"


Kevin tersentak kaget saat mendengar suara Joddy yang lumayan keras. "Gue nggak ngomong apa-apa." Ah, ogeb banget sih lo Kev bisa keceplosan! Kevin meruntuki dirinya sendiri.


"Jangan main-main lo sama gue, anji**! Lo tadi bilang Kana nyuruh lo bohong soal siapa yang ada di apartemen gue!"


Kevin menelan ludahnya saat melihat kemarahan di mata Joddy. "Oh, oh itu-"


"Jawab gue!"bentak Joddy lagi.


Kevin menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Ya, ya gitu... Kana minta tolong gue buat bilang kalau bukan dia yang nemenin lo. Kana juga minta tolong ke gue buat bilang kalau gue sama dia pulang duluan, padahal sebenernya dia yang tinggal lebih lama di apartemen lo. Alasannya, dia mau mastiin lo baik-baik aja." Ya sudahlah, kepalang basah mending sekalian jujur saja.


Joddy terdiam. Jadi, dugaan dia selama ini benar? Kana wanita itu dan bukan Laras. " Kenapa lo gak bilang dari dulu, Kampret!" maki Joddy kesal.


"Kana yang minta tolong dan wajah Kana bikin gue gak bisa nolak, arghhh! Sakit!" rintih Kevin di akhir kalimatnya karena Joddy mengeplak kepalanya.


"Gara-gara lo, hidup gue makin berantakan!"


"Lha kenapa jadi gue?" Kevin menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sudahlah Bang. Ini malah bisa lo jadiin bukti kalau ternyata lo ayah dari anak yang dikandung Kana," sahut Dipta menengahi.


"What?? Lo ngehamilin Kana, Bang? Auhhh, sakit!" Lagi-lagi Kevin merintih kesakitan saat Joddy memukul pundaknya.


"Awas, kalau lo ember!" ancam Joddy.


Kevin mendecih." Iye, rahasia aman!" Kevin membuat gerakan mengunci mulut dan seolah-olah membuang kunci itu jauh-jauh sebagai tanda dia bisa menjaga rahasia dengan baik.


"Gue pegang omongan lo. Terus pas lo nganter gue pulang apa lo liat wanita itu nungguin gue?"tanya Joddy. Kevin mengernyit seperti memgingat sesuatu. " Enggak sih. Gak lihat gue. Tapi gak tahu juga kalau pas gue pergi dia nongol!"


"Ah, sial! Benar juga. gimana gue buktiin kalau cuma Kana yang ada di apartemen gue?" Joddy mengacak rambutnya.


"Ya, gampang tinggal liat CCTV di tanggal itu," sahut Kevin santai. Membuat Joddy dan Kevin serempak


menatapnya.


"Benar!!!" seru Dipta. Joddy tertegun lalu menoyor kepala Kevin.


"Otak lo ternyata jernih juga!" seru Joddy seperti baru saja mendapat angin segar. Astaga, kenapa tidak terpikir dari kemarin-kemarin?


"Bukan jernih, lo aja yang gak bisa mikir pakai kepala dingin, Bang! Makanya hal sepele aja gak tahu," komentar Kevin santai.


"Kalau gitu, lo juga harus cari tahu juga, Bang. Siapa yang hamilin Laras. Dengan begitu keluarga lo makin yakin," usul Dipta lalu mengambil ponselnya karena sedari tadi banyak notifikasi yang muncul dan Dipta tidak sempat membukanya dia takut kalau pesan itu dari Rara sang kekasih yang suka ngambek jika pesannya tidak segera dibaca.


"What? Wanita itu juga hamil?!!" Kevin nyaris berteriak sampai beberapa orang melihat ke meja mereka.


Joddy hampir saja melayangkan tangannya ke pipi Kevin. Kalau saja suara Dipta tak menarik perhatiannya.


"Bang, lo harus lihat ini!" Dipta menyodorkan ponselnya pada Joddy yang langsung mengambil benda pipih itu. Awalnya, Joddy tak tertarik karena Joddy mengira Dipta hanya menunjukan sebuah video lucu-lucuan dari akun media sosial. Tapi begitu tahu apa isi video itu Joddy menganga tak percaya.


"Itu dishare di grup kantor." Dipta memberi informasi pada Joddy yang melihat video itu dengan wajah marah. Dipta yakin sebentar lagi kemarahan pria itu akan meledak.


"Anj***!" maki Joddy lalu membanting ponsel Dipta di atas meja, membuat Dipta terperanjat karena ponselnya itu baru dua bulan dia beli.


"Bang, mau ke mana?!" tanya Kevin saat Joddy beranjak dari duduknya dengan terburu-buru lalu pergi begitu saja.


" Dip, dia mau ke mana?" tanya Kevin pada Dipta yang sibuk mengamati ponselnya melihat jika ada kerusakan yang dialami ponsel keluaram terbaru itu.


"Ke negara api kali!"


**********

__ADS_1


__ADS_2