
Gio menjabat tangan Kana erat dengan senyum tulus tersungging di bibirnya. "Saya sebenarnya menyayangkan kamu resign dari sini Kana. Karena sebenarnya dewan direksi punya solusi lain untuk masalah yang kemarin. Tapi kami tidak bisa memaksamu untuk tetap bekerja. Semoga kamu nyaman di tempat kerjamu yang baru."
Kana memgangguk lalu tersenyum, keputusannya sudah bulat untuk mengundurkan diri dari tempat bekerjanya sekarang. Dia akan mengikuti saran Papanya. Pindah keluar kota dan menetap di sana bersama Ken dan calon adik Ken.
"Terimakasih Pak, mohon maaf bila selama ini ada salah kata ketika kita bekerjasama."
"Sama-sama. Sukses ya, Na di tempat yang baru."
Kana mengangguk menanggapi ucapan Gio, dia lalu keluar dari ruangan atasannya itu untuk berpamitan kepada teman-temannya.
Key yang paling bersedih saat Kana berpamitan karena mereka memang cukup dekat. Key sudah menganggap Kana sebagai saudaranya sendiri karena umur mereka tidak terpaut jauh.
"Aku bakalan kangen sama kamu, Na. Sering-sering video call ya walaupun kamu di luar negeri," pesan Key mendengar itu Kana hanya terkekeh geli lalu memeluk sekali lagi Key sebelum akhirnya keluar dari gedung itu. Kana menatap sekali lagi gedung megah di depannya sebelum kakinya melangkah menuju mobilnya.
"Kana!"
Sebuah suara mengurungkan Kana untuk membuka pintu mobilnya.
"Pak Dipta." Kana mengangguk santun.
"Mengejutkan. Kenapa harus resign?" tanya Dipta menatap cinta mati sepupunya itu. Harus Dipta akui Kana memang cantik perilakunya juga baik tak heran jika Joddy mengejarnya mati-matian.
"Iya, Pak. Ada tawaran kerja di luar kota." Kana sudah mulai pandai berbohong memang, karena tidak ada tawaran kerja dimanapun Kana hanya ingin menghindar dari Joddy sesuai dengan permintaan Jihan.
"Bang Joddy tahu?"
Kana tersenyum getir, lalu menggeleng pelan. " Kak Joddy tidak perlu tahu, Pak."
"Apa tidak lebih baik kamu menemui dia dulu?" tanya Dipta penasaran melihat reaksi Kana yang hanya diam saja. " Asal kamu tahu, Na. Dia cukup frustasi dengan semua yang terjadi."
__ADS_1
Kana menggeleng pelan." Maaf Pak. Kami sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Biarkan dia bahagia dengan pilihan Ibunya dan saya pun akan bahagia dengan pilihan saya sendiri."
Entah kenapa Dipta merasa Kana mencoba menyembunyikan luka saat mengatakannya.
"Lalu bagaimana dengan-" Dipta urung melanjutkan kata-katanya, tatapan matanya jatuh ke arah perut Kana yang masih terlihat rata.
Kana tahu ke mana arah pembicaraan Dipta. "Dia akan baik-baik saja tanpa Ayahnya." Kana menunduk lalu mengelus perutnya perlahan.
"Tapi Kana, Bang Joddy sedang berusaha untuk-"
"Tolong bilang padanya Pak, semua sudah berakhir sejak Ibunya membuat saya sadar, kalau saya memang tidak pantas untuknya," sela Kana tangannya mencengkram ujung kemeja yang dia pakai, menahan segala amarah yang terpendam saat mengingat segala penghinaan Jihan dan Laras padanya.
"Maaf, saya harus segera pulang. Terimakasih, Pak sudah memberi saya kesempatan untuk bekerja di sini." Kana mengangguk sopan lalu segera masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Dipta yang masih berdiri termangu di tempatnya.
*
Hal yang Joddy lakukan saat mendengar Kana resign dari pekerjaannya adalah pergi ke rumahnya. Dia harus bisa memastikan Kana agar tidak pergi kemanapun. Dia tidak rela Kana pergi begitu saja setelah apa yang Joddy lakukan padanya.
"Om, izinkan saya bertemu dengan Kana," pinta Joddy penuh harap matanya menatap ke arah dalam rumah dari balik punggung Gufron yang menghalanginya masuk.
"Untuk apa? Menyakitinya?" Gufron menatap nyalang ke arah Joddy.
"Saya tahu, saya salah Om. Saya mohon beri kesempatan saya untuk memperbaiki semuanya." Joddy menatap penuh harap ke arah Gufron. Joddy tahu Gufron sangat marah sekali padanya. Putri kesayangannya sudah dia sakiti.
"Saya sudah pernah bilang berhenti dan jauhi Kana jika orangtua kamu tidak menyukainya dan kamu dengan yakin mengatakan akan berjuang, tapi nyatanya apa? Kana hamil, kamu bertunangan dengan wanita lain dan yang paling membuat hati saya sakit sebagai orangtua, putri kesayangan saya dihina oleh orangtua kamu!" Gufron mengeluarkan segala amarahnya pada Joddy.
"Maksud Om, orangtua saya-"
Gufron menatap sinis ke arah Joddy." Orangtua kamu datang ke sini bersama tunangan kamu. Mereka menghina Kana dengan kata-kata yang sangat melukai perasaan putri saya."
__ADS_1
Joddy terhenyak saat mendengar penuturan Gufron. "Apa benar?"
"Kamu pikir saya bohong?"
Joddy menatap Maya memastikan jika apa yang Gufron katakan tidak benar tapi Maya hanya diam wanita yang biasanya penuh senyum pada Joddy itu kini berubah menjadi sosok yang dingin.
"Seumur hidup, tidak pernah sekalipun saya membentak atau mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati Kana, tapi kedua orangtua kamu sudah melakukannya. Kamu pikir sebagai orangtua Kana saya akan diam saja? Tidak!" Mata Gufron berkaca-kaca dia ingat bagaimana raut wajah putri kesayangannya waktu mendengar apa yang Jihan dan Laras katakan. Sangat terluka tapi hanya bisa diam, pun ketika Gufron membayangkan Kana dilabrak di tempat kerjanya oleh Laras. Mendengar cerita langsung dari Kana saja hati Gufron terasa dicabik-cabik.
"Jadi, saya akan membawa Kana pergi jauh karena kamu sudah menyakitinya terlalu dalam. Anak itu sudah mengalami rasa sakit karena kehilangan suaminya dan saya tidak mau dia merasakan rasa sakit yang sama. Jadi, sebelum terlanjur lebih dalam saya akan membawanya pergi menjauh darimu dan keluargamu sesuai apa yang Ibu kamu minta pada putri saya."
Joddy mengeleng pelan. Kana-nya tidak akan pergi ke mana-mana. "Tidak, Om. Tolong beri saya kesemp-"
"Tidak ada kesempatan lagi untukmu! Pergi dari kehidupan anak saya, biarkan dia bahagia dengan hidupnya sendiri!" bentak Gufron.
"Tapi Om, Kana sedang mengandung anak saya."
"Tidak masalah. Saya dengar tunangan kamu juga hamil. Jadi, urus saja anak yang ada di perut tunangan kamu. Kana urusan kami."
"Tidak Om, tolong! Saya tidak bisa membiarkan Kana pergi begitu saja Om. Saya mencintai Kana."
"Tapi kamu membiarkan orangtua kamu menghina anak saya!" sentak Gufron." Jadi, mulai sekarang lupakan Kana. Dia akan baik-baik saja tanpa kamu." Gufron bersiap menutup pintu tapi Joddy mencegahnya.
"Saya tidak tahu apa yang sudah orangtua saya lakukan pada Kana. Tapi saya meminta maaf untuk itu. Saya mohon jangan bawa Kana pergi, Om."
"Sekalipun kamu memohon dan berlutut di kaki saya, keputusan saya tidak akan berubah." Gufron menatap lurus ke arah Joddy.
"Lupakan anak saya dan bangunlah kehidupan barumu tanpa Kana," imbuh Gufron lalu menutup pintu tanpa bisa Joddy cegah.
Begitu pintu ditutup Joddy merasa hati Kana pun serasa tertutup untuknya dan untuk membuatnya terbuka dia harus berjuang keras kembali.
__ADS_1
Jika Gufron mengira dia akan menyerah, tidak. Joddy tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan tetap berjuang untuk mendapatkan hati Kana dan mendapat restu Gufron.
******