
Joddy keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah menghampiri Kana yang langsung menyodorkan sebotol minyak telon ke arahnya. Joddy berdecak sebal lalu mengambil minyak telon yang merk-nya sama persis dengan punya Ken dari tangan sang istri.
Mereka sedang berada di rumah orangtua Kana dan berencana menginap semalam. "Ibu apa baik-baik saja, Kak?" tanya Kana khawatir. Jihan menolak keras saat dia dan Joddy berniat menemaninya sepulang dari apartemen Laras. Jihan bilang dia ingin sendiri dulu, hanya Ferddy yang menemani ibunya.
"Semoga saja Na," desah Joddy lalu duduk di kursi belajar Kana setelah selesai membaluri seluruh tubuhnya dengan minyak telon.
Kana memperhatikan wajah Joddy yang terlihat lelah bercampur sedih. Joddy pasti kecewa karena keluarganya kali ini benar-benar tidak bisa diselamatkan. Tapi Kana lega akhirnya Jihan tahu seperti apa Heru sebenarnya. Pria yang tidak bisa setia.
"Aku hanya gak nyangka aja, Na. Semua di luar ekspektasiku. Aku kira Ayah sudah benar-benar berubah dan kami bisa kembali utuh menjadi keluarga yang rukun seperti dulu, ternyata-"Lidah Joddy terasa kelu. Ada rasa sesak yang tiba-tiba dia rasakan. Rasa kecewa terhadap ayah yang dia hormati selama ini lebih mendominasi.
Kana bangkit dari duduknya lalu menghampiri Joddy setelah yakin pria itu sudah menggunakan minyak telon yang dia berikan tadi."Kak, mungkin ini yang terbaik buat Ibu. Ayah sudah menyakitinya, jika dia tahu lebih lama lagi. Itu malah akan membuat Ibu semakin tersakiti." Kana mencoba menghibur Joddy walaupun sebenarnya dia tidak yakin jika kata-katanya bisa membuat Joddy lebih baik.
Joddy menengadah menatap istrinya yang malam itu kelihatan lain dari biasanya, terlihat lebih menggemaskan membuat Joddy tak tahan untuk tidak menarik istrinya itu duduk di pangkuannya. Lalu menenggelamkan kepalanya di tengkuk Kana menghirup aroma peach yang menguar dari tubuhnya.
"Maaf ya, Na." Suara lirih Joddy teredam di tengkuk Kana. Kedua tangan yang melingkari perut ramping Kana terasa menguat.
"Untuk?"
"Karena kemarin aku tidak percaya dengan apa yang kamu dan Ferddy katakan. Aku juga tidak peka dengan apa yang terjadi. Tapi sungguh, aku kecewa dengan apa yang Ayah lakukan. Aku tidak sangka Ayah bisa setega itu pada kami."
Kana memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah Joddy. Lalu memeluk tubuh suaminya itu mencoba memberi kekuatan.
"Aku tahu ini berat buat kamu, Kak. Tapi ini sudah takdir yang digariskan oleh Tuhan untuk Ibu. Ini yang terbaik buat Ibu. Kita tidak bisa mengubah takdir, bukan? Jadi, yang terpenting adalah bagaimana kita sekarang mengembalikan kepercayaan dan kebahagiaan Ibu lagi."
Joddy mengangguk lalu melepas pelukan Kana agar pandangan mereka bertemu. Joddy menatap lekat istrinya itu, binar-binar di mata Kana selalu bisa membuatnya tenang. "Kamu harus percaya sama aku, Na. Walaupun dia Ayahku, tapi aku sama sekali tidak punya niat untuk menjadi sepertinya."
Joddy mengambil tangan Kana mengenggam jemarinya erat. Kana tersenyum lalu menangkup kedua sisi wajah Joddy. " Iya, aku percaya. Aku percaya kalau kamu jauh berbeda dengan Ayah," bisik Kana lalu memberanikan diri menempelkan keningnya di kening Joddy yang tersenyum lega itu lalu menarik tengkuk leher Kana mendekat ke arah wajahnya.
"Woi, pasangan mesum! Keluar cepat! Makan malam di bawah!"
Hampir saja bibir mereka bertemu kalau saja suara cempreng disertai gedoran pintu yang tak sabar itu terdengar. Kana mendengus lalu turun dari pangkuan suaminya.
"Manusia bar-bar!" seru Kana menatap tajam ke arah pintu yang tertutup rapat, seolah-olah tatapannya mengeluarkan laser yang bisa menembus pintu dan membakar orang yang ada di balik pintu di luar kamarnya.
Siapa lagi kalau bukan Kanda?
"Udah, turun duluan sana aku ganti baju dulu," bisik Joddy mengacak-acak rambut Kana lalu bergegas membuka lemari untuk mengambil baju yang sengaja mereka tinggal agar tidak repot jika harus menginap.
5 menit kemudian Joddy yang sudah berpakaian rapi menyusul makan malam di ruang makan. Rupanya mereka sudah mulai makan. Kecuali Kana yang tentu saja harus menyuapi Ken terlebih dahulu. Bocah gembil titisan Adrian itu tersenyum saat Joddy mencubit pipinya yang menggembung karena sedang mengunyah makanan saat melintas di belakang bocah itu.
"Lo lama amat di kamar, ngapain aja lo? Lagi 'pertunjukan solo'?" sindir Kanda saat Joddy duduk di depannya. Pria berkacamata itu mendelik tajam saat tahu apa yang dimaksud iparnya. Hampir saja dia mengumpat kalau saja dia tidak ingat sedang berada di 'pondok mertua indah'. Dan Kanda menggunakan kesempatan langka itu untuk 'membully' adik iparnya yang hanya beda setahun dengannya karena tahu si Adik ipar tidak akan mampu membalas bullyan-nya karena takut pada Tuan Gufron Yang Terhormat.
"Jangan dengarkan Kanda, ayo makan Nak Joddy!" Maya sang ratu di rumah itu mengambilkan piring untuk Joddy karena Kana masih menyuapi Ken. Joddy dengan canggung menerima piring itu matanya melirik Gufron yang terlihat acuh dan memilih sibuk dengan makanannya.
__ADS_1
"Kamu ambil sendiri, ya. Kana masih nyuapin, Ken." Maya tersenyum sambil mendorong bakul nasi ke arah Joddy yang mengangguk lalu mengambil nasi untuk dirinya sendiri itu.
"Makan yang banyak Lo, biar kuat menghadapi kenyataan hidup yang pahit!" Lagi-lagi Kanda menyindir Joddy. Sepertinya mereka sudah tahu apa yang terjadi pada keluarga Joddy. Lihat saja tatapan kasihan Maya dan juga senyum menyebalkan Kanda yang seolah-olah menertawakan keadaannya saat ini. Kemungkinan Kanda sedang membalas dendam karena kemarin-kemarin Joddy menertawakannya sebagai calon-seorang - duda itu.
"Itu mulut apa knalpot blombongan sih? Berisik banget!" balas Kana yang sejak tadi terganggu dengan sindiran Kanda terhadap suaminya.
Kanda melotot ke arah adiknya." Anj-ani anaknya pak RT!" Kanda urung mengumpat saat melihat tatapan Gufron dan Joddy yang tajam ke arahnya. Dia buru-buru menelan makanannya karena takut rendang yang dia makan tersangkut di tenggorokan saking takut melihat tatapan Gufron yang menghunus ke arahnya.
"Maaf ya Joddy. Mama turut prihatin atas apa yang terjadi pada keluarga kamu," ucap Maya tulus.
Joddy tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Ma. Makasih." Ekor mata Joddy melirik Gufron yang masih acuh saja. Biasanya pria paruh baya itu akan menyindir nya pedas, tapi kali ini pria itu terlihat lebih tenang dan terkesan acuh.
"Terus rencana Mama kamu gimana?" Maya bertanya dengan hati-hati takut menyinggung menantunya
"Yah, mau gimana lagi Ma. Pisah." Joddy tersenyum masam, ada rasa sesak yang tiba-tiba dia rasakan dan itu membuat Maya menjadi serba salah.
"Papa dari tadi kalem aja, Pa? Mendadak sariawan?" sindir Kanda menahan tawa. Gufron menatap Kanda kesal, sedari tadi anak sulungnya itu terlalu banyak bicara, kalau saja bukan karena Kanda sedang dilanda masalah yang sama dengan orang tua Joddy, Gufron akan memberi kultum dadakan pada anak itu.
"Heran saja, dua masalah yang sama terjadi dalam keluarga ini," sindir Gufron melirik anaknya.
Kanda mendecih saat mendengar balasan telak dari Gufron itu.
"Saya cuma mau memperingatkan kamu, jadikan dua peristiwa ini sebagai pelajaran untuk rumah tangga kamu dan Kana. Jangan pernah sekali-kali kamu sakiti anak saya seperti yang ayahmu lakukan. Kamu harus bisa buktikan kalau pohon kamu memang tumbuh di pinggir kali." Gufron menatap lurus pada Joddy, tidak ada rasa marah dan senewen yang Joddy lihat. Walaupun dengan suara tegas tapi tatapan Gufron terhadap dirinya sedikit menghangat. Apa karena Gufron simpati terhadap masalah yang sedang orangtuanya hadapi?
Joddy mendelik kesal pada Kanda lalu mengangguk hormat pada Sang Mertua. "Iya, Pa."
"Kamu juga segera selesaikan perceraian kamu dengan Nea secepatnya!" seru Gufron membuat Kanda terdiam dengan muka masam.
Sial, sial! Kenapa gue yang kena gong-nya?! Kampret!
"Iya,iya tenang aja." Kanda mengunyah makanannya kuat-kuat menahan kekesalannya. Suasana menjadi hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sampai tiba-tiba Kanda merasakan sesuatu yang aneh. Dia mencium aroma yang khas seperti Ken menguar dari tubuh Joddy.
"Jod, lo pakai telonnya Ken? Gila, aromanya kuat banget!"
"Eh, iya dari tadi emang kecium kayak telonnya Ken. Mama pikir Ken tapi kan Ken duduknya jauh." Maya mengamini.
Joddy tersenyum canggung lalu mengangguk." Iya, Ma."
"Idih, ngapa lo? Berharap berubah jadi imut kayak Ken? Halu lu!" ejek Kanda lalu tertawa, membuat Joddy ingin sekali melempar garpu tepat di jidatnya.
"Bukan, Kana suka pusing nyium parfum Kak Joddy. Tapi kalau dia pakai telon rasanya enak di hidung," sambar Kana yang kini duduk di samping Joddy setelah mengantar Ken menyusul mbok Dar di ruang TV sedang asik menonton sinetron.
__ADS_1
"Kayaknya hidung aku bermasalah deh!" sambung Kana lalu mulai mengambil makanan.
Maya menatap Kana serius. "Sudah berapa hari?"
"Berapa ya, Kak?" Kana menoleh ke arah suaminya yang menggeleng pelan karena dia memang tidak yakin sejak kapan Kana begitu.
"3 harian Ini kayaknya," jawab Kana menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Kamu udah haid?"tanya Maya lagi.
Kening Kana mengerut seperti sedang mengingat-ngingat. " Belum Ma bulan ini, tapi kan emang Kana haidnya gak teratur."
"Kamu suka capek gak?"
"Iya sih, mageran sekarang Ma," keluh Kana dengan mimik wajah yang lucu membuat Joddy mau tak mau terpesona melihatnya.
"Kamu hamil kayaknya,Na!" seru Maya girang membuat seisi ruangan terpaku mendengarnya.
"Hah? Ih, gak Ma! Mungkin Kana lagi kecapekan aja,"elak Kana terlihat shock mendengar kata-kata mamanya.
"Gak, Na. Mama yakin deh, kamu lagi isi lagi. Salah satu tandanya kamu gak suka nyium keringat Joddy. Persis kayak Mama waktu hamil Abang kamu!" seru Maya girang, Membayangkan akan menjadi seorang nenek lagi
"Beuuh.. siap-siap lo Jod, anak lo bengal kayak gue!" ledek Kanda.
"Amit!"
"ogah!"
Seru Kana dan Joddy bersamaan.
"Kamu tes aja Na," usul Mama lalu menatap Kanda yang asik makan. "Nda, kamu ke apotek cari tespack!"
Kanda yang tengah makan itu kontan tersedak. "Kok, aku sih, Ma. Biar Bapaknya yang beli!"tolak Kanda sambil menunjuk Joddy yang masih bingung dengan kabar bahagia ini. Semoga saja benar Kana hamil lagi.
"Joddy capek, beli sana!" perintah Maya. Kanda yang tak terima itu menatap Gufron siapa tahu saja pria paruh baya itu bisa diajak kerjasama.
"Udah, beli sana!" Gufron berkata dengan tenang membuat Kanda bersungut-sungut. Sedangkan Kana dan Joddy masih diam karena shock dengan dugaan Maya.
*****
*** Kok lama sih, upnya?! kok sedikit?! Kok gantung?!
iya, iya sengaja hihihi. selamat malam guys, maaf kalau telat. terimakasih ya buat yang selalu baca story ini. I love you all! Dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang muslim 🥰🥰🥰***
__ADS_1