Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)

Malam Pertama Kana (Malaikat Tanpa Sayap)
Lamaran


__ADS_3

"Apa tujuanmu datang kemari?"


Hal yang Kana rasakan saat pertama kali melihat Laras muncul di depan pintu rumahnya adalah waspada. Entah kenapa Kana masih saja was-was jika menyangkut Laras.


"Astaga, kamu ini selalu berprasangka buruk saja padaku."


"Apalagi yang kamu inginkan dariku?" Setahu Kana, Joddy sudah mencabut laporannya seminggu lalu, otomatis dia sudah bebas secara hukum. Tiba-tiba dia muncul begitu saja di rumahnya, jika tanpa tujuan rasanya tidak mungkin.


Laras yang tadi menerobos masuk ke dalam rumah Kana mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, seperti sedang menilai. "Suami kamu- maksudnya almarhum suami kamu kaya juga ya, bisa bikin rumah kayak gini, padahal kalau dipikir - pikir pekerjaannya biasa saja, kan?"


"Apa tujuan kamu datang kemari?" Kana mengabaikan ucapan Laras. Sungguh dia ingin wanita ini cepat keluar dari rumahnya.


"Coba kamu tebak." Laras duduk, tangannya mengusap sofa yang dia duduki merasakan kelembutannya.


Kana hanya diam, malas menanggapi kata-kata Laras.


"Aku ke sini mau minta maaf." Wajah Laras terlihat serius membuat Kana hampir saja percaya sebelum beberapa detik kemudian Laras tertawa cekikikan.


"Tapi bohong!" Tawanya menggelegar. Kana bersyukur Ken masih berada di rumah orangtuanya jadi tidak akan terganggu dengan suara tawa membahana wanita ini.


"Ya, enggaklah! Aku gak salah ngapain minta maaf." Laras lagi - lagi tertawa cekikikan, membuat Kana benar-benar meragukan kewarasan Laras.


"Tapi aku mau berterimakasih sama kamu dan Joddy."


Kana masih ragu dengan wajah Laras saat mengatakannya dan benar saja dia tertawa terbahak-bahak sambil tangannya memukul-mukul sofa. "Tapi bohong!"


Astaga kalau saja membunuh itu legal di negara ini, Kana pasti sudah melakukannya sekarang juga pada wanita menyebalkan ini. "


Ngapain aku berterimakasih, karena memang sudah seharusnya aku tidak dituntut."


"Kamu mau ngapain sebenarnya ke sini?"


Laras menatap lurus ke arah Kana mengamati dan menilai wanita di depannya. Kana memang cantik wajahnya punya daya tarik yang membuat orang gemas saat melihatnya, pantas saja Joddy tergila-gila pada wanita ini dan bertahun-tahun mengabaikannya hingga dia memilih Heru untuk menjadi pelampiasannya.


Obsesi Laras untuk mendapatkan Joddy membuatnya buta. Hingga dia memilih si tua Heru yang sedang mengalami puber kedua dan wajahnya mirip dengan Joddy, untuk menjadi pelampiasannya.


Setiap melakukan hubungan seksual dengan Heru, Laras selalu membayangkan melakukannya dengan Joddy dan memang selalu berhasil, karena Laras dan Heru bisa melakukannya lebih dari sekali dalam satu waktu. Hingga Laras hamil dan semua menjadi kacau.


Ide menjodohkan berasal dari Heru, dia takut perselingkuhan mereka terbongkar sehingga dia menyusun rencana dengan mempengaruhi Jihan untuk menjodohkan Laras dan Joddy. Jihan yang terbilang cukup dekat dengan orangtua Laras pun setuju menjodohkan mereka.

__ADS_1


"Aku sedang mencari tahu kenapa Joddy begitu tergila-gila pada kamu, padahal bertahun-tahun aku mengejarnya, mencoba menarik perhatiannya tapi tidak berhasil, sedangkan kamu -" Laras menatap Kana dari ujung kepala sampai kaki lalu berdecak kesal. "Tidak ada istimewanya, tapi pria bodoh itu benar-benar gila sampai terobsesi padamu."


"Dia tidak terobsesi padaku, yang dia rasakan cinta mungkin malah kamu sendiri yang terobsesi padanya." Kana mengangkat bahu tak acuh.


Laras berusaha tenang walaupun jelas sekali dia terlihat menahan amarah. "Cinta? Omong kosong!"


"Aku tidak peduli apapun tanggapanmu tentang aku dan Joddy. Itu tidak penting bagiku. Jadi, sekarang jika sudah selesai urusanmu silahkan pergi."


Laras tersenyum tipis. "Aku belum selesai sebenarnya, mengambil Heru dari keluarganya hanyalah salah satu cara menyakiti Joddy begitupun dengan menyakitimu. Tapi sepertinya apa yang aku lakukan belum membuahkan hasil. Hahh... Sayang sekali!" Laras berlagak memasang wajah kecewanya.


"Aku akan pergi ke Jerman. Sementara waktu, akan aku kembalikan Heru pada Jihan. Ah, tidak.. tidak! Maksudnya akan aku titipkan sementara waktu pada mereka sambil aku mencari cara bagaimana 'bermain - main' dengan kalian." Laras tertawa lalu beranjak dari duduknya.


" Aku harus ke bandara. Ah, iya. Dalam waktu dekat Heru akan merangkak - rangkak kembali pada istrinya. Tapi begitu aku kembali dia akan balik merangkak padaku. "Laras menyibakkan rambut panjangnya ke belakang lalu memakai kacamata hitamnya.


" Ah, iya satu lagi. Tolong titip pesan buat Jihan. Heru suka sekali gaya WOT apalagi DS dia bisa klimaks berkali-kali,"bisik Laras lalu pergi begitu saja meninggalkan Kana yang menatapnya jijik.


**


Kana tersenyum bahagia sambil menatap cincin yang beberapa jam lalu Joddy sematkan ke jari manisnya. Mereka baru saja melaksanakan lamaran. Sebetulnya mendadak, karena Kana tidak ada persiapan apapun. Semuanya berjalan sederhana, tidak ada dekorasi, tidak ada bunga, tidak ada musik ataupun pengisi acara tapi sungguh rasanya lebih khidmat. Kana sudah pernah merasakan mewahnya lamaran saat bersama Adrian jadi dia tidak terlalu peduli. Begitupun dengan Joddy, semoga saja dia tidak terlalu peduli karena ini yang pertama untuknya.


Kana menatap sekali lagi para kerabat yang sedang berbincang di ruang tamu. Semuanya tampak bahagia. Termasuk orangtua Adrian yang juga datang. Jihan pun tampaknya diterima dengan baik. Walaupun Kana tahu Papanya masih sedikit kesal dan jarang tersenyum di sepanjang acara tapi Kana yakin lambat laun dia akan menerima Joddy.


Kana berjengit kaget saat pipinya terasa hangat. Refleks tangannya menepuk dada Joddy pelan karena pria itu diam-diam mengecup pipinya.


"Ngapain sih?Ngintipin orang lagi ngobrol?"


"Engga, ngintip. Habis minum." Kana mengangkat gelas kosong di tangannya.


"Oh, kirain." Joddy berdiri di samping Kana mengamati kerabat mereka yang sedang bercengkrama. Kana melirik pria yang sudah menjadi tunangannya itu. Joddy terlihat berwibawa dengan batik lengan panjangnya itu. Rambutnya ditata rapi. Wajahnya kelihatan berseri - seri.


"Kamu tahu gak, dulu tiap aku main ke sini aku selalu berandai - andai suatu hari nanti bisa datang kemari bersama orangtuaku untuk melamar anak gadis mereka, dan kejadian juga hari ini. Yah, walaupun harus menunggu bertahun-tahun dan dengan orangtua tak lengkap." Joddy menatap ujung sepatunya, tatapannya menerawang ada nada kesedihan terselip di akhir kalimatnya. Kana tahu Joddy pasti merasa sedih ayahnya tidak datang karena sang ibu yang tidak mau ada Heru di acara ini.


" Ngomong - ngomong kenapa Kakak sebucin ini sama aku? Masih saja nungguin aku?"Bahkan di saat Kana menikah dengan pria lain pun Joddy masih menunggunya


Joddy menatap Kana serius. "Kamu kelihatan orang susah soalnya."


Hah?


"Maksudnya?" Kana mengernyit tak suka.

__ADS_1


"Susah dilupain," bisik Joddy lalu mengecup bibir Kana secepat mungkin.


"Ish, gombal banget!" Kana mendecih dengan muka merah menahan malu.


Joddy terkekeh, dia suka sekali melihat wajah calon istrinya yang merah merona menggemaskan.


"Terimakasih ya, Na."


"Untuk?"


"Membebaskan Ibu."


Kana tersenyum."Ibu kamu orang baik." Terlepas dari apa yang sudah wanita itu lakukan padanya.


"Dia hanya berekspektasi terlalu tinggi, sampai lupa jika aku cuma manusia biasa." Joddy menatap ibunya yang asik bercengkrama dengan kerabat Kana. Tidak terlihat ada beban di sana.


"Tapi semua sudah berubah, Ibu sudah kembali seperti semula. Menjadi wanita yang kuat. Walaupun aku tahu dalam hati kecilnya dia masih memikirkan Ayah."


Kana mengambil tangan Joddy, mengenggam jemarinya erat.


" Terimakasih juga sudah menerima lamaranku. Awalnya aku udah was-was kamu bakalan nolak. Tapi aku yakin seyakin-yakinnya kamu tidak akan mungkin tidak terpesona sama ketampananku. "Joddy penuh percaya diri.


Kana tertawa lalu memukul pelan dada Joddy. "Padahal sebenarnya tadi aku mau nolak, tapi kasian udah bawa pąsukan datang ke sini malah ditolak." Kana menahan tawa saat melihat perubahan wajah Joddy yang terlihat tak percaya.


"Seriusan, Dek?!"


"Becanda!" Kana terbahak melihat wajah pias Joddy.


"Hih, untung saja ini di rumahnya Pak Gufron kalau di rumah kamu-"


"Apa? Kamu mau apain aku?" tantang Kana. Joddy tersenyum miring lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kana yang refleks mundur.


"Aku gigit kamu!" bisikan seduktif Joddy membuat Kana terbelalak lalu buru-buru mundur ke belakang dan berlari menjauh. Membuat Joddy tersenyum geli melihat Kana berlari mendekati Nea dan Ken yang asik makan kue.


Joddy menghela napas lega. Sebentar lagi Kana akan benar-benar menjadi miliknya. Utuh. Walaupun dia tahu, Gufron masih sedikit berat menerima Joddy, tapi Joddy yakin dia bisa meluluhkan hati pria itu dan membuktikan dia bisa membuat bahagia anak gadisnya yang sudah tidak gadis lagi.


Joddy sudah tidak sabar. Hah, sebulan lagi.


Sabar, Joddy!

__ADS_1


***


__ADS_2