
Pertama kali yang dirasakan Joddy ketika bangun tidur adalah sakit kepala yang luar biasa seperti dihantam palu godam.
Hangover! Hal yang dibenci Joddy setelah mabuk, karena dia harus merasakan mual, pusing dan lemas. Apalagi sudah lama sekali dia tidak minum-minuman beralkohol, terakhir kali dia minum saat perayaan pesta kelulusan S1-nya di rumah seorang teman, itupun karena dipaksa oleh teman-temannya termasuk Kanda.
Joddy menyandarkan kepalanya di heardboard, memijit pangkal hidungnya sebentar , karena merasa ada yang aneh Joddy memperhatikan dirinya sendiri , matanya terbelalak saat mendapati dirinya tidak memakai sehelai benangpun matanya menatap sekelilingnya sambil mengumpulkan ingatan.
Perlahan-lahan potongan ingatan itu menyatu. Di mulai dari pergi ke klub dengan Kevin lalu dirinya mabuk sempat berantem dengan salah satu pengunjung dan pulang diantar Kevin dan .... Kana?
Semalam Kana bersamanya, iya..walaupum samar tapi Joddy ingat semua hal yang dia lakukan termasuk ketika Kana bersamanya di kamar ini dan mereka melakukan 'itu'.
Tidak, tidak, lebih tepatnya Joddy yang memaksa Kana melakukan perbuatan itu.
Oh, shit!
Kana pasti sangat kecewa padanya sekarang. " Bodoh lo Joddy, lo gak ubahnya seperti penjahat!" Joddy mengutuk perbuatannya.
Di mana Kana sekarang? Apa dia sudah pulang? Atau jangan-jangan Kana masih di sini?
Joddy bergegas bangun dari tidurnya dia sudah tidak peduli dengan sakit kepala yang dia rasakan yang ada di pikirannya adalah bertemu Kana lalu meminta maaf, ah..maaf saja pasti tidak cukup. Kana pasti benci padanya sekarang.
Setelah berpakaian Joddy keluar dari kamarnya memeriksa keberadaan Kana, mungkin saja Kana masih ada di apartemennya. Begitu membuka pintu, hal pertama yang dia lihat adalah tiga pasang mata yang menatapnya tajam. Joddy terheran-heran kenapa mereka bisa berada di sini? Darimana mereka tahu password apartemennya? Apa sebelumnya mereka sudah bertemu Kana? Dan kenapa ada Laras?
"Ayah, Ibu kenapa ada di sin-" Kata -kataJoddy terpotong saat sebuah pukulan mendarat di wajahnya. Heru yang memukul Joddy sampai tersungkur itu sudah berdiri di depan Joddy dengan mata nyalang.
"Yah, kenapa Ayah memukulku?" Joddy bangun, mengusap darah di sudut bibirnya.
" Anak kurang ajar! Bahkan ingin sekali aku membunuhmu kalau saja aku tidak ingat kalau kamu anakku!" balas Heru dengan amarah yang meledak-ledak, Joddy menatap Heru binggung juga Ibunya yang sedang memeluk Laras erat. Wanita itu sepertinya sedang menangis. Tapi kenapa Laras menangis? Atau tunggu, jangan-jangan mereka sudah bertemu Kana lalu melihat... Oh shit! Pasti tadi Kana diusir oleh Ibunya.
"Ada apa ini?Mana Kana?"Joddy menatap ke arah mereka meminta penjelasan.
"Bang! Masih sempat-sempatnya kamu mencari wanita itu setelah apa yang sudah kamu lakukan pada Laras! Astagfirullah, Abang! Kami tidak pernah mengajarimu berbuat seperti ini!" seru Jihan.
"Bu, maksud Ibu apa?"
"Kamu tidak ingat? Ah, aku lupa mana ada orang mabuk ingat apa saja yang sudah dia lakukan," sindir Heru sinis menatap anaknya dengan tatapan membunuh. Jadi benar kedua orangtuanya tahu apa yang sudah dia lakukan pada Kana.
__ADS_1
"Aku minta maaf Yah. Aku benar-benar terpengaruh alkohol."
"Maaf saja tidak cukup, Joddy!" seru Jihan. Kalau memanggil dengan nama sudah dipastikan Jihan sedang marah besar.
"Kamu harus bertanggung jawab!" imbuh Jihan.
Joddy menatap Ibunya lekat-lekat. Jihan menyuruhnya bertanggung jawab, itu berarti Jihan sudah merestui hubungannya dengan Kana?
"Kalian harus segera menikah," putus Heru pada anak sulungnya.
"Tentu saja, Yah. Aku akan ke rumah Kana dan membicarakan dengan orangtuanya. " Walaupun dengan cara yang salah tapi tidak apa-apalah asal Joddy dan Kana bisa bersama.
"Bang! Kamu ini gila atau bagaimana sih? Apa hubungannya dengan Kana? Laras yang sudah kamu rusak!" Jihan nyaris berteriak membuat Joddy menatapnya binggung.
"Maksud Ibu apa? Kenapa Ibu bilang aku merusak Laras?" Tolong siapapun, bantu Joddy untuk mengerti apa yang baru saja dikatakan ibunya. Alkohol membuat pikirannya tidak mampu mencerna apa yang dikatakan Jihan barusan.
"Kamu sudah meniduri Laras, Joddy!" sentak Jihan nyaris histeris, karena Joddy belum mengerti juga apa yang dia maksud.
Joddy tercengang." Enggak Bu. Bukan Laras tapi Kana yang semalam bersamaku!"
"Kamu mau bukti?Biar aku tunjukan." Jihan menatap Joddy tajam lalu tiba-tiba saja dia menarik kedua tangan Laras kedepan memperlihatkan pergelangan tangannya. "Lihat ini! Lihat!'" Jihan menunjuk kedua pergelangan tangan Laras. Sayangnya, Joddy masih belum mengerti apa maksud ibunya.
"Maksud Ibu aku yang melakukan itu?"Joddy masih tidak percaya.
" Apa perlu Ibu suruh Laras membuka semua kain yang melekat di tubuhnya?? Biar kamu percaya? Kalau kamu sudah melakukan perbuatan jahat itu pada Laras?" tantang Jihan. Joddy menatap ibunya tak percaya. Jelas-jelas semalam dia bersama Kana bukan Laras.
"Bu, bukan Laras tapi Kana yang bersamaku semalam." Joddy masih bersikeras, dia yakin tidak melakukan itu pada Laras.
"Kamu mabuk Jod. Semua bisa terjadi, mungkin saja yang ada dibayangan kamu itu Kana tapi kenyataannya dia adalah Laras," sahut Heru setelah lama bungkam.
" Yah, Joddy memang mabuk tapi Joddy yakin itu bukan Laras." Joddy lalu menatap Laras tajam. " Ras, jangan diam saja, katakan pada mereka bukan aku yang melakukan itu!"
Laras menatap Joddy dengan mata berairnya. "Ta-tapi memang kamu yamg melakukan ini." Laras menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu jangan ngomong sembarangan!" Joddy menghampiri Laras tangannya bersiap menarik rambut panjangnya tapi dengan gesit Jihan menarik tubuh Laras dan menyembunyikan di belakangnya.
__ADS_1
"Jangan kasar sama wanita Joddy. Ibu dan Ayah tidak pernah mengajari itu!" tegur Jihan mengingatkan.
Joddy mengusap wajahnya frustasi. Dia menarik napas dalam-dalam. Dia tidak boleh emosi. Dia harus bisa berpikir jernih.
"Oke, bisa kamu ceritakan kenapa kamu bisa menuduh aku yang melakukannya?" Joddy harus bertanya dengan hati-hati.
Jihan memberi isyarat pada Laras untuk bicara. Laras menatap Jihan ragu. Tapi kemudian mengangguk pelan saat Jihan menepuk-nepuk punggungnya berusaha menyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.
Laras menegakkan tubuhnya mengusap air matanya lalu menatap ke arah Joddy. "Aku datang ke sini jam 9 malam karena aku ingin membicarakan perjodohan kita. " Laras menunduk tangannya memilin-milin ujung dress yang dia pakai.
"Tapi ternyata kamu tidak ada di apartemen jadi aku berinisitif untuk menunggumu di lobby, jam 11 malam aku mau pulang tapi di basement aku papasan sama teman kamu dan memang ada Kana, mereka sedang memapahmu menuju atas. Akhirnya aku ngikutin kalian. Kana yang buka pintu apartemen kamu, karena dia yang tahu passwordnya. Lalu dia sama temen kamu pamit pulang karena sudah ada aku. Setelah mereka pulang aku tetap tinggal untuk memastikan kamu baik-baik saja. Tapi kamu mengamuk, kamu marah mengira aku Kana. Lalu...kamu memaksaku..padahal...padahal aku sudah bilang jangan, tapi kamu maksa." Laras memeluk Jihan dia tidak mampu bercerita lagi. Jihan yang melihat betapa shocknya Laras memeluknya erat mencoba menguatkan wanita itu.
"Dia bohong Bu, dia bohong!" Joddy terang-terangan menunjuk ke arah Laras.
"Bang! Masih kurang bukti apa lagi? Ibu sama Ayah tidak pernah mengajarimu berbohong dan tidak bertanggungjawab seperti ini!" sentak Jihan.
Joddy mengacak rambutnya gusar. Tidak mungkin, Joddy yakin yang bersamanya semalam Kana bukan Laras.
"Biar aku hubungi Kevin. Kita lihat siapa yang berbohong di sini," seru Joddy lalu mengambil ponselnya untuj menghubungi Kevin.
Tiga puluh menit kemudian Kevin yang sudah datang dengan ransel besar bersamanya karena -mereka akan berangkat ke Semarang itu- duduk dengan wajah tegang, karena empat pasang mata menatapnya dengan wajah garang.
"Jadi benar apa yang dikatakan wanita itu?" Joddy menunggu jawaban Kevin yang sejak tadi duduk dengan gelisah.
"I-iya Bang. Aku sama Kana memang pulang duluan karena Kana bersama pacarnya dan aku sudah ditunggu istri."
Joddy menggeleng pelan. "Lo bohong ! Lo bohong kan Vin!" Joddy tiba-tiba saja menerjang Kevin bersiap memukulnya tapi urung saat Heru menarik lengannya menjauh.
"Joddy, jadilah pria yang bertanggungjawab kamu harus menikahi Laras, jangan buat malu keluarga kita dan keluarga Laras." Heru mendudukan Joddy di sofa.
"Tapi Yah, aku tidak melakukan apa-apa pada Laras." Joddy masih berusaha mengelak dia tidak mau jika harus menikah dengan wanita yang tidak dia cintai.
"Bang, kamu butuh bukti apa lagi sih? Teman kamu saja bilang 'iya'. Kamu mau lari dari tanggung jawab? Kamu mau bikin malu kami?!"sambar Jihan dengan wajah merah karena menahan amarahnya.
"Malam ini juga Ayah akan temui keluarga Laras untuk membicarakan masalah ini." Heru mengangkat tangan saat Joddy berusaha menolak.
__ADS_1
"Jadilah pria yang bertanggungjawab. Kamu sudah merusak anak orang maka sudah selayaknya kamu mempertanggungjawabkannya!" imbuh Heru. Joddy menatap ke arah Laras yang masih menangis sesegukan. Wanita itu pasti berbohong, dan dia akan membuktikannya.
********